TAK SAMA

TAK SAMA
134


__ADS_3

. Reza terhenti, ia termangu mendapati keakraban Arisa dengan Rega. Kekhawatirannya mulai merasuki, Reza semakin takut jika Arisa hanya diperalat oleh Rega untuk menjatuhkannya. Namun melihat senyumnya, Reza tak mengerti bahwa yang dilemparkan Rega itu senyum palsu atau senyum tulus. Dan juga, melihat Arisa yang seakan menjadi sosok yang manja dan suka bercanda didepan Rega, ada rasa lega di hati Reza. Karena setelah 4 tahun berlalu, yang bersamanya bukanlah Arisa yang sesungguhnya karena ingatan Arisa yang hilang. Dan saat Arisa bilang ingatannya sudah kembali, satu hal yang mengganggu pikiran Reza, yaitu sikap dan karakter Arisa yang dingin dan seakan tak mempedulikan apa-apa. Karena tak bisa dipungkiri, 4 tahun lamanya ia bersama Arisa, rasa sayangnya terhadap adik sambung begitu melekat dan seakan sudah mendarah daging bagi Reza. Bahkan ia rela jika di umur sekarang dirinya belum juga mendapatkan pendamping hidup. Sebelum melihat Arisa benar-benar bahagia, Reza sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta pada gadis manapun agar tetap menemani Arisa lebih lama.


Perlahan ia melangkah dan semakin cepat, ia tersenyum tipis lalu menepuk pundak Rega dengan langsung melewatinya begitu saja.


"Dasar pengganggu." Cetus Rega menghentikan langkah Reza.


"Apa maksudmu hah?" Reza berbalik dan langsung menghampiri Rega.


"Mau ribut?" Tanya Arisa dengan sinis.


"Tidak sayang. Ayo kita pergi dari sini." Jawab Rega sambil mendorong tubuh Arisa menjauh dari Reza.


"Eh siapa yang kau panggil sayang? Awas ya jika kau macam-macam pada adikku." Ucap Reza dengan terus mengawasi langkah keduanya.


"Sudah sut ya kakak ipar. Jangan banyak bicara. Nanti sakit pinggangmu kambuh." Ejek Rega tersenyum penuh kemenangan. Reza yang menahan amarahnya seketika terdiam, ia begitu merasa lega saat Arisa tertawa lepas tanpa beban. Mengingat hari kemarin, Arisa terlihat begitu tertekan karena orang tuanya. Kali ini, Reza membiarkan Arisa untuk menghabiskan waktu dengan Rega. Dan jelas masih terus di awasi oleh anak buahnya. Jaga-jaga jika ada sesuatu hal yang membahayakan Arisa.


. Hari-hari terus berganti, sebagai seorang pimpinan, sikap Arisa haruslah menjadi seorang yang tegas. Tak jarang Arisa mendapati nasehat dari Reza dan Tio untuk tetap tenang jika menghadapi beberapa masalah. Tio yang selalu menghubungi Arisa meskipun lewat saluran telepon, dan Reza yang selalu mengawasinya hampir setiap saat.


Zain membuka pintu dan mempersilahkan seseorang masuk ke dalam ruangan Arisa. Arisa menyipit mengapa Zain begitu mudah membiarkan tamu yang belum membuat janji dengannya masuk ke ruangan yang tak sembarang orang bisa memasukinya. Seketika mata Arisa membulat mendapati siapa yang muncul dari balik tubuh Zain. Wajah itu, senyum yang khas membuat hati Arisa merasa teriris.


"Aray? Eeemm maaf, Tuan Rayyan." Sapa Arisa dengan sopan.


"Maaf nona PUTRI. Sepertinya kedatangan saya mengganggu pekerjaan anda." Ucapnya membalas sapaan Arisa dengan sengaja mengucap nama Putri dengan nada yang menusuk telinga.


"Ada perlu apa anda datang kemari. Dan, harusnya anda tahu jika ingin bertemu dengan saya, anda harus membuat janji terlebih dahulu." Balas Arisa dengan wajah dingin dan jelas sedang menutupi perasaannya yang berantakan.


"Apa aku boleh duduk?" Tanya Rayyan lancang. Tanpa menunggu jawaban Arisa, Rayyan berjalan dan dengan santai duduk di sofa tanpa menoleh sedikitpun pada pemilik ruangan. Zain hendak menegur, namun Arisa memberi kode agar tetap diam dan menyuruhnya untuk meninggalkannya berdua saja.


