
. Reza masih termangu dan ia tak berniat untuk bicara. Rasanya berita itu cukup mengejutkan dan ia sendiri merasa tak percaya bahwa Arisa mengingat kembali.
"Kau serius?" Perlahan Reza melepas pelukan Arisa. Tanpa menjawab pun, melihat tangisnya yang menyedihkan, Reza sudah tahu jawabannya.
"Ternyata kenyataan yang ada di ingatanku ini semuanya memang menyakitkan. Kak Reza... maafkan Aris. Bukan Aris ingin merenggut Nadhira dari kakak dan bunda. Jika boleh Aris memilih pun, lebih baik Aris mati saja."
"Tidak... itu bukan salahmu. Nadhira memilih jalannya sendiri dan mungkin memang sudah waktunya dia pergi. Dengan seandainya Nadhira tidak memberikan hatinya padamu, mungkin kematiannya akan sia-sia. Tapi dengan begini, ada sebuah hal yang tak pernah ia sesali dengan memberikan hatinya padamu. Justru aku lah yang harus kau maafkan Putri. Aku sudah banyak membuatmu terluka disini. Jika saja aku mendengarkan penjelasanmu, mungkin kau tak akan mengalami kejadian tragis yang mengakibatkan hilangnya ingatanmu."
"Aris tak pernah menyalahkan kakak."
"Lalu, apa yang membuatmu kabur dari rumah hah?" Nada bicara Reza berubah menjadi nada candaan, ia menyentil dahi Arisa sampai Arisa sendiri meringis kesakitan.
"Sakit...." rengeknya kembali menangis. Mungkin karena efek Arisa yang sedang gundah, ditambah sentilan jari Reza pun menyakitkan, tangis Arisa semakin keras dan membuat Reza mendadak panik.
"Sakit?" Tanya Reza meniup pelan dahi Arisa yang belum bisa di tenangkan.
. Dari luar Tio yang tahu tentang apartemen Arisa dari Sarah, melihat pintu terbuka, ia dan Seno bergegas masuk dan ia termangu dengan tempat tinggal Arisa disini. Reza tak tanggung-tanggung memberikan tempat tinggal mewah pada Arisa yang jelas bukan adik kandungnya. Mereka hanya pernah menjadi saudara tiri dan itu pun sudah lama terputus kembali.
Mendengar Arisa menangis di kamarnya, Tio segera menghampiri dan ia semakin termangu melihat pemandangan yang meremas hatinya seketika.
"Sut... sudah.... ehhh Putri kan aku sudah minta maaf...." ujar Reza memeluk Arisa dengan menenangkan.
"Kakak yang jahat. Kenapa tidak menjemput ku ke Jakarta? Terus kenapa teleponku tak pernah diangkat. Terus saat pertemuan dengan om Danu, kenapa hanya kak Zain yang datang? Kakak benar-benar membenciku."
"Sudah lah.... jangan di ungkit terus. Nanti aku sakit hati."
"Biarkan saja. Kakak juga tak peduli aku di sana bagaimana. Kakak tak tahu aku kesepian, disini aku yang selalu dimarahi karena telat makan, di sana aku tak ada yang menegur walaupun sudah melewati waktu makan. Disini aku dimarahi karena keluar rumah saat malam, di sana aku tak ada yang mencari saat aku berada di luar jauh dari rumah sekalipun."
"Tio lebih menyayangimu dari pada aku...."
"Nyatanya tidak. Kak Tio sama saja dengan ayah. Dia tidak mengerti perasaanku."
"Jangan bicara begitu. Dia rela datang jauh kesini untuk mencarimu. Temuilah. Jangan egois. Dia mengkhawatirkanmu."
"Aku bilang tidak. Kenapa kakak tidak mengerti? Biarkan saja kak Tio mencariku. Jika dia peduli padaku, harusnya dia mengizinkanku tinggal dengan kakak dan bunda."
"Putri.... plissss jangan begitu."
"Kakak tahu? Bunda sangat menjagaku kan?" Reza mengangguk sesaat sambil terus menatap lekat wajah Arisa. "Bunda tak pernah menamparku kan?" Lagi, Reza mengangguk menanggapi. "Tapi, disana.... mama.... akhhhh sudahlah. Aku semakin ingin menangis keras."
