
. Arisa berlari menuruni tangga setelah ia melihat mobil Rayyan memasuki pekarangan rumahnya dari balkon.
"Aris... kenapa berlari? Awas jatuh!" Tegur Rahma yang terheran melihat Arisa yang terburu-buru. Ketika Rayyan turun dari mobil, ia di kejutkan oleh Arisa yang berlari menghampirinya. Rayyan heran mengapa Arisa begitu erat memeluknya seperti tak ingin ia pergi.
"Sayang... ayahmu melihat." Ucap Rayyan dengan nada pelan lalu tersenyum kikuk pada Yugito yang melihat mereka dari pintu. Setelah Rayyan menyapa Yugito, Yugito kembali memasuki rumah membiarkan Arisa dan Rayyan berbincang di luar.
"Biarkan saja. Jangan pikirkan ayah. Ayah saja tak memikirkanku."
"Ishhh jangan begitu. Mungkin kau ada salah jika ayahmu marah."
"Salahnya dimana? Sudah tahu kita akan menikah, tapi ayah menyuruhku menemani tamunya berkeliling."
"Lalu kau menurut?"
"Tidak. Aku memilih mengurung diri di kamar saja sepulang kerja."
"Hemmm benarkah?"
"Kau tak percaya?" Arisa mendongak dengan memasang wajahnya yang cemberut.
"Iya iya aku percaya sayang." Ujar Rayyan sembari mengelus kepala Arisa dengan lembut.
"Kau sudah makan?" Tanya Arisa yang perlahan melepaskan pelukannya.
"Emmm belum." Jawab Rayyan sedikit ragu.
"Kalau begitu ayo makan."
"Tidak. Aku makan di rumah saja. Apa kak Tio masih disini? Aku coba telepon tapi tidak aktif." Kembali Arisa memasang wajah cemberut mendengar ucapan Rayyan.
__ADS_1
"Jadi kau kesini untuk menemui kak Tio?" Dengan memalingkan wajahnya, Arisa menunjukkan rasa kecewa akibat alasan Rayyan datang ke rumahnya bukan untuk menemuinya.
"Ada hal lain juga." Jawab Rayyan namun tak membuat Arisa menoleh ke arahnya.
"Aku juga ingin menemuimu. Dan syukurlah kau baik-baik saja." Tutur Rayyan selanjutnya berhasil membuat Arisa menghadapkan wajahnya pada Rayyan. Seketika Arisa berubah sendu kemudian meraih tangan Rayyan lalu menggenggamnya dengan erat.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku." Ucap Arisa dengan penuh harap. Rayyan tersenyum lalu membalas genggaman Arisa, kemudian ia mengecup jemari Arisa.
"Tak perlu berjanji, aku akan tetap bersamamu sayang. Apapun yang terjadi." Namun, bukannya tersenyum, Arisa malah menangis tanpa suara mengingat Rama pun yang sama berkata demikian tapi tetap saja pergi meninggalkannya.
"Ehhh kenapa menangis? Aku benar-benar tak akan meninggalkanmu. Aku serius. Percayalah." Rayyan mencoba meyakinkan Arisa agar tangisnya mereda.
"Sudahlah. Nanti ayahmu mengira aku yang membuatmu menangis." Rayyan masih berusaha menenangkan Arisa dengan mendekap Arisa dan mengelus rambut Arisa dengan lembut.
Dari jendela kamar tamu, Xavier menatap lekat ke arah pemandangan yang terlihat jelas dari jendela kamar tersebut.
Terlihat Arisa masih menahan lengan kemeja Rayyan saat Rayyan hendak pergi dari hadapannya. Xavier mulai menyadari keberadaannya yang membuat Arisa tak ingin jauh dari Rayyan. Bukan Arisa yang takut Rayyan menemukan gadis lain, tapi lebih takut jika Rayyan salah faham karena adanya lelaki lain di rumahnya. Namun, ia juga tak ingin menolak permintaan Yugito. Lagi pula, besok siang ia akan pulang ke kotanya dan meninggalkan pengalaman menginap di rumah keluarga yang sangat harmonis. Dan pengalaman serumah dengan gadis yang banyak di perbincangkan di mana-mana karena rumor kecantikannya yang tak kalah dari kembarannya. Sebelum benar-benar pergi, Rayyan mengecup kening Arisa lalu mengacak rambutnya sambil tertawa membuat Arisa protes dan kembali merajuk. Setelah Rayyan berlalu, Arisa kembali memasuki rumah dengan hati yang berbunga. Namun perasaan senang itu hilang seketika saat mendapati Xavier berada di ruang tamu menahan langkahnya yang hendak kembali ke kamarnya.
