TAK SAMA

TAK SAMA
97


__ADS_3

. "Kakak putri. Janji ya... jangan tinggalkan Sein lagi." Rengeknya mendongak dan memperlihatkan wajah berantakannya membuat Arisa terdiam dan tersenyum tipis saat ia sedikit mengingat wajah familiar seorang anak kecil yang mirip dengan gadis yang sedang memeluknya.


"Apa kakak putri juga lupa pada Sein?" Tanyanya kemudian.


"Maaf ya... tapi kakak senang kau baik-baik saja. Dan... kau sudah sebesar ini sekarang." Balasnya yang menepuk kedua pipi Sein dengan gemas. Meskipun sudah besar, namun Arisa merasa Seina masih anak kecil yang dulu.


Untung saja Raisa sempat menceritakan tentang Seina pada Arisa, hingga kini Arisa tak terlalu menyakiti hati Seina karena ia lupa padanya.


"Kakak... Sein rindu kakak.... kakak tahu, sejak kakak pergi, Sein selalu sendiri. Kak Aray juga ikut meninggalkan Sein. Sein kesepian" Mendengar itu, Arisa menoleh pada Rayyan dan menatapnya tajam. Rayyan menyipit mendapati tatapan yang begitu menusuknya.


"Sein... ayo pulang!" Rayyan meraih tangan Seina yang masih memeluk Arisa dengan erat.


"Tidak mau. Sein mau dengan kakak putri saja." Seina menepis kasar tangan Rayyan yang mulai kesal dan hilang kesabaran.


"Tak apa Aray... Sein biar aku saja yang temani. Jika kau ingin pulang,--"


"Siapa kau? Atas dasar apa kau menyuruhku pulang, dan karena alasan apa kau mau menemani adikku." 'Deg' jantung Arisa tiba-tiba berdebar keras dan hatinya terasa tersayat pisau dan luka itu semakin melebar ketika Arisa mendapat tatapan tak kalah tajam dari Rayyan.


"Sudahlah. Jangan berpura-pura kau mengingat semuanya, aku tahu sedikitpun kau tak mengingat aku dan adikku." Lanjutnya dengan paksa menarik Seina hingga terlepas dari pelukan Arisa. Seina meringis kesakitan karena genggaman Rayyan yang begitu kuat dan membuat sendi lengannya sedikit terkilir.


"Kak. Sakit kak..." rengek Seina yang mulai keras menangis dan terlihat begitu lemas mengikuti langkah Rayyan yang cepat.


"Aray... kasihan Sein. Jangan ditarik seperti itu. Dia kesakitan." Ucap Arisa berlari menyusul Seina dan meraih tangan Rayyan membuatnya berhenti dan menoleh kasar pada Arisa.


"Lepaskan dia Aray. Aku tak akan memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu pada Sein." Tegas Arisa memaksa melepaskan genggaman Rayyan.


Dimas yang melihat Seina kesakitan, segera berlari menyusul dan meraih tangan Seina.


"Mana yang sakit?" Tanya Dimas perlahan mengusap lengan Seina dengan lembut.


"I-ini..." jawabnya meraih sumber rasa sakit yang masih berdenyut.


"Tak apa... ini tak fatal... jika kau tak memaksakan bergerak dengan ceroboh, rasa sakitnya tak akan terasa lagi." Ucapnya lagi menepuk pelan pipi Seina.


Menyadari situasinya, Dimas mengajak Seina untuk pergi lebih dulu meninggalkan Rayyan dan Arisa untuk berbincang. Rayyan berdecih menatap kepergian adiknya dengan pria yang ia anggap sebagai saingannya.


"Aray..." lirih Arisa tak membuat Rayyan menoleh kearahnya.


"Aku minta maaf. Untuk beberapa hal." Lagi, Rayyan tak menanggapi dan memilih memalingkan wajahnya kearah lain.


"Pertama, untuk pembatalan pernikahanmu dengan kakakku. Kedua, untuk aku yang tak mengenalimu. Ketiga, untuk aku yang mungkin masih memikirkanmu karena kau adalah obat dari rasa sakitku setelah kepergian Rama. Meskipun aku lupa, tapi tanpamu, aku merasa hampa. Dan... " ucapannya terhenti saat Rayyan tiba-tiba pergi begitu saja. Arisa hanya menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Hatinya benar-benar terasa sakit saat ini. Tak terasa, air matanya mengembun menghalangi pandangannya, dan seketika terjatuh bersamaan dengan ia yang terduduk di sebuah kursi taman. Rayyan menoleh sesaat ke belakang dan menatap nanar nan sendu ketika melihat Arisa begitu bersedih karena dirinya.


