TAK SAMA

TAK SAMA
42


__ADS_3

. Dimas bergegas menuju ruang pemeriksaan, UGD, dan ICU, namun tak kunjung menemukan Arisa.


"Sial. Apa Tio hanya mempermainkanku?" Decih Dimas kemudian menekan nama Tio di panggilannya.


"Hallo Tio. Dimana kau?"


"Hei... mana sopan santunmu? Aku ini lebih tua darimu dokter sialan." Teriak Tio dari seberang.


"Kau dimana? Katanya Arisa sakit? Aku cari di rumah sakit tidak ada." Dimas kembali menghela nafas kesal.


"Ish.. Aris sudah di kampus."


"Kau mempermainkanku? Kau bilang Arisa sakit."


"Aku tidak mempermainkanmu. Arisa memang ke rumah sakit tadi"


"Lalu sekarang dimana?" Dimas semakin dibuat kesal.


"Sudah ke kampus." Jawab Tio dengan polos.


"Apa?"


"Kau tidak dengar? Aris sudah di kampus."


"Tidak tidak. Maksudku kenapa kampus?"


"Kan memang Arisa kuliah di kampus."


"Isshh bukan itu maksudku." Dimas menghela nafas kasar dengan terus memijit dahinya karena Tio. "Sudahlah lupakan Tio." Ucap Dimas kemudian mematikan panggilan teleponnya.


. ### Jam makan siang, kembali Arisa di buat tak nyaman dengan kondisi tubuhnya.


"Aris.. kau yakin kau baik-baik saja?" Tanya Daffa yang khawatir akan kondisi Arisa yang terlihat berbeda.


"Tak apa Daf." Jawab Arisa memalingkan pandangannya.


"Jika merasa tak sehat, jangan berbohong." Ucap Rayyan menepuk kepala Arisa pelan.


"Aku rindu Wina." Lirih Arisa yang menunduk lesu.


"Kita juga rindu. Bukan kau saja." Arisa mendongak mendengar penuturan Rayyan.


"Sudah... nanti aku cari informasi tentangnya." Ucap Daffa kemudian.


"Terima kasih." Arisa melemparkan senyuman dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ehhh jangan menangis..." Daffa meraih Arisa dan tangannya di tepis oleh Rayyan dengan kasar.


"Jauh-jauh dari pacarku." Tegas Rayyan menatap tajam pada Daffa.


"Ishhhh pelit." Cetus Daffa mendelik kesal. Arisa hanya tertawa kecil menanggapi keduanya.


Sesuai yang di rencanakan, Raisa dan teman-temannya pergi ke toko buku. Raisa terpaku pada sebuah novel tentang cinta segitiga antara kakak beradik.


"Seperti kisahku." Gumam Raisa tersenyum menatap sampul buku yang menurutnya sangat menarik.


"Raisa.... kau sedang apa?" Tanya Sofia yang menyusulnya. "Kau suka novel? Sejak kapan?" Tanyanya lagi dengan wajah yang terlihat heran. Karena setahu Sofia, Raisa tak pernah membaca cerita fiksi.


"Oh.. i-ini... aku tak sengaja lewat dan sedikit tertarik. Ku rasa, aku membelikannya untuk Aris tak masalah kan?" Ucap Raisa terlihat kaku didepan Sofia.


"Ya... tidak.. tapi...."


"Ohhh Deby mana?" Tanya Raisa menyela dan mengalihkan pembicaraan. Raisa bergegas meletakkan kembali buku pada tempatnya dan berlalu meninggalkan Sofia yang masih terheran dengan sikapnya.


. ### Raisa keluar terlebih dahulu setelah memastikan Deby dan Sofia mendapati apa yang mereka butuhkan.


"Kakak..." panggil seorang anak kecil dari tempat yang tak jauh dari tempat Raisa. Raisa menoleh dan mendapati sosok anak kecil yang ia kenal. "Kakak putri?" Lanjut Seina menoleh kesana kemari mencari keberadaan Arisa.


"Kakak putri tidak ikut sayang. Kakak putri masih kuliah." Jawab Raisa meraih Seina dan mensejajarkan tubuhnya.

__ADS_1


"Padahal Sein rindu kakak putri." Ucap Seina lesu dan menunduk dengan rasa kecewa.


"Sein... sayang... jangan pergi sendiri..." tegur seorang wanita tua yang menghampiri Seina.


"Oma... Sein kenal dengan kakak ini." Ucap Seina yang meraih tangan Raisa disampingnya. Raisa tersenyum menyapa orang tua yang di panggil Oma oleh Seina itu.


