
. Melihat Arisa tersenyum paksa, Dimas sudah menyimpulkan bahwa benar Arisa yang menamparnya.
"Hehe... maaf... habisnya kau tak bangun-bangun" ucap Arisa dengan memasang dua jari.
"Sudah ku duga. Sepertinya kau benar-benar membenciku Aris." Ujar Dimas dengan mendelik dan menghela nafas berat.
"Ehh kau. Selalu saja berburuk sangka. Sudahlah! Pulang saja sana." Rajuk Arisa memangku tangan dan memalingkan wajahnya dengan menggemaskan. Dimas tertegun melihat sikap Arisa yang semakin hari, semakin berbeda. Sikap ceria nya sedikit demi sedikit kembali seperti pada saat Arisa dengan Rama dulu.
"Apa karena dia pacaran dengan pria itu? Tapi kenapa? Kenapa bukan aku yang membuatnya berubah?" Gumam Dimas yang menatap lekat wajah Arisa.
"Ehemmmm.... sepertinya aku harus membuatkan teh." Ucap Raisa membuyarkan lamunan Dimas dan berhasil membuat pandangannya berpaling dari wajah Arisa.
"Ehhh tak apa Rais... aku tidak lama. Sebentar lagi aku pulang." Ucap Dimas menahan langkah Raisa yang sudah hampir di ujung jalan menuju ruang tengah.
"Loh... kenapa sebentar?" Tanya Raisa yang berbalik dan kembali menghampiri keduanya.
"Aku masih ada urusan." Jawab Dimas tersenyum. "Dan ini untukmu" lanjutnya memberikan sebuah kotak kecil pada Arisa.
"Hemmm untukku mana?" Raisa menyodorkan tangannya dengan nada ejekan. Dimas menggaruk kepalanya dengan melempar tawa kikuk karena ia lupa bahwa ulang tahun Raisa sama dengan Arisa.
"Aku lupa kalian kembar." Ucap Dimas dengan polos.
Arisa tertawa kecil sambil menerima kado dari Dimas.
"Terima kasih." Ucapnya dengan senyum yang sangat manis.
"Entah kapan terakhir aku melihat senyum ikhlasmu. Selama ini aku hanya melihat senyummu yang terpaksa saja." Gumam Dimas lagi-lagi menatap dalam wajah Arisa. Raisa yang berada di lingkungannya merasa malu sendiri. Sampai akhirnya Dimas beranjak dari duduknya lalu mengacak rambut Arisa dengan gemas.
"Tetaplah seperti ini." Ucap Dimas seraya berjalan menuju pintu.
"Kau kan sedang sakit. Jangan memaksakan. Jika tak kuat, istirahat saja." Celoteh Arisa mengikuti Dimas dari belakang.
"Sejak kapan kau menjadi cerewet?" Tanya Dimas yang terhenti kemudian berbalik dan berhadapan dengan Arisa.
"Aku khawatir padamu. Apa jadinya jika dokter sakit. Kan tidak lucu." Ejek Arisa menatap tajam pada Dimas.
"Aku juga manusia. Kau pikir aku tak bisa sakit karena aku dokter?"
"Yaa mungkin. Bisa saja menyembuhkan diri."
"Jika memang itu bisa, Rama tak mungkin meninggal kan? Dia adik dokter, tapi dia meninggal karena penyakit yang harusnya bisa diatasi dokter." Arisa menunduk lesu ketika kembali mendengar cerita tentang Rama. Bukan hanya dirinya saja yang merasa bersalah atas kepergian Rama, tapi kakaknya pun sangat lebih merasa bersalah dari dirinya.
"Maaf..." lirih Arisa menggigit bibir bawahnya.
"Tak apa... kau juga kehilangannya bukan?" Arisa mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Dimas.
"Aku pulang. Jangan telat makan, dan jangan makan pedas lagi. Aku sudah bosan memberikanmu obat lambung. Jika lambungmu sampai luka dan ususmu bermasalah, aku pastikan kak Marcel akan mengoperasimu lagi. Mau?" Ancam Dimas membuat Arisa menggeleng kasar dengan wajah mendadak ketakutan.
Dimas berlalu meninggalkan Arisa yang mematung di teras depan.
