TAK SAMA

TAK SAMA
18


__ADS_3

. Tiga hari sudah, ayah dan seisi rumah merasa gelisah ketika kedua anaknya tidak kunjung pulang. Ponsel keduanya tidak bisa dihubungi, dan ayahpun kewalahan menghandle perusahaan sendiri.


"Dimana kau Tio? Kemana kau membawa adikmu pergi?" Ayah memandang foto keluarga yang dipajang dimeja kerjanya.


Sampai ketika, semua tengah berkumpul untuk menyebarkan berita kehilangan, dering telpon rumah berbunyi, bi Ina dengan sigap menjawab.


"Tuan, ma-mas Tio Tuan." Ucap bi Ina seraya sedikit menyodorkan telpon yang digenggamnya.


Ayah dengan cepat meraih telpon dan dengan suara gemetar memanggil Tio.


"Maaf ayah. Aku baru mengabari."


"Dimana kau? Apa Arisa bersamamu?"


"I-iya ayah... Arisa denganku sekarang."


"Iya dimana? Katakan. Ayah akan menyusul. Apa kau dan Aris baik-baik saja disana?"


"Aku di Amerika ayah. Aku sedang mengajak Aris liburan." Jawab Tio menatap nanar Arisa yang terbaring dengan selang dan alat medis lainnya menempel hampir diseluruh tubuhnya.


"Ayah... sudah dulu.. nanti aku telpon lagi." Ucap Tio memutus panggilan telponnya.


"Tio.. Tio..." panggil ayah setengah berteriak. Mama dan Raisa menatap harap dengan perasaan yang berkecamuk. Ayah menghela nafas berat meletakkan kasar telpon yang digenggamnya.


"Apa yang mereka lakukan di Amerika?" Tanya ayah yang entah pada siapa itu. Raisa dan mama terkejut dengan hal yang tiba-tiba ini. Tak ada pemberitahuan ataupun permintaan izin Tio pada ayah untuk pergi kemanapun.


. "Kau harus segera mencari pendonor yang cocok untuk adikmu. Dengan operasi, mungkin adikmu bisa terselamatkan. Tapi jika dibiarkan lebih lama, aku tak menjamin. Dan aku tak tahu seberapa lama dia akan bertahan. Meskipun dia selalu terlihat kuat, aku tak yakin dia mampu. Bagaimanapun, dia lemah sekarang. Bukan saja hatinya, tapi perasaan, mental, dan semuanya. Itulah kenapa dia bersikeras ingin mati dengan tidak bunuh diri secara langsung. Dia ingin mati seolah ini adalah jalannya karena kanker." Jelas dokter dengan tinggi sekitar 183 cm, dan garis wajah yang tampan rupawan khas lokal Indonesia dilengkapi gaya rambut yang dibiarkan berponi. Marcel Divandra, teman Tio yang sudah 4 tahun menjadi dokter di negara itu.


"Kau mendengarkanku atau tidak?" Tanya Marcel mendengus kesal pada Tio yang mengabaikannya.


"Ku tanya apa kau mendengarkanku?" Kini kekesalannya semakin memuncak. Namun Marcel terdiam ketika Tio mendongak dan memperlihatkan wajah menyedihkannya.


"Hatiku saja. Aku kakak kandungnya, jadi pasti cocok kan?"


"Tio... gen mu dan Aris memang cocok. Tapi darahmu tidak. Dan juga aku khawatir jika hatimu didonorkan pada Aris, Aris akan menjadi kejam nantinya." Jawab Marcel menoleh pada Arisa yang terbaring tak sadarkan diri.


"Apa maksudmu sialan?"


"Kau mengerti tapi kau masih saja bertanya."


"Cihh... Kau pikir mudah mendapatkan pendonor yang cocok selain aku?" Pertanyaan yang lagi-lagi tak bisa terjawab.


"Aku akan mencoba menghubungi beberapa rumah sakit yang masih memiliki stok organ hidup." Ucap Marcel yang berlalu meninggalkan Tio yang terdiam menatap kota yang indah didepan matanya.


"Jika kau melihatnya, kau pasti suka Aris." Ucap Tio menatap Arisa dari pantulan kaca jendela.


. Sudah hampir satu pekan, kelas terasa hampa tanpa gadis dingin yang menghabiskan jam pelajarannya dengan menatap keluar jendela. Disela setiap pelajaran, Rayyan terus mendengus kesal.


