TAK SAMA

TAK SAMA
112


__ADS_3

. Arisa menghela nafas sesaat kemudian keluar dari tempat persembunyiannya. Ia memasang wajah yang ceria agar tak ada yang curiga ia sudah mengingat semuanya.


"Ayah... Aris berangkat ya.." ucapnya berpamitan dengan sopan mencium tangan ayahnya.


"Iya nak hati-hati." Jawabnya tak kalah bersikap lembut.


"Ayo Aray...." ucapnya meraih tangan Rayyan dan berjalan menuju mobil.


"Wahh langsung di gandeng. Takut aku rebut ya?" Sindir Raisa sambil tertawa mengejek dengan puas.


"Rais..." tegur Yugito lagi.


"Bercanda ayah. Mereka kan mau menikah. Iya kan Aris?" Elak Raisa beralih pada Arisa.


"Awas kau ya." Balas Arisa dengan kesal.


"Ciee cemburu..." goda Raisa.


"Kau juga cemburu kan? Aku dan Aray akan menikah." ~Arisa.


"Aku juga akan menikah. Untuk apa aku cemburu padamu." ~Raisa.


"Jadi kalian bersaing untuk cepat-cepat meninggalkan ayah?" ~Yugito.


"Ayah jangan bicara begitu... Aku dan Aray akan mengunjungi ayah nanti." Rengek Arisa mendadak sendu.


"Rais juga ayah. Kak Fariz tak keberatan jika aku sering menemui ayah dan mama setelah menikah." Yugito tersenyum dengan menghela nafas lega mendengar penuturan kedua putrinya.


"Rayyan.. katakan pada keluargamu untuk datang malam ini. Dan Rais. Katakan pada Fariz juga. Malam ini kita akan mengadakan makan besar di rumah."


"Baik ayah." Jawab Raisa.


"Iya om. Saya akan sampaikan." Dan keduanya bergegas berlalu dari kediaman Putra.


Seperti biasa, Rayyan selalu ingin berdua saja di lift bersama Arisa hanya untuk bermanja saja. Ia akan memeluk Arisa dengan gemas selama lift masih tertutup. Dan tak seperti biasa bagi Daffa, hari ini Rayyan mendapati sikap berbeda dari asisten sekaligus temannya itu.


"Daf... kau butuh cuti?" Tanya Rayyan saat Daffa hendak kembali berlalu dari hadapannya setelah meletakkan beberapa berkas yang semula ia bawa.


"Tidak." Jawabnya singkat. Rayyan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi pada temannya ini. Dan ketika Daffa sudah benar-benar berlalu, Rayyan segera menghampiri Arisa yang tengah sibuk di mejanya.


"Sayang. Bisakah kau mencari tahu tentang Daffa hari ini? Aku rasa dia sedang ada masalah." Ucap Rayyan mengejutkan Arisa.


"Kenapa tidak kau saja yang bertanya langsung?"


"Sudah. Tapi dia hanya menjawab tidak."


"Lalu? Mengapa kau menyuruhku? Bukankah kau tahu dia juga menyukaiku?"


"Justru karena itu. Mungkin saja jika kau yang bertanya, dia akan mengatakan masalahnya, dan siapa tahu kita bisa membantunya kan?" Mendengar alasan itu, Arisa hanya manggut-manggut mengerti dan segera beranjak.


"Oh iya. Tolong edit sedikit proposalnya, dan sekalian print ya." Ucap Arisa yang terhenti dari langkahnya dan kembali berlalu begitu saja. Rayyan hanya menatap konyol kepergian Arisa dari hadapannya.


"Kalau bukan pacarku, sudah aku pecat kau." Gerutunya sembari menyelesaikan tugas Arisa.

__ADS_1


Setelah selesai, Rayyan menggeliat dan ia seketika terpaku pada wallpaper komputer Arisa yang menggunakan foto dirinya yang di edit menjadi gambar 2 dimensi (anime) hingga tampak seakan bukan Rayyan jika bagi orang yang tak tahu. Dan ia mendapati sebuah alat tulis dengan gantungan huruf R berwarna pink. Rayyan terkekeh lalu menuliskan sesuatu di sebuah lembaran kecil yang ada di tempat alat tulis Arisa.


"Semangat sayang. Aku mencintaimu." Tulisnya dan menempelkan di bagian bawah layar monitor. Ditengah berbunga-bunganya perasaan Rayyan, sebuah suara berhasil mengejutkannya.


