TAK SAMA

TAK SAMA
49


__ADS_3

. Rayyan menarik tangan Raisa dengan tergesa memasuki mobil kemudian berlalu meninggalkan rumah. Sepanjang jalan Rayyan mengacak rambutnya penuh kekesalan, melajukan mobil dengan cepat, dan tak berbicara sedikitpun.


Rayyan seolah sengaja mengikuti laju mobil yang dikemudikan Arisa. Sampai akhirnya, kedua mobil itu memasuki pekarangan rumah Yugito. Arisa langsung turun dan berlari dengan dua kotak dipelukannya.


"Risa..." panggil Rayyan yang ikut berlari mengejar Arisa. Namun Arisa tidak mempedulikan Rayyan dan terus berlari menaiki tangga dengan susah payah karena kondisinya yang terhitung belum sembuh total. Rayyan mematung di depan pintu karena merasa tak sopan jika mengejar Arisa sampai kamarnya.


"Kejarlah. Tak apa." Ucap Raisa dengan nada datar.


"Tapi tidak sopan Raisa."


"Aku tuan rumah. Dan aku mengijinkanmu masuk." Lagi, Raisa berkata dengan nada datar. Dengan ragu, Rayyan menyusul Arisa sampai depan kamarnya. Beberapa kali Rayyan mengetuk pintu dan memanggil Arisa, namun tidak ada jawaban. Ponselnya berbunyi tanda sebuah pesan masuk, dan tak disangka itu adalah pesan dari Arisa.


"Pulanglah. Aku ingin sendiri." Begitu isi pesan yang terkirim ke kontak Rayyan.


"Risa... aku tak akan pergi sebelum memastikan kau tidak marah dan salah faham." Ucap Rayyan setengah berteriak berharap Arisa mendengar.


"Rayyan..." panggil Tio dari lantai bawah. Rayyan bergegas menghampiri Tio dan mencoba meminta bantuan Tio untuk membujuk Arisa.


"Biarkan dulu dia sendiri. Kau berteriak sekeras apapun, jika Aris tidak berniat keluar, itu akan sia-sia." Ucap Tio yang serius menasehati Rayyan yang masih merasa bersalah karena ucapan sang nenek yang tak bisa menjaga lisannya.


"Kak.... tolong sampaikan maafku dan Risa. Sungguh aku tak berniat membuatnya merasa sedih." Ucap Rayyan setelah lelah dirinya menatap kearah kamar Arisa dan menghela nafas berat beberapa kali.


"Baiklah... kau tenang saja. Nanti aku akan bicara." Tio menepuk bahu Rayyan dengan seraya meyakinkan agar Rayyan tak terlalu panik.


Rayyan bergegas kembali ke mobilnya dan berlalu meninggalkan kediaman Yugito.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu." Entah berapa puluh pesan yang Rayyan kirim pada Arisa dengan isi pesan yang sama. Dari balkon, Arisa menatap sendu kepergian Rayyan yang sudah melewati gerbang dan menembus jalanan yang sedikit padat.


Arisa menyentuh dadanya kuat karena sesak dan keringat dingin mulai bercucuran. Nafasnya terasa tersenggal karena rasa sakit di letak operasinya.


"Harusnya tidak lari tadi." Lirih Arisa yang terduduk di sofa luar kemudian berguling-guling menahan nyeri yang terus terasa. Sebisa mungkin Arisa mengatur nafasnya agar rasa sakitnya berkurang. Dering ponselnya berbunyi membuatnya menoleh kedalam kamar. Rasanya Arisa enggan beranjak dari tempatnya saat ini. Namun karena alasan 'siapa tahu penting' membuat Arisa memaksakan langkahnya. Dilihat siapa yang memanggil, Arisa menyernyit mendapati nama Gilang yang tertera dilayar ponselnya.


"Hallo Gilang." Sapa Arisa setelah menggeser tombol hijau tanda menjawab panggilan.


"Hallo mbak. Besok mbak sibuk tidak?" Tanya Gilang dari seberang.


"Emmm... tidak tahu Lang. Memangnya ada apa?" Ucap Arisa bertanya balik.


"Ibu mau bertemu mbak" jawab Gilang terdengar ragu.


"Mbak juga tidak tahu Lang. Takutnya jika mbak buat janji dengan ibu, nanti ada keperluan mendadak disini."


"Iya mbak Gilang paham. Kabari saja jika mbak tidak sibuk. Nanti Gilang jemput mbak. Atau...." Gilang sengaja menggantungkan ucapannya dan membuat Arisa penasaran dibuatnya.


"Atau apa Lang?"


"Mbak mau Gilang ajak jalan-jalan keliling kota, naik bis dari halte ke halte, naik kereta dari stasiun ke stasiun terdekat dan kembali lagi, lalu--"


"Cukup Lang. Jangan diungkit. Mbak ingin lupa kenangan itu." Tegas Arisa menyela candaan Gilang.


"Mbak ingin melupakan bang Rama?"


"Menurutmu bagaimana Lang? Apa mbak harus menunggu Rama kembali?"

__ADS_1


"Ti-tidak. Bu-bukan begitu maksud Gilang mbak. Tapi.... yaaa... sudahlah mbak. Lupakan. Maafkan Gilang yang barusan mbak. Gilang tak bermaksud."


"Kau tahu Aray kan?" Tanya Arisa yang ditanggapi hembusan nafas kasar oleh Gilang.


"Pacar mbak itu?" Tanyanya ketus.


Arisa menghela nafas sesaat lalu menghembuskan perlahan. "Bukan Lang... itu pacar kak Raisa."


"Loh kok bisa mbak?" Kini suaranya sedikit meninggi dan terdengar terkejut.


"Iya. Memang di jodohkannya dengan Raisa. Bukan mbak."


"Mak-maksud mbak?"


"Kamu itu tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti Lang?"


"Hehe... maaf mbak. Cuman minta kepastiannya saja."


"Kepastian apa Lang?"


"Kalau mbak jomblo, kan bisa sama bang Dimas mbak. Bang Dimas juga masih jomblo. Nunggu mbak siap dilamar." Mendengar celotehan Gilang, sontak Arisa tertawa lepas.


"Kamu itu bicara apa Lang?"


"Ihh... bener kan mbak?"


"Sudah ya... mbak mau mandi, lalu minum obat." Ucap Arisa masih dengan tawanya.


"Iya mbak. Maaf ya."


"Mau kemana?" Tanya Yugito yang berdiri diujung tangga.


"Ada urusan ayah." Jawabnya menundukkan pandangan.


"Kau sudah berbaikan dengan Raisa?"


"Ayah.. Aris buru-buru." Arisa kembali melangkah dan tak menanggapi pertanyaan Yugito.


"Ini sudah sore Aris."


"Hanya sebentar ayah."


"Tapi diantar mang Ujang."


"Tapi...."


"Jangan membantah. Itupun jika kau mau ayah izinkan keluar. Jika tidak, kau kembali ke kamarmu sekarang."


"Yasudah." Arisa menghela nafas dalam sesaat lalu melewati Yugito tanpa bicara apapun lagi. Yugito menatap nanar kepergian Arisa dan dirasanya anak itu sudah terlalu kesepian karenanya. Yugito berjalan menuju teras, dan masih memantau mobil yang kini berlalu melewati gerbang.


"Mau kemana dia?" Lirih Yugito menghela nafas berat.


"Non mau kemana?" Tanya mang Ujang yang fokus pada jalanan namun masih tak tahu akan kemana nona mudanya ini ingin di antar. Terlihat Arisa bersandar dengan menolehkan wajahnya ke sisi kiri tanpa memperlihatkan ekspresi lain selain ekspresi datar dan dingin.

__ADS_1


"Ke makam Rama mang." Jawab Arisa lemas.


"Tapi sudah sore non."


"Lalu? Mamang takut?" Ejek Arisa yang menoleh pada mang Ujang yang mengemudi dengan merubah raut wajahnya menjadi panik. Terdengar suara tawa kecil dari belakang membuat mang Ujang menjadi malu.


"Non jangan tertawa terus."


"Habisnya mamang lucu..." Arisa masih tertawa kecil mengejek supir pribadi ayahnya itu.


"Memang non sekarang lebih sibuk. Biasanya mamang perhatikan, dulu non Aris suka ke makam den Rama setiap hari sabtu. Sekarang, non lebih banyak menghabiskan waktu di kamar."


"Iya mang. Aku rasa memang seperti itu. Andai ya mang..."


"Andai apa non?"


"Andai Rama tidak pergi, pasti mamang juga tidak kesepian main catur."


"Ah non Aris itu selalu saja mengingatkan kenangan itu. Mamang malu non. Mamang sudah tua tapi kalah sama den Rama." Kali ini mang Ujang yang tertawa. Arisa tersenyum mengingat kedekatan Rama dengan mang Ujang dan bi Ina dulu. Karena hanya dengan mereka Arisa merasa nyaman, seakan menggantikan posisi orang tua yang hilang entah kemana. Hanya raganya saja yang bisa Arisa lihat, namun perhatiannya tidak.


"Oh iya non. Non Aris ingat tidak? Saat den Rama ulang tahun, non Aris pura-pura pingsan didepan den Rama, sampai den Rama panik dan marah sama non."


"Iya mang Aris ingat. Itu juga yang buat Aris menyesal sampai sekarang. Karena kepanikan itu yang menjadi pemicu Rama drop seketika dan beberapa hari setelahnya Rama meninggal. Andai saja Aris tahu dia sakit mang. Mungkin Aris tak akan melakukan hal bodoh yang mungkin sampai sekarang Aris sesali seumur hidup." Arisa semakin lekat menatap pada kaca mobil.


"Tapi mamang senang melihat non yang sekarang sudah tidak lagi menyendiri. Sepertinya den Rayyan benar-benar berusaha membuat non Aris bahagia." Arisa hanya tersenyum tipis mendengar penuturan mang Ujang. Bagaimana bisa Arisa begitu bahagia dengan kenyataan yang jauh dari kata bahagia. Mencintai orang yang sama dengan Raisa, namun Rayyan lebih memilih dirinya, dan nyatanya Raisa yang telah dijodohkan dengan Rayyan sejak dulu.


Mang Ujang menepikan mobil tak jauh dari gerbang makam. Arisa bergegas turun dan berjalan melewati beberapa makam lain. Arisa terhenti disebuah nama yang sangat ia rindukan.


"Rama... jika saja ini hanya mimpi, aku ingin segera terbangun dan bertemu denganmu." Lirih Arisa yang menaburkan beberapa bunga yang ia petik dari taman kecilnya.


"Besok aku ulang tahun, tak ada yang istimewa setelah kepergianmu. Tak ada yang mengajakku berkeliling dan tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku di akhir waktu. Datanglah ke mimpiku. Aku benar-benar merindukanmu." Lirihnya lagi dengan membiarkan air matanya berderai.


"Tuhan, biarkan dia menemuiku sebentar saja." Doanya dalam hati dengan sungguh. Kemudian Arisa beranjak dan menyeka air matanya.


"Aamiin." Arisa terkejut dengan suara mang Ujang yang tiba-tiba.


"Mang." Pekik Arisa menyentuh dadanya. "Kenapa mamang disini?" Tanyanya menyernyit heran.


"Hehe... iya non. Mamang khawatir sama non Aris. Non terkejut ya?"


"Aris terkejut mang. Mamang tiba-tiba dibelakang Aris. Mana ini di makam mang." Canda Arisa yang melangkah mendahului mang Ujang.


"Mamang juga mau den Rama datang ke mimpi mamang." Cetus mang Ujang membuat Arisa menoleh heran.


"Kalau Rama sendiri yang datang ke mamang bagaimana mang?" Tanya Arisa dengan tawa kecil membuat mang Ujang merinding dan bergidik ngeri.


"Ish.. non ini. Bercandanya jangan berlebihan non. Kalau di mimpi tidak masalah, tapi kalau den Rama langsung, ya mamang takut." Arisa semakin lepas tertawa karena jawaban mang Ujang.


"Aris yang melarang Rama menemui mamang. Malam ini khusus waktu Aris berdua dengan Rama. Mamang tak boleh ikut." Canda Arisa lagi membuat mang Ujang tersenyum tipis.


"Mamang harap non Aris bahagia selalu non. Jangan sedih-sedih lagi." Gumam mang Ujang kemudian membukakan pintu untuk Arisa.


Arisa memjamkan matanya dengan bersandar, terbayang wajah Rama dengan senyuman manis dan lesung pipinya.

__ADS_1


"Hanya bayangan." Gumamnya.


-bersambung


__ADS_2