Tio menyeka kelopak matanya yang sudah berembun. Benar. Kenyataan yang dikatakan Arisa memanglah benar. Ia tak bisa menjadi kakak yang di butuhkan Arisa. Ia sekarang lebih sibuk pada keluarga kecilnya. Ia tak pernah lagi memperhatikan apa yang membuat Arisa menyendiri dan bersedih setiap malam.
__ADS_1
"Aris.... maafkan kakak yang tak bisa menjadi apa yang kau inginkan dan butuhkan. Maafkan kakak juga yang tak bisa menjagamu. Lagi, dan lagi-lagi kakak gagal menjadi sosok yang kau harapkan." Ucap Tio berhasil mengejutkan Arisa dan perlahan ia menoleh pada pemilik suara di belakangnya.
"Ka-kakak.... ke-kenapa...." Arisa beralih menatap Reza, lalu pada Tio bergantian.
"Bukan aku yang memberitahunya." Ungkap Reza yang menyadari tatapan Arisa yang sinis dan tajam ke arahnya.
"Tante Sarah yang memberitahu kakak bahwa kau pasti ada disini." Jawab Tio membuat Reza menghela nafas lega.
"Aris... kenapa kau pergi dari rumah? Dan mengapa kau..."
"Untuk apa kak? Di rumah, aku merasa bukan siapa-siapa. Dan Rayyan, nyatanya dia tidak mencintaiku. Rama, sudah jelas dia tak akan kembali. Jadi, sebenarnya yang disebut rumah itu apa? Bangunan? Apartemen ini juga bangunan. Atau orang? Ayah dan mama juga orang. Tapi aku tak merasakan suasana rumah yang sebenarnya disana kak." Dan Tio terdiam mendengar ungkapan Arisa yang memang ada benarnya. Bahkan sejak Arisa menghilang empat tahun silam pun, Tio tak pernah lagi menginap di rumah orang tuanya. Walaupun ada acara penting sekalipun, ia tak pernah mau jika harus bermalam di bangunan dimana banyak kenangan yang terlintas tentang Arisa.
Melihat Reza yang ia pikir bisa membahagiakan Arisa, Tio hanya tersenyum getir dan ia berbalik membuat Seno merasa heran.
"Ehhh Tio. Mau kemana?" Tanya Seno. Hal itu cukup membuat Arisa beranjak dari duduknya dan ia segera menghampiri Tio yang jelas akan pergi dari hadapannya.
"Bolehkan Aris meminta satu permintaan?" Tanya Arisa menghentikan langkah Tio.
"Aku sudah tahu Aris. Kau meminta agar keberadaanmu tidak aku katakan pada mama dan ayah kan?" Arisa terdiam dan menunduk. Pikirnya Tio marah karena enggan berbalik dan setidaknya menoleh menampakkan wajahnya pada Arisa sendiri.
"Seno... ayo pulang." Ucap Tio tak menghiraukan Arisa dan ia kembali berjalan menjauh.
"Aris... jaga dirimu. Karena sekarang, aku dan Tio tak bisa memantaumu secara langsung. Hemmm masih banyak yang ingin aku katakan padamu. Tapi, satu yang harus kau tahu Aris. Bukan hanya Tio, aku juga menyayangimu, kau sudah seperti adikku sendiri." Ungkap Seno yang tak tahu Arisa sudah mengingat tentangnya, kini meraih kepala Arisa dan mengusapnya pelan.
"Sempat?" Seno menyernyit menatap lekat wajah Arisa yang masih tersenyum.
"Sen... kau mau aku tinggal?" Teriak Tio dari arah ruang depan.
"Iya sebentar." Balas Seno pun sama berteriak. "Za... tolong jaga adikku. Aku percaya padamu." Lanjut Seno tanpa menoleh pada Reza.
"Tanpa kau suruh tuan. Saya lebih layak berperan sebagai kakak disini." Dan kalimat ini cukup membuat Seno menoleh seketika.
"Apa maksudmu hah?" Melihat Seno yang emosi, Reza hanya terkekeh dan tak bisa menutupi wajah menyebalkannya.
"Hahaha sudahlah Seno... sahabatmu itu sudah menunggumu. Jika sampai dia kesal karena menunggu lama, aku yakin dia akan meninggalkanmu. Dan kau harus pulang sendiri. Maaf tapi aku tak berniat mengantarkanmu kembali ke Jakarta." Ejek Reza dengan penuh aura keangkuhan.
