
. Di akhir pekan, Rayyan mengajak Arisa untuk berjalan-jalan di taman kota. Mereka masih saling diam beberapa hari terakhir ini. Keduanya duduk di salah satu kursi dan menatap orang-orang yang berlalu lalang. Dengan canggung, Rayyan mencuri-curi pandang pada Arisa yang saat ini sedang melamun.
"Mau sampai kapan anak ini diam?" Batin Rayyan menghela nafas berat. Namun, tiba-tiba Arisa menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan dengan tangan yang memeluk pinggangnya.
"Aihhh Sudah berubah moodnya?" Batin Rayyan kali ini terlihat begitu heran. Bahkan saat melihat tatapan Arisa yang tajam menatap sesuatu di depannya. Perlahan Rayyan melirik pada apa yang di tatap Arisa, lalu ia tersenyum karena beberapa gadis tengah menatapnya sembari berbisik-bisik dengan tersenyum dan sangat jelas tengah mengaguminya. Bahkan tak sedikit orang yang lewat mengatakan Rayyan begitu tampan.
"Benar-benar seperti pangeran di dunia nyata. Di lihat dari dekat, sangat jelas ketampanannya." Puja seorang gadis yang lewat tepat di belakang mereka. Terasa pelukan Arisa semakin erat membuat Rayyan sedikit menggeliat. Ketika ia melirik pada Arisa lagi, kini wajah gadis itu sudah muram dan sangat kesal. Rayyan tak bisa menahan tawanya membuat para gadis yang lewat di depannya histeris dan tak jarang dari mereka bahkan sampai ada yang tak berkedip. Arisa tiba-tiba beranjak dan mengambil sesuatu dari tas mungilnya. Rayyan tak habis pikir, bisa-bisanya Arisa membawa masker dan kacamata di dalam tas sekecil itu. Dipakaikan masker tersebut pada Rayyan dengan paksa dan kesal, lalu di lanjutkan dengan memakaikan kacamata. Rayyan semakin lepas tertawa melihat kecemburuan Arisa yang bisa mengubah sikapnya yang semula sedingin es kini menjadi sepanas api yang menyala.
"Diam kau. Kalau kau senang di lihat mereka, kenapa kau membawaku hah?" Bukannya takut, Rayyan malah terlihat senang sehingga Arisa melangkah pergi dari hadapannya, namun dengan cepat Rayyan menahan tangan Arisa agar terhenti. Benar saja, Arisa memang terhenti, namun ia enggan berbalik dan melihat Rayyan saat ini.
"Maafkan aku sayang. Mau bagaimana, aku memang tampan." Ucapnya malah membuat Arisa semakin geram. "Jangan marah. Lihatlah sekeliling! Mereka menonton kita bertengkar. Dan sepertinya mereka juga merekam pertengkaran kita ini." Lanjut Rayyan kemudian merangkul Arisa dengan senyum dibalik maskernya. Arisa mencoba mengatur nafasnya kemudian melanjutkan berjalan-jalan santai seakan tak terjadi apa-apa. Kembali terdengar kicauan para penggemar membuat pasangan itu sakit telinga. Kali ini bukan Rayyan yang mendapat pujian, tapi Arisa yang di kagumi oleh para pemuda yang berada di sana.
"Hai Arisa. Kau sangat cantik." Begitu puji beberapa lelaki yang berpapasan dengan mereka, ataupun yang mereka lewati. Rayyan membuka jaketnya lalu menutup kepala Arisa sepenuhnya sampai Arisa sendiri tak bisa melihat apa-apa.
"Kau gila Aray. Aku tak bisa melihat apa-apa." Protes Arisa dari balik jaket dengan meronta-ronta berusaha melepaskan karena nafasnya sudah sesak.
"Aray aku sulit bernafas." Protesnya lagi dengan menepuk keras perut Rayyan. Dengan begitu, Rayyan melepaskan jaketnya dan melirik tajam pada Arisa.
"Apa?" Tantang Arisa yang tak kalah melotot. Dengan kesal, Rayyan membuka kacamata dan maskernya.
"Kau yang apa? Kau juga senang di puji lelaki hidung belang itu hah?"
"Oh maafkan aku sayang. Memang aku cantik. Kenapa? Kau mau protes?" Balas Arisa membalikkan kata-kata Rayyan. Keduanya terlibat perang batin yang di lemparkan lewat tatapan mata mereka yang tajam.
