TAK SAMA

TAK SAMA
113


__ADS_3

. "Aray... tadi kau menyuruhku menemuimu? Ada apa?" Seketika Rayyan menjadi gugup dan hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepala belakangnya meskipun tak gatal.


"Hehe... tadi iya, sekarang aku ada urusan. Maaf ya.." ucapnya sedikit mengacak rambut Arisa yang terlihat menunduk sendu.


"Tak apa..." Lirihnya enggan mendongak dan menatap Rayyan secara langsung. Rayyan mengerti akan permintaan Arisa yang mungkin tak ingin satu ruang dengan Oma. Bahkan Arisa terlihat sedikit menjauh saat Oma menghampiri dan berdiri di samping Rayyan. Oma seketika terpaku pada kalung yang di pakai Arisa, dan ia semakin tajam menatap Arisa yang menunduk gelisah.


"Arisa. Ternyata benar. Kau yang--"


"Oh Oma. Aray dan Risa sedang buru-buru." Ucap Rayyan segera menyela dan menarik tangan Arisa menjauh dari hadapan Oma.


"Sonya kau memang bermain-main denganku." Ucap Oma bergumam pelan dan ia segera pergi dari tempatnya.


Didalam lift, Rayyan yang terus menggenggam tangan Arisa merasakan kegelisahannya. Terasa dari genggaman Arisa yang semakin erat hingga jemari Rayyan pun tak kalah erat menggenggamnya.


"Sayang..."


"Aray... apa jam pulang masih lama?" Tanyanya cepat. Rayyan menghela nafas dalam sebelum ia menjawab pertanyaan Arisa.


"Apa karena Oma?" Arisa hanya menggeleng dan semakin menunduk tak berani memperlihatkan wajahnya.


"Risa.. Jangan khawatir. Oma sudah merestui hubungan kita."


"Tapi.."


"Sudah... nanti malam, ada kejutan untukmu." Mendengar hal ini, Arisa mendadak kembali bersemangat. Ia mendongak lalu menatap Rayyan dengan penuh harap.


"Apa-apaan wajahmu itu." Rayyan mengusap kasar wajah Arisa membuat keduanya tertawa penuh canda. Dan tiba-tiba, keduanya diam seketika saat pintu lift terbuka dan memperlihatkan para petinggi perusahaan. Dengan santai, keduanya berjalan keluar lift dan melewati mereka begitu saja seakan tak terjadi apa-apa. Namun ketika para petinggi sudah tak terlihat, kembali Rayyan mengacak rambut Arisa dengan usil. Hal itu di lihat oleh beberapa karyawan baik pria maupun wanita. Kebanyakan karyawan wanita melihat Rayyan dengan tatapan kagum akan ketampanannya saat tertawa. Namun disisi lain, rasa iri menyelimuti karena hanya Arisa yang mampu membuat bos mereka bisa tertawa lepas seperti itu.


"Mereka pasangan yang serasi ya? Tapi, aku tak bisa membayangkan perasaan Raisa."


"Aku dengar, Raisa dan si bos sudah benar-benar memutuskan hubungan mereka."


"Tapi aku lebih kasihan pada si bos. Arisa tak bisa mengingat kenangan mereka dulu yang katanya sangat romantis."


"Ah iya. Aku juga berpikir begitu." Ucap para gadis-gadis yang tak bisa memalingkan pandangannya dari kedua orang yang sedang bercanda itu.


"Hei. Sedang apa kalian? Bukankah ini jam kerja?" Tegur Daffa mengejutkan mereka seketika. Bahkan salah satunya sampai terlonjak karena ulah Daffa.


"Pak Daffa." Pekik mereka bersamaan.


"Apa?" Tanyanya angkuh.


"Tidak pak. Pe-permisi." Daffa hanya melirik tajam pada mereka yang berjalan cepat menghindari Daffa. Diketahui, banyak perempuan yang mengidolakannya di kantor, namun tak ada satupun yang Daffa lirik. Bahkan mereka menyimpulkan Daffa sudah memiliki kekasih.

__ADS_1


"Pak Daffa juga tampan." Bisik salah satu.


"Iya. Tapi galak." Balas yang lain.


"Tapi tampan."


"Iya tapi tetap saja galak."


"Pokoknya tampan."


"Sudah... kalian kenapa bertengkar. pak Daffa itu dulunya playboy." Timpal yang lainnya melerai kedua gadis ini.