Setelah pintu tertutup, Arisa menghampiri Rayyan dan tanpa ragu ia duduk satu sofa dengan saling berjauhan. Arisa menatap datar wajah Rayyan yang begitu berbeda. Tak ada sebuah emosi apapun disana. Tatapannya pun lebih sayu dari terakhir mereka bertemu.


"Apa yang membuatmu datang kemari?" Tanya Arisa memalingkan wajahnya. Tatapannya begitu sendu, ia tak bisa berpura-pura menjadi orang lain lagi sekarang.


"Aku kesini hanya ingin mengundangmu secara langsung agar kau datang ke acara ku malam minggu ini." Jawab Rayyan yang enggan memalingkan pandangannya, seakan pemandangan di luar jendela lebih menarik perhatiannya dari pada Arisa.


"Jika hanya itu, kau tak perlu repot-repot kemari. Kau bisa mengirimkan via e-mail, atau--" ucapannya terhenti, matanya terbelalak saat Rayyan dengan tiba-tiba meraih tangannya dan Arisa sendiri tak menyadari pergerakan Rayyan.


"Ara--" lagi, tak sempat melanjutkan bicara, Rayyan menahan jarinya tepat di bibir Arisa.

__ADS_1


"Aku rasa, kau sudah paham alasanku memilih untuk menemuimu." Ucap Rayyan dengan nada yang datar namun bisa membuat Arisa terbelalak. Rayyan semakin dekat dan Arisa semakin menghimpit memejamkan matanya karena ketakutan. Perlahan Rayyan membelai kepala Arisa dan meraih beberapa helai rambutnya lalu dengan senyum yang sulit diartikan, Rayyan mencium rambut itu sembari melirik ke arah mata Arisa yang langsung memalingkan wajahnya kasar. Suasana terasa hening sesaat. Namun, Rayyan tiba-tiba tertawa dan menjauh sambil meraih ponselnya. Terlihat ia memanggil seseorang lewat panggilan video. Dengan acuh Arisa mencoba untuk tidak ingin tahu siapa yang tengah di panggil oleh Rayyan itu.


"Hai..." sapanya tanpa sedikitpun menganggap keberadaan Arisa. Samar terdengar suara perempuan yang seperti baru terbangun dari tidurnya. Hal itu berhasil membuat Arisa merasa sesak nafas.


"Sudah sembuh?" Tanya Rayyan selanjutnya. Arisa memilih untuk memainkan ponselnya dan berharap ia tak pernah mendengar suara gadis lain di ruangan itu selain suara dirinya sendiri.


"Mau bertemu seseorang?" Tanya Rayyan lagi, Arisa sedikit terkejut karena yang di maksud Rayyan itu memanglah dirinya.


"Risa... lihat kesini." Ucap Rayyan sembari mencoba meraih Arisa yang begitu acuh dan tak menanggapi Rayyan.


"Kakak jahat." Rengek seorang gadis yang terdengar asing di telinga Arisa, namun ia begitu mengenalinya. Sontak Arisa menoleh dan benar saja, suara itu adalah Seina.


"Sein." Panggil Arisa mendadak antusias. "Sayang apa kabar?" Tanya Arisa selanjutnya.


"Kak Raisa jangan pura-pura. Sein tahu itu kak Raisa kan? Sein maunya kakak Putri. Kakak Putri Arisa. Bukan Raisa..." rengeknya lagi terdengar lemas. Suara seraknya sangat khas menandakan bahwa ia sedang tak sehat.


"Ini kakak Putri sayang." Ucap Arisa meyakinkan.


"Bohong. Kakak bukan kakak Putri. Kakak itu kak Raisa."


"Bunda.... kak Aray bohong lagi... Sein mau kakak Putri." Ucapnya mengadu pada Sonya di sampingnya.


"Aray.... jangan ganggu Raisa. Dia sedang sibuk." Mendapati protes dari Sonya, Rayyan hanya tersenyum dan langsung merangkul pundak Arisa.


"Bunda mau bagaimana agar percaya yang ini adalah Arisa?" Tanya Rayyan masih dengan nada candaan.


"Sudahlah Aray... bunda sedang tak ingin bercanda. Kondisi Sein semakin parah. Yang mau dia temui itu Arisa bukan Raisa. Maaf ya Rais. Bukannya bunda menyinggung perasaanmu, tapi bunda khawatir pada kondisi Sein."


