TAK SAMA

TAK SAMA
11


__ADS_3

. Rayyan dan Arisa menyusuri koridor rumah sakit, tanpa ada yang bicara sepatah katapun. Tak sengaja, mereka berpapasan dengan Dimas.


"Aris?" Dimas melirik Arisa dan Rayyan bergantian.


"Aku ada urusan." Jawab Arisa dengan ekspresi dingin. Rayyan dan Dimas saling melirik dengan tajam.


Entah kenapa kedekatan Dimas dan Arisa membuat Rayyan merasa risih.


Rayyan berjalan lebih dulu, dan Arisa dengan terkejut mengikuti dari belakang tanpa basa-basi pada Dimas.


"Dia temanmu?" Tanya Rayyan tanpa menoleh pada Arisa.


"Ya." Jawab Arisa singkat.


Sampai diruang inap Seina, Rayyan langsung masuk bersama dengan Arisa dibelakangnya.


Bunda semula terdiam melihat Arisa, dan kemudian tersenyum menyambut kedatangannya.


"Kakak putri." Panggil Seina dengan antusias.


Arisa tersenyum menghampiri bunda lalu mencium tangannya.


"Kamu..?" Bunda menyernyitkan dahinya mencoba menebak siapa gadis cantik didepannya.


"Arisa. Mama" Jawab Arisa tersenyum. Bunda mengangguk tanda mengerti.


"Bunda dipanggil mama.. hihi" ejek Seina sambil menutup mulutnya.


"Ma-maaf bunda. Arisa salah menyebut." Arisa menggigit bibir bawahnya.


"Tak apa nak." Jawab Bunda tersenyum begitu hangatnya. Bahkan kehangatan ini, sangat sulit untuk Arisa dapatkan dari mama.


Arisa Kemudian memeluk Seina yang sedari tadi memberi kode ingin dipeluk.


"Kakak sudah sembuh?" Arisa mengangguk tersenyum penuh kehangatan.


"Kakak... Aku merindukan kakak." Seina semakin erat memeluk Arisa seakan tak ingin Arisa pergi lagi.


"Beberapa hari yang lalu kita bertemu, kau sudah rindu lagi?" Tanya Arisa mengelus rambut Seina yang berada dipelukannya.


"Aku mau kakak putri menemaniku setiap hari." Rengek Seina mendongak menatap harap pada Arisa.


Namun Arisa hanya tersenyum menanggapi Seina.


"Kakak... aku sudah bisa berjalan lagi. Dan kata kakak dokter tampan, jika aku sembuh, aku bisa pulang."


"Kakak dokter tampan?" Arisa menyernyitkan dahinya mengingat beberapa dokter dirumah sakit ini. Namun yang dia ingat hanya Dimas saja.


Rayyan berdecih seolah tak ingin mendengarnya. Karena dokter tampan yang dimaksud Seina memanglah Dimas.


Seina banyak bercerita pada Arisa tentang kondisinya. Sesekali bunda bertanya tentang keluarganya, dan sangat terkejut saat mengetahui bahwa Arisa anak dari Yugito.


Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Arisa pamit pada bunda untuk pulang.


"Hati-hati nak. Segera berteriak jika Rayyan mengganggumu." Ejek bunda melirik pada Rayyan. Arisa hanya tersenyum, namun ia tak tahu itu senyum apa.


"Bundaaa... apa tampangku seperti orang jahat atau penculik?" Tanya Rayyan dengan wajah datar.


"Iya. Apalagi kakak putri sangat cantik, pasti kak Aray punya niat menculik kakak putri." Sontak Rayyan dan Arisa menoleh bersamaan pada Seina.


"Apa yang kau bicarakan peri kecil yang nakal.?" Rayyan mengusap wajah Seina gemas.


"Salam untuk keluargamu. Terimakasih sudah mau menjenguk Sein." Ucap bunda dengan penuh hangat. Arisa hanya tersenyum, kemudian beranjak dan berlalu dibalik pintu. Dan jelas diantarkan oleh Rayyan.


Kini Rayyan memecah keheningan antara mereka saat berjalan menuju parkiran.


"Kau... kemarin... maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja."

__ADS_1


"Sudahlah. Aku sudah baik-baik saja sekarang." Ucap Arisa.


"Melihatnya, mengapa aku terus khawatir? Wajahnya pucat seperti itu tapi bicara baik-baik saja." Gumam Rayyan melirik, tanpa memalingkan wajahnya.


Senyum dan tawa Arisa saat bersama Seina terus muncul diingatan Rayyan.


"Sial... mentalku terganggu." Rayyan menutup wajahnya sebagian membuat Arisa menoleh padanya.


