TAK SAMA

TAK SAMA
26


__ADS_3

. Rayyan dan Arisa duduk dikursi taman dengan Seina di pangkuannya.


Ayah dan mama merasa heran dengan situasi yang mendadak menjadi canggung ini. Niat menjodohkan Raisa, namun malah Arisa yang lebih dekat dengan Rayyan.


"Maafkan Seina. Dia sangat menyukai putrimu itu Yugito." Ucap Danu.


"Tak apa Danu. Tapi, mengapa Seina memanggil Arisa kakak putri?"


"Seina melihat Arisa seperti seorang putri. Dan kebetulan namanya pun putri, jadi Arisa tak merasa keberatan." Jawab bunda tersenyum.


"Kamu.. benar-benar mirip dengan Arisa ya?" Raisa mengangguk dengan senyum diwajahnya, namun hatinya sangat hancur sekarang. Melihat Rayyan yang begitu dekat dengan Arisa. Bahkan saat dikampusnya dulu, Rayyan tak pernah sedekat itu dengan gadis manapun.


"Kalian beruntung memiliki anak kembar yang sangat cantik." Ucap bunda lagi.


"Dan kau akan memilikinya satu bukan?" Canda mama mengelus rambut Raisa.


"Kau benar. Rayyan sangat mencintai putrimu. Dan aku baru kali ini melihatnya seperti itu. Meskipun ada kesalahfahaman, tapi aku mencoba meyakinkannya untuk percaya pada putrimu, bahwa putrimu juga mencintainya." Bunda menatap lekat pada Rayyan dan Arisa.


"Kau jangan khawatir. Putriku juga mencintainya. Dan pasti memaklumi kedekatan Rayyan dan saudarinya"


"Ya tentu saja." Keduanya berbincang seolah pembicaraan mereka sejalan.


Tio dan Diana sampai ditengah perbincangan dua keluarga itu.


"Maaf Tio terlambat." Ucap Tio yang memberi salam pada Danu dan Sonya.


Tak lama, terdengar kembali suara mobil yang terhenti. Dilihatnya siapa yang turun, Arisa terperanjat saat melihat Bayu dan keluarganya.


"Aray... sepertinya ada tamu yang lain." Ucap Arisa gelisah.


"Baiklah... karena Seina juga sudah tenang." Ucap Rayyan ikut berdiri dengan masih membawa Seina dipangkuannya.


Bayu melihat kearah Arisa dan Rayyan. Dimatanya, seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia dengan seorang anak perempuan. Mereka berjalan semakin dekat. Bagaimana rasanya melihat calon istri berdampingan dengan pria lain?


"Sayang..." ucap Widia sang ibu dari Bayu yang meraih Arisa dan merangkulnya dengan hangat.


. Semua berlalu menuju ruang makan.


Arisa terlihat pucat meskipun sudah memakai polesan makeup walau tipis. Diana memberi kode seolah bertanya kenapa. Namun Arisa hanya menggeleng. Kepalanya berat saat ini, pandangannya kabur, tapi sebisa mungkin Arisa menahannya.


Rayyan merasa sedikit khawatir pada Arisa.


"Kakak putri kenapa?" Tanya Seina dengan ekspresi polos.


"Tak apa sayang." Jawab Arisa terlihat jelas ada rasa mual kembali dirasakannya.


Arisa berlari menuju kamar mandi di ujung dapur.


"Tidak... jangan lagi." Gumamnya sambil terus mengeluarkan darah.


Ketika keluar dari kamar mandi, Arisa terkejut mendapati Tio yang berdiri di ujung meja dapur.


"Jika tak sehat, tidurlah! Tak apa jika kau tak ikut makan juga..." ucap Tio menjauhkan pikiran negatifnya, padahal hatinya sangat khawatir dengan kondisi Arisa.


"Aku baik-baik saja kak.." Arisa melemparkan senyumnya.


"Aris... jangan seperti itu... aku tak tenang semenjak tahu kau positif." Mama menutup mulutnya ketika mendengar yang dikatakan Tio. Mama kembali tanpa diketahui oleh Tio bahwa mama mengikutinya karena khawatir. Namun apa yang didengarnya, membuat hancur hatinya.

__ADS_1


Arisa kembali ke kamarnya dengan di antar oleh Tio. Arisa tak tahu perbincangan apa yang dibahas mereka di ruang makan.


"Aris kenapa?" Tanya ayah.


