
. "Sudahlah kak. Jika kakak tak mencintaiku, katakan saja sekarang. Agar aku tak berharap lebih pada kakak."
"Berharap lebih katamu? Berharap lebih apa jika hanya menganggap teman?"
"Siapa yang menganggap kakak teman? Apa kakak tidak melihatku selama ini? Tapi kakak sendiri yang kenyataannya begitu kan?"
"Jika aku tak menganggapmu kekasih, dan jika aku punya wanita lain seperti yang kau katakan, tak mungkin aku mempersiapkan semua niatku untuk melamarmu. Dan kau sendiri yang membuatku merasa harus mundur dan tak punya harapan." Dengan tiba-tiba Raisa mematung mendapati penuturan mengejutkan dari Fariz.
"Kakak pikir aku akan percaya? Selama ini aku menunggumu datang melamarku, tapi mana? Hanya omong kosong yang aku dapatkan. Dan sekarang, kakak bilang akan melamarku? Jangan membuatku tertawa kak." Ucapnya dengan derai air mata yang kembali tak bisa ia tahan.
"Aku tak tahu kenapa kakak berpikir aku tak menganggapmu ada. Dan aku juga tak tahu--"
"Kau yang mengatakannya pada Fabian bahwa aku hanyalah temanmu." Raisa menyernyit mencoba mencerna ucapan Fariz. Mengapa Fabian di bawa dalam masalahnya?
"Fa-Fabian?"
"Iya Fabian. Kemarin kau bilang aku hanya teman bagimu."
"Kakak ada disana? Mengapa tak menemuiku?"
"Aku sempat akan menyapamu. Tapi niatku hilang bersamaan dengan hatiku yang hancur atas pengakuanmu."
"Apa kakak langsung pergi?" Kini giliran Fariz yang menyernyit mendapati pertanyaan Raisa.
"Iya kan? Karena jika kakak memang ada disana dan mendengar semua ucapanku, kakak tak mungkin salah faham dan marah begini padaku."
"Salah faham?"
"Sudahlah Kak. Kakak hanya mencari alasan agar berpisah denganku kan? Percuma aku menunggu kakak selama ini, nyatanya kakak tak pernah serius denganku." Mendengar itu, Fariz tertawa frustasi dan ia segera mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku celananya.
"Tak serius kau bilang? Lalu, kau tahu artinya ini? Aku sudah mempersiapkannya, tapi kau?"
"Sudah ku bilang kakak hanya salah faham. Dasar pria bodoh. Harusnya kau jangan pergi dulu. Dengarkan sampai selesai." Rengek Raisa dengan memukul-mukul lengan dan dada Fariz sambil menangis dan membuat Fariz gemas. Ia segera memeluk Raisa dan membiarkan gadis kesayangannya menangis di dekapannya.
"Kau juga bodoh. Berpikir aku punya wanita lain, padahal untuk mencintaimu saja aku sudah cukup. Dan Wina itu siapa? Kau menyebutnya selingkuhanku."
"Kakak bohong. Tak mungkin kakak tak mengenal Wina. Dia teman Aris, wanita yang menemaniku meeting ke mall kakak."
"Aihhhh yang sakit itu? Jadi kau tak kembali karena cemburu?"
"Jelas saja aku cemburu. Kakak begitu lembut padanya seperti bersikap padaku yang selalu lembut."
"Dia mau pingsan Raisa.... tubuhnya sangat panas. Dan aku khawatir bagaimana jika dia sampai semakin parah. Untung saja dokter yang mengenalnya kebetulan ada disana jadi dia bergegas membawa gadis itu ke klinik." Jelas Fariz yang enggan melepas pelukannya dari Raisa.
"Jadi aku yang salah faham?" Tanya Raisa dengan polos mendongak dan menatap datar pada Fariz yang mendelik dibuatnya.
"Kenapa kakak menyebalkan...." rengeknya kembali menangis keras.
"Aihhh kau malah menyalahkanku? Dan kenapa kau menangis semakin keras? Hei Raisa... aduhhhh nanti aku di kira apa-apa. Sudah jangan menangis." Ucap Fariz menenangkan dengan mendadak gelisah sendiri.
"Kenapa aku punya pacar bodoh seperti kakak."
__ADS_1
"Kalau begitu, bukan aku saja yang bodoh. Kau juga bodoh karena mau menjadi pacarku."
