
. Sudah beberapa hari sejak Arisa sadar, hari ini sebagian teman sekelasnya menjenguk. Satu persatu memasuki ruangan dan yang lain menunggu diluar untuk bergilir karena batas orang yang menjenguk sudah di tentukan pihak rumah sakit.
Namun Arisa merasa heran mengapa Daffa dan Wina tidak terlihat.
"Dimana Wina?" Tanya Arisa pada Seno yang terakhir menemui Arisa.
Seno semula terdiam sebelum akhirnya memberikan sebuah surat.
Arisa menyentuh dadanya pelan. "Apa ini milik Wina?"
"Sebaiknya kau baca dulu." Seno dengan tenang duduk di samping tempat tidur Arisa.
Dibukanya surat dari sang sahabat, dan terlihat ukiran rapi tulisan tangan milik Wina.
"Arisa.. mungkin aku tak ingin basa-basi, tapi setidaknya aku ingin mengucapkan terimakasih atas semua kebaikanmu. Dan maaf karena aku tak bisa apa-apa saat kondisimu sedang tak berdaya. Sempat aku ingin memberikan hatiku untukmu sebagai tanda balas budiku, tapi saudari kembarmu dan Daffa tak mengizinkan. Mereka bilang kau akan bersedih. Daffa bilang, aku harus sukses untuk membalas semua kebaikanmu. Jadi, aku putuskan untuk berhenti kuliah dan mencoba merintis usahaku. Maaf aku tak bisa bicara padamu secara langsung. Aku pergi saat kau masih tak sadar, dan aku sangat bersyukur jika kau selamat dari operasi yang sangat kau takuti sedari dulu itu. Jangan menghubungiku, aku sudah menjual ponselku. Dan kau jangan mengganti nomormu. Tunggu aku menghubungimu. Dan sekali lagi aku minta maaf. Kau jangan marah. Aku pergi bukan aku tak peduli padamu, tapi aku tak ingin terus merepotkanmu. Jaga dirimu baik-baik. Jangan melupakanku ya... tunggu hari itu tiba, aku akan menemanimu lagi. --Wina Indira--"
"Wina..." lirih Arisa kemudian menutup wajahnya dan mulai terisak.
"Maaf. Kakak tak bisa mencegahnya." Ucap Seno meraih bahu Arisa berusaha menenangkan agar Arisa mengerti.
"Dia teman baikku kak. Aku tak punya teman lagi selain dia."
"Temanmu banyak. Kau saja yang selalu menutup diri. Cobalah untuk membuka diri agar bisa lebih dekat dengan yang lain. Kau tak tahu seisi kampus sibuk membicarakan mu. Mereka merasa ada yang hilang saat kau tak ada. Bahkan mereka membuat satu acara dan berdoa bersama agar kau lekas sembuh."
"Benarkah? Itu terlalu berlebihan. Kakak pasti sedang membohongiku." Arisa membuka tangannya lalu mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Kau tak melihat grup kampus?" Mendengar itu, Arisa langsung meraih ponselnya. Dan benar saja ada beberapa pesan dari grup kampus berupa foto dan video. Arisa membuka video dan diperlihatkan seluruh teman sekelasnya berada dilapangan basket menyemangatinya. Bahkan Rayyan yang dikenal dingin pun terlihat antusias seakan ikut bersemangat dengan teman-temannya. Bisa dipastikan setelah itu Rayyan akan menyendiri dengan wajah yang kesal.
"Kakak pulang dulu. Cepat pulih! Kakak sudah lelah dengan ocehan teman-temanmu kapan kau masuk kuliah."
"Iya kak."
Setelah Seno pergi, kini Raisa membawa seorang pria menjenguk Arisa.
"Aris... sudah baikan?" Tanya Raisa yang duduk di ranjang.
"Raisa... jangan disana." Tegur Fariz dengan wajah tak enak.
"Tak apa. Dia memang menyebalkan." Ucap Arisa melemparkan senyuman pada Fariz.
"Oh... Aku Fariz. Tem--"
"Dia pacarku." Raisa menyela membuat Fariz mematung tak bisa berbicara lagi.
"Kau bilang kalian sudah..."
"Yang namanya mantan pacar pasti bisa balikan kan?" Lagi-lagi Raisa menyela.
"Kau benar. Selagi dia masih hidup masih ada kesempatan untuk bersama lagi." Arisa sedikit menunduk dan masih melemparkan senyum.