Melihat Rayyan yang kembali seorang diri, Dimas menyernyit dan mendapatkan jawabannya sendiri saat Rayyan memalingkan wajahnya dari pandangan Dimas. Apa lagi, sikap Rayyan yang kasar pada Seina membuat hati Dimas tidak tenang lalu menyusul Arisa ke tempat dimana ia meninggalkannya.


"Aris..." Arisa mendongak saat Dimas dengan pelan memanggilnya.

__ADS_1


"Dim... apa kesalahanku pada Aray terlalu besar? Sepertinya dia membenciku. Rasanya sangat sesak Dim." Lirihnya sambil mengusap air mata yang masih berderai pelan.


"Itu bukan salahmu. Semuanya sudah menjadi jalan takdirmu dan Rayyan."


"Tapi Dim..."


"Sudah... sebaiknya kau pulang, ini sudah sore. Orang tuamu pasti mengkhawatirkanmu." Arisa hanya mengangguk pelan dan mengikuti Dimas.


. Seno tengah menjahili Ghava di ruang tengah dan beberapa kali terjadi adu mulut antara dirinya dengan Tio. Hingga saat Arisa memasuki rumah, Seno menyernyit karena yang mengantarkan Arisa bukan sepupunya. Hal ini lebih mengejutkan dari pada berita tentang Arisa yang amnesia.


"Aris... adikku sayang. Apa kabarmu." Ucapnya yang menghampiri dengan merentangkan tangannya. Kemudian Arisa segera berlari dan berlindung di belakang Dimas karena merasa ketakutan.


"Sudah ku duga. Kau lupa padaku juga." Ucapnya kini menjadi lesu.


"Si-siapa kau?" Pekik Arisa penuh waspada.


"Aku kakakmu yang paling kau sayangi dari pada Tio." Jawabnya masih mencoba menghampiri Arisa yang terus menghindar dari Seno.


"Kakakku hanya satu." Balas Arisa polos membuat Tio terkekeh mendengarnya.


"Ayolah jangan menghindar terus... aku tak akan memakanmu."


"Tidak mau. Wajahmu terlihat mesum." Seketika, wajah Seno menjadi suram mendapati jawaban polos dari Arisa.


"Itu sungguh menyakitkan Aris..."


"Kak... dia siapa?" Tanya Arisa pada Tio dengan wajah yang sangat polos.


"Aku dosenmu bodoh." Seno dengan gemas menepuk dahi Arisa yang diam membiarkan Seno menghampirinya. Melihat Arisa yang terlihat mencoba mengingat yang ia katakan, Seno menghela nafas berat sesaat dan berbalik dengan santai duduk di sofa.


"Maaf... aku benar-benar tidak ingat." Lirih Arisa menunduk lesu melihat kekecewaan Seno karenanya.


"Tak apa Aris. Aku mengerti. Aku tak memaksamu mengingatku, kecewa memang, tapi jika ini kenyataannya yang kau ingat hanya Tio, aku bisa apa? Dan aku berharap secepatnya kau mengingat semuanya, terutama keluargamu dan Rayyan. Dia mati-matian mencarimu diam-diam dan hanya dia yang tahu bahwa Fabio satu-satunya orang yang mengetahui keberadaanmu."


"Fabio?" Arisa menyernyit dan seakan bertanya 'siapa Fabio.'


"Dia calon suamimu dulu." Terlihat Arisa sedikit terhenyak saat mendengar jawab Seno.


"Ke-kenapa bisa? Tapi aku tak merasa.... apa jangan-jangan...." sesaat Arisa sedikit melihat memori saat Fabio yang menciumnya sebelum pergi. Dan seketika itu, Arisa menggeleng kasar menepis pikiran yang ia rasa itu hanya sebuah mimpi saja.


"Kenapa? Sakit lagi?" Tio menghampiri dan meraih kepala Arisa.


"Tidak kak. Aku baik-baik saja." Tio semakin nanar menatap sang adik ketika mendengar jawaban yang sama seperti dulu, dimana Arisa yang selalu berkata baik-baik saja padahal kondisinya sedang sekarat.