"Arisa.. ini ad-- eh tuan maaf saya tak bermaksud." Ucap sekertaris ayahnya dengan gugup saat menyadari bahwa bukan Arisa yang duduk di meja sekertaris.


"Risa sedang ada tugas, simpan saja disini nanti biar aku yang bilang padanya. Dan katakan pada ayah untuk tidak mengganggu Risa dulu. Ada tugas penting yang harus dia selesaikan."


"Ba-baik tuan. Ini ada berkas laporan yang harus anda tanda tangani tuan." Ucapnya lagi dengan memberikan map berisi hal yang ia maksud.


"Lain kali, jangan panggil dia Arisa. Panggil nona. Bagaimana pun, dia adalah putri dari Yugito Syahputra. Kau tahu beliau kan?" Tuturnya sembari menandatangani berkas yang ia terima.


"Ba-baik tuan. Mohon maafkan kesalahan saya."


"Kembali." Mendengar titah Rayyan yang penuh penegasan itu, segera ia berlalu dari hadapan Rayyan.


Disisi lain, Arisa duduk di samping Daffa yang tengah melamun di sebuah kursi di salah satu ruang tunggu.


"Daf... aku lihat hari ini kau seperti ada masalah. Ada apa?" Tanya Arisa mencoba memulai pembicaraannya.


"Tak ada Aris. Aku hanya lelah saja." Jawabnya memalingkan wajah dari Arisa.


"Daf... ceritalah. Jangan sungkan. Bukankah dulu kau juga sering membantuku kan? Meskipun aku tak akan menjadi milikmu, kau bilang kau akan terus ada untukku. Dan itu sudah aku saksikan sendiri bagaimana kau menepati ucapanmu. Dan sekarang, biarkan aku menjadi bagian darimu sebelum aku benar-benar menjadi milik Rayyan sepenuhnya." Ucap Arisa.


"Aris. Saat aku jatuh cinta padamu, aku mengorbankan semua perasaanku, bahkan aku berhenti menjadi playboy dan semua mantan pacarku yang aku putuskan demi dirimu saat itu tak ada yang tidak menamparku. Pipiku terasa panas dan sakit, tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan saat melihatmu dan Rayyan bersama. Hatiku panas, sakit, hancur dan nafasku sesak. Tapi itu masih tak ada apa-apanya jika dibandingkan saat melihat mobilmu meledak dan terbakar habis. Aku pikir itu memang kau, tapi itu Citra. Dan hatiku sedikit lega. Tapi, sekarang aku merasakan lagi rasanya patah hati itu bagaimana. Haha lucu sekali."


"Maaf Daf... bukankah kau menjadi saksi bagaimana aku dan Aray saling mencintai?"


"Iya Aris. Aku menyaksikannya. Itulah kenapa aku memutuskan untuk merelakanmu dengan Aray. Tapi, tanpa aku sadari, saat aku berusaha melupakan perasaanku padamu, justru secara tak sengaja aku mulai jatuh cinta pada gadis lain."


"Sangat. Kau sangat mengenalnya. Dia sahabat terbaikmu."


"Mak-maksudmu Wina?"


"Iya. Dia Wina. Dan dia sama sepertimu, mematahkan hati dan perasaanku seketika."


"Apa maksudmu? Apa dia menolakmu?"


"Tidak."


"Lantas?"


"Dimas pun mencintainya seperti aku. Aku menyaksikannya sendiri." Arisa tak kuasa menahan keterkejutannya dan dengan refleks ia menutup mulutnya seakan tak percaya.


Di ketahui saat Wina dinyatakan sembuh, Wina meminta Daffa untuk menjemputnya. Karena hal itu seakan sudah menjadi wajar bagi mereka. Wina yang tak punya siapa-siapa untuk bergantung, dihadirkan teman seperti Daffa yang selalu ada. Dan saat itu Daffa menyanggupinya. Namun, saat ia hendak membuka pintu kamar Wina, ia mendengar pengakuan mengejutkan dari Dimas. Daffa yang mendadak sesak perlahan mengintip dari balik pintu yang terbuka minim.


"Aku tahu ini konyol, tapi jika boleh jujur, aku menyukaimu. Entah sejak kapan, tapi.... yahhh beginilah perasaanku. Aku tak bisa berkata banyak." Ucap Dimas tertawa kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia melakukannya hanya untuk menutupi kegugupannya saja.