"Kau menyukai Arisa?" Tanya Daffa ketika duduk berhadapan saat makan siang. Rayyan melirik kearahnya, kemudian kembali memainkan sendok dan memutar makanannya menjadi tak beraturan.


"Katakan sesuatu Rayyan." Ucap Daffa lagi.


"Apa?"


"Apa kau menyukai Arisa?"


"Tidak."


"Lalu? Apa artinya sikapmu itu?"

__ADS_1


"Kau pikir apa? Dia berjanji akan menemui Sein. Tapi sudah satu minggu dia tidak muncul dihadapanku."


"Mengapa kau tak kerumahnya?"


"Jika aku kerumahnya, orang tuanya akan berfikir aku akan menemui Raisa."


"Baiklah. Sore nanti aku yang akan kerumahnya." Ucap Daffa beranjak dari duduknya, dan berlalu meninggalkan Rayyan sendiri.


. Dikelas, Rayyan duduk dengan tiba-tiba didepan Wina hingga Wina sendiri melonjak karena terkejut.


"Kau tahu dimana Risa?"


"Ak-aku juga tidak tahu. Aris tidak memberitahuku kemana dia, dan sedang dimana sekarang." Jawab Wina menunduk.


"Satu pekan ini aku tak ada kontak sama sekali dengannya." Lanjut Wina menatap poto Arisa di profil kontaknya.


"Kemana dia?" Rayyan semakin khawatir bercampur kesal pada Arisa.


"Jika ada kabar tentangnya, cepat kabari aku." Wina mengangguk pada Rayyan yang kini berlalu ke mejanya.


. Ditengah pelajaran, Rayyan menatap meja Arisa yang terlihat ada sebuah coretan kecil. Matanya menyipit mencoba melihat lebih jelas coretan itu.


"Hati" gumamnya pelan.


"Rayyan!" Kini suara Seno sedikit meninggi setelah lelah memanggilnya namun tak ditanggapi oleh Rayyan.


"Eh iya. Risa!" Seketika suasana menjadi hening dengan sorot mata yang tertuju padanya semua.


Rayyan gugup dan salah tingkah.


"Mengapa aku menyebut nama Risa?" Gumam Rayyan memalingkan wajahnya menatap jendela.


"Siapa yang merindukannya?" Lirih Rayyan pelan.


"Ternyata benar. Rayyan menyukai Arisa. Tapi apa Arisa juga menyukai Rayyan?" Gumam Daffa menerawang pada meja Arisa yang kosong.


. Di ruang kerja, Yugito menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja, ditemani beberapa berkas kontrak perusahaan dan segelas kopi dingin yang disajikan dari pagi, namun Yugito tak meminumnya. Rasanya satu pekan ini, rumah terasa hampa tanpa kedua anak bandelnya.


Pintu diketuk sebelum dibuka. Yugito menoleh ke arah pintu dan mendapati Mang Ujang dengan wajah sumringah.


"Kenapa mang?" Tanya Yugito menyernyit heran tak bisa menebak ekspresi wajah supir pribadinya.


"Anu Tuan... nona ingin menghadap Tuan."


"Bukankah Raisa sudah berangkat ke kampu.. s! Aris." Seketika Yugito berdiri menatap tajam pada mang Ujang, dan menerka-nerka siapa yang masuk. Benar saja. Putri yang ia rindukan, berjalan memasuki ruang kerjanya. Mang Ujang menutup kembali pintu dan membiarkan ayah dan anak itu saling berbincang.


"Ayah... aku--"


"Dari mana saja kau?" Tanya ayah dengan nada tinggi dan tatapan yang begitu tajam. Ayah menghampirinya, dan tatapan marah itu tak berubah, Arisa memejamkan matanya berfikir ayahnya pasti akan memukulnya.


Arisa terbelalak ketika sang ayah memeluknya begitu erat.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Ayah khawatir padamu. Kau dan Tio tiba-tiba tak pulang." Arisa tak dapat membendung air matanya dan membalas pelukan sang ayah.


"Maafkan Aris ayah...." lirih Arisa.


"Harusnya kau bicara lebih dulu pada ayah jika ingin pergi kemanapun. Jangan menghilang seperti itu." Ayah melepas pelukannya dan mengelus rambut Arisa dengan lembut.


"Kau membuat ayah tak nafsu makan, tak nyenyak tidur, tak fokus bekerja."