"Bunda... Sein sakit apa?" Tanya Arisa mulai berkaca-kaca. Rasanya sesak mendengar Sonya seakan sudah tidak mengenalinya lagi.


"Asma nya kambuh, dan sekarang ditambah demam. Tapi kamu jangan khawatir. Sebentar lagi sembuh." Jawab Sonya sambil meyakinkan.


"Sein akan sembuh kalau Sein bertemu kakak Putri. Bunda.... kakak Putri pasti marah pada Sein. Sein mau bertemu kakak Putri bunda... Sein mau minta maaf. Sein rindu kakak Putri." Hati Arisa semakin teriris mendengar rengekan Seina. Meskipun bukan anak kecil lagi, namun Seina yang sakit-sakitan memanglah bersikap manja.


Rayyan menjauhkan ponselnya dan dengan tanpa aba-aba ia mematikan panggilan videonya ketika melihat Arisa yang mulai sesenggukan.


"Kenapa kau menangis?" Tanya Rayyan mendadak khawatir.

__ADS_1


"Sein sakit tapi kau tak bilang." Jawab Arisa di tengah tangisnya.


"Maaf. Aku tak bermaksud. Dan yang tadi bukannya aku ingin membuatmu khawatir. Tapi aku hanya ingin Sein percaya bahwa yang sedang denganku ini adalah kau bukan Raisa." Ungkapan itu malah membuat tangis Arisa semakin keras.


"Risa.... hei.... jangan menangis."


"Ayo pulang." Ucap Arisa tiba-tiba sambil mengusap air matanya dan langsung menarik tangan Rayyan.


"Ehh mau kemana? Kau kan sedang sibuk." Rayyan terlihat kebingungan karena Arisa terus menarik tangannya, dan bahkan sampai lift pun ia tak ingin melepaskannya.


Tanpa disadari, tersimpul sebuah senyum kemenangan di wajah Rayyan. Ia merasa bahagia dibalik rasa khawatir Arisa yang begitu panik.


Rayyan mengikuti langkah Arisa dengan hati yang berbunga, karena sedari tadi tangannya tak kunjung di lepaskan.


Dengan jet pribadinya, Arisa segera terbang tanpa memberitahu Reza terlebih dahulu.


. Singkatnya, sampai di landasan khusus milik keluarga Pratama, keduanya turun dan lagi-lagi Arisa menarik tangan Rayyan. Dan keduanya pun di antar oleh supir pribadi Rayyan yang selalu stay disana. Sampai di kediaman utama keluarga Pratama, Arisa langsung berjalan cepat dengan terus menggenggam tangan Rayyan. Terlihat Sonya menyambut kedatangannya dengan tatapan haru dan sayu menatap Arisa.


"Bunda." Sapa Arisa yang langsung memeluk Sonya dengan erat.


"Nak..." balas Sonya tak kuasa menahan haru. Ia benar-benar merindukan gadis yang hampir menjadi menantunya itu.


"Sein dimana bunda?" Tanpa menjawab, Sonya langsung membawa Arisa ke kamar Seina. Hatinya kembali teriris melihat kondisi Seina yang memprihatinkan. Infusan dan oksigen cukup membuat Arisa sesak nafas meskipun hanya melihatnya saja.


Perlahan Arisa mendekati Seina, ia meraih tangannya yang kecil dan langsung mendekapnya.


"Sein.... ini kakak Putri." Lirih Arisa kembali menangis. Anak ceria yang ia kenal dulu, begitu melukai hatinya jika dalam kondisi yang begini.


"Sein...." panggil Arisa lagi. Perlahan Seina membuka matanya, dan tanpa di duga Seina langsung beranjak dan memeluk Arisa dengan erat.


"Kakak Putri kemana saja?" Ucapnya setengah berteriak. Entah karena girang atau marah, bahkan kecewa karena Arisa yang menghilang dari hadapannya.


"Kakak disini sayang."


"Jangan tinggalkan Sein lagi. Kakak Putri jangan marah pada Sein dan kak Aray." Rengeknya kemudian. "Sein tak mau kalau bukan kakak yang menjadi kakak ipar Sein. Sein maunya kakak Putri. Tidak mau kakak lain." Arisa tak menanggapi apapun. Ia hanya mengiyakan apapun yang dikatakan Seina.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2