"Tak apa. Yang penting aku padamu pak Daffa." Dan teman-temannya segera menariknya agar tak bersikap memalukan didepan umum karena tergila-gila pada Daffa.


. Singkatnya saat pulang, Danu segera bergegas karena panggilan darurat dari Seina. Sedangkan Rayyan memilih untuk mengantarkan Arisa terlebih dahulu. Sesampainya di kediaman keluarga Putra, Rayyan mengikuti Arisa sampai teras. Terlihat Raisa pun baru sampai, ia segera menyapa Rayyan dengan penuh candaan. Arisa membiarkan Rayyan dan Raisa berbincang di ruang tamu, sementara dirinya membuatkan minum untuk Rayyan. Tak perlu menunggu lama, Arisa kembali dengan secangkir teh dan meletakkannya di atas meja.


"Untukku mana?" Tanya Raisa dengan rengekan manja.


"Buat saja sendiri." Jawab Arisa dengan mendelik kesal.


"Jahat sekali kau." Gerutu Raisa memangku tangan tak kalah kesal.


"Mau apa? Teh? Kopi? Air putih saja lah." Ucap Arisa segera beranjak tanpa membiarkan Raisa menjawab.


"Kecilkan suaramu bodoh." Tegur Rayyan menepuk dahi Raisa.


"Sakit sialan." Raisa membalas menepuk kepala Rayyan sedikit keras.


Arisa berjalan perlahan ketika hampir sampai di ruang tamu, ia merasa janggal dengan keadaan disana yang terdengar bisik-bisik dan merasa ada yang berbeda. Dan saat ia hendak melangkah, ia yang tak sengaja melihat adegan Rayyan memeluk gemas Raisa membuatnya mematung di ambang pintu. Ia menarik diri kembali bersembunyi di balik tembok dengan tangan yang gemetar, mata yang memerah dan emosi yang tak terkendali. Hatinya semakin teriris saat mendengar ucapan Rayyan yang begitu mengejutkannya.


"Kau memang terbaik. Aku semakin menyayangimu." Ucap Rayyan memeluk gemas Raisa hingga Raisa memukul lengannya karena sulit bernafas.


"Hei Rayyan. Sialan lepaskan aku. Nanti Aris melihat. Dia bisa salah faham." Bisik Raisa namun masih terdengar oleh Arisa.


"Oh iya aku lupa." Segera Rayyan melepaskan pelukannya dari Raisa dan kembali bersikap santai.


Dan, Arisa menata kembali wajahnya agar mereka tak curiga bahwa ia sempat menangis.


"Ini coklatmu." Ucap Arisa dengan suara pelan dan meletakkan cangkir panas itu di meja.


"Terimakasih adikku sayang." Namun, Arisa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Raisa. Ia segera bangkit dari duduknya dan bersikap seakan sedang tak baik.


"Sayang kau kenapa?" Tanya Rayyan dengan mendadak khawatir.

__ADS_1


"Aku agak pusing. Aku ke kamar dulu. Kau mengobrol saja dengan Rais. Dan jika pulang, pulang saja. Aku mau istirahat." Setelah melontarkan kalimat itu, Arisa segera berlalu menuju kamarnya. Rayyan hanya terdiam dan tak mencegah kepergian Arisa dari hadapannya.


Dengan keras, Arisa menutup pintu kamar lalu menguncinya, dan ia bergegas membuka pintu balkon dan menangis tersedu-sedu di sofa. Ia melirik pada bunga anggrek ungu disampingnya dan tangisnya semakin keras.


"Rama.... jemput aku sekarang" ucapnya memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan tangan.


. Akhirnya Rayyan memutuskan pulang setelah ia menunggu lama dan Arisa tak kembali. Meskipun Arisa memang mengatakan dirinya akan istirahat, namun ia masih berharap pacarnya itu akan menemuinya sebelum ia pulang.


Hingga sampai dirumah, Rayyan disuguhkan dengan kemarahan Oma Galuh pada ibunya. Dan ia segera meraih Sonya yang sedang menunduk merasa bersalah.


"Sudah aku katakan padamu. Jika saja aku menemukan kau mempermainkanku, maka kau akan aku beri pelajaran." Tegas Oma dengan nada yang begitu tinggi.


"Oma ada apa?" Tanya Rayyan kini beralih menatap Oma.


