
. Setelah lelah meyakinkan Tio, Rayyan memilih untuk diam dan duduk bersandar dengan wajah kusut.
"Bagaimana hubunganmu dengan adikku?" Tanya Tio kini lebih tenang dari sebelumnya.
"Dia sudah punya kekasih." Jawab Rayyan lesu. Sontak Reza dan Tio menoleh bersamaan ke arahnya. Tio yang hanya tahu bahwa pacar Arisa hanya Rayyan saja, dan Reza pun hanya tahu bahwa Arisa tidak memiliki pacar setelah terdengar kabar Arisa dan Rayyan sudah putus.
"Siapa?" Tanya Tio dan Reza serentak.
"A-aku tidak tahu. Dia tidak memberitahuku." Jawab Rayyan.
"Za... kau tahu sesuatu kan?" Tio beralih mengintrogasi Reza yang terkejut mendapat pertanyaan dari Tio.
"Aku tak tahu apa-apa." Jawab Reza dengan santai.
"Bohong." Bantah Tio dengan suara yang menekan.
"Apa untungnya aku berbohong." Elak Reza.
"Buktinya, Aris punya pacar." ~Tio.
"Apa salahnya jika dia punya pacar." ~Reza.
"Dia masih berstatus tunangan Rayyan. Apa jadinya jika dia punya pacar lain selain Rayyan." ~Tio.
"Sudah tidak kak." Timpal Rayyan menyela perdebatan kedua orang yang sama-sama tak ingin kalah itu.
"Apa?" Tio menyernyit mencoba memahami maksud perkataan Rayyan barusan. "Apa maksudmu? Hei Aris tak semudah itu memutuskan hubungan dengan pacarnya. Jika pun iya, pasti kau yang membuat salah." Lanjut Tio langsung menjelaskan.
"Entahlah kak. Aku tak tahu siapa yang salah. Dan sekarang pun aku tak tahu bagaimana caranya agar Risa kembali padaku. Tanpa harus merebutnya dari orang lain." Balas Rayyan dengan begitu lesu. Ia benar-benar tak bersemangat sejak Arisa mengatakan ia sudah memiliki kekasih lain.
"Apa kau begitu mencintai Aris?" Tanya Reza dengan serius.
"Siapa yang tak mencintainya? Bahkan temanmu juga mencintainya kan? Atau apakah memang temanmu yang sekarang menjadi pacar Risa sampai dia mengembalikan kalung lamaranku."
"Apa?" Pekik Tio menyela sesaat ketika Reza menghela nafas. "Kau bilang Aris mengembalikan kalungnya? Kenapa?" Tanya Tio selanjutnya.
"Aku tak tahu kak. Aku kira kak Tio tahu." Jawab Rayyan tak kalah terkejut.
"Tidak. Justru aku baru tahu. Kau serius Aris mengembalikan kalung itu?" Rayyan mengangguk lalu ia menoleh ke arah ruangan yang masih tertutup.
"Saat aku sedang menunggu Oma, Oma memintaku untuk mengajak Risa menemuinya. Kita berencana dalam waktu dekat ini akan secara resmi melamar Risa. Tapi saat aku pulang, bibi bilang bahwa Risa menitipkan sesuatu untuk bunda. Dan besoknya aku dengar Risa kembali ke Bandung. Aku berpikir Risa bercanda, jadi aku memutuskan untuk menyusulnya ke Bandung. Dan saat sampai, aku menemukan Risa yang bukan lagi Risa yang ku kenal. Aku pikir Risa berubah karena dia menjadi presdir. Tapi ternyata, dia sudah punya yang lain. Dan bicara seolah aku yang bersalah karena ia menganggap aku dan Raisa memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman." Jelas Rayyan tersenyum paksa meyakinkan dirinya bahwa hatinya baik-baik saja. Padahal, ia sangat ingin menangis sekarang.
"Setahuku, Aris dan Zain tidak sedekat itu. Jika pun dekat, mungkin karena Aris sedikit memiliki kemiripan dengan Nadhira. Dan itu yang menjadi alasan Zain nyaman dekat dengan Aris." Ucap Reza membalas penjelasan Rayyan.
__ADS_1
"Entahlah. Dengan siapapun dia bersanding nantinya, aku harap dia lebih baik dariku. Bahkan dari Rama sekalipun." Lirih Rayyan dengan memalingkan tatapannya yang sendu.