"Aku membencimu kak."
"Aku sakit hati Raisa."
"Benci. Pokoknya benci..."
"Tapi, bagaimana jika kita hidup bersama? Kau bisa membenciku setiap hari."
"Apa maksudnya?"
"Ishh jangan pura-pura tidak tahu."
"Kakak melamarku?"
"Raisaaaaa....."
"Iya iya aku mau."
"Benarkah? Serius?" Raisa mengangguk ketika Fariz melepas pelukannya dan ia kemudian memasangkan sebuah cincin berlian ke jari manis Raisa. Raisa lalu kembali memeluk Fariz dengan erat dan kini menangis terharu.
"Aku membencimu kak." Lirihnya semakin erat memeluk Fariz.
"Tapi aku sangat mencintaimu." Balas Fariz kemudian mengelus rambut indah Raisa dan perlahan membuat mereka berhadapan. Fariz menepuk pelan pipi Raisa dengan gemas lalu meraih bibir manisnya. Raisa yang mungkin pertama kali melakukannya hanya mematung mendapati kecupan di bibirnya.
. Semakin hari, kondisi dan situasi kediaman Putra mulai membaik dan terasa kembali seperti dulu. Keduanya mendapat perlakuan adil dari kedua orang tuanya. Meskipun tak bisa mengingat apa saja yang terjadi, Arisa masih bisa merasakan kebahagiaan yang hilang selama bertahun-tahun lamanya.
Rasa penasarannya semakin besar saat ia mendapati sebuah map biru yang sudah berdebu. Perlahan ia membukanya dan matanya membulat saat membaca setiap kata dari rekam medis yang mungkin hanya dirinya saja yang tahu saat itu.
"Kanker hati stadium 3? Aku mengidapnya? Dan... apa jahitan ini bukan karena kecelakaan yang sama yang membuatku amnesia?." lirihnya meraih dadanya.
Dan secara tiba-tiba semua memori-memori masa lalu bermunculan seperti sebuah film yang diputar rapi. Dari pertemuannya dengan Rama, sampai kehilangannya untuk selama-lamanya. Dan saat ia diabaikan oleh Rahma sampai ia mengidap penyakit lambung yang parah akibat tak pernah menjaga pola makan. Lalu, kisah cinta rumit antara dirinya dan Rayyan, dan bahkan Fabio yang sempat menjadi bagian hidupnya. Arisa seketika ambruk dan terduduk lesu di samping tempat tidur dengan memeluk lututnya.
"Kenapa aku harus ingat? Kenapa Tuhan? Aku sudah bahagia dengan hilangnya ingatanku. Kenapa kau malah mengembalikannya sekarang? Jika aku boleh meminta, aku lebih menginginkan Rama daripada ingatan ini." Tangisnya pecah seketika saat hatinya terasa teriris karena kehilangan Rama. Ia merasa perasaan yang sempat hilang pada sosok yang sudah tiada itu kembali dengan tiba-tiba. Walaupun kini ia memiliki kekasih, namun tak bisa di pungkiri bahwa ia begitu mengharapkan kehadiran Rama dari pada Rayyan. Hatinya semakin sakit saat kenangan-kenangannya bersama Rama jelas berputar di kepalanya.
Ditengah kesedihannya, terdengar ponselnya berbunyi dan menampilkan nama Rayyan dalam panggilan video. Segera ia membersihkan wajahnya yang berderai air mata agar Rayyan tak curiga. Ia sengaja menjauhkan ponselnya agar wajahnya tak terlihat jelas.
"Kakak putri." Sapa Seina ketika Arisa sudah menjawab panggilan.
"Hai Sein..." jawab Arisa menyapa.
"Aku tidak di sapa?" Sindir Rayyan yang tiba-tiba memperlihatkan wajahnya.
"Hai calon suami..." ejek Arisa membuat Seina menutup mulutnya karena terkejut.
"Bunda... katanya mau buat camilan. Sein bantu ya...." teriak Seina dengan begitu saja pergi dari hadapan Rayyan dan meletakkan ponsel di meja. Rayyan yang melihat itu hanya tertawa puas dan ia meraih ponselnya memperlihatkan wajah tampannya.
"Sayang. Kau sedang apa?" Tanya Rayyan sambil menata rambutnya yang berantakan.
