TAK SAMA

TAK SAMA
152


__ADS_3

. Arisa duduk berbeda dengan keluarga besarnya. Ia sendiri berada di paling depan bersama Rayyan. Melihat kebersamaan Arisa dan Rayyan, Clara tersenyum sinis dan tatapannya tak sedikitpun berpaling dari Arisa.


"Bersenang-senanglah sekarang Arisa. Karena aku tak yakin kau akan tersenyum setelah fajar." Batin Clara dengan santai meminum wine yang di sajikan di setiap mejanya.


"Diketahui acara ini dibuat sangat istimewa oleh keluarga besar Pratama. Selain untuk bisnis, ternyata ada kabar baik lain yang menjadi kejutan di acara ini. Sebelum itu, kami semua selaku tamu undangan mengucapkan selamat kepada tuan Rayyan yang sudah resmi menjadi presdir dari perusahaan Pratama." Ucap MC pada seluruh tamu. "Dan apa ada sepatah atau dua patah kata yang ingin anda ungkapkan?" Rayyan mengangguk pelan dan menoleh sesaat pada Arisa di sampingnya. Ia lalu beranjak dan segera menaiki panggung untuk mengungkapkan beberapa kata atau kalimat untuk semua yang sudah hadir. Setelah ia menerima mikrofon, ia menghela nafas dalam sesaat lalu tertawa karena gugup.


"Maaf. Saya terlalu gugup." Sontak seluruh tamu undangan ikut tertawa mendapati sikap konyol Rayyan yang baru pertama kali mereka lihat.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada ayah, bunda, oma, kak Seno, dan tante Ani yang sudah mempercayai saya untuk posisi ini. Dan terima kasih juga untuk keluarga Putra yang selalu mendukung, membantu dan mengajari saya bagaimana menjadi pimpinan yang bertanggung jawab dan bijak. Om Yugito, kak Tio, Raisa. Terima kasih." Dan dengan kompak, keluarga Putra mengangguk seraya tersenyum memberi dukungan untuk Rayyan.


"Satu orang lagi, maaf jika tidak di sebutkan dia pasti marah. Daffa. Dia teman yang tak pernah bosan membuat saya marah." Mendengar hal itu, Daffa terbelalak, dan ia menatap tajam pada Rayyan dan bersikap ramah pada semua orang.


"Awas kau Aray.!" Ucap Daffa yang ditanggapi tawa oleh Rayyan.


"Selain itu, saya juga ingin mempublikasikan siapa calon istri saya." Ucapnya kemudian, ia melirik ke arah Clara yang tersenyum ke arahnya.


"Arisa Fandhiya Putri. Putri bungsu dari Yugito Syahputra dan presdir dari N. A. Permata." Senyum Clara memudar, tangannya mengepal kesal ketika yang lain bertepuk tangan saat Arisa naik ke atas panggung menghampiri Rayyan.


"Wah.... ternyata ini acara istimewanya? Nona Arisa adalah gadis beruntung yang menjadi istri Rayyan Pratama. Karena ini malam bahagia untuk tuan dan nona, bagaimana jika kalian berdansa! Musik!" Ketika musik mengalun, Arisa mendadak panik dan ia tak tahu gerakan dansa bagaimana.


"Aray. Aku tak bisa dansa." Ucap Arisa yang tak bisa menyembunyikan wajah paniknya. Namun, Rayyan hanya tersenyum dan memberi kode pada Daffa untuk membawa Wina berdansa menemaninya. Ketika Daffa dengan santai bergandengan tangan menuju panggung, Fariz segera beranjak dan menarik Raisa yang ikut panik saat dirinya di ajak ke atas panggung. Untuk memecah kegelisahan adik-adiknya, Tio dan Diana ikut berdansa, begitupun dengan Seno.


Kaum muda tengah berdansa romantis, sedangkan para orang tua memilih untuk membahas masing-masing bisnis mereka.


Di tengah keseruannya, Arisa menoleh ke arah meja paling belakang. Ia terkejut melihat siapa yang tengah berdiri santai dan melambaikan tangan ke arahnya. Senyum manis itu sangatlah menyesakkan untuk Arisa sendiri karena ia tahu Rega pasti merasa cemburu padanya. Kini acara sudah tak lagi beraturan. Semua tamu undangan sudah tak lagi di tempatnya. Mereka berkerumun di beberapa sudut. Sudah seperti diskotik saja.