"Kau masih berharap?" Tanya Reza selanjutnya.
"Menurutmu?" Balas Rayyan dengan pertanyaan sambil menoleh lesu pada Reza.
Ditengah perbincangan mereka, seorang perawat keluar dan memanggil anggota keluarga dari Arisa. Dengan cepat Reza beranjak dan Tio pun tak kalah cepat menghampiri sang perawat.
"Saya kakaknya." Ucap Reza dan Tio serempak. Sontak perawat dan Rayyan menoleh pada kedua orang itu secara bergantian.
"Em... anda berdua silahkan masuk." Ucap perawat dengan terbata. Rayyan beranjak dan langsung mengekori Tio agar dirinya pun bisa ikut masuk.
"Maaf anda siapanya pasien?" Tanya perawat menahan Rayyan yang melewatinya begitu saja dengan wajah tanpa dosa nya.
"Saya calon suaminya." Jawab Rayyan dengan penuh penegasan. Perawat itu mengangguk pelan sambil memberi jalan untuk Rayyan memasuki ruangan. Saat ketiga pemuda itu berjalan cepat menghampiri Arisa, terlihat Arisa tersentak karena terkejut melihat Tio datang bersama Reza. Matanya semakin membulat ketika melihat Rayyan yang ikut masuk menghampirinya.
"Tenggorokanmu sakit?" Tanya Tio mengabaikan dokter di sampingnya. Arisa semula mengangguk lalu menggeleng pelan dan kemudian memejamkan matanya menahan sakit dan panas yang seakan menusuk di tenggorokannya.
"Saya sarankan agar nona tidak memakan makanan yang dilarang." Ucap dokter memberi nasehat.
"Saya tidak tahu ada makanan terlarang di meja saya dok." Jawab Rayyan mendengus kesal.
"Kondisi nona sudah membaik. Hanya perlu meminum obat secara teratur saja." Jelas dokter kemudian. 'Brak' sontak semua yang ada di dalam ruangan pun menoleh ke arah pintu. Terlihat Dimas tengah berdiri memegangi gagang pintu dengan nafas yang terengah.
"Dokter Dimas?" Tanya perawat dengan suara pelan.
"Sus.... keadaannya baik-baik saja kan?" Tanya Dimas beralih menatap harap pada perawat.
"A-anu dok. Nona..."
"Dia baik-baik saja. Alerginya kambuh. Dan silahkan jika Dokter Dimas ingin memastikannya sendiri." Ucap dokter yang menangani Arisa. Ia mengajak perawat untuk keluar dari ruangan dan membiarkan Dimas menangani Arisa untuk kedua kalinya.
"Apa kau gila memakan makanan terlarang? Bukankah kau sendiri yang merasakan sakitnya hah?" Arisa hanya mendelik menghindari tatapan marah Dimas yang kini berdiri di sampingnya. Menjawab pun ia tak bisa, tenggorokannya benar-benar terasa panas sekarang. Ditambah kehadiran Rayyan disini membuatnya semakin sesak. Dimas menoleh pada Tio, dan ia terkejut mendapati tatapan tajam darinya. Bukan hanya Tio, namun Reza dan Rayyan pun menatapnya demikian.
"Aku merasa sedang ada di kandang macan sekarang." Batin Dimas berusaha bersikap dingin dan biasa saja.
"Dia menyebutku gila, padahal dia lebih gila." Batin Arisa kembali menatap Dimas lebih tajam dari kakaknya.
"Apa?" Dimas membalas tatapan Arisa tak kalah menantang. Dan lagi-lagi Arisa hanya memalingkan wajahnya ke arah Rayyan. Rayyan yang kini menatap datar padanya perlahan menyipitkan mata dan menaikan alisnya sebelah. Hal itu membuat Arisa serba salah. Ia harus menoleh kemana agar dirinya tenang. Bahkan menatap ke depan pun, tatapan Reza dan Tio begitu mengintimidasinya. Dan akhirnya, Arisa memilih untuk memejamkan matanya dengan paksa.
"Jangan dipaksakan." Ucap Rayyan sambil mengusap wajah Arisa membuat Arisa kembali membuka matanya dan melirik ke arah Rayyan. Rasanya ia kembali ke masa lalu, dimana hanya ada nama Rayyan di hatinya. Perlahan Arisa beranjak dan terduduk bersandar lalu tangannya meraih pipi Rayyan dengan tatapan yang begitu sendu.
