TAK SAMA

TAK SAMA
17


__ADS_3

. Tio terlihat gelisah dengan keadaan adiknya saat ini. Didalam mobil, Tio beberapa kali menoleh pada Arisa yang bersandar lemas, hanya kedipan matanya saja yang terlihat bergerak.


"Kak.. bukankah janji kakak hari minggu?" Tanya Arisa memecah keheningan.


"Apa kau pikir melihat kondisimu seperti ini kakak tidak khawatir."


"Tapi... aku tak tega jika Sein menungguku."


"Pikirkan dulu dirimu Aris. Jangan dulu memikirkan orang lain."


"Memikirkan diri sendiri saja akan sia-sia jika aku mati kak. Jadi aku ingin waktuku tidak sia-sia sebelum aku--"


"Kau ini kenapa? Di Pikiranmu hanya mati saja. Apa kau pernah berpikir untuk sembuh? Bagaimana perasaanku, perasaan Raisa, ayah, mama, sekarang Rayyan, Sein, dan bundanya juga. Pasti mereka akan bersedih jika kehilanganmu. Kau bilang tak ingin ada kesedihan saat kau pergi, omong kosong Aris... takan ada perasaan lain selain kesedihan jika berhadapan dengan kepergian dan kehilangan. Kau sudah tahu rasanya ditinggal oleh orang yang kau cintai. Jadi harusnya kau berpikir ulang bagaimana sedihnya kita disini jika kau pergi."


Arisa terdiam menimbang perkataan kakaknya. Memang benar, sakit rasanya jika ditinggal orang yang sangat kita sayang. Tiada yang lebih menyakitkan dari itu.


. "Arisa sakit apa Rayyan." Tanya bunda setelah Seina tertidur.


"Aku tidak tahu. Tapi kata temannya dia memiliki penyakit lambung yang sudah parah." Jawab Rayyan menerawang pada ponsel yang di genggamnya. Rayyan semakin menyernyit ketika menekan sebuah bingkai gambar yang tertera di salah satu nama kontaknya.


"Salah satu diantara mereka ada yang mengidap penyakit parah. Dan yang satunya memiliki imun dan kesehatan yang baik. Jadi keluarganya menganggap bahwa anak yang sehat, kesehatannya tidak perlu diragukan. Jadi mereka lebih memfokuskan mengobati si anak yang berpenyakit. Dan menyerahkan seluruh kebutuhan dan segala sesuatu untuk mengurus si anak sehat kepada pengasuhnya." Ucap bunda seraya mengingat kembali kejadian lama itu.


"Lalu, apa yang terjadi pada si anak yang mengidap penyakit itu? Apa dia sakit sampai sekarang?" Tanya Rayyan penuh dengan rasa penasaran.


"Apa Risa? Melihat kondisinya, Risa bisa jadi anak yang mengidap penyakit itu. Apa yang aku pikirkan. Tidak mungkin juga jika Risa sampai sekarang masih mengidap penyakit parah. Semoga saja aku salah menduga." Gumam Rayyan menggelengkan kasar kepalanya.


"Kamu kenapa Aray? Kau langsung memikirkan Arisa? Kau suka?"


"Ishh bunda kenapa? Lagi pula, jika aku menyukainya, dia tidak menyukaiku." Rayyan menyandarkan tubuhnya dengan pikiran yang masih terfokus pada Arisa.


"Raisa juga gadis cantik dan baik kan?" Tanya bunda sembari mengambil satu buah jeruk, lalu mengupasnya perlahan. Sesekali melirik anak sulungnya yang terlihat melamun.


"Yaa.... bunda bertanya, tapi yang diajak bicaranya malah melamun." Ucap bunda dengan nada mengeluh. Rayyan tersadar dari lamunannya.


"Eh? Bun-bunda bertanya apa?" Samar-samar Rayyan mengingat pertanyaan yang terlontar dari bunda, namun yang melekat hanya nama Risa dan kata cantik.


"I-iya bunda benar. Risa memang cantik dan baik. Tak heran jika bunda juga menyukainya." Bunda menyernyit, kemudian tertawa kecil mendengar jawaban yang meleset dari pertanyaannya.


"Kalo kamu suka Risa, katakan saja. Sebelum ada orang yang mendahuluimu."


"Hah?" Rayyan merasa tak mengerti dengan ucapan bunda. Mengapa bunda berpikir dirinya menyukai Arisa.