"Aris... aku tak bermaksud mengingatkanmu pada Rama..." Raisa memeluk Arisa dan menyandarkan kepalanya di bahu Arisa.
"Tak apa... itu sudah berlalu. Oh iya. Aku Arisa. Bisa dilihat, aku adik kembar Raisa. Meskipun tak secantik dia." Fariz tertawa menjabat tangan Arisa.
"Kalian sangat mirip. Sama-sama cantik."
"Jangan-jangan kakak juga jatuh cinta padanya." Sindir Raisa dengan sinis dibalut nada ejekan.
"Tidak... aku hanya kagum. Tuhan begitu sempurna menciptakan kalian. Biasanya, anak kembar suka bersikap bertolak belakang. Jika yang satu lembut, ramah, berarti yang satunya sinis. Tapi kalian sama-sama baik, ramah, dan sulit dipercaya dengan rumor bahwa Arisa sangat dingin."
"Aku memang begitu. Hanya orang terdekatku yang menganggap aku hangat."
"Ahaha iya iya.. oke.. cepat sembuh adik ipar. Nanti kakak ajak jalan-jalan di mall."
"Jalan-jalan saja kak?" Tanya Arisa polos.
__ADS_1
"Aris..." geram Raisa dengan kesal.
"Oke kakak traktir... tapi kau harus sembuh dulu. Kakak lelah mendengar ocehan kakakmu yang satu ini. Kapan ya Aris pulang? Kapan ya Aris sembuh?. Tapi dia tidak mau mengaku kalau dia merindukan kebersamaannya denganmu."
"Kau jelek kak." Cetus Raisa menatap konyol pada Fariz.
"Kau bilang aku jelek. Tapi kau mau jadi pacarku."
"Wah... ada tamu rupanya." Timpal Tio yang datang tiba-tiba.
"Kau pasti Fariz." Faris mengangguk dengan tersenyum sembari menjabat tangan Tio.
"Aris.. apa Rayyan sudah mengabarimu?" Tio beralih menatap Arisa.
"Hari ini belum. Ada apa?" Arisa terlihat heran.
"Tidak... dia bilang dia dan Daffa akan main PS denganku hari ini." Ucap Tio pelan.
"APA?" teriak Arisa dan Raisa bersamaan.
"Kakak ini sudah tua... harusnya sadar diri.." Ucap Raisa memukuli Tio.
"Sakit Rais sakit."
"Jangan meracuni Aray menjadi pemalas seperti kakak.." Arisa ikut memukuli Tio.
"Aris... mengapa kau juga ikut memukuli kakak..."
Pintu terbuka, dan terlihat Ayah masuk karena mendengar keributan didalam.
"Ada apa ini?" Tanya ayah yang terlihat keheranan. Seketika Raisa dan Arisa menunjuk Tio bersamaan.
"Tio... jangan mengganggu adikmu. Dia harus istirahat."
"Jika kau tidak mengganggu adik-adikmu, mereka juga tidak akan mengeroyokmu."
"Iya iya selalu aku yang salah. Memang adik itu anak kesayangan. Dan kakak sulung hanyalah figuran." Sindir Tio melirik sinis pada Arisa.
"Ayah... Aris yang salah. Jangan menyalahkan kakak." Ucap Arisa menundukkan pandangan.
"Rais juga ayah..." Raisa ikut menundukkan pandangannya.
Ayah menggeleng lalu menutup pintu kembali.
Fariz tertegun mendapati persaudaraan yang terasa menyentuh. Biasanya kakak beradik selalu saling menyalahkan agar tidak dimarahi. Tapi disini, Fariz melihat ada sesuatu yang beda. Dimana mereka saling menyalahkan diri mereka sendiri agar tak ada yang dimarahi oleh orang tuanya. Fariz menatap lama pada Raisa dengan tanpa sadar sebuah senyuman tersimpul tipis, dan dilihat oleh Arisa.
"Hemmm... apa kalian ingin pergi?" Tanya Arisa dan seketika Raisa menoleh pada Fariz.
"Em.. oh.. ya... ki-kita mau...." Raisa terbata karena dia sendiri tak tahu mau kemana. Ikatannya dengan Fariz hari ini pun hanya pura-pura.
"Ke rumahku." Timpal Fariz.
"Ohh... kau mau melangkahi kakak? Hei Rais ingat kakak dan kak Diana belum menikah. Kau jangan coba-coba mendahului." Ucap Tio dengan nada menantang.