"Siapa?" Tanya Rayyan membuyarkan lamunan Arisa.

__ADS_1


"Em? A-apa?" Rayyan menyipit melihat kegugupan Arisa atas pertanyaan singkatnya.


"Jangan mencari perhatian pada orang lain. Kau tak tahu aku sangat cemburu?" Arisa menunduk namun masih mengikuti gerakan Rayyan yang selaras dengan alunan nada.


"Maafkan aku Aray. Tapi, apa kau sudah yakin akan menjadikanku istrimu?"


"Kau ini bicara apa? Aku sangat yakin. Apa kau yang ragu padaku?"


"Ti-tidak Aray. Maksudku sedikit. Mungkin karena kita sering salah faham."


"Mulai sekarang, jangan ada yang pergi lagi oke?" Kali ini Arisa mengangguk pelan dan menutupi semua keraguannya.


. Hingga musik berhenti, ia segera kembali ke tempatnya lebih dulu. Saat ia hendak mencari keberadaan Seina dan keluarganya, seorang pelayan pria menghampiri dan menahan langkahnya.


"Nona Arisa. Ada yang ingin bertemu dengan anda." Ucapnya dengan sopan.


"Siapa?"


"Di parkiran nona." Ucap pelayan yang tadi saat melewati Arisa sembari membawa sebuah nampan seakan tengah bekerja. Ketika Arisa berbalik, ia di kejutkan oleh Raisa yang tiba-tiba berada di belakangnya.


"Ih Rais. Kau mengejutkanku."


"Kau sedang apa Aris?"


"Aku sedang mencari kak Rega."


"Aihhh baru di lamar, sudah mencari pria lain!" Sindir Raisa.

__ADS_1


"Emmm ponselku sepertinya tertinggal Rais." Jawabnya mencari alasan untuk mencari keberadaan Sarah.


"Dimana?"


"Di mobil. Temani aku mengambilnya."


"Ih Aris.... malas."


"Ayolah Rais. Jangan menolak. Kalau aku pergi sendiri, bagaimana jika aku ada yang menculik. Kau bisa kesepian nanti." Cetusnya dengan menarik Raisa menuju tempat parkir. Dengan terpaksa, Raisa menurut saja dan mengikuti Arisa dari belakang. Ketika keduanya sampai di mobil, Arisa menoleh kesana kemari mencari keberadaan Sarah.


"Hehe pintunya di kunci." Arisa tertawa kikuk saat tak bisa membuka pintu.


'Bugh' suara benda terjatuh tak jauh dari mereka. Dengan melawan rasa takut, keduanya mengendap ke arah suara. Dan alangkah terkejutnya, Raisa langsung meraih sosok yang sudah babak belur dan darah yang sudah berlumuran di bagian perutnya.


"Juju!" Pekik keduanya sambil meraih wajah Juna yang penuh memar dan luka.


"Nona. Ja-jangan di sini. Ce-pat pergi.!" Titah Juna.


"Jangan bodoh Ju. Kau terluka parah. Bagaimana mungkin kita akan meninggalkanmu." Raisa setengah berteriak memarahi Juna yang jelas sedang terluka, namun malah menyuruh mereka pergi meninggalkannya.


"Saya serius nona. Tinggalkan saya."


"Ju... dimana bunda?" Tanya Arisa yang mulai khawatir pada Sarah. Jika Juna ada disini, maka Sarah pun pasti ada disini juga.


"Nyonya Sarah tidak ada di sini nona. Jadi nona sebaiknya kembali pada tuan Yugito secepatnya.


"Tapi Ju...--" ucapan Arisa terhenti saat ia merasakan ada sosok di belakangnya.

__ADS_1


"Aris...." pekik Raisa yang menyaksikan Arisa di bekap dan di tarik paksa oleh orang misterius itu. Saat Raisa hendak merebut adiknya, tubuhnya kaku seketika saat merasakan sebuah benda tajam menusuk pinggangnya.


-bersambung.


__ADS_2