"Tuan Xavier. Permisi! Saya ingin lewat." Ucap Arisa dengan ketus. Sangat berbeda dengan beberapa detik yang lalu.
"Arisa. Bisakah kita bicara?" Arisa mendelik tak langsung menjawab pertanyaan Xavier.
"Katakan."
"Jadi kau mau mendengarkanku?"
"Saya berubah pikiran." Ucap Arisa dengan tegas lalu mencoba melewati Xavier.
"Ehhh baiklah saya bicara sekarang. Tapi kamu jangan pergi dulu. Saya mohon!" Pinta Xavier yang menghentikan langkah Arisa. Dengan terpaksa Arisa bersedia mendengarkan apa yang ingin Xavier bicarakan.
__ADS_1
"Langsung ke intinya atau tidak sama sekali." Tegas Arisa ketika Xavier sudah mulai menghela nafas untuk memulai bicara.
"Menakutkan. Apa begini sifat aslinya? Jauh berbeda saat pada Rayyan." Batin Xavier menghela nafas dalam sesaat.
"Apa kau dan Rayyan saling mencintai satu sama lain?" Tanya Xavier membuat alis Arisa menyernyit dan ia tersenyum heran dengan apa yang ditanyakan oleh Xavier.
"Sangat tidak penting tuan." Cetus Arisa kembali beranjak hendak meninggalkan Xavier.
"Ini sangat penting bagiku. Jika aku tahu alasannya, aku tak akan berharap ada kesempatan untuk mendekatimu. Jadi jawablah. Karena jika tidak sekarang, aku tak akan mendapatkan jawabannya sampai kapanpun. Besok aku pulang ke kotaku, jadi kau bisa lega tak akan ada lagi yang membuatmu tak nyaman." Tutur Xavier membuat Arisa kembali diam dan menahan langkahnya.
"Baiklah akan aku jawab. Rayyan itu sangat istimewa. Tak ada lelaki lain yang seperti Rayyan."
"Apa aku tidak seperti dia?"
"Tuan Xavier. Aku ragu jika kau akan menerima semua kekuranganku. Kau itu seperti orang-orang, melihatku hanya pada kelebihan saja. Yang dapat mencintaiku dengan hatinya, dan aku pun demikian, hanya mereka berdua." Sontak Xavier menyernyit menebak siapa 1 orang lagi yang membuat Arisa meluluhkan hatinya yang sedingin es ini.
"Aku tegaskan, Rayyan dan Rama. Selebihnya hanya penasaran saja padaku. Dan aku yang tak membalas perasaan mereka." Lanjut Arisa masih membuat Xavier penasaran.
"Mereka?"
"Iya mereka. Kak Fabio, kak Bayu, kak Zain, kak Rega, kak Fabian, dan mungkin Dimas. Aku bisa melihat mereka menyukaiku, tapi aku tak bisa melihat alasan untukku mencintai mereka. Tidak seperti Rayyan. Dia berbeda, dia baik, bertanggung jawab, menepati janji, dan bisa menerima kekuranganku." Tutur Arisa mengembangkan senyum tipisnya setiap ia mengucapkan nama Rayyan.
"Kau ini sempurna Arisa. Dimana letak kekuranganmu?" Tanya Xavier terdengar seperti sebuah protes. Menanggapi hal tersebut, Arisa kembali tersenyum dan kali ini senyumannya begitu tulus.
"Aku anak yang penyakitan, introvert, labil, dan tak beruntung." Jawaban Arisa semakin membuat Xavier tak mengerti. Tak beruntung bagaimana? Ia cantik, terlahir dari keluarga kaya pula.
"Penyakit lambung dan kanker hati menyerang secara bersamaan, tak bisa menghargai perasaan orang, di tambah sulit melupakan Rama meskipun dia sudah meninggal sejak lama." Lanjutnya yang tak bisa di protes lagi oleh Xavier.
-bersambung
__ADS_1