"Siapa suruh kakak menunda-nunda? Awas loh nanti jadi perjaka tua." Raisa tak kalah mengejek Tio yang semakin kesal dibuatnya.
"Ehhh... adik siapa kau? Berani berbicara seperti itu."
Ditengah candaan mereka, lagi-lagi pintu terbuka dan terlihat Rayyan memasuki ruangan dengan buket bunga ditangannya.
"Kenapa mawar putih?" Tanya Tio polos.
"Apa salah? Aku menambahkan peach juga" Rayan merasa heran.
"Biasanya untuk menunjukan cinta itu dilambangkan dengan mawar merah." Jelas Tio.
__ADS_1
"Risa tak suka mawar merah. Daripada dibuang, lebih baik mawar putih tapi disimpan kan?" Entah mengapa lirikan Rayyan terlihat sinis hari ini.
"Tak apa... mawar putih pun bermakna cinta juga. Apa lagi warna peach nya bermakna ketulusan." Timpal Fariz menjelaskan.
Semua termangu mendengar yang di jelaskan Fariz.
"Buaya memang beda." Cetus Rayyan membuat semua menoleh padanya dengan tatapan tajam.
"Apa? Memang benar kan sebelum kak Fariz berpacaran dengan Raisa, kak Fariz memiliki banyak pacar." Lagi-lagi Arisa harus menenangkan diri dengan kepolosan Rayyan.
Bukannya marah, namun Fariz malah tertawa.
"Kau benar Rayyan. Benar sekali. Dan gadis ini sudah mengubah pandanganku." Fariz menunjuk pada Raisa.
"Bukan dia saja. Tapi anak ini juga." Rayyan mencubit pipi Arisa dengan keras.
"Aduh... Aray sakit." Rengek Arisa mengusap kasar pipinya.
Raisa tertegun melihat perbedaan sikap Rayyan padanya dan pada Arisa. Sepertinya memang benar, bahagia itu tak selalu kita rasakan saat bersama dengan orang yang kita cintai. Tapi melihat dia bahagia pun akan menumbuhkan kebahagiaan lain untuk kita sendiri.
"Raisa.. yu.. mama pasti sudah menunggu." Raisa mengangguk kemudian mengikuti Fariz.
"Kau kenal dengan kak Fariz?" Tanya Arisa pada Rayyan.
"Dia kakak seniorku dulu. Dikampus Yyy. Sekaligus saingan ku di club basket." Jawab Rayyan yang menarik kursi dibelakang Tio.
"Itu kursiku." Teriak Tio.
"Kakak tidak mendudukinya." Balas Rayyan tak ingin kalah.
"Ada apa lagi?" Tanya ayah mengejutkan ketiganya.
"Tak ada apa-apa ayah.." jawabnya serempak.
"His... kalian ini." Kembali ayah menutup pintu.
"Kak... aku ingin berbicara pada Aray." Ucap Arisa sedikit ragu.
"Baiklah." Tio langsung berlalu meninggalkan Arisa dan Rayyan berdua.
Setelah memastikan Tio sudah menutup pintu dengan rapat, Arisa menghela nafas panjang sebelum memulai pembicaraan.
"Ada apa Risa? Sepertinya serius."
"Apa kau tahu kemana perginya Wina?" Rayyan terdiam mendengar pertanyaan Arisa.
"Sayangnya aku tidak tahu. Terakhir dia bicara padaku hanya akan berhenti kuliah. Tapi aku tak tahu alasannya."
"Apa kau tahu siapa yang mendonorkan hatinya untukku?"
"Itu....."
"Aray...."
"Dia..."
"Siapa?" Kini Arisa mulai berkaca-kaca, ketakutan jika orang terdekatnya lah yang mendonorkan hatinya.
"Aku dengar, dia gegar otak karena kecelakaan. Karena tak sanggup menjalani hidupnya, dia mendatangi Dimas dan menawarkan hatinya di donorkan padamu karena tahu disini membutuhkan pendonor hati. Sebelumnya, beberapa dari kita mengajukan untuk memberikanmu hati. Tapi Dimas dan keluargamu menolak dengan alasan nantinya kau tak akan menerima kenyataan bahwa salah satu orang terdekatmu pergi karena dirimu."
"Tapi aku merindukan Wina." Arisa kembali menangis dan Rayyan mendekapnya untuk menenangkan.
"Percayalah gadis itu bukan Wina."
-bersambung
__ADS_1