"Apa kau membenciku?" Tanya Arisa lirih. Rayyan hanya menyernyit, mengapa Arisa bertanya demikian?
__ADS_1
"Yang harusnya membenci itu aku. Kau mengkhianatiku, dan kau tak kembali berjuang untukku saat aku pergi, lalu kenapa kau begitu tega membuatku begini? Kau tahu aku alergi telur, tapi kau sendiri yang menyajikannya." Lanjut Arisa masih dengan nada yang begitu lirih.
"Risa... sudah aku bilang aku--"
"Lupa? Semudah itu kau lupa? Katanya kau mencintaiku? Tapi kau lupa dengan makanan yang dilarang untukku. Aku saja masih ingat makanan apa yang tak boleh kau makan." Arisa menyela cepat dan seketika membungkam Rayyan.
"Dim... aku ingin pulang. Dan kau harus mengijinkannya." Ucap Arisa beralih pada Dimas.
"Aris... mau pulang ke rumah?" Arisa mengangguk menanggapi pertanyaan Tio. "Ya sudah. Kakak yang antar. Tapi, di rumah tidak ada siapa-siapa. Mama masih menunggu ayah dan Rais harus bekerja hari ini. Dan kakak--"
"Kak Reza ayo. Jika terlalu siang, nanti kita terjebak macet." Ucap Arisa menghentikan celotehan Tio. Mendengarnya, Tio mengepalkan tangan dan terdengar ia menggertakkan gigi karena menahan amarah.
"Sebelum itu, aku ingin--"
"Aris. Ada apa denganmu hah? Kau seperti bukan Aris adikku lagi." Bentak Tio meraih kedua bahu Arisa dengan kasar. Matanya merah menahan amarah yang hampir meluap.
"Tio... apa yang kau lakukan?" Reza mencoba meraih tangan Tio yang mencengkram Arisa begitu kuat.
"Diam kau. Siapa kau?" Tio menoleh sesaat pada Reza dengan lirikan sinis dan menekan.
"Kehadiranku tidak dibutuhkan disini. Jadi untuk apa aku masih di tempat ini?" Tanya Arisa dengan melempar senyum namun dengan air mata yang deras berderai di pipinya.
"Jangan ambil hati ucapan mama."
"Lalu aku harus bagaimana kak? Mama saja membenciku. Bagaimana aku tidak ambil hati? Sedangkan ucapan mama sendiri yang membuat hatiku hancur berkeping-keping."
"Kau salah paham Aris. Mama tidak membencimu. Sudah berapa kali kakak bilang, mama tak pernah membencimu. Mama menyayangimu. Sejak kau pergi, mama selalu ke kamarmu, berharap kamu pulang. Dan ayah sakit pun karena merindukanmu." Jelas Tio perlahan melepaskan tangannya dari bahu Arisa.
"Tapi tetap saja, sikap mama jauh berbeda dengan bunda. Aku mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang selama ini aku harapkan, aku menemukan yang tidak ada pada mama namun ada pada bunda." Balas Arisa dengan terisak keras di hadapan Tio. Dengan lembut, Tio memeluk Arisa dan ia pun merasa rindu pada sebuah perhatian kecil dari seorang ibu. Hatinya tak bisa berbohong bahwa Tio sendiri pun merasa kesepian.
"Kakak izinkan kau kembali ke Bandung sekarang, asal kau menemui ayah dulu." Ucap Tio sangat pelan yang hanya bisa didengar oleh Arisa saja.
"Asal jangan ada mama." Rengeknya masih membenamkan wajahnya di dekapan Tio. Tio perlahan melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Arisa lalu mencium kepala Arisa yang masih terlihat sesenggukan. Dengan menurut, Arisa menemui Yugito dengan tanpa adanya Rahma.
"Ayah..." lirih Arisa berhasil membangunkan Yugito yang tengah tertidur.
"Rais?" Lirih Yugito membuyarkan senyuman Arisa.
"Bukan. Aku Aris." Jawabnya kini terdengar dingin. Yugito tersentak lalu meraih tangan Arisa namun di tepis pelan oleh putri bungsunya itu.
"Sudah jelas, kehadiranku tidak pernah ayah harapkan." Ucap Arisa kembali menangis tanpa suara.
-bersambung
__ADS_1