
. Paginya, Arisa bergegas menyiapkan sarapan untuk Rahma. Bi Ina yang bahkan baru selesai bersih-bersih pun dan hendak memasak, merasa tercengang dengan kesigapan Arisa untuk berurusan dengan dapur.
"Non? Sudah bangun? I-ini masih pagi sekali non. Baru jam setengah 6."
"Justru aku kesiangan bi. Harusnya dari tadi aku bangun." Mendengar jawaban Arisa, bi Ina menatap nanar dan tak percaya mengapa anak ini sekarang sangat berbeda. Dulu, ada yang sakit pun, Arisa enggan ingin tahu. Padahal saudara dan orang tuanya sendiri.
Selama pembuatan makanan yang hendak di sediakan Arisa, terdengar suara gaduh karena beberapa benda logam berjatuhan akibat Arisa yang tak hati-hati.
Hingga tanpa disadari, dari meja makan terlihat Yugito dan Rahma memperhatikan Arisa yang sibuk kesana-kemari dengan bi Ina yang membantu.
"Asin bi." Cetus Arisa ketika mencicipi kuah yang ia buat, dan kemudian terdengar gelak tawa dari keduanya membuat Yugito tersenyum tipis.
"Non Aris sudah mau nikah ya?" Ejek bi Ina sembari menambahkan beberapa bumbu tambahan.
"Ehhh tidak bi. Rais saja belum menikah."
"Ya... tak apa. Non Aris dan non Rais kan hanya berbeda beberapa menit saja."
"Oh? Memang bisa bi? Aku kira tak boleh melangkahi kakak."
"Boleh saja. Asal si kakak tidak keberatan."
"Hemmmm tapi rasanya tidak sopan jika mendahului kakak bi. Lagipula, selain Rais belum menikah, kak Reza juga belum ada tanda-tanda akan menikah. Bagaimanapun kak Reza kakak Aris juga. Apa lagi di tubuh Aris ada hati Nadhira yang jelas adik se ibu kak Reza dan adik Aris juga." Mendengar penuturan Arisa, selain bi Ina, Rahma dan Yugito juga merasa terkejut.
"Aris?" Panggil Yugito mengejutkan Arisa.
"A-ayah? Se-sejak kapan ayah dan mama disana?" Tanya Arisa dengan gugup.
"Apa ayah boleh bicara sebentar?" Dengan ragu, Arisa mengangguk dan langsung menghampiri orang tuanya. Segera Rahma meraih wajah Arisa, hatinya senang dan terharu. Meskipun hanya tebakan, namun batinnya berkata bahwa Arisa sudah mengingat semuanya.
"Maafkan mama nak. Mama sudah membuatmu kesepian." Ucap Rahma.
"Mama sudah sembuh? Ayah juga? Aris buatkan bubur untuk mama dan ayah." Ucap Arisa mengalihkan arah pembicaraan.
"Apa kau masih marah?" Tanya Yugito menatap dalam wajah Arisa yang begitu tenang. Kemudian Arisa menggeleng pelan sambil melempar senyum tipis pada Yugito.
"Tidak ayah. Aris tidak marah. Justru Aris yang ingin bertanya demikian pada ayah dan mama. Apa kalian marah pada Aris karena Aris memilih tinggal dengan bunda Sarah?" Tanyanya dengan nada penuh keraguan. Takut jika ibunya merasa tersinggung.
"Emmm lupakan. Tak perlu di jawab. Maaf sudah membuat mama merasa tak nyaman." Lanjut Arisa melempar senyum penuh penyesalan. Arisa berbalik dan kembali melanjutkan aktivitasnya bersama bi Ina. Suasana canggung terasa membuat semua orang merasa tak nyaman berada di sana.
Menjelang siang, setelah selesai membersihkan diri, Rahma dan Yugito bersamaan menuju meja makan. Terlihat Raisa sudah berada disana dengan masih memakai piyama sembari menyantap roti yang ia tambahkan selai coklat.
Dan tak lama, di susul oleh Arisa yang sama-sama masih memakai piyama.
"Baru bangun?" Tanya Raisa pada Arisa di sampingnya.
__ADS_1
"Entah. Aku sudah lama bangun. Dan kau baru melihatnya." Jawab Arisa mengambil jus alpukat yang sudah ia sajikan sejak tadi.
"Silahkan nyonya... tuan. Spesial dari non Aris." Ucap bi Ina sembari menyajikan masakan Arisa.
"Terima kasih bi." Rahma tersenyum ketika bi Ina berlalu.
"Mama coba ya." Arisa mengangguk penuh harap. Wajahnya semakin tegang ketika Rahma mulai mencicipinya.