"Kau baik-baik saja?"


"Ah... ya." jawab Rayyan memalingkan wajahnya.


Arisa mengangguk pelan.


"Kau mau langsung pulang?" Tanya Rayyan kemudian. Dan arisa menanggapi dengan anggukan. Tapi entah kenapa, Rayyan dengan tanpa berfikir mengajak Arisa untuk makan sebelum pulang. Semula Arisa menolak, namun melihat niat baik Rayyan, akhirnya Arisa mengiyakan ajakan Rayyan.


. Dirumah, mama menanyakan keberadaan Arisa karena Tio pulang sendiri.


"Dia bersama teman kampusnya." Ucap Tio


"Tapi siapa? Perempuan atau laki-laki? Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya."


"Dia laki-laki. Seno sangat mengenalnya. Dan aku tidak melihat niat buruk temannya ma... makanya aku izinkan. Sudahlah ma... jangan berbicara seolah mama peduli padanya, padahal saat dia ada dirumah, mama tak pernah bersikap layaknya seorang ibu." Dan 'plak' dengan suara yang nyaring, ayah menampar pipi Tio yang langsung terdiam.


"Jaga bicaramu Tio. Apalagi pada ibumu. Ayah tidak pernah mengajarkanmu seperti ini pada orang tua." Tegas ayah menatap tajam pada anak sulungnya.


Raisa yang baru saja sampai dirumah, terdiam mematung didekat pintu menyaksikan apa yang tak pernah ingin ia saksikan. Dan kembali Raisa tidak mendapati Arisa disana.


Tio berjalan menuju kamarnya, tanpa bicara, dan tanpa merasa bersalah.


Rasa sayangnya pada Arisa yang kesepian, membuat dirinya begitu berani meninggikan suara atau bahkan berkata yang tidak-tidak pada orang tuanya.


"Andai saja aku tidak punya adik kembar, mungkin adikku tidak akan ada yang kesepian." Ucap Tio sebelum membantingkan pintunya.


"Bicaralah sesukamu Tio." Teriak ayah menahan amarah.


"Sudah sudah... biarkan dia istirahat. Mungkin itu karena pekerjaannya yang melelahkan." Ucap mama menenangkan ayah.


Raisa yang terdiam, dengan paksa memasang senyuman seolah tak melihat adegan itu.


"Aku pulang.." ucap Raisa menghampiri ayah dan mama.


"Arisa mana?" Lanjut Raisa bertanya.


"Dia belum pulang." Jawab mama.


"Tapi mobil kak Tio sudah....." Raisa bingung menoleh keluar, lalu pada ibunya bergantian.


"Dia bersama temannya."


"Siapa?" Mama hanya menggeleng menaggapi pertanyaan Raisa.


"Laki-laki?" Tanya Raisa lagi, dan mama hanya mengangguk.


Dibenaknya kini mulai berkecamuk, setahunya Arisa tidak memiliki teman laki-laki, kecuali Dimas.


"Pasti Dimas." Cetus Raisa.


"Bukan. Teman kampusnya." Seketika Raisa merasa heran dengan yang mama ucapkan.


"Jika bukan Dimas, siapa? tidak mungkin jika Daffa. Mereka belum pernah bertemu. Ditambah Daffa satu kampus denganku. Apakah Rayyan? Ahhh melihat sikap Arisa yang sangat tidak menyukainya, tidak mungkin itu Rayyan." Gumam Raisa berjalan menuju kamarnya dengan rasa penasarannya yang tinggi.


. Rayyan memarkirkan mobilnya disebuah caffe. Arisa hanya menurut saja dengan ajakan Rayyan.


Keduanya memasuki caffe dan duduk disalah satu meja yang disiapkan hanya untuk 2 orang.


Kecanggungan kembali menyelimuti keduanya. Namun tak terlihat karena sikap dan wajah dingin mereka.

__ADS_1


"Apa dia benar-benar tidak ingin bicara? Sebelum aku mulai bicara, dia tak pernah bicara sedikitpun. Bahkan matanya saja seperti tak ada apapun yang dipikirkan. Tak kusangka aku akan menemukan kejutan disini, menemukan gadis yang bahkan lebih dingin dariku." Rayyan berkali-kali memalingkan wajahnya seolah tak nyaman dengan situasinya.


Ditengah kecanggungan dan keheningan, pelayan mengantarkan dan meletakan pesanan mereka.


Dilanjutkan keduanya melahap dengan perlahan makanan yang tersaji.


"Jika aku tidak bicara, apa dia akan tetap diam seperti itu?" Gumam Rayyan dengan wajah gelisah.


"Emmm Risa.." panggil Rayyan dengan ragu.