"Ma-maksud dokter?" Tanya Wina yang merasa heran, terkejut, dan bimbang. Mendadak Dimas kembali memasang wajah seriusnya.


"Wina... aku menyukaimu, dan aku juga serius padamu." Ungkap Dimas kemudian. Wina terbelalak dan masih tak percaya karena selama ini ia tak pernah merasa jatuh cinta.


Daffa yang semakin sesak menyaksikan adegan itu pun memilih untuk berlalu dan tak jadi membawa Wina pulang.

__ADS_1


"Maaf dok. Sa-saya....."


"Kau sudah punya pacar?"


"Bukan begitu..."


"Lalu?"


"Saya... sedang menunggu seseorang." Jawab Wina dengan menunduk.


"Begitu ya..."


"Maaf... saya tak bermaksud membuat anda kecewa, tapi saya pun tak ingin membohongi perasaan saya dan juga tak ingin jika melukai hati anda karena saya menerima anda namun tak mencintai anda."


"Iya tak apa. Aku mengerti. Dan maaf juga. Aku tak tahu harus bagaimana."


"Iya dok saya juga mengerti." Keduanya menjadi gugup dan salah tingkah. Dan tak jarang keduanya tertawa kecil karena sama-sama gugup.


Dan setelah lama Wina menunggu, namun Daffa tak kunjung datang. Ia beberapa kali menghubungi nomor Daffa, namun tak ada jawaban. Dan Dimas yang tak tega melihat Wina menunggu dengan gelisah, ia menawarkan dirinya untuk mengantarkan Wina.


***


"Hemmm jadi begitu ya... makanya jangan terus memendam. Menyesal kan jika sudah jadi milik orang?" Ejek Arisa membuat Daffa mendelik.


"Kau tak membantu sama sekali Aris..."


"Hahaha habisnya kau sendiri tak berani mengungkapkan perasaanmu."


"Bukan tak berani..."


"Terus?"


"Sainganku berat semua."


"Hemmm benarkah? Tapi jika kau benar-benar mencintainya, kau pasti akan berjuang tak peduli seberapa besar tantangannya atau pun saingannya."


"Iya iya nyonya besar."


"Ehhh sut.... kau ini bercandanya jangan berlebihan." Arisa segera menutup mulut Daffa agar ia diam dan tak mengoceh kemana-mana. Di luar ruang tunggu, sebuah tatapan tajam mengarah pada keduanya yang sedang bercanda. Dan sosok itu menggeleng tak habis pikir dan kemudian berlalu menuju lift.


"Aray... apa kamu yakin akan melanjutkan hubunganmu dengan Arisa?" Tanya Oma Galuh menghentikan aktifitas Rayyan.


"Apa yang Oma khawatirkan? Bukankah Oma sudah merestui hubungan aku dengan Risa." Jawabnya beranjak dari duduknya dan beralih menghampiri Oma.


Ketika Arisa kembali ke mejanya, ia tersenyum saat melihat catatan konyol yang jelas itu adalah tulisan tangan dari Rayyan.


Terdapat pula sebuah surat terselip diantara tumpukan berkas dan Arisa segera membuka dan membacanya.


"Jika sudah kembali, temui aku ke ruangan." Dan dengan tanpa berpikir panjang, Arisa bergegas meraih pintu ruangan Rayyan. Namun ia seketika mematung mendengar percakapan dari balik pintu. Terdengar samar namun jelas ada namanya yang terselip.


"Tapi tetap saja. Dilihatnya tidak baik loh. Risa itu akan menikah denganmu, harusnya dia tahu batasan walaupun itu kau yang suruh. Dulu Raisa juga bisa fokus padamu seorang kan?"


"Oma sudahlah. Mengapa malah mengungkit yang dulu? Risa dan Raisa itu berbeda. Dan Risa juga sangat dekat dengan Daffa. Lagi pula Daffa dan Risa tak akan melebihi batas pertemanan mereka. Sudah ya Oma. Aray mau ke ruangan ayah dulu." Rayyan membuka pintu dan termangu menatap Arisa yang mematung di depan pintu.

__ADS_1


"Ri-Risa... sayang..." ucapnya terbata.


~bersambung


__ADS_2