"Aku sedang.... apa ya? Memikirkanmu mungkin." Jawabnya penuh candaan. Namun hal itu membuat Rayyan merasa heran.
__ADS_1
"Kau bersedih?" Tanya Rayyan menundukkan pandangan Arisa.
"Tidak.... memangnya kenapa?"
"Suaramu berbeda. Dan wajahmu juga seperti menangis? Kau kenapa? cerita saja.!"
"Ohh... tidak Aray. Aku sedikit flu saja. Tadi tak berhenti bersin-bersin, dan saat aku membereskan beberapa berkas yang sepertinya sudah lama, banyak debu. Jadi mataku perih."
"Benarkah? Tapi jika ada masalah katakan saja padaku. Jangan dipendam sendiri."
"Iya Ram.. maksudnya Rayyan." Mendengar itu, wajah Rayyan semakin merasa suram. Ia mencoba mengingat nama siapa yang hendak disebut Arisa. Dan ia pun tersadar panggilan Arisa padanya barusan.
"Besok aku jemput ya.." ucap Rayyan mengalihkan pembicaraan dan mencoba menepis pikiran negatifnya.
"Baiklah tuan. Saya hanya menurut saja." Jawabnya tersenyum simpul.
"Kenyataan apa yang sedang kau sembunyikan dibalik senyum manismu itu Risa?" Batin Rayyan menatap dalam wajah sang kekasih dengan penuh arti.
***
. Paginya, sesuai yang dikatakan, Rayyan menjemput Arisa untuk berangkat bersama. Dan seperti biasa pula, Arisa dengan kebetulan bertemu dengan Raisa didepan kamarnya. Namun kali ini berbeda, Raisa tersenyum padanya meski dengan mata yang sembab. Sontak Arisa tertawa kecil membuat Raisa merasa heran.
"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Raisa dengan kesal. Arisa hanya menjawab dengan gelengan kepala dan menunjuk matanya sendiri.
"Jangan menyindirku Aris. Aku memang menangis lama. Tapi, kau tahu? Aku menangis karena bahagia." Dan Arisa hanya memiringkan kepala sambil menyernyit namun tak memudarkan kembali senyumannya.
"Kak Fariz melamarku semalam. Dan dia bilang, secepatnya dia akan membawa keluarganya untuk melamarku secara resmi." Lanjutnya membulatkan mata Arisa seketika. Ia tampak terkejut dan ikut senang atas berita bahagia yang dikatakan saudari kembarnya.
"Selamat Rais.... aku doakan semoga kau bahagia bersama kak Fariz." Ungkap Arisa sembari memeluk hangat Raisa.
"Jadi, sekarang tak ada alasan aku mengkhawatirkanmu mendekati Aray" lanjut Arisa dengan nada ejekan sambil melepaskan pelukannya.
"Ohh kau senangnya bukan karena aku dan kak Fariz akan bersama, tapi karena tak ada halangan lain sebagai sainganmu? Tapi kau harus ingat juga Rayyan itu adik iparku, aku bisa lebih dekat dengannya setelah ini." Balas Raisa tak kalah puas.
"Ohhh jadi kau masih mau bersaing denganku? Oke. Kita lihat siapa yang-- ya ampun ponselku tertinggal." Ucapnya mendadak terkejut dan berlari kembali memasuki kamar. Raisa yang terheran bercampur bahagia, hanya tertawa kecil sambil menuruni anak tangga.
Di teras, ia bertemu dengan Rayyan yang tengah berbincang dengan Yugito.
"Eh adik ipar. Jemput Aris ya?" Ejek Raisa masih tertawa kecil.
"Iya kakak ipar. Dimana adikmu?"
"Si pelupa itu sedang mengambil barangnya yang tertinggal." Jawabnya penuh candaan.
"Rais.... jangan begitu." Tegur Yugito yang melirik tajam kepada Raisa.
"Bercanda ayah."
"Tapi bagaimana jika Aris salah faham. Apa lagi dia sedang amnesia, dan jika mendengar kau bicara begitu, dia akan tersinggung."
"Ayah tak tahu bahwa aku sudah mengingat semuanya. Termasuk sikap ayah yang berbeda padaku. Menganggapku mempermalukan keluarga dan semuanya yang membuat perasaanku hancur." Batin Arisa yang terhenti di balik pintu.
__ADS_1
-bersambung.