"Dan kau Aray. Kenapa kau tak bilang bahwa kalung yang di berikan pada Raisa itu palsu? Apa kau yang membujuk ayah dan ibumu untuk memberikan yang asli pada Arisa karena kau mencintainya. Aray... Oma tahu kau mencintai gadis itu. Tapi apa dengan cara ini kau berharap Oma merestui kalian? Kasihan Raisa, jika dia tahu kenyataannya dia pasti bersedih karena merasa dipermainkan oleh keluarga kita." Namun Rayyan hanya diam dan Oma yang merasa bahwa Rayyan pun mengetahui faktanya hanya bisa tertawa sinis.


"Apa harus dengan begini? Kenapa tidak di berikan saja sekalian. Oma benar-benar tak bisa membayangkan perasaan Raisa bagaimana jika dia tahu kebenarannya." Lanjut Oma kemudian ia berbalik dan melangkah dari tempatnya.


"Kenapa harus dipermasalahkan Oma? Ini hanya perihal kalung saja." Tutur Rayyan menghentikan langkah Oma.


"Kau bilang hanya perihal kalung. Tapi bagi Oma ini menyangkut lebih dari sekedar kalung. Kalung itu bukan hanya kalung untuk menantu yang di istimewakan saja, tapi untuk siapa yang paling pantas mendapatkannya." Tegasnya lalu pergi tanpa kembali menoleh.


"Oma seakan berkata bahwa Risa tidak pantas mendapatkannya. Lalu, sekarang apa yang akan Oma lakukan? Arag, ayah dan bunda sudah memilih siapa yang pantas menjadi pendampingku dan oma menentangnya. Apa Oma akan mengusirku? Atau mencoret namaku dari ahli waris keluarga Pratama? Silahkan Oma! Aray sudah benar-benar tidak peduli." Ucap Rayyan dengan lantang dan beranjak lalu menyusul Oma dan melewatinya begitu saja. Beberapa kali Oma memanggil namun tak pernah ia hiraukan.


"Aray berhenti disana.!" Titahnya tegas, dan 'bugh' Oma terjatuh di lantai sembari memegangi dadanya yang mendadak sesak. Sonya segera meraih mertuanya dan ia memanggil-manggil Oma beberapa kali, namun matanya semakin menutup. Sonya beralih memanggil Rayyan yang sudah berlalu keluar rumah dan terdengar suara mobilnya yang dengan sengaja di lajukan dengan cepat.


. Dan sampai pada waktu malam, Rayyan yang mematikan ponselnya kini berbaring di tempat tidur di apartemennya. Ia menatap dalam pada langit-langit kamar sembari membayangkan kehidupannya tanpa Arisa jika dulu pernikahannya dengan Raisa terjadi. Dan Arisa sendiri kini mungkin sudah menjadi nyonya Nalendra sekarang. Dan saat ia sedang terhanyut dalam lamunannya, suara ketukan di pintu depan berhasil membuyarkan lamunan itu. Rayyan menoleh sejenak lalu menyipit menebak siapa yang berani mengganggu kesendiriannya. Dengan malas, ia beranjak dan membuka pintu dengan wajah yang sangat suram hingga para bawahannya merasa ketakutan mendapati tatapan Rayyan.


"Tu-tuan... Nyo-nyonya besar masuk rumah sakit." Ucapnya terbata melaporkan kejadian tadi sore.


"Lalu?" Tanyanya santai karena sudah tahu neneknya itu pasti mengalami serangan jantung jika dibawa ke rumah sakit.


"Eh?" Bawahannya terheran dengan tanggapan Rayyan yang begitu santai. Sudah jelas Rayyan tahu Oma mengalami serangan jantung, dan dia masih bersikap biasa saja.


"Apa tuan tidak...."


"Untuk apa? Oma saja tidak peduli pada perasaanku kan?" Tanyanya kembali menutup pintu dengan keras. Saat ia hendak duduk, ia seketika mematung dan kembali mengingat kenangannya dengan Oma. Kemudian ia berubah pikiran dan segera berlalu menuju rumah sakit.


Sampainya disana, Rayyan berlari menyusuri setiap lorong dan langsung memasuki kamar inap Oma.


"Oma..." lirihnya.


"Aray... Apa kau dengan Arisa? Katakan! Oma merestuinya."

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2