"Enak. Belajar dari mana?" Terlihat Arisa begitu antusias dan bersiap menjawab. Namun, seketika itu, kebahagiaannya memudar ketika mengingat jika menyebut Sarah, maka suasana akan menjadi hening.
"Bi Ina yang ajari." Jawab Arisa kembali antusias. Bi Ina yang mendengarnya hanya terdiam. Ia tahu bahwa Arisa tengah berbohong. Karena pagi tadi ia tak membantu banyak. Hanya menambahkan beberapa bumbu saja untuk melengkapi rasa yang Arisa buat.
"Oh iya ayah. Setelah makan ada yang ingin Aris bicarakan." Ucap Arisa setelah hening beberapa saat.
"Baiklah. Nanti ayah tunggu di ruang kerja ayah." Lagi, Arisa begitu antusias dan wajahnya penuh rasa bahagia. Raisa hanya menatap datar dan ia sedikit penasaran mengapa Arisa berubah drastis seperti ini.
. Pagi ini, Reza memutuskan untuk take out menyusul Arisa yang tak kunjung kembali. Ia merasa cemas takut jika terjadi apa-apa pada Arisa. Semua jadwal yang sudah di atur pun terpaksa harus di tunda, bahkan ada yang harus batal karena hal ini. Ketika sampai, Reza bergegas menuju kediaman Yugito. Ia melihat sejenak ke arah kamar Arisa dan ia langsung masuk setelah mendapat izin dari pihak keamanan. Pandangannya tertuju pada Arisa yang tengah membantu Rahma dan bercanda ria dengan ibunya itu. Reza begitu termangu mendapati pemandangan yang membuatnya mengerti akan alasan Arisa yang tak memilih pulang kemarin. Terlihat Raisa yang jahil membuat kedua anak kembar itu terlibat sebuah pertengkaran kecil namun berakhir menjadi tawa. Sungguh keluarga yang harmonis. Belum sempat melangkahkan kaki ke teras rumah, Reza memilih untuk berbalik haluan dan sebaiknya pergi dari kediaman Yugito.
"Aris... ayah ada meeting. Untuk hal yang ingin kau bicarakan, bisa di tunda sampai ayah selesai? Atau jika kau mau, datang saja ke kantor dan tunggu di ruangan ayah." Ucap Yugito yang bergegas dengan terburu-buru.
"Ma... Aris ijin sebentar." Ucap Arisa setelah memastikan Yugito sudah benar-benar tak terlihat.
"Mau kemana? Apa lama? Dengan siapa?" Tanya Rahma mendadak posesif.
"Hanya ke makam Rama ma... sendiri saja, setelah itu mungkin langsung ke kantor ayah." Jawab Arisa yang perlahan menjauh dari Rahma.
"I-iya." Jawab Arisa kini seakan tak yakin, ia memilih untuk mempercepat langkahnya dan bergegas meninggalkan rumah.
"Entah kenapa aku merasa Aris masih mencoba untuk menghindariku." Batin Raisa yang menatap kepergian Arisa.
Di makam, Arisa tak menyangka akan bertemu dengan Reza. Tatapannya berbinar dan antusias hendak menghampiri Reza, namun Reza memalingkan wajahnya seakan enggan terlibat komunikasi dengan Arisa.
"Kak...." panggil Arisa yang terheran akibat sikap Reza yang berubah tiba-tiba.
"Kakak sedang apa? Mengapa tidak memberitahuku kakak disini?"
"Sudahlah Putri. Oh maksudku Arisa. Jangan bersikap kau memang peduli padaku." Ucap Reza yang membelakangi Arisa dan enggan berbalik.
"Apa maksud kakak?"
"Kau ini pandai menipu orang? Hem? Apa kemarin amnesia juga sebenarnya kau pura-pura?" Arisa menyernyit, mengapa bisa Reza bertanya demikian.
"Kenapa kakak--"
"Aku bukan kakakmu. Adikku sudah mati. Dan kau pembunuhnya." Bentak Reza yang langsung berbalik dan menatap tajam pada Arisa. 'Deg' hati Arisa terasa benar-benar teriris. Dadanya sesak mendapati Reza yang begitu tega melontarkan ucapan yang bahkan pisau pun kalah tajam di bandingkan tuduhan Reza padanya. Tak terasa, air mata Arisa mengalir deras namun tatapannya begitu kosong.
__ADS_1
"Cih... air mata palsu mu itu sudah tak akan mempengaruhi ku lagi. Simpan saja kebohongan dan kepura-puraanmu."
"Kenapa kak Reza bisa berkata begitu?" Tanya Arisa lirih dengan sedikit gemetar.
"Kenyataan. Jika Nadhira tidak memberikan hatinya padamu