TAK SAMA

TAK SAMA
98


__ADS_3

. Setelah Arisa kembali ke kamar, ia berpikir bahwa Bayu yang ia ingat adalah Bayu yang tempo hari bertemu di Bandung. Ditengah kebimbangannya, Tio membuka pintu dan menghampiri Arisa yang tengah duduk di balkon sambil menatap langit.


"Aris... harusnya jangan di luar terlalu lama." Arisa seketika menoleh pada pemilik suara.


"Kau pasti sedang memikirkan yang tadi kan? Maaf ya... kau baru kembali dengan kondisi seperti ini, tapi aku sudah membebanimu."


"Tak apa kak... aku mengerti. Raisa pun sekarang sedang berusaha semampunya, dan aku harusnya tidak leha-leha karena alasan aku amnesia. Huffttt kapan Raisa pulang? Kenapa lama sekali dia ke luar kota?"


"Kau sudah tua. Tapi sikapmu seperti anak kecil." Tio terkekeh sambil menepuk dahi Arisa yang tak henti mengoceh.


Tio hanya tersenyum penuh kelegaan karena rencananya dengan Seno sudah satu langkah berhasil untuk mempersatukan kembali Arisa dengan Rayyan. Ia juga merasa senang saat Yugito dan Danu sepenuhnya mendukung rencana mereka.


. Paginya, Arisa turun dengan pakaian yang begitu rapi. Rahma merasa heran dan sedikitpun tak memalingkan pandangannya dari Arisa. Sudah di pastikan, Yugito mendapat jawaban tanpa Arisa mengatakannya.


"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Rahma yang sedang merapikan dasi suaminya.


"Aris mau kerja ma..." jawabnya sedikit ragu.


"Kerja? Kemana?"


"Ke perusahaan Pratama."


"Kau bisa bergabung di perusahaan ayahmu." Yugito tersentak lalu menoleh kasar pada Arisa yang siap menjawab pertanyaan ibunya.


"Ohhh semalam Aris bilang padaku katanya mau mencari pengalaman baru dan sekalian penyembuhan ingatannya secara perlahan."


"Tap-tapi ayah bilang..."


"Ahhh sayang. Harusnya berangkat sekarang." Ucap Yugito memberi kode pada Arisa agar segera berangkat. "Dan satu lagi, katakan pada resepsionis kau sudah membuat janji dengan pak Danu." Ucapnya lagi menghentikan langkah Arisa yang sudah sampai di ruang tamu.


"Baik ayah." Sahutnya kemudian melanjutkan langkahnya.


Rahma menyusul dan menatap dalam kepergian Arisa dengan rasa penasaran yang mendalam. Menyadari rasa penasaran Rahma, Yugito segera menjelaskan maksud dari rencana Tio. Rahma mengerti, namun raut wajahnya tak berbohong menunjukan rasa kecewa karena Tio begitu mendukung hubungan Arisa dengan Rayyan dari pada dengan Raisa.


. Arisa menatap gedung tinggi di depannya setelah ia turun dari mobil ayahnya dengan di antar oleh mang Ujang.


"Terima kasih ya mang" ucap Arisa tersenyum ramah dan begitu manis.


"Iya non... semangat ya" jawabnya tak kalah ramah.


Setelah mang Ujang berlalu, Arisa dengan memberanikan diri berjalan memasuki gedung. Tak lupa ia mengatakan tentang perjanjian yang di bahas ayahnya sebelum berangkat.


"Setahu saya bos besar belum sampai. Tapi nona bisa menunggu beliau di ruang tunggu." Ucap resepsionis dengan sopan.


"Aris..." panggil Daffa melambaikan tangan sambil berlari menghampiri Arisa. Daffa yang tahu rencananya dari Seno segera mengajak Arisa menuju ruang tunggu.


"Kau juga bekerja disini?" Tanya Arisa polos dan tak menyadari bahwa perusahaan yang ia masuki adalah milik keluarga Rayyan.


"Iya..." jawabnya singkat.


"Kau tidak bekerja?" Tanya Arisa lagi yang merasa heran karena Daffa menemaninya dan seakan enggan meninggalkannya. Hingga seseorang memanggil Daffa dan menyuruhnya untuk membawa Arisa ke ruangan Danu.


"Kau Arisa?" Tanya Danu setelah Arisa duduk di depannya.


"I-iya tuan." Jawab Arisa sedikit terbata.


"Bos.." bisik Daffa membuat Arisa tersentak.