__ADS_1
Arisa masih menatap kepergian Dimas dari rumahnya, ia tak menyadari ada sesuatu yang berada di samping teras. Saat ia berbalik, sepintas terlihat ada yang aneh membuatnya menoleh memastikan. Arisa menganga menatap dua mobil sport keluaran terbaru sudah terparkir disana. Jelas itu adalah kado ulang tahun untuknya dan Raisa, karena terlihat hiasan sebuah pita besar. Arisa berlari kedalam lalu memanggil Raisa dengan tergesa.
"Rais.... dimana kau?" Teriak Arisa dari bawah memekik seluruh sudut rumah.
"Ada apa Aris? Aku mau mandi." Raisa tak kalah berteriak dari lantai atas.
"Cepat kesini...." pinta Arisa masih tergesa.
"Karena penasaran, Raisa perlahan menuruni anak tangga membuat Arisa berdecak kesal.
"Ish... kau ini lama sekali." Ucap Arisa menggerutu tak jelas.
"Sabar.. aku berjalan selangkah-selangkah." Jawab Raisa dengan polosnya.
Arisa menjemput Raisa di tengah tangga lalu menariknya dengan cepat sampai teras rumah.
"Ada apa?" Tanya Raisa lagi dengan malas.
"Itu....." Arisa menunjuk kearah samping teras. Dan dengan ekspresi yang sama, Raisa pun terbelalak lalu berjalan perlahan dengan rasa tak percaya.
"Wahhh Aris.... ini untuk kita?" Tanya Raisa yang kini tengah berdiri didepan mobil.
"Tidak tahu." Jawab Arisa kemudian tertawa dengan puas.
"Apa-apaan tawamu itu?" Tanya Tio yang tiba-tiba berada di belakang Arisa dan berhasil mengejutkan Arisa.
"Kak... kakak beli mobil baru?" Tanya Arisa polos setelah meredakan tawa nya.
"Aris...." panggil Tio membuat Arisa berbalik menghadap kearahnya. Tio melempar 2 kunci membuat Arisa kewalahan menangkapnya. Arisa menatap heran pada Tio yang memberinya kode untuk menghampiri Raisa.
"Kalian pilih saja sendiri. Jangan berebut." Ucap Tio kemudian. Wajah Arisa seketika berbinar lalu tersenyum dengan riang menyusul Raisa dan memberikan kunci.
"Aku yang ini." Ucap Raisa dengan polos setelah mencocokkan dengan kunci remote nya.
"Terima kasih kak..." ucap Arisa kemudian mencoba memasuki mobil yang terpilih untuknya. Meskipun hanya mengandalkan kecocokan kunci saja.
"Berterima kasihnya pada ayah saja." Ucap Tio kembali menyesap kopi miliknya.
Arisa mengedarkan pandangan mencoba beradaptasi dengan mobil barunya. Namun Arisa terpaku pada sebuah kotak perhiasan di kursi samping kemudi. Dibukanya kotak itu, Arisa kembali terbelalak menatap kalung berlian yang ia tebak pasti berharga mahal.
Dari luar, Raisa berlari lalu membuka pintu mobil Arisa dengan panik.
"Kau mendapatkannya juga?" Tanya Raisa menatap pada kalung yang sama dengan liontin yang berbeda.
"Wahhh kebetulan sekali, kau dapat hati." Ucap Raisa lagi.
"Kau apa Rais?" Tanya Arisa penasaran.
"Entahlah. Aku tak tahu ini bentuk apa, seperti mahkota." Jawabnya menebak-nebak.
__ADS_1
"Kalian sudah menemukannya?" Tanya Yugito dengan suara pelan namu tegas. Arisa dan Raisa menoleh bersamaan lalu keduanya berlari menghampiri Yugito dengan riang dan memeluknya dengan erat.
"Terima kasih ayah..." ucapnya serentak.
"Kalian suka?"
"Lebih dari suka ayah." Jawab Arisa mendongak.
"Syukurlah..." Yugito membalas pelukan kedua putrinya dengan hangat didepan Tio yang santai menghabiskan kopinya.
. Singkatnya, tinggal menghitung hari menuju hari pernikahan Seno dan Lusi. Bukan hanya keluarga Rayyan yang ikut sibuk, Tio pun selaku teman dekat dari Seno turut membantu menyiapkan keperluan yang dibutuhkan di acara pernikahan. Sesekali Tio mengunjungi Diana yang semakin hari semakin sibuk. Sepulang dari butik Diana, Tio bergegas menuju rumah Seno. Terlihat ibu dari Seno menghampiri Tio dan menyambutnya dengan hangat. Tak heran jika pemandangan itu sering dijumpai, karena mama Ani sangat menyayangi Tio layaknya anak sendiri.