__ADS_1


"Ayah jangan menangis. Aris akan lebih merasa bersalah jika ayah menangis." Arisa mengusap pipi dan kelopak mata ayahnya.


Pintu kembali terbuka membuat ayah dan anak itu menoleh bersamaan.


"Apa ada tamu?" 'Prang...' mama menjatuhkan cangkir berisi kopi panas saat melihat Arisa berada dihadapannya sekarang. Dengan cepat mama menghampiri dan meraih Arisa seakan mengabaikan keberadaan sang suami.


"Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Apa kau sakit? Katakan nak." Mama meraba ke seluruh tubuh Arisa.


"Mama hentikan... aku baik-baik saja. Tidak ada yang sakit." Ucap Arisa meraih tangan mama dan tersenyum meyakinkan.


"Kau membuat mama khawatir. Mengapa kau main terlalu jauh? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Atau bagaimana jika tiba-tiba pesawatnya--"


"Sut... apa yang kau bicarakan?" Ayah menyela sebelum mama terlalu jauh menerka-nerka.


"Tio dimana?" Tanya mama tiba-tiba.


"Kak Tio langsung ke kantor." Jawab Arisa.


"Kau sudah makan? Mama temani kamu makan ya?" Arisa mengangguk kemudian berjalan berdampingan dengan mama menuju ruang makan.


Bi Ina tak bisa menahan diri untuk tidak menangis saat melihat Arisa baik-baik saja setelah satu pekan dirinya tak bisa melihat wajah dingin sang anak asuh nya itu. Bi Ina beranjak berlalu ke halaman belakang sebelum Arisa memanggilnya.


"Bibi kenapa? Aku merasa bibi menjauhiku" gumam Arisa menatap pintu yang menuju halaman belakang.


. Jam pulang, Daffa bergegas menuju parkiran tanpa menyapa Rayyan yang lebih banyak diam setelah kepergian Arisa. Daffa berlalu menuju rumah Arisa dan Rayyan dengan pelan melajukan mobilnya menuju rumah.


Sampai akhirnya, Rayyan menyernyit mendapati mobil honda Jazz berwarna merah dengan beberapa variasi berwarna hitam dan putih.


Rayyan sedikit berlari memasuki rumah dan terbelalak mendapati sosok yang ia rindukan.


"Risa?" Panggilnya pada pemilik nama yang sedang menemani adiknya bermain.


"Kak Aray!" Teriak Seina yang sangat senang. Terlihat perubahannya hari ini, yang biasanya melamun di dekat jendela, kini adik kecilnya itu kembali ceria hanya karena kehadiran seorang Arisa.


"Aray!"


"Kau tahu jalan ke rumahku, tapi mengapa kau baru kesini hah?" Bentak Rayyan tak bisa menahan emosinya lalu meraih kasar bahu Arisa.


"Kak Aray. Jangan sakiti kakak Putri." Rengek Seina meraih tangan Rayyan yang kuat mencengkram bahu Arisa


"Kau membuat adikku menunggu, dan kau juga membuatnya bersedih setiap hari."


"Kak Aray jangan marah pada kakak Putri." Teriak Seina membuat ayah dan bundanya datang menghampiri.


"Aray.. apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu." Ucap ayah meraih tangan Rayyan yang masih tak ingin melepaskan cengkramannya.


"Aray!" Kini Rayyan perlahan melepaskan tangannya setelah mendengar amarah sang ayah.


"Apa yang kau pikirkan Aray?" Tanya ayah yang heran melihat sikap Rayyan.


"Ayah tak mengerti." Lirih Rayyan dengan tatapan sendu.


"Aku sangat marah padanya ayah... aku tak ingin melihat wajahnya. Dia sudah membuat Sein bersedih. Kenapa ayah dan bunda membiarkannya berada disini?" Rayyan mendengus kesal menahan rasa sesaknya dan air mata yang sedari tadi memaksanya keluar. Arisa gemetar dirangkulan bunda. Dirinya tak menyangka Rayyan akan semarah ini.


"Ma-maaf." Lirih Arisa.


"Maaf? Mudah kau berkata maaf." Suara Rayyan kian meninggi.


"Kau tak tahu betapa sedihnya Sein, dan betapa khawatirnya aku dan bunda yang menunggumu." Rayyan tak kuasa menahan agar dirinya untuk tidak terisak memeluk Arisa di hadapan keluarga nya.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2