"Aunty... Uncle....." teriak Ghava dari jauh. Anak itu berlari sembari melempar senyumnya yang khas menghampiri Arisa dan Rayyan. Ghava langsung memeluk Rayyan padahal Arisa sudah merentangkan tangannya bersiap memeluk Ghava. Melihat kemenangannya, Rayyan tersenyum ejek pada Arisa yang kembali kesal lalu menepuk kepala Ghava sedikit keras.
__ADS_1
"Rasakan!" Geram Arisa memalingkan wajahnya.
"Uncle... aunty nya jahat." Rengek Ghava mengadu pada Rayyan.
"Iya memang aunty mu jahat. Enaknya di apakan ya?"
"Masukkan ke keranjang itu saja uncle." Jawab Ghava menunjuk sebuah troli untuk membawa mainan-mainan yang di sediakan di sana.
"Kalian pikir aku apa?"
"Boneka." Jawab Rayyan.
"Barbie.." jawab Ghava. Keduanya menjawab hampir serentak membuat mereka berpandangan dan tertawa. Melihat kekompakan keduanya, Arisa menarik kasar telinga mereka hingga keduanya pun meringis kesakitan. Melihat Tio yang menghampirinya, Arisa cepat-cepat melepaskan keduanya dan berpura-pura biasa saja.
"Ayah.... aunty jahat." Kini Ghava beralih mengadu pada ayahnya.
"Tidak." Elaknya seraya memalingkan wajah menghindari tatapan Tio.
"Bohong kak. Dia menarik telingaku dan Ghava." Rayyan ikut mengadu dan Tio melihat telinga Rayyan dan Ghava memerah.
"Aris...."
"Habisnya mereka bilang aku harus di masukkan ke keranjang itu. Mereka pikir aku belanjaan online?" Keluar sudah unek-unek yang berusaha di sembunyikan Arisa dari Tio.
"Memang iya. Kau memang harus di masukkan kesana." Tio pun ikut mengejek Arisa hingga keduanya sempat terlibat adegan kejar-kejaran. Rayyan yang melihat Arisa kembali ceria pun hanya tersenyum lega.
__ADS_1
. Menjelang sore, Arisa dan Rayyan memilih untuk mampir di cafe untuk sekedar nongkrong.
"Oh iya sayang. Malam rabu nanti kau ikut aku ya. Ada acara di gedung Pasifik. Semua pimpinan perusahaan dari seluruh Indonesia ada. Dan kemungkinan kak Tio pun pasti datang. Boleh membawa keluarga atau pasangan." Ujar Rayyan ketika keduanya tengah menikmati musik yang mengiringi suasana sore ini.
"Oh? Pasti banyak orang."
"Ya... mungkin. Namanya juga seindonesia."
"Tapi bukankah ayah dan bunda juga pasti hadir."
"Iya. Dan tak mungkin aku bergabung terus dengan mereka setiap ada acara. Aku ingin membawa pasangan juga."
"Baiklah... tapi jangan meninggalkanku nanti. Aku tak mau duduk sendirian dan ditanya banyak orang."
"Iya sayang. Kau tenang saja."
. Singkatnya, Sesuai jadwal, Rayyan menjemput Arisa untuk menuju acara. Rayyan terpesona saat melihat penampilan Arisa yang sangat cantik baginya. Ia serasa jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya.
"Berkedip tuan." Ucap Arisa mengusap wajah Rayyan yang menatapnya tanpa berkedip. Sontak Rayyan langsung salah tingkah dan ia kembali menatap sang kekasih dengan kagum. Keduanya memasuki mobil dan bergegas melaju ke gedung acara.
Sampai disana, Arisa menggandeng lengan Rayyan dan jelas tak ingin terpisah. Ketika keduanya melangkah di gerbang aula yang luas, Arisa tanpa sengaja mendapati sosok yang begitu ia kenal melintas jauh dari pandangannya. Arisa mengikuti sosok tersebut yang menuju ke arah lift. Ketika ia hendak menyusul, Rayyan segera menarik tangan Arisa.
"Katanya tak boleh berpisah?" Tegur Rayyan terdengar kesal dan khawatir menjadi satu.
"Kak Reza Aray." Ucapnya dengan berkaca-kaca.
__ADS_1
-bersambung