"Kamu menjadi anak bunda sudah berapa lama? Kamu pikir baru dua atau tiga tahun? Kamu pikir bunda tidak bisa melihat sikapmu yang berbeda pada Arisa. Bahkan bunda menanyakan Raisa, dan jawabanmu malah Arisa. Apa itu belum cukup membuktikan?" Terlihat Rayyan salah tingkah dan gugup mendapati pertanyaan dan pernyataan dari sang bunda. Rayyan menggaruk kepalanya dan tersenyum pada bunda tanpa menjawab dan memberi penjelasan.


"Tapi bunda? Apa aku akan di jodohkan?"


"Mengapa kau bertanya seperti itu?"


"Yaaa biasanya jika sesama rekan bisnis, untuk memperkuat ikatan dan kerjasama, mereka selalu menjadikan alasan perjodohan anak-anaknya. Apa aku juga akan mengalaminya? Apa ayah akan menjodohkanku dengan gadis yang tidak aku tahu?" Bunda hanya tertawa kecil mendapati pertanyaan beruntun dari Rayyan.


"Pertanyaan bunda saja belum kamu jawab. Kau sudah berani bertanya balik pada bunda."


"Maaf bunda. Aray sudah lancang." Bunda tersenyum lalu menghela nafas panjang.


"Dulu... saat Rahma melahirkan Tio, ayahmu dan Yugito sempat membicarakan masalah itu. Jika kami punya anak perempuan, kami akan jodohkan dengan Tio. Tapi bertahun-tahun bunda menunggu, dan kamu lahir. Maka, perjodohannya berubah. Kamu mungkin akan berjodoh dengan putrinya yang berumur hanya beberapa bulan saja dari umurmu. Tapi bunda tak menyangka, putrinya kembar. Mungkin kamu akan dijodohkan dengan putri pertama. Dan bunda sendiri tak tahu siapa kakak dan adiknya diantara Raisa dan Arisa." Bunda menghela nafas berat setelah menjelaskan hal itu. Takut jika Rayyan menolak dan pergi dari rumah karena tidak mau dijodohkan.


"Jika seandainya aku menyukai adiknya?"

__ADS_1


"Hemmm kau suka pada adiknya?"


"Bunda... ini seandainya." Rayyan mendengus kesal.


"Ya ya baiklah bunda salah. Tak apa... bunda ikut keputusanmu. Tapi kau harus bicara pada ayahmu agar tidak ada kesalahpahaman nantinya."


"Baiklah bunda."


"Jadi?" Goda bunda menatap harap pada Rayyan.


"Apa bunda... tidak ada. Aku hanya bertanya saja."


"Benarkah? Jika kau suka juga bunda pasti merestuinya."


"Yaa... yaa yaaa terserah bunda."


. Hari sabtu, jam 9 pagi, seperti biasanya, Arisa membawa sekantong bunga dan menyusuri setiap gundukan tanah yang sudah terpasang batu nisan dan berjejer rapi di makam itu.


"Ali Ramadhan" nama yang tertulis jelas di batu nisan yang satu tahun lalu menjadi nama tak bertuan.


"Setelah menaburkan air dan bunga, lalu Arisa menyelipkan sebuah doa untuk sang kekasih yang sudah tak lagi disisinya.


Arisa beranjak dan hendak melangkah.


"Apa kau selalu sendirian?" Tanya seseorang dibelakangnya dan mengejutkan Arisa.


"Aray?" Dahi Arisa berkerut mendapati sosok yang semalam datang ke mimpinya.


"Sedang apa?" Tanya Arisa lagi.


"Menemanimu. Bukankah kita sudah janji?"


"Ah sudahlah lupakan. Sekarang aku ingin mengajakmu kerumahku. Sein menunggumu." Ucap Rayyan meraih tangan Arisa.


"Tapi Aray... aku ada janji dengan kak Tio."


"Sebentar saja. Setelah itu, aku janji akan mengantarmu pada kakakmu."


"Tapi....."


"Nak?" Panggil seorang wanita tua yang digandeng seorang remaja berusia sekitar 15 tahun menghampiri keduanya.


"Ibu..." Arisa dengan sigap mencium tangan yang tak jadi menjadi mertuanya itu.


"Kamu masih kesini?" Tanya ibu lagi.


"Hanya seminggu sekali bu. Setiap libur saja." Jawab Arisa tersenyum. Ibu melirik kearah Rayyan yang sekarang tepatnya sedikit dibelakang Arisa. Rayyan tersenyum seraya sedikit menunduk sopan menyapa ibu itu. Dikepalanya bertanya-tanya siapa ibu tua yang sangat akrab dengan Arisa? Bahkan Arisa memanggilnya dengan sebutan ibu. Dan siapa anak remaja yang meliriknya sinis, terlihat sekali bahwa dia tidak menyukai Rayyan.