"Cih... lagi pula aku tak butuh bantuanmu." Delik Seno kemudian beralih berjalan menyusul Tio. "Oyyyy. Jangan tinggalkan aku sialan." Teriak Seno kemudian.
"Dahhh Aris... adikku sayang. Jaga diri baik-baik ya. Jika Reza jahat padamu jangan segan untuk membunuhnya." Teriak Seno lagi membuat Arisa tertawa kecil dan ia berjalan menghantarkan Seno berlalu meskipun menuju ruang tamu.
"Hati-hati kak."
__ADS_1
***
Esoknya, Reza tengah berjalan keluar dari lift menuju ruangannya. Ia memikirkan tentang keberadaan Arisa yang kini di ketahui Tio. Meskipun Tio kakak kandungnya, tapi ia tak menjamin akan ada orang lain yang mengetahuinya lagi selain Tio.
"Pak... maaf... ada tamu yang ingin bertemu dengan anda. Beliau bilang sudah membuat janji dan beliau pun menunggu di ruang tunggu lantai 2." Jelas sekertarisnya. Reza menyernyit mengapa ruang tunggu lantai 2? Bukankah itu ruang tunggu yang di gunakan untuk keluarga saja? Lagi pula hanya Tio dan Yugito saja yang mengetahuinya. Dan segera Reza beranjak tanpa menghiraukan sekertarisnya disana. Ia panik sepanik-paniknya dan terus gelisah menunggu lift terbuka.
"Jangan sampai Yugito yang menjadi tamunya." Ucapnya bergumam pelan.
Saat ia membuka pintu dengan kasar, ia yang terengah menatap dalam pada sosok yang sedang duduk dan menoleh kearahnya. Wajah yang sama namun terasa asing.
"Raisa?" Ucapnya pelan. Mendengar panggilan Reza, Raisa hanya tersenyum tipis dan tak menyahuti panggilan itu.
"Kenapa kau disini?" Tanyanya selanjutnya.
"Anda tahu saya bukan Aris. Padahal semua orang selalu terkecoh dengan wajah saya dan Aris yang nyaris hampir sama."
"Apa maksudmu?" Raisa beranjak dan ia mendekat menghampiri Reza yang masih berdiri di depan pintu.
"Kak Reza.... jujur saja padaku. Aris datang menemuimu kan?" Tanya Raisa meraih jas Reza dan terus menyentuhnya dengan manja.
"Raisa. Apa yang kau lakukan?" Reza menatap dingin Raisa
"Kenapa?"
"Dimana martabatmu sebagai putri pertama keluarga Putra?" Jelas Reza mengatakan hal itu dengan nada sindiran.
"Kenapa membawa nama keluarga? Bukankah kau membenci keluargaku?"
"Lalu apa masalahmu?"
"Kembalikan adikku sekarang!" Tegasnya bersamaan dengan kasar Raisa mencengkram kerah kemeja Reza. Tatapannya tajam dengan air mata yang tak berhenti berderai. Mungkin Raisa sangat merindukan Arisa saat ini. Dan mungkin juga hatinya hancur karena lagi-lagi berpisah dengan saudara kembarnya sendiri dengan jalan yang menurutnya sangat mengejutkan.
"Silahkan saja jika dia yang mau. Aku tak pernah memaksanya untuk tinggal disini. Dia sendiri yang menginginkannya."
"Tapi kau tak melarangnya kan?"
"Mengapa harus di larang? Justru jika keinginannya di larang, dia akan semakin tak terkendali. Bukankah kau tahu sendiri Arisa itu bagaimana?"
"Jika kau tak mencuci otaknya, dia tak mungkin terus ingin kembali ke sini." Cengkramannya semakin kuat dan tatapan Reza pun semakin dalam pada manik tajam Raisa yang membalas tatapannya penuh amarah.
"Apa kau tak berpikir? Menurutmu aku yang mencuci otaknya atau dia yang selalu kalian abaikan? Hei Raisa. Saat dia sakit, kau tak berniat mendonorkan hatimu untuknya? Bercerminlah sebelum kau menuduh orang." Dengan paksa Reza melepaskan tangan Raisa dari kemejanya. Ia meninggalkan Raisa yang terduduk lesu dengan menangis di ruangan sana.
__ADS_1
-bersambung