"Jangan berkata begitu Aris... jika ada apa-apa, katakan dengan jujur."

__ADS_1


"Aku sungguh baik-baik saja kak.... serius." Arisa memasang dua jari untuk sekedar menenangkan kekhawatiran Tio.


"Kenapa kakak selalu menunjukan wajah sedih di depanku? Kan jadi jelek seperti kakak itu." Canda Arisa menunjuk Seno yang terbelalak mendengarnya, namun berhasil membuat Tio terkekeh.


"Apa Reza membantumu menjadi banyak bercanda seperti ini?" Bisik Tio yang seakan tak ingin ada yang tahu pembicaraannya.


"Eh? Kenapa kak Reza?"


"Yaa bisa saja kan."


"Hemmm tapi kakak benar. Kak Reza dan bunda sangat baik. Mereka sangat memperhatikan semua tentangku. Oh iya kakak tahu? Lambungku sudah 15% lagi penyembuhannya. Bunda sangat tegas pada pola makanku. Sampai selama empat tahun ini, aku tak tahu bagaimana rasanya demam, flu, batuk, paling jika bersin pun karena debu. Tapi, terakhir aku merasakan sakit di perutku hanya saat aku terbangun dari koma. Dan itu sangat menyakitkan, rasanya aku seperti akan mati saat itu. Entah bagaimana kehidupanku sebelumnya, kenapa bisa aku mengidap penyakit menyakitkan itu padahal kehidupan disini sangat tercukupi. Jika ingin makan, aku tinggal panggil bibi. Kak Tio...."


"Sudah Aris jangan di teruskan." Bentak Tio menghentikan celotehan Arisa. Arisa sendiri tersentak saat melihat air mata Tio berderai lalu meraihnya dan mendekapnya begitu erat.


"Kakak mohon padamu. Jangan sampai kau ingat dengan alasan mengapa kau sampai seperti itu. Biarkan ingatan itu hilang agar hatimu baik-baik saja."


"Apa alasannya lebih menyakitkan?" Namun Tio hanya diam dan lebih memilih memberi kehangatan yang lama tak pernah ia rasakan dari Raisa.


"Kenapa kakak sangat suka memelukku. Bagaimana jika kakak ipar cemburu dan marah padaku?" Mendengarnya, Seno dan Tio tertawa bersamaan.


"Kau ini ada-ada saja Aris." Ucap Seno yang menepuk ujung kepala Arisa yang masih berada di dekapan Tio.


Dimas tersenyum tipis melihat adegan di depannya. Sejenak ia merindukan Rama yang jelas tak bisa ia raih sekarang.


"Aris... aku..."


"Ehhh Dim... terima kasih ya..." ucap Arisa menyela dan hanya menolehkan wajahnya tanpa melepas pelukannya dari Tio. Keduanya saling merangkul dan seperti melepas rindu yang masing-masing tak ingin saling melepaskan.


. Saat malam, Yugito menyuruh Arisa untuk menemuinya di ruang kerja. Arisa terkejut melihat Tio yang ada di rumahnya saat ini, karena yang ia tahu Tio sudah pulang bersamaan dengan Seno. Perlahan Arisa duduk dan menatap pada ayah dan kakaknya bergantian.


"A-apa Aris membuat kesalahan?" Tanya Arisa setelah ia duduk berhadapan dengan Yugito.


"Aris... sebelumnya ayah minta maaf jika hal ini akan mengganggumu. Tapi, hanya kau yang bisa membantu ayah sekarang." Arisa semakin menyernyit tak mengerti.


"Ada apa ayah?" Tanyanya lagi.


"Perusahaan kita mengalami penurunan saham. Dan jika di biarkan, mungkin dalam satu bulan kita akan mengalami kebangkrutan." Jawab Tio membuat Arisa terhenyak.


"Dan kebetulan perusahaan keluarga Pratama bersedia membantu perusahaan kita, tapi dengan syarat kau harus bergabung dengan mereka." Jelas Tio selanjutnya.


"Dengan arti, Aris harus bekerja disana?" Tio mengangguk menanggapi. Entah kenapa, perasaan Arisa mendadak risau mendapati permintaan keluarganya.


"Apa tak ada jalan lain?" Tanya Arisa kemudian.


"Ada. Kau harus bersedia menikah dengan Bayu Andra Respati."

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2