"Oh maaf. Bos..." ucap Arisa lagi dengan menunduk.


"Tak apa... panggil sesukamu saja. Jika kau mau panggil ayah juga tak apa..."


"Hehe tapi itu tidak sopan... meskipun anda rekan kerja ayah, tapi saya tak ada hak dan keberanian memanggil anda dengan sebutan ayah."


"Anak ini benar-benar melupakanku." Batin Danu menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Ya sudah... hari ini kau bisa langsung bekerja." Ucap Danu berhasil membuat Arisa terlonjak karena kegirangan.


"Terima kasih bos. Dan... apa saya boleh bertanya?"


"Katakan!"


"Mengapa anda memberi syarat pada ayah dengan saya harus bergabung disini?"


"Karena kau sangat mirip dengan putriku yang hilang empat tahun yang lalu."


"Begitu ya... tapi bos... saya punya kembaran dan dia mirip dengan saya. Tapi dia tidak hilang." Ucapnya polos membuat Daffa menahan tawa.


"Dia sudah bergabung di perusahaan ayahmu sejak lama. Tidak mungkin aku memintanya begitu saja. Yaa berhubung kau belum bekerja, dan ayahmu meminta bantuanku, ditambah aku butuh sekertaris, jadi tak ada alasan untuk mengabaikanmu" mendengar itu, Arisa tersenyum riang kegirangan.


"Terima kasih bos." Danu hanya tersenyum dan begitu terharu karena selama ini Arisa masih menjaga kalung pemberiannya.


"Daf... untuk hari ini bantu dia dulu. Majikanmu biar om yang urus."


"Siap om dengan senang hati."


"Aris... jika Daffa macam-macam, segera hubungi seluruh karyawan ya."


"Ishh om.. aku tidak sejahat itu." Arisa hanya tertawa kecil menanggapi perdebatan keduanya dan ia kemudian mengikuti Daffa yang berlalu lebih dulu.


"Oh iya Aris. Sebaiknya kalung yang kau pakai itu sembunyikan di balik kemejamu. Aku khawatir jika ada orang yang berniat jahat. Kalung itu sangat mahal." Arisa terhenti dan menoleh kemudian meraih kalung phoenixnya dengan menyernyit heran.


"Bos tahu ini mahal? Apa bos tahu ini kalung apa, dan--"


"Aku hanya menebak. Ayahmu pemilik perusahaan besar. Tak mungkin kau memakai barang murah kan?" Tutur Danu yang di tanggapi anggukan oleh Arisa.


Saat Daffa membantu Arisa dalam pekerjaannya, ponselnya terus berdering menampilkan nama Rayyan yang tertera.


"Apa?" Tanyanya ketus tanpa basa basi.


"Kau dimana sialan. Pekerjaanmu sudah menumpuk disini." Balas Rayyan yang tak kalah kesal.


"Cih alasan. Palingan kau hanya menggodanya saja." ~Rayyan.


"Oh jelas. Aku tak ingin membuang kesempatanku untuk yang kesekian kalinya." ~Daffa.


"Terserah kau saja. Jika tak bisa di andalkan, aku pecat saja kau." ~Rayyan.


"Tapi tidak bisa kan?" ~Daffa.


"Menjawab saja terus." Rayyan menekan ponselnya dengan keras dan sedikit membantingnya ke atas meja. Dengan otomatis, saat menyala ponsel itu menampilkan foto Arisa yang tersenyum begitu manis.


"Kau tak berubah. Dan perasaanku juga tak ada yang berubah Risa. Tapi kenapa kau melupakanku tanpa celah ingatan sedikitpun" teriak Rayyan dengan frustasi yang mencengkram rambutnya kasar.


"Apa atasanmu?" Tanya Arisa mulai fokus pada layar komputer di depannya.


"Aku tak tahu dia atasan atau apa. Tapi dia sangat menyebalkan."


"Jangan begitu. Bagaimana pun juga, yang namanya atasan tetap atasan jika di tempat kerja. Kau harus bertanggung jawab atas pekerjaanmu. Aku juga dulu sepertimu yang selalu marah pada kak Reza. Di rumah dia kakakku, tapi di kantor dia atasanku. Yaa... yang penting kau harus semangat. Kita berjuang bersama." Mendengar itu, Daffa seketika berbinar dan semangat dalam dirinya mendadak berkobar.


"Ya sudah Aris. Aku temui dulu si harimau lapar itu ya." Ucapnya beranjak meninggalkan Arisa yang tertawa kecil melihat sikap Daffa.