"Tidak enak badan ayah." Jawab Tio santai.


Tapi, niat ingin membahas perjodohan, Danu malah membahas bisnisnya. Entah kenapa, tanpa Arisa disana rasanya tidak karuan.


Begitupun Rayyan dan Bayu, yang sama-sama menoleh pada arah kamar Arisa.


. Setelah selesai, dan memastikan tamu semua sudah meninggalkan rumahnya, semula Yugito hendak ke ruang kerjanya, namun urung saat melihat istrinya tiba-tiba menangis.


"Ada apa?" Tanya Yugito menghampiri Rahma.


"Ada apa ma.?..." Tio hendak meraih lengan mama namun ditepis kasar oleh mama.


"Diam kau Tio. Kau tahu sesuatu tentang Arisa tapi tak memberitahu mama." Raisa dan Tio terbelalak. Benarkah mama tahu penyakit Arisa.


"Kau membantu Arisa menyembunyikan kehamilannya?"


"Hah?" Tio terperanjat. Mengapa mama berpikir bahwa Arisa hamil.


"Kau pikir mama tidak dengar, kau bilang bahwa Aris positif." Lanjut mama dengan nada yang semakin tinggi. Mendengar itu, mata ayah memerah dipenuhi amarah.


"Bawa Aris kesini." Tegas ayah. Diana dan Raisa saling lirik tak berani beranjak. Jangankan menjelaskan, untuk sekedar berkedip saja, Raisa sudah ketakutan.


"Bawa cepat." Suara tegas ayah memenuhi ruangan yang besar itu. Raisa dan Diana beranjak menaiki tangga dan membangunkan Arisa yang mereka anggap sedang tertidur, padahal sedang tak sadarkan diri.


Saat Arisa perlahan membuka matanya, tiba-tiba ayah menyusul dan menarik kasar Arisa untuk bangun dari tempat tidurnya. Arisa sempoyongan dan hampir terjatuh, namun Tio dengan sigap meraih Arisa.


Pandangannya masih kabur saat menatap ayahnya.


"Katakan siapa ayahnya.!" Arisa menyernyit tak mengerti dengan pertanyaan ayah.


"Apa ini balasanmu pada orang tua yang sudah membesarkanmu? Kau membuat malu keluarga." Suara ayah masih terdengar menakutkan.


"Ayah..." lirih Arisa.


"Jangan panggil aku ayah. Kau bukan anakku." Rasanya seperti mati saat itu, Arisa ambruk dan memeluk kaki ayah dengan erat.


"Ayah jangan berbicara seperti itu... Aris tak bermaksud membuat ayah marah. Maafkan Aris... Aris akan menjauhi Aray. Aris janji ayah.. asal ayah memaafkan Aris." Arisa terisak keras dengan masih mempertahankan kesadarannya.


"Ayah..." Tio hendak melangkah, namun ayah meliriknya begitu tajam.


"Apa aku pantas mendapatkan balasan hina seperti ini Aris? Aku membesarkanmu, tapi kau malah menghancurkan kepercayaanku padamu. Lepaskan tangan kotor mu itu. Aku tak sudi menganggapmu sebagai anakku lagi." Ayah memaksa melangkah dan tangan Arisa terlepas. Arisa beranjak lalu mengejar dan menarik tangan ayah dengan tangisan yang keras.


Pandangannya semakin tak terlihat dengan genangan air mata di kelopak matanya.


"Ayah... Aris tak mencintai Aray... Aris akan jauhi Aray... jika perlu Aris akan menghilang dari hidup Aray ayah... jangan tinggalkan Aris."


"Menghilang saja dari dunia. Kau hanya menjadi aib keluarga." Ayah berbalik lalu menampar keras wajah Arisa. Arisa terjatuh dan tergeletak tak bergerak dengan darah dari hidungnya. Mama berteriak lalu meraih Arisa dengan Tio.


"Ayah keterlaluan. Apa pantas seorang ayah berbicara pada anaknya seperti itu?" Tio menatap tajam dengan mata yang memerah, entah karena marah atau karena menangis.


"Kau berani menatapku seperti itu Tio? Orang tua mana yang mau dipermalukan anaknya sendiri?"


"Apa yang memalukan ayah? Dia hanya tak ingin ayah dan mama khawatir. Ayah tahu? Jika dia tidak memohon, mungkin aku sudah mengatakannya pada ayah."

__ADS_1


"Arisss...." teriak Raisa.