"Tio... bisakah mama meminta tolong?" Ucapnya bertanya penuh harap sambil membawa Tio kedalam dengannya dengan berjalan beriringan.
"Minta tolong apa ma?" Tanya Tio merasa penasaran.
"Bisakah kamu mempertemukan mama dengan Diana?" Tanya Ani lagi namun kini dengan rasa ragu. Mengingat Tio adalah pacar Diana saat ini, dan hubungan Diana dengan putranya pun sedang tak baik.
"Mama tidak akan macam-macam. Mama hanya ingin berbicara saja." Lanjut Ani meyakinkan dengan serius, karena melihat tatapan Tio yang tajam, membuat Ani merasa bersalah dan berpikir bahwa Tio mungkin marah dan tak akan mengizinkannya bertemu dengan mantan calon menantunya. Namun, Tio tersenyum dengan hangat dan kemudian terkekeh melihat ekspresi Ani yang seperti ketakutan melihat tatapannya.
"Tentu saja. Tapi paling nanti malam. Sekarang Diana sedang sibuk." Ucap Tio menghela nafas sejenak.
"Ma... terima kasih." Lanjut Tio semakin sayu menatap pada Ani.
"Untuk apa Tio?"
"Untuk semuanya. Mama sudah menyayangiku seperti mama menyayangi Seno. Dan mama tidak menyuruh Seno untuk kembali pada Diana. Sejujurnya, aku merasa senang jika Seno berakhir memilih Lusi dari pada Diana." Lagi, Tio menghela nafas lebih dalam dari sebelumnya.
"Ohhh... jadi kau bahagia melihat putraku putus dengan pacarmu saat ini?" Ani menarik telinga Tio dengan gemas seolah sedang memarahi Tio. Nyatanya Ani pun ikut bahagia jika Tio dan Diana memang saling membahagiakan.
"Tio..." lirih Ani masih memasang senyum hangatnya.
"Kenapa ma? Mama mau mengejek Tio karena belum menikah? Atau karena Seno yang lebih dulu menikah?" Tanya Tio dengan beruntun tak memberi jeda untuk Ani menjawab. Ani kemudian tertawa kecil lalu memukul lengan Tio sedikit keras.
"Kamu itu selalu saja berburuk sangka pada mama. Mama hanya ingin berterima kasih padamu. Kamu sudah hadir dalam hidup Diana setelah Seno meninggalkannya. Mama tahu Diana adalah gadis yang baik. Dan kamu juga bukan semata-mata ingin membuat Seno menyesal krena meninggalkan Diana kan?" Tanya Ani kemudian memalingkan pandangan ke arah luar yang sedang di bereskan.
"Mungkin awalnya memang seperti itu ma... tapi semakin lama, aku malah semakin mencintainya. Dan aku kasihan pada mama. Mertua yang beruntung adalah mama Rahma." Tio terkekeh dengan jelas sedang mengejek Ani.
"Ohhh kau berani mengejek mama?" Lagi-lagi Ani menarik telinga Tio dengan gemas.
"Aduh sakit ma... sudah hentikan. Ampunnn" Tio terkekeh dan menikmati kebersamaanya dengan seseorang yang ia anggap sebagai ibu pengganti Rahma saat ia kesepian.
Tanpa mereka sadari, dibalik tembok yang menjadi pembatas ruang tamu dan ruang keluarga, sedang ada seseorang yang bersandar dan terduduk lesu. Memang benar, Seno terlalu bodoh meninggalkan Diana yang jelas gadis yang sangat baik, tak heran jika keluarga Putra pun menerima kehadirannya sebagai calon menantu keluarga mereka.
"Ayah... apa pilihanku sudah benar?" Gumam Seno memejamkan matanya perlahan.
Sesuai perjanjian, Tio membawa Ani menuju rumah Diana yang sederhana di komplek kelas menengah. Diana membukakan pintu setelah beberapa kali terdengar suara ketukan.
"Ma-mama..." ucap Diana terbata lalu dengan cepat mencium tangan Ani dengan sopan.
__ADS_1
"Apa kabar nak.?" Tanya Ani tak kuasa menahan rindu pada gadis yang ia kira akan menjadi menantunya beberapa tahun silam.
-bersambung