"Kenapa? Daffa menjahilimu?" Tanya Danu yang membuka pintu dan memberikan sebuah berkas pada Arisa.


"Tidak bos. Dia memanggil atasannya dengan sebutan harimau lapar. Siapa yang tidak tertawa mendengarnya." Jawabnya masih tertawa kecil. Danu hanya tersenyum tipis dan tidak menanggapi apapun lagi.


"Selesaikan ini sebelum jam 10, lalu kau antarkan ke ruangan Presdir."


"Baik bos."


. Daffa membuka pintu dengan kasar dan terkejut mendapati tatapan Rayyan yang mengintimidasi.

__ADS_1


"Sudah pacarannya?" Tanya Rayyan dengan sangat sinis.


"Belum." Jawabnya santai.


"Terus? Kenapa kau kemari?"


"Dia menyemangatiku dan menyuruhku untuk tidak kesal padamu."


"Ohhh baik sekali pacarmu itu."


"Ohhh jelas."


"Sejak kapan kau punya pacar?"


"Sejak lama... mungkin."


"Tak jelas."


"Huuu iri ya.."


"Cihhh tak ada alasan aku iri padamu"


"Benarkah?"


"Sudahlah... sebaiknya kau selesaikan pekerjaanmu sekarang."


"Siap pak bos...."


. "Bagaimana rencananya?" Tanya Seno pada Tio lewat saluran telepon.


"Untuk sekarang aman. Sesuai perkiraan kita. Aris tidak menyadari bahwa itu adalah perusahaan Rayyan dan dia hanya berpikir untuk membantuku dan ayah. Dengan tanpa berpikir keras dia memutuskan untuk bekerja di perusahaan Pratama." Jawab Tio menjelaskan dengan detil.


"Baguslah. Aku lega mendengarnya." ~Seno.


"Tapi hanya satu yang aku khawatirkan." ~Tio.


"Apa?" Seno menyernyit penasaran apa yang Tio khawatirkan sekarang.


"Oma Galuh." Jawab Tio membuat Seno terhenyak dan ia benar-benar tak berpikir bahwa ada hambatan yang lebih besar dari pada apapun.


"Ya ampun Tio... aku lupa pada Oma. Lalu, bagaimana ini?"


"Kau hubungin om Danu secepatnya, bagaimana pun Oma tak boleh bertemu dengan Aris."


"Baiklah. Aku akan memberitahu om Danu tentang ini."


Setelah panggilan terputus, Tio menghela nafas berat sambil bersandar di kursinya dengan mata yang perlahan terpejam.


"Aris.. aku akan mengembalikan kebahagiaanmu yang sempat hancur karena kesalahanku dan ayah." Lirih Tio kemudian membuka mata dan menatap dalam pada langit-langit ruangan.


. Setelah selesai menyusun laporan yang di berikan Danu, Arisa bergegas memberikannya pada orang yang di maksud Danu. Ia merasa ragu karena tiba-tiba jantungnya berdebar keras.


"Tenang Arisa... anggap saja dia adalah kak Reza." Ucapnya menyemangati diri sendiri.


Arisa mengetuk pintu dan perlahan membukanya dengan hati-hati. Terlihat sang pemilik ruangan tengah membelakangi meja dan sedikit memutarnya perlahan.


"Permisi tuan. Ini laporan dari bos Danu untuk tuan." Ucapnya dengan nada pelan.


"Hemmm.. simpan saja." Jawab Rayyan tak kalah pelan dengan memberi kode tangan agar Arisa meletakkan map yang ia bawa di meja. Setelah itu, Arisa berlalu dan diwaktu yang sama, Rayyan mematung mencoba mengingat suara siapa yang begitu familiar. Rayyan memutar kursinya hingga menghadap ke depan dan berharap mengetahui siapa pemilik suara yang sama dengan Arisa. Namun, ia terlambat. Pintu sudah tertutup sempurna sekarang.


"Apa aku terlalu memikirkan Risa? Sampai semua yang aku dengar, lihat dan rasakan itu tentangnya saja. Aarrgghhh aku benar-benar gila...." geramnya mengacak rambut dengan kasar.


"Oh iya tuan... kata bos Danu--" lidahnya seketika kelu saat membuka pintu untuk menyampaikan pesan Danu.


"A-Aray?"

__ADS_1


"Ri-Risa?"


-bersambung.


__ADS_2