
. Fabio dengan santai meraih wajah Arisa, dan saat itu juga ia merasakan bahwa Arisa gemetar ketakutan.
"Kenapa kau gemetar sayang? Bukankah kau kesini untuk menemuiku? Kau mau menggantikan posisi kakakmu? Sungguh adik yang baik. Tak apa, Raisa tak ada, Arisa pun tidak masalah. Tapi, akan ku pastikan kau akan hidup bahagia sayangku." Seringai kembali muncul di wajah Fabio. Iya, memang tampan, tapi licik. Arisa menepis kasar tangan Fabio yang masih membelai lembut wajahnya dan seakan tak mempedulikan keberadaan Fabian di sampingnya.
"Jaga sikapmu kak. Kau ini pimpinan, apa pantas bersikap seperti ini pada anak magang?"
"Hmph.. kau tahu apa tentang peran pimpinan. Ayah saja tidak mengakui bakatmu. Jadi, lebih baik kau enyah dari hadapanku. Adik tidak berguna." Balas Fabio kembali menyeringai sinis penuh ejekan menatap Fabian. Arisa yang merasa sudah kehilangan kesabarannya, dengan keras menampar Fabio sampai wajahnya sedikit berpaling.
"Kakak seperti apa kau ini? walau tidak berguna ataupun menyusahkan, namanya adik barus tetap kau akui. Jangan merasa paling hebat karena kau punya kekuasaan. Kak Bian lebih unggul dari pada dirimu."
"Uhhh sayang... kenapa kau suka sekali menamparku. Apa aku harus memberimu pelajaran dulu?" Dengan cepat Fabio meraih tangan Arisa yang kecil dan mencengkramnya kuat. Bahkan saat Fabian hendak melepaskan tangan Fabio dari Arisa, dengan mudah Fabio menghempaskan Fabian sampai ia terhuyung. Benar kata Fabian, disini memang berbahaya. Lebih berbahaya dari kandang singa. Dan mengapa tidak ada orang yang lewat di lorong ini? Arisa semakin gelisah saat Fabio menariknya dengan kasar menuju lift.
"Kak Bian... tolong--" teriak Arisa dari dalam saat pintu belum tertutup sempurna. Suaranya menghilang bersamaan dengan rapatnya pintu lift tertutup.
"Ah sial." Bian meninju pintu lift dengan kesal karena ia tak bisa membantu Arisa.
"Lepaskan aku sialan." Teriak Arisa meronta-ronta agar tangannya dilepaskan.
"Diamlah. Bukankah kau mau secepatnya menjadi pengantinku?" Lagi-lagi Arisa muak dengan seringai yang tersungging di wajah Fabio.
"Sampai kapanpun aku tak akan menikah denganmu." Ucap Arisa dengan memberanikan diri menatap tajam pada mata Fabio. Sejujurnya dirinya takut saat ini, tapi ia juga harus mencari cara agar bisa kabur dari Fabio.
"Kau menamparku dua kali. Dan kau menolak lamaranku dengan tidak menyenangkan. Apa perlu aku publikasikan bahwa Yugito memiliki anak haram dari wanita lain?" Arisa terbelalak mendengar penuturan Fabio. Pikirnya, darimana Fabio tahu tentang fakta itu.
"Kau terkejut sayang? Bahkan kau sendiri tak tahu kau memiliki saudari lain selain Raisa." Tuturnya lagi. "Jadi, menikahlah denganku! Maka rahasia keluargamu akan aman." Ucapnya lagi berbisik di telinga Arisa. Arisa semakin gemetar karena Fabio yang semakin dekat menghimpit tubuhnya yang kecil.
"Menjauh dariku." Lirih Arisa dengan nada memohon.
"Apa sayang? Katakan lagi lebih keras?"
"Menjauh dariku sialan." Sekuat tenaga Arisa mendorong tubuh kekar Fabio agar menjauh darinya.
"Baiklah... aku jauh darimu. Tapi, besok akan ku pastikan bahwa berita ayahmu akan terpampang jelas dimuka umum. Emmm tidak, jangan besok. Mungkin bisa saja setelah kau keluar dari lift ini, maka berita itu sudah tersebar." Tutur Fabio melepaskan Arisa dan dirinya sedikit menjauh dengan senyum penuh kemenangan. Arisa semakin gelisah tak karuan ia tak bisa berpikir lebih jernih mendengar ancaman Fabio.
