TAK SAMA

TAK SAMA
176


__ADS_3

. Raisa yang berada di antara teman dan adiknya pun merasa tak tahu harus berbuat apa.


"Aris..." panggil Fariz dari pelaminan dengan suara pelan dan sedikit melambaikan tangan. Hal itu langsung di mengerti oleh Arisa sehingga ia bergegas untuk menghampiri kakak iparnya tersebut.


"Kenapa kak?" Tanya Arisa ketika ia sudah berada di pelaminan.


"Apa kau tak keberatan jika menemani Rais sampai acara selesai?" Fariz menatap dengan penuh harap agar Arisa menyetujui permintaannya.


"Emmm lihat kondisi saja ya kak. Soalnya Aris sudah tidak enak badan." Jawabnya sembari mengelus pundaknya yang sudah terasa pegal.


"Baiklah. Kalau begitu kau istirahat saja. Mungkin Rais akan meminta temanmu yang menemani."


"Tidak kak. Jangan Wina. Dia juga kelelahan. Jadi, aku saja."


"Tapi kau tidak enak badan kan?"


"Kak Fariz tenang saja. Aku baik-baik saja." Arisa melempar senyum untuk meyakinkan Fariz bahwa dirinya memang baik-baik saja.


. Malam semakin larut, dan acara masih berlanjut. Arisa sudah merasa lelah dengan acara malam ini. Ia menahan kantuknya di kursi samping pelaminan yang tersembunyi. Jika tak ada Rayyan, ia hampir terjatuh karena sudah tak bisa menahan rasa kantuknya.


"Sayang... sebaiknya kau istirahat." Ucap Rayyan yang masih membiarkan Arisa bersandar padanya.


"Tidak Aray. Tak ada yang menemani Rais. Wina, Deby dan Sofia sudah pulang. Aku bisa tunggu sampai selesai. Lagi pula, jika sudah tidur sebentar, lalu bangun karena terkejut, aku tak akan mudah tertidur lagi." Meskipun Arisa mengatakannya dengan tersenyum dan sedikit bersemangat, namun Rayyan masih tak bisa menghilangkan kecemasannya.


"Kalau begitu aku temani."

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih." Arisa meraih tangan Rayyan dan menggenggamnya sedikit kuat. Ia benar-benar bersyukur karena di hadirkan seorang pria yang tak pernah meninggalkannya.


"Tuhan... Jangan ambil dia dariku. Aku tak akan bisa menjalani hidup jika kau juga mengambil malaikat yang kau sendiri hadirkan untukku. Karena, jika sampai kehilangan lagi, aku pasti akan sangat hancur di banding dulu." Batin Arisa semakin sendu menatap Rayyan yang kini membalas genggamannya.


. Menjelang akhir acara, Yugito menyuruh Arisa untuk mengantarkan tamu mereka ke kamar tamu untuk beristirahat. Namun dengan tegas Arisa menolak, ia tak ingin Rayyan salah faham jika tamunya adalah Xavier. Dengan begitu, Arisa memilih menyuruh Rayyan untuk menggantikannya. Terlihat raut wajah Xavier sedikit kecewa karena malah Rayyan yang mengantarkannya.


"Maaf tuan. Ini permintaan calon istri saya." Ucap Rayyan sembari tersenyum penuh kemenangan di atas kekecewaan Xavier.


"Tuan Rayyan. Apa yang anda pikirkan? Siapapun yang mengantarkan saya, tak masalah. Karena saya tak tahu letak kamar tamu dimana."


"Hahaha tuan Xavier. Saya rasa hotel milik keluarga saya tidak buruk untuk kelas setinggi anda. Hotel Pratama sudah bintang 5 loh. Bahkan bintang di langit saja kalah." Entah kenapa, ucapan Rayyan terdengar malah seperti orang marah.


"Tapi mohon maaf tuan. Bukan saya yang tak berminat, tapi Om Yugito yang meminta saya untuk menginap." Balas Xavier membuat Rayyan semakin merasa panas.


"Di sebelah sini tuan. Silahkan! Selamat beristirahat dan....." Rayyan sengaja menggantungkan kalimatnya. Lalu ia melanjutkan dengan suara yang sangat pelan. "Dan... jangan pernah bangun lagi." Ucapnya demikian.