"Ya?" Arisa mendongak, kemudian Rayyan menatapnya.


"Apa kau sudah punya pacar?" Tanya Rayyan kemudian memalingkan pandangannya.


"Sial. Dari banyaknya pertanyaan dibenakku, mengapa harus pertanyaan itu yang aku tanyakan." Gumam Rayyan menutupi rasa sesalnya.


Namun Rayyan terkejut ketika melihat Arisa menanggapi dengan tersenyum.


"Ada. Tapi dia sudah pergi." Jawaban itu membuat Rayyan menyernyit heran.


"Berarti kau tak punya." Seketika Arisa menjatuhkan bulir bening dari kelopak matanya, meskipun bibirnya masih memasang senyuman.


"Apa artinya itu? Ahh sial... aku lupa! Bukankah tadi siang aku mendegar semuanya? Mengapa aku sebodoh ini?" Gerutu Rayyan dalam hatinya menyalahkan diri sendiri.


"Ak-aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Aku minta maaf, tak seharusnya aku bertanya itu... serius! sudahlah. Jangan menangis...." pinta Rayyan dengan rasa bersalahnya.


"Hei sobat. Kau sedang kencan?" Tanya seseorang yang berdiri dibelakang Arisa. Rayyan mendelik malas ketika menatap wajah Daffa.


"Dan... mari kita lihat, siapa gadis yang beruntung ini. Yang bisa berkencan dengan seorang Rayy-- Arisa?" Daffa terkejut dan tak melanjutkan ucapannya ketika melihat wajah Arisa. Rayyan menyernyit, sejak kapan Daffa mengenal Arisa. Arisa pun sama herannya, namun tak memperlihatkan wajah herannya yang ditutupi oleh ekspresi dinginnya.


"Ka-kalian berpacaran?" Tanya Daffa membuat Arisa tersedak. Sontak kedua pria didepannya menyodorkan air pada Arisa bersamaan, hingga Rayyan dan Daffa saling pandang.


"Apa kau mau mengganggu pacar sahabatmu?" Tanya Rayyan menatap tajam Daffa, seolah sedang mengintimidasinya. Arisa menerima kedua gelas air dari tangan keduanya.


"Terimakasih." Ucap singkat Arisa membuat Daffa dan Rayyan menatapnya.


"Jadi, apa hadiahku diterima?" Tanya Daffa dengan tatapan memelas.


"Hadiah?" Rayyan terkejut menyimpan alat makannya.


"Iya... aku memberinya kue sebagai hadiah dan salam perkenalan, dan bukti cintaku padanya." Jawab Daffa polos mengutarakan apa yang ada dalam hatinya.


"Raisa memberikannya padaku. Terimakasih Daffa." Ucap Arisa datar. Karena meskipun yang memberi kue itu orang yang tak kalah tampan dari Rayyan dan kakaknya, tapi tetap saja tak membuat Arisa menjadi tersipu atau senang. Semuanya hambar. Namun berbeda ketika dengan Seina, membuat hatinya tenang bagaikan air laut tanpa ombak.


"Apa-apaan aku tadi? Menyebutnya pacarku? Sial. Aku mengigau." Gumam Rayyan mengepalkan tangannya.


"Lup-lupakan yang tadi." Cetus Rayyan membuat Daffa heran.


"Apa?" Tanya Daffa menyernyitkan dahinya.


"Tentang--"


"Ahhhhh tenang saja nak Rayyan, aku tidak salah faham padamu. Aku sangat mengerti tentang dirimu." Daffa menepuk pundak Rayyan dengan senyum konyol.


"Raisa saja yang diidamkan semua orang tidak membuatmu tertarik, apalagi Arisa. Hanya aku saja yang mencintainya." Bisik Daffa ditelinga Rayyan.


"Cihhh kau mengganggu selera makanku." Ucap Rayyan mendelik sinis pada Daffa.


"Ahh Arisa... mau aku antar pulang?" Tawar Daffa menatap harap pada Arisa.


"Tidak. Dia akan pulang denganku." Ucap Rayyan menyambar sesaat sebelum Arisa hendak menjawab.


"Aray benar. Aku pergi dengan Aray, jadi pulangpun harus dengan Aray juga." Ucap Arisa tersenyum tipis, menolak secara halus ajakan Daffa.


"Aray? Arisa. Kau seperti Sein, selalu memanggilnya Aray." Daffa terkekeh merasa lucu dengan Arisa.


"Sein sangat menyukai Risa." Ucap Rayyan tersenyum puas.

__ADS_1


"Apa? Risa?" Daffa menyernyit merasa heran dengan kedua orang dihadapannya ini.


-bersambung.


__ADS_2