"Siapa namamu nak?" Tanya Oma yang terkesiap dengan keramahan Raisa.


"Saya Raisa Oma..." jawab Raisa dengan sopan.


"Melihat dari pakaian dan cara bersikapnya, sepertinya anak ini bukan dari keluarga sembarangan." Gumam Oma yang menatap lekat wajah Raisa.


"Kalau boleh tahu, siapa orang tuamu?" Seketika raut wajah Raisa berubah menunjukan ketidak nyamanannya.


"Jawab saja. Barang kali Oma mengenalnya." Lanjut Oma dengan meyakinkan.


"Ayah saya Yugito Syahputra, Oma." Jawab Raisa sedikit ragu.


"Yugito? Pemilik perusahaan Artaris?" Tanya Oma sedikit terbelalak.


"Kebetulan apa ini?" Gumam Oma lagi dengan senyum tersirat diwajahnya.


"Apa kau mengenal Aray?" Tanya Oma lagi seraya memasang wajah penasaran dibalut perasaan senang.


"Kenal... kita pernah satu kampus Oma.." jawab Raisa.


"Ohh ya sudah... salam untuk keluargamu. Ayo Sein.. kita pulang sayang." Ucap Oma mengulurkan tangannya pada Seina.


"Sein tidak mau ke rumah Oma..." ucap Seina menggembungkan kedua pipinya.


"Kita ke rumah Seina sayang." Ucap Oma dengan tersenyum begitu sumringah. Seina dengan ragu meraih tangan Oma dan mengikuti langkahnya.


"Hati-hati Oma.." ucap Raisa masih menatap kepergian Oma dan Seina.


"Jadi itu Oma Galuh yang di kenal sangat tegas dan berwibawa. Pantas saja." Gumam Raisa tersenyum tipis lalu berjalan menuju mobil.


"Ya?" Arisa menoleh dengan sedikit menyernyit.


"Kita pulang bersama." Ucap Rayyan sedikit gugup.


"Ya sudah. Aku kabari kak Tio."


"Eheeemmmmmmmmm... ehehemmmm heemmmm heeemmmm" sindir Daffa yang begitu saja menerobos antara Arisa dan Rayyan.


"Ishh... jalan masih lebar." Ucap Rayyan dengan kesal.


"Pacaran terusss..." lagi, Daffa menoleh pada Rayyan dengan tatapan mengejek.


"Jelas. Risa pacarku." Balas Rayyan dengan angkuh.


"Iya. Karena kau merebutnya dariku." Daffa tak ingin kalah berdebat. Arisa hanya menggeleng menyikapi sikap kedua teman itu.


Tiba-tiba ponsel Rayyan berbunyi ditengah perdebatannya dengan Daffa. Rayyan memberi isyarat pada Daffa untuk diam, kemudian Rayyan sedikit menjauh dan berjalan menuju lorong yang jarang di lewati oleh mahasiswa. Arisa merasa heran mengapa Rayyan harus melakukan itu jika sekedar menjawab panggilan telepon.


"Hallo Oma." Ucap Rayyan pelan.


"Aray.... hari ini kamu tak sibuk kan? Jika sudah selesai kuliahmu, bisakah kau pulang cepat?" Tanya Oma dari seberang dengan nada sedikit tegas. Rayyan menghela nafas panjang dan kesal sebelum menjawab.


"Ti-tidak ada Oma. Aray tidak sibuk." Jawab Rayyan penuh penyesalan.


"Bagus. Oma tunggu kamu." Tanpa menunggu jawaban atau penuturan lain dari Rayyan, Oma menutup telepon secepatnya.


"Oma selalu saja merusak rencanaku." Ucap Rayyan menghempaskan tangan dengan kasar.


Arisa terdiam di balik tembok dan terkejut saat Rayyan menemukannya.


"Risa..." lirih Rayyan yang menunjukan wajah bersalahnya karena mungkin Arisa mendengar apa yang ia bicarakan. Dengan tidak langsung Rayyan sudah membatalkan rencananya untuk pulang bersama Arisa.


"Aray... kebetulan kak Tio lewat nanti, jadi mungkin aku akan sekalian ikut pulang dengan kakak." Ucap Arisa tersenyum menyela sebelum Rayyan melanjutkan bicara.

__ADS_1


"Apa karena aku?"


"Ti-tidak Aray... aku lupa ada janji dengan Dimas setelah kelas selesai. Dan aku ingin di antar kak Tio agar kau tak berpikir yang tidak-tidak nantinya." Kembali Arisa menjawab dengan diiringi tawa kecil untuk meyakinkan Rayyan.