"Baiklah." Ucapnya lirih dan menunduk lesu dihadapan Fabio.
__ADS_1
"Hemm? Apa? Kenapa suaramu kecil sekali sayang? Dimana keberanianmu yang tadi?" Fabio meraih sedikit rambut Arisa lalu membawanya ke depan wajahnya dan menciumnya membuat Arisa semakin gemetar ketakutan.
"Baiklah. Aku akan menikah denganmu." Ucapnya kemudian dengan lantang. Arisa memberanikan diri menatap Fabio dengan wajah yang sudah memerah dan air mata berderai begitu saja.
"Hemmmm? Semudah itu?" Tidak. Bukan semudah itu, tapi ini menyangkut karir ayah dan kakaknya. Saat ini harusnya tak ada masalah dalam keluarganya. Arisa sedang menikmati kehangatan perhatian orang tuanya yang hilang selama bertahun-tahun. Rasanya tak pantas jika ia menjadi penyebab hancurnya kerukunan keluarga yang teramat ia sayangi.
"Mengapa kau menangis sayang? Bukankah seharusnya kau bahagia akan menikah denganku?" Tanyanya seakan merendahkan harga diri Arisa.
"Tapi dengan satu syarat." Lanjutnya menyeka air mata yang hampir di sentuh oleh Fabio.
"Apa itu. Katakan! Tak ada yang tak bisa aku lakukan untukmu."
"Aku ingin lulus dulu, sambil menunggu kak Tio menikah. Agar aku tidak melangkahi kakakku." Jawabnya cepat. Fabio hanya mendesah sambil terkekeh mendapati permintaan Arisa.
"Hanya itu? Kau tidak mau rumah mewah, mobil mewah, perhiasan, atau--"
"Aku bukan wanita rendahan seperti yang kau pikirkan. Setuju, atau..."
"Atau apa sayang? Kau mau mengancamku? Kau tak ada kekuatan untuk menjatuhkanku. Justru jika kau menjadi istriku, maka kau akan menjadi nyonya Nalendra di rumahku." Arisa hanya terdiam tak menanggapi apapun yang dikatakan Fabio.
Arisa menatap dalam wajahnya dari pantulan cermin. Kembali air matanya berderai saat ia mengingat wajah Rayyan.
"Tenyata benar-benar aku yang mengkhianatinya." Batinnya menyeka air mata agar tak terus menerus mengalir di pipinya. Sesegera mungkin Arisa keluar dari toilet menuju ruangan ia bekerja. Entah kebetulan atau mungkin memang ia terlalu lama, tak terasa waktu jam makan siang sudah tiba. Terdengar ponselnya berbunyi dan Arisa segera menjawab dengan tangan masih gemetar.
"Daf..."
"Aris kau dimana?"
"Aku... aku tak tahu ini lantai berapa Daf..." jawab Arisa menoleh kesana kemari dengan panik karena tidak ada orang berlalu-lalang.
"Ya sudah... kamu naik lift lagi, aku tunggu di lantai 3." Ucap Daffa seraya menenangkan agar Arisa tidak terlalu panik. Kemudian Arisa bergegas menuju lift dan hatinya terus berdoa karena masih ketakutan.
. Sesaat setelah pintu lift terbuka, Arisa bergegas mencari keberadaan Daffa. Daffa yang tak jauh dari lift, bergegas menghampiri Arisa yang sudah lemas.
"Aris... kenapa wajahmu sangat pucat? Kau sakit?" Arisa menggeleng kasar tanpa menjawab pertanyaan Daffa.
__ADS_1
"Lalu kamu kenap-- Aris..." teriak Daffa saat Arisa ambruk dihadapannya. Seketika, karyawan lain mulai menghampiri Daffa dan beberapa diantara mereka ada yang memanggil tim medis untuk menjemput Arisa menuju klinik perusahaan. Kesibukan itu menarik perhatian Fabian yang masih sibuk mencari Arisa. Dan ia terkejut mendapati gadis yang ia cari ternyata menjadi alasan karyawan berkerumun. Tak lama, datang beberapa anggota tim medis membawa Arisa menuju klinik. Sampai kabar itu terdengar oleh Fabio yang sedang berada di ruangannya. Ia segera beranjak dan bergegas menuju klinik memastikan bahwa Arisa tidak apa-apa.
"Cih... apa yang aku pikirkan. Tak mungkin aku peduli padanya, aku mendekatinya dan menikahinya hanya untuk mendapatkan saham Yugito dan merebut perusahaannya." Gumam Fabio yang tak berniat menghentikan langkahnya. Seakan tubuhnya bergerak sendiri dan hatinya mendadak tidak tenang.
Fabio membuka pintu klinik dengan keras membuat seisi ruangan terkejut dan dengan cepat mereka memberi hormat pada Fabio. Daffa dengan ragu ikut menunduk saat Fabio berjalan melewati dirinya. Daffa menyernyit saat Fabio berhenti tepat di samping Arisa yang masih terlelap.
"Kenapa dia?" Tanya Fabio dengan tegas.
"Di-dia...." Daffa ragu menjawab pertanyaan Fabio.
"Bukankah ini semua karena kau?" Tanya Fabian yang berada di belakang Fabio.
"Aku tidak bertanya padamu." Tegas Fabio seraya beranjak menuju keluar. "Semuanya keluar." Ucapnya kemudian setelah ia berhenti dari langkahnya dan membuka pintu dengan lebar. Tak menunggu Fabio mengulang perkataannya, semua yang ada di ruangan kecuali satu dokter, Fabian dan Daffa yang masih berdiri di tempatnya.
"Apa kau tidak dengar?" Teriak Fabio menyiutkan nyali Daffa seketika.
"Tapi pak, eh tuan... saya tem--"
"Aku tak peduli kau temannya atau bukan. Kubilang keluar! Atau aku akan mencabut kontrak magangmu sekarang?" Lagi, Fabio berteriak memekik telinga. Namun Daffa masih berdiri ditempatnya dan melirik Arisa dengan ragu.
"Kau mengkhawatirkan apa nak? Aku calon suaminya. Kau pikir aku akan melakukan apa?" Seketika Fabian dan Daffa terbelalak mendengar pengakuan Fabio yang terasa tiba-tiba. Mereka tidak percaya bahwa Fabio adalah calon suami Arisa. Tak mungkin Arisa menerima kehadiran Fabio. Rayyan saja yang lebih segalanya dari Fabio sangat sulit untuk mengambil hati Arisa. Apa lagi Fabio.
"Apa kalian tidak punya telinga?" Teriak Fabio kembali memekik telinga. Dengan rasa penasaran, Daffa dan Fabian keluar dari ruangan. Setelah keduanya menutup pintu, Fabio menjatuhkan tubuhnya di kursi dan memijit pelipisnya.
"Apa tuan sakit?" Tanya dokter dengan sopan dan penuh keraguan.
"Sembuhkan saja dia. Kalau ada apa-apa, kau yang aku habisi." Dokter itu mengangguk pelan dengan rasa takut menyelimuti dirinya saat ini.
"Aku benar-benar gila. Siapa dia? Mengapa aku menjadi takut jika dia sampai terluka atau... arggghhhhh sial." Gumam Fabio beranjak dari duduknya dan menghempaskan tangannya kasar. Kemudian Fabio menghampiri Arisa dengan tatapan marah seperti seekor singa yang akan memakan mangsanya. Namun saat ia berada didekat Arisa, tatapannya menjadi sendu ketika dokter itu mengatakan bahwa Arisa baik-baik saja.
"Syukurlah...." ucapnya pelan lalu membelai rambut Arisa dengan lembut. Arisa perlahan membuka mata, lalu melirik pada dokter dan kemudian pada Fabio. Arisa terkejut lalu beranjak dan ia duduk menghimpit ke tembok. Dan seketika itu juga, kepalanya kembali terasa berputar karena kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya. Arisa meringis memegangi kepalanya dan saat itu juga sebuah tangan ikut meraih kepala Arisa dan mengusapnya pelan. Arisa terbelalak dan jantungnya berdetak keras ketika mengingat ancaman Fabio.
Melihat kode yang diberikan Fabio, Dokter itu keluar meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa kau takut? Aku seperti hantu?" Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Fabio. Arisa kembali terkejut saat Fabio mencium kepalanya sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkannya.
__ADS_1
-bersambung.