"Jangan berlebihan Raisa. Mungkin dia hanya berpura-pura pingsan agar aku peduli padanya. Ingat Raisa. Kau jangan sampai sepertinya. Tak ada maaf untuk anak yang hamil diluar nikah." Decih ayah yang belum menyadari situasi dan kondisi Arisa.


"Ayah jahat" teriak Raisa.


"Mengapa ayah begitu tega melontarkan kata-kata menyakitkan itu pada Aris? Apa yang ayah tahu? Mengapa ayah berpikir Aris hamil? Aris bukan positif hamil. Tapi positif kanker! Kanker hati. Stadium 3 ayah... Ayah tega menamparnya. Ayah tak punya hati." Raisa masih berteriak tanpa menyadari bahwa rahasia adiknya kini diketahui keluarganya.


Ayah mematung tak bergerak, seakan waktu berhenti berputar saat itu juga.


"Apa ini alasanmu membawa Aris pada Marcel?" Namun Tio tak menjawab pertanyaan ayah.


Tio dengan gemetar membawa Arisa ke rumah sakit.


Ayah terduduk lemas. Mengapa dirinya begitu kejam pada anak malangnya. Ayah menangis sendiri di kamar Arisa. Lalu mencari petunjuk apa yang dikatakan Raisa itu tidaklah benar.


Namun ayah menemukan sebuah map di laci lemari Arisa, yang tak lain adalah rekam medis milik Arisa.


"Kanker hati." Ayah kembali mengutuk dirinya sendiri.


"Aris.... putriku...." lirih ayah yang sudah lemah tak berdaya bersandar di samping tempat tidur Arisa. Pukulan itu seakan masih terasa di telapak tangannya.


"Apa yang sudah kulakukan? Apa yang sudah ku katakan? Bisa-bisanya aku melontarkan kata-kata penghancur perasaan anakku sendiri." Ayah menoleh pada bingkai poto di atas tempat tidur Arisa. Rasanya dosa itu terlalu besar jika hanya meminta maaf.


"Aris..." ayah beranjak dan menyusul Tio ke rumah sakit.


. Berhari-hari, sudah hampir 2 pekan Arisa tak masuk kuliah. Wina merasa khawatir dan berniat ke rumah Arisa hari ini.


Daffa mengajak Wina untuk pergi bersama. Namun pelayan memberitahu bahwa Arisa di rumah sakit. Daffa dan Wina bergegas menuju rumah sakit.


Dan sesampainya di rumah sakit, Wina terkejut mendapati kabar yang tak ingin ia dengar. Kondisi Arisa sangat kritis. Dan harus segera mendapatkan pendonor hati yang cocok. Daffa merangkul pundak Wina untuk menenangkannya. Daffa tak kuasa jika harus melihat langsung kondisi Arisa.


. Hari berganti hari, masih tak menemukan hati yang cocok. Bahkan Marcel sendiri pulang ke Indonesia ketika mendengar kabar bahwa Arisa sedang kritis.


"Tio.... ini pilihan terakhirmu. Kau rela melihat adikmu mati, atau membiarkanku mendonorkan hatiku?" Tio memukul wajah Marcel dengan keras.


"Kau pikir aku akan setuju? Jangan bertindak seenaknya Marco. Aku tak akan membiarkan siapapun mati."


Ditengah kegelisahan, Dimas menghampiri Tio dan Marcel.


"Pihak lab sudah menemukan pendonor yang cocok untuk Aris."


Marcel dan Tio saling lirik.


"Tapi pendonornya tak ingin siapapun tahu." Lanjut Dimas yang seolah mengetahui maksud lirikan kedua pemuda itu.


"Mengapa kasusnya seperti ini? Bagaimana bisa aku berterima kasih pada seseorang dengan hati mulia sepertinya?" Tio terduduk lemas dengan bersandar di dinding.


. Operasi berlangsung, tentu semua teman-temannya sudah mengetahui kabar ini. Begitupun Rayyan.


"Aku akan memberikan apa saja asal kau selamat Risa." Gumam Rayyan terus berharap.


Namun yang membuat Rayyan merasa heran, siapa yang rela mendonorkan hatinya untuk Arisa?


Beberapa hari yang lalu, Daffa memasuki ruangan Dimas.


Namun terkejut mendapati seseorang yang ia anggap sebagai pendonor untuk Arisa.

__ADS_1


"Kau? Ini becanda kan?"


-bersambung.


__ADS_2