"Maaf Risa..." lirih Rayyan membuat senyum Arisa menjadi pudar sesaat.


"Ayo ke kelas. Bukankah ada presentasi?" Arisa menarik tangan Rayyan yang tak berhenti memasang wajah bersalahnya. Rayyan mengikuti langkah kecil Arisa menuju kelas. Daffa mendelik melihat pemandangan yang membuatnya sesak nafas.


. "Bu.... apa Seina merepotkan ibu?" Tanya Sonya menghampiri ketika melihat ibu mertuanya dengan pengasuh Seina disampingnya yang membawa Seina dalam keadaan tidur.


"Tidak... justru ibu senang bisa berjalan-jalan dengan Seina." Jawab Oma dengan santai lalu duduk di sofa dekat Sonya.


"Maaf ya bu..." Sonya meraih Seina dari pengasuhnya dan menidurkan Seina di dekatnya.


"Kenapa meminta maaf? Karena Seina, ibu tahu siapa menantu keluarga ini." Oma terlihat sangat senang menceritakan pertemuannya dengan Raisa.


"Mama sudah bertemu dengan Risa?" Tanya Sonya setelah menyimak ciri-ciri yang disebutkan Oma.


"Memangnya kenapa?"


"Risa itu pacar Aray bu."


"Benarkah? Apa ini kebetulan? Kalau begitu, nanti malam kau suruh suamimu untuk membuat agenda dengan Yugito. Kita ke rumahnya." Ucap Oma penuh semangat.


"Baiklah."


"Oh.. ibu sudah menyuruh Aray untuk pulang cepat hari ini."


. Sesuai apa yang dikatakan, Arisa bergegas menemui Tio dan mengatakan bahwa dirinya ingin ke rumah sakit untuk menemui Dimas.


"Kau sakit lagi?" Arisa menggeleng lalu memasuki mobil tanpa bicara.


"Kau bertengkar dengan Rayyan?" Tanya Tio lagi setelah dirinya ikut masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi Arisa hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Tio. Arisa menyandarkan kepalanya pada kaca pintu mobil, dan terlihat begitu lesu.


"Apa dia masih memikirkan ucapan mama?" Gumam Tio menghela nafas panjang kemudian menuruti kemauan adiknya.


Sampai di rumah sakit, Arisa bergegas ke ruangan Dimas. Namun Dimas tak di temukan di ruangannya.


"Aris. Sebenarnya apa yang kau rencanakan? Kau tahu Dimas hari ini di klinik, tapi seolah kau tidak tahu jadwal Dimas." Ucap Tio berdecih kesal.


Arisa hanya menunduk kemudian duduk di kursi tunggu dengan lesu. Menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Arisa, Tio meraih Arisa dan mendekapnya dengan hangat. Apapun yang di rasakan Arisa, Tio hanya ingin menjadi penenang untuknya. Jika memang sudah menjadi tanggung jawabnya, Tio bersedia menggantikan peran ayah untuk Arisa. Begitu pikir Tio.


"Bagaimana jika kita ke butik Diana. Sekalian kakak ingin memilihkan baju untukmu." Arisa mengangguk tanpa bertanya maksud dari perkataan Tio.


Keduanya beralih meninggalkan rumah sakit, lalu bergegas menuju butik Diana yang tak jauh dari sana.


Tio turun setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus mobil dan terheran melihat mobil Seno berada disana.


"Kak Seno." Ucap Arisa datar. Tio mengepalkan tangannya berpikir bahwa Seno mungkin saja kembali mengganggu Diana. Tio berjalan lebih dulu dan meninggalkan Arisa sendiri. Dengan masih heran, Arisa mengikuti Tio yang kini tertelan pintu utama.


"Diana.." panggil Tio membuka pintu dengan keras.


"Tio... kenapa?" Tanya Diana dengan santai menghampiri Tio lalu menggandeng tangannya.


"Sedang apa dia disini?" Tanya Tio menatap tajam pada Seno.


"Hanya mampir." Jawab Seno tersenyum.


"Kenapa kau tak menjawab saja kita kesini untuk fitting baju pengantin." Ucap Lusi tak kalah santai.


Diana memalingkan wajahnya dan mendapati Arisa yang baru masuk.


"Eh.. sayang. Sudah sembuh?" Diana beralih menghampiri Arisa dan memeluknya dengan erat.


"Ohhh jadi kalian akan menikah?" Tanya Tio menyeringai namun Seno memalingkan wajahnya dengan sendu.


"Maaf tuan Seno. Diana sudah saya bahagiakan setelah kepergian anda." Ucap Tio.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2