"Oh... iya biasanya kata Risa, disini ada nyamuk. Tapi sepertinya bi Ina sudah membereskannya." Jawab Rayyan mengelak dari apa yang sebenarnya ia katakan.


"Oh begitu? Yah... tak apa. terima kasih anda sudah repot-repot menunjukkan tempat istirahat untuk saya. Sepertinya kamar ini sepat digunakan Arisa ya? Saya mencium aroma tubuhnya disini?" Sontak Rayyan mencengkram kerah baju Xavier saat ia mendengar hal yang seharusnya tak perlu di ucapkan.


"Apa yang kau maksud sialan? Aroma tubuh? Aku saja yang sudah lama bersamanya tak pernah mengungkit hal itu. Dan kau? Baru bertemu sekali saja sudah lancang mengatakan hal yang tak seharusnya di katakan oleh seorang pria bermartabat dan terlahir dari keluarga yang mementingkan sopan santun. Kalau kau berani macam-macam pada calon istriku, aku tak akan segan padamu. Xavier Elvano." Bukannya marah, Xavier malah melemparkan senyum ejek pada Rayyan yang tengah naik darah karena ucapannya.


"Ternyata anda tahu nama lengkap saya tuan Rayyan Andriyan Pratama." Balas Xavier yang semakin menaikan amarah Rayyan.


"Ah... saya salah bicara tuan. Maaf saya tidak bermaksud. Hanya saja, saya tak lupa dengan aura Arisa yang sangat menggoda."

__ADS_1


"Tutup mulutmu atau--".


"Kau ingin memukulku? Silahkan! Justru itu lebih bagus. Om Yugito akan membencimu, lalu memisahkanmu dengan Arisa. Dengan begitu, aku akan lebih mudah mendapatkan putri bungsu keluarga Putra yang sangat di idamkan oleh banyak pria." Xavier semakin banyak bicara hingga Rayyan berdecih lalu menghempaskannya dengan kasar. Rayyan berlalu dengan wajah yang memerah karena amarahnya yang meluap.


"Dasar bajingan." Ucap Rayyan yang berjalan semakin cepat menghampiri Arisa.


. Akhirnya, setelah acara malam selesai, Arisa yang hendak kembali ke kamarnya pun urung saat melihat Rayyan semakin murung. Apa lagi saat Arisa berkata ingin masuk kamar. Rasanya Rayyan sangat khawatir. Bagaimana jika Xavier macam-macam. Di tengah pikirannya yang kacau, Rayyan tersirat ide gila agar ia tak jauh dari Arisa. Senyumnya sedikit tersimpul, ia langsung meraih kepalanya dan terhuyung sengaja menimpa Arisa. Seketika Arisa berteriak karena menahan tubuh Rayyan yang berat. Tio yang berada di dekat mereka langsung meraih Rayyan dan membantunya berdiri.


"Rayyan. Kau sakit?" Tanya Tio yang ikut khawatir pada kesehatan Rayyan.


"Tidak kak. Tiba-tiba kepalaku terasa berat saja." Jawab Rayyan masih berakting seolah ia memang tengah kesakitan.


"Tuh... kan... pasti karena menemaniku dari pagi sampai malam." Keluh Arisa dengan merengek menyesal.


"Tak apa Risa. Kalau aku tidak menemanimu, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?." Jawab Rayyan berharap agar Arisa lebih tenang.


Setelah Rayyan duduk di sofa, Arisa berlari menuju nakas untuk mengambil obat. Namun obat sakit kepala tak kunjung ia temukan.


"Aray... obatnya habis." Ucap Arisa terlihat jelas begitu panik saat wajahnya menoleh ke arahnya.


"Jangan khawatir Risa. Aku baik-baik saja." Ujar Rayyan yang tak seorang pun sadar akan sandiwaranya.


"Bagus Risa. Terus panik seperti itu. Aku tak rela kau serumah dengan si bajingan itu walaupun hanya semalam dan berbeda atap." Batin Rayyan terus memijit kepalanya dengan menyembunyikan senyum yang nyaris tersungging di bibirnya.


"Rayyan. Kau menginap saja disini. Kebetulan kamarku tak ada yang menempati. Mungkin akan sedikit berdebu." Ujar Tio di iringi anggukan oleh Arisa.

__ADS_1


"Sesuai rencana." Batin Rayyan dengan hati berbunga.


-bersambung.


__ADS_2