"Ini pacar mbak?" Gilang, adik Rama. Arisa menoleh pada Rayyan yang menatap kearahnya seolah bicara 'jawab saja sendiri' kemudian Arisa menatap Gilang dengan gugup.


"Bu-bukan. Dia teman mbak." Jawab Arisa


"Kok mbak gugup? Bener ya mbak?" Lirikan sinis itu tak biasa ditunjukan Gilang pada Arisa. Arisa menyadari bahwa Gilang kini tak menyukai pria dibelakangnya. Tapi kenapa?


"Gilang kok gitu sama mbak? Gilang marah sama mbak?"


"Engga mbak. Gilang ga marah. Cuman..."

__ADS_1


"Nak.." ucap ibu meraih tangan Arisa yang salah tingkah.


"Sudahlah. Kamu tak perlu lagi kesini... kamu harus bisa ikhlaskan Rama. Ibu ingin melihatmu bahagia nak. Kamu harus kembali menerima seseorang yang mencintaimu." Arisa terdiam, melemparkan senyuman yang jelas itu senyuman paksa.


"Mbak bisa jadi kakak iparku lagi. Bang Dimas kan masih jomblo mbak, ganteng lagi. Ditambah dokter pribadi mbak kan? Kenapa gak jadian aja mbak?" Cetus Gilang seakan mengabaikan keberadaan Rayyan.


"Gilang...." lirik Ibu.


"Iya bu maaf." Delik Gilang kemudian kembali melirik pada Rayyan.


"Bu... Aris ada urusan. Jadi Aris duluan. Maaf bu." Ucap Arisa mencium tangan ibu seraya langsung berpamitan.


Arisa berlalu setelah mengacak rambut Gilang yang terus cemberut. Rayyan mensejajarkan langkahnya dengan Arisa.


"Siapa?" Tanya Rayyan penasaran.


"Mertuaku." Jawab Arisa singkat.


"Jadi kau akan menikah dengan dokter itu?" Tanya Rayyan membuat Arisa tertawa.


"Tidak. Aku dan Dimas hanya sebatas pasien dan dokter."


"Lalu?"


"Hemmm"


Namun sampai didepan mobil, keduanya tak lagi berbicara.


"Aray.." Rayyan menoleh pada Arisa yang menunduk.


"Kau sakit lagi?" Tanya Rayyan mulai khawatir. Arisa menggeleng pelan namun enggan mengangkat wajahnya.


"Ada apa?"


"Maaf Aray... aku ada urusan dengan kak Tio 30 menit lagi."


"Dengan kata lain, kau tak bisa--"


"Aku mohon maafkan aku... aku tidak bermaksud membuatmu marah atau membuat Sein menungguku. Aku janji saat aku pulang kembali, aku akan langsung menemui Sein."


"Pulang?" Rayyan menyernyit mendengar kata itu. Apalagi saat wajah sesal Arisa yang menarik ujung lengan hoodie nya.


"Baiklah.. aku mengerti. Tapi jangan pergi terlalu lama. Aku pasti akan khawatir." Arisa mengangguk meskipun tak mengerti dengan yang dikatakan Rayyan.


Arisa semakin tak paham dan matanya terbelalak ketika Rayyan dengan tiba-tiba mencium keningnya.


"Kemanapun kau pergi, jangan lupa disini ada yang menunggumu pulang." Ucap Rayyan dengan tangan mengusap pipi Arisa yang telah basah karena air mata.


Arisa melepaskan hoodie Rayyan, kemudian berbalik dan memasuki mobil milik Tio dengan Mang Ujang yang mengemudi. Tak kuasa Arisa menoleh pada Rayyan yang mematung menyaksikannya berlalu pergi.


"Sebenarnya kau mau kemana?" tanya Rayyan pada dirinya sendiri tanpa mendapatkan jawaban apapun.


. Arisa menghampiri Tio yang menunggunya di bandara. Langkahnya berat ketika mengingat kembali wajah Rayyan saat dirinya pergi begitu saja, tanpa memberitahu atau sekedar mengucapkan salam perpisahan. Apa artinya kecupan hangat itu? Apa itu sering dilakukan Rayyan jika sedang dekat dengan seorang gadis? Mungkin bukan dirinya saja yang mendapatkan kecupan itu.


"Kau melamun?" Tanya Tio ketika lelah melihat Arisa yang terus diam.


"Apa mama dan ayah tahu?" Tanya Arisa tanpa jawaban dari Tio.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2