
. Melihat Fabio yang pergi tanpa menoleh, Arisa menjadi lebih merasa terluka. Benar kata Fabio, melukai diri sendiri pun tak akan membuatnya tenang. Ia segera mengusap kasar wajahnya agar tak terus menerus menangis. Ia beberapa kali menelpon nomor Reza, namun tak ada jawaban satupun. Lalu ia memutuskan untuk menghubungi Sarah, dan Sarah pun tak tahu dimana Reza.
Malam semakin larut, Arisa terlelap dengan tangan masih memegang ponsel dan layar yang menampilkan panggilan dari Sarah, namun ia tak mendengar karena sudah lelap. Terdapat sebuah pesan tertera dari nomor yang tidak Arisa simpan. Seakan itu adalah nomor baru, padahal itu adalah nomor Fabio.
[Terima kasih. karena kau, aku tahu kekuasaan saja tidak cukup untuk membuatku bahagia. Aku butuh cinta untuk melengkapi kebahagiaanku. Tapi jika hanya mencintai sepihak, aku tak siap. Ternyata patah hati memang sakit. Lebih sakit dari luka sayatan pisau dapur milikmu. Sesuai janjiku, setelah malam ini aku tak akan mengganggumu lagi.] Setelah Fabio mengetik panjang lebar, ia mendiamkan pesannya sesaat dan kemudian Fabio kembali menghapus setiap kata yang ia tulis. Ia melempar ponselnya ke tempat duduk samping dan membiarkannya tergeletak begitu saja. Ia memejamkan matanya dengan bersandar menikmati perjalanan pulang yang hampa dan rasa sakit di tangannya.
[Aku akan menikah dengan gadis lain yang mungkin tidak aku cintai. Tapi, aku berharap kau datang dan itu tak akan mungkin.] Akhirnya, setelah ia bimbang, Fabio mengirim pesan yang mungkin lebih tepat untuk mengatakan selamat tinggal secara tidak langsung.
Paginya, Arisa mengetuk pintu apartemen Zain sambil membawa sarapan untuknya. Zain membuka pintu dan memperlihatkan wajahnya yang masih mengantuk. Ia menatap mata sembab Arisa yang mungkin menangis semalaman. Setelah memberikan sarapan, Arisa berbalik dengan masih sendu.
"Aris... emm maksudku Putri." Panggil Zain dengan ragu. Arisa menoleh lalu menatap pada Zain yang seakan ingin berbicara.
"Mau jalan keluar? Yaa karena hari ini libur, jadi tak ada salahnya kan?" Arisa hanya mengangguk lalu kembali memasuki apartemennya. Zain menatap masakan yang dibawa Arisa. Bahkan disaat Arisa tahu dia hancur karena Zain, namun Arisa masih mengingat apa yang Zain butuhkan.
Sesuai ajakan Zain, keduanya berjalan di taman terdekat. Kemudian Arisa terhenti dan beralih ke arah lain dan duduk di sebuah bangku dengan sandaran. Zain hanya mengikuti kemana Arisa pergi saja, ia tak ada niat untuk membuat suasana hati Arisa menjadi lebih buruk.
Melihat Arisa yang terus diam membuat Zain semakin merasa bersalah.
"Putri... maafkan aku. Harusnya aku tak menunjukkan foto itu pada Reza." Ucap Zain yang memulai pembicaraan.
"Tak apa. Siapapun pasti akan berpikir yang tidak-tidak jika melihat foto itu. Tak akan ada yang percaya padaku sekalipun aku menjelaskannya dengan menangis darah." Jawab Arisa yang menatap ke depan tanpa menoleh kemanapun. Bahkan ia seakan enggan menoleh pada Zain di sampingnya.
"Putri... jangan bicara seperti itu. Aku semakin merasa bersalah sekarang."
"Kenapa? Bukankah kakak juga menyalahkanku?" Tanya Arisa kemudian menoleh dan menatap tajam pada Zain yang memalingkan wajahnya tak berani membalas tatapan Arisa.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku semalam tak bisa menahan diriku karena menyaksikanmu dengan pria lain."
"Kakak membenciku kan?" Seketika Zain menoleh kasar pada Arisa dan matanya membulat menepis tuduhan Arisa.
"Tidak. Mengapa kau berpikir seperti itu?" ~Zain
"Buktinya, tanpa memikirkan kedepannya, kakak menunjukkan sebuah foto yang bahkan kakak sendiri tak tahu alasan mengapa aku melakukannya." ~Arisa.
"Baiklah. Memang aku yang salah. Jadi, sekarang ceritakan kebenarannya agar aku tak berpikir kau dan Fabio melakukan hal yang tak pernah ingin aku pikirkan." ~Zain.
__ADS_1
"Aku hanya merindukan pacarku. Dan kebetulan ada Fabio. Jadi, aku--"
"Arisa! serius.! Aku tak percaya."
"Lalu? Jika aku berkata bahwa itu adalah ciuman selamat tinggal, apa kakak akan percaya?" Zain terdiam mendapati pertanyaan Arisa. "Fabio bilang, setelah malam tadi, dia tak akan menemuiku lagi. Dan aku percaya, makanya aku membiarkannya memelukku sebentar. Lagi pula, aku belum benar-benar bisa melupakan Rayyan dengan mudah. Pelukan, kecupan, dan sikapnya terasa seperti Rayyan. Jujur saja aku benar-benar merindukan suami kakakku sendiri." Jelasnya yang mulai berkaca-kaca. Zain semakin membeku mendengar isi hati Arisa yang masih menyimpan perasaan pada mantan kekasih yang harus Arisa lupakan dengan paksa.
"Sekali lagi aku minta maaf." Lirih Zain menunduk merasa bersalah atas apa yang ia lakukan semalam. Karena kecemburuannya, Zain tak tahu kebenaran apa yang ada dibalik adegan itu. Nyatanya, Arisa hanya menjadikan Fabio sebagai bahan pelampiasan dengan alasan salam perpisahan. Tapi, tetap saja Zain merasa terluka jika menyaksikannya langsung seperti itu. Ia mengira bahwa Arisa juga mencintai Fabio.
. Fabian setengah berlari menuju sebuah cafe yang dijadikan titik pertemuan oleh asisten Fabio. Ia berlari dengan panik karena ia bangun terlalu siang dan terlambat datang.
"Harusnya kau ubah kebiasaan burukmu ini." Ucap Fabio yang tak ditanggapi baik oleh Fabian. Fabian hanya memalingkan wajahnya dengan alis berkerut dan mata yang menyipit karena kesal.
"Kau masih saja membenciku." Gumam Fabio menghela nafas berat.
"Jika kau masih kesiangan, maka kau tak akan bisa menghandle perusahaan ayah sendiri nantinya." Ucapnya lagi membuat Fabian menoleh seketika padanya.
"Perusahaanmu. Bukan ayah." Tegas Fabian kembali memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Kau berpikir begitu? Yahhhh ternyata sia-sia saja aku mempercayaimu." Ucap Fabio kemudian beranjak dari duduknya.
"Cih... padahal aku hanya ingin merasakan bagaimana menjadi Tio." Ucapnya pelan seraya berdecih lalu kembali menjatuhkan tubuhnya dan kemudian bersandar memejamkan matanya. Denyutan ditangannya masih terasa karena ia menggenggam tepat di mata pisau dan lukanya tidaklah kecil. Bahkan darahnya masih terus merembes keluar.
Fabio bergegas menyusul Fabian ke sebuah rumah yang sudah ia siapkan ketika Fabian memulai jadwal kuliahnya. Namun, tanpa sepengetahuan Fabian. Fabian hanya tahu rumah itu adalah rumah sewaan yang di siapkan oleh ibunya selama ia kuliah disana.
. "Fabio akan menikah. Dan semalam dia hanya... ah sudahlah. Percuma aku menjelaskan, tapi kak Zain juga tak akan percaya." Ucapnya malas dan beberapa kali menghela nafas berat.
"Apa harus dengan berciuman?" Tanya Zain lirih membuat Arisa menoleh sesaat kearahnya.
"Aku tak tahu. Yang aku rasakan semalam yang ada di hadapanku itu Rayyan. Dan.... mungkin Rama juga. Ah sial.... aku malah semakin merindukannya." Ucap Arisa menggerutu merasa kesal sendiri.
"Aku menyukaimu Putri." Tiba-tiba Arisa terdiam mematung mendengar pengakuan Zain. Ia menatap lekat mata Zain lalu tertawa dan menepuk tangan Zain dengan keras.
"Kakak ini bercanda terus." Cetusnya masih tertawa. Zain semakin tak bisa menahan perasaannya melihat Arisa yang begitu manis. Apa lagi saat ia tersenyum. Rasa cintanya pada Arisa benar-benar seperti pada Nadhira. Tidak. Zain hanya merasa bahwa Arisa sangat mirip dengan Nadhira. Ia masih berada dalam bayangan sosok Nadhira yang jelas tak akan pernah kembali padanya.
"Ya mungkin terlihat bercanda. Tapi aku serius." Seketika itu, tawa Arisa terhenti dan kembali menatap lekat kedua mata Zain.
__ADS_1
"Maaf kak. Aku ingin pulang." Ucap Arisa beranjak dan berlalu meninggalkan Zain. Saat Arisa hendak memberhentikan taksi, Zain dengan cepat menarik tangannya dan membawanya kembali ke mobilnya.
"Kau berangkat denganku. Dan pulang pun harus denganku."
"Ya sudah. Antarkan aku ke rumah bunda." Zain terdiam sesaat mendapati sikap Arisa yang mendadak dingin. Meski begitu, Zain pun mengantarkan Arisa menuju rumah Sarah. Namun keduanya tak mendapati keberadaan Sarah dan Reza di rumah. Arisa memutuskan untuk menunggu di depan rumah, dan sesekali ia berjalan-jalan di taman kecil milik Sarah. Namun sampai siang, Zain sudah beberapa kali mengajak Arisa pulang, namun Arisa tak berniat meninggalkan rumah Sarah.
"Mau sampai kapan?" Tanya Zain yang sudah lelah menunggu.
"Jika kau mau pulang, pulang saja. Aku masih mau menunggu bunda."
"Putri.."
"Apa lagi? Sudah pulang saja."
"Sebenarnya kamu mau apa? Mengapa kau begitu bersikeras ingin bertemu bunda."
"Aku mau menjelaskan masalah semalam. Bisa saja bunda salah faham jika kak Reza yang mengatakannya."
Setelah lama menunggu, terlihat sebuah mobil silver memasuki pekarangan rumah. Sarah turun setelah sang supir membukakan pintu.
"Ehh Putri. Kamu nunggu bunda?" Tanya Sarah dengan berseri. Ya.. setiap Arisa ke rumahnya, Sarah terlihat begitu bahagia.
"Bunda... Aris..."
"Kenapa nak?" Tanya Sarah menyela keraguan Arisa.
"Aris minta maaf. Aris tidak bermaksud membuat bunda kecewa. Aris hanya... hanya.... menganggap Fabio teman saja. Itu hanya... bunda jangan salah faham." Rengek Arisa yang memeluk Sarah dengan erat sambil terisak tak bisa menahan tangisnya.
"Aris... tenangkan dulu dirimu. Ada apa?" Dan seketika tangis Arisa berhenti, ia lalu menatap Sarah dengan serius.
"Apa kak Reza tidak--"
"Reza belum pulang. Bunda juga tidak tahu kemana dia semalam. Dia hanya bilang akan ke apartemen Zain, sambil melihat kondisimu. Bunda juga tidak mengerti karena Reza terlihat buru-buru. Dan bunda kira, kakakmu menginap di apartemen Zain." Jelas Sarah yang beralih menatap Zain.
Reza tidak pulang? Mengapa? Dan kemana? Arisa semakin gelisah karena takut jika Reza menemui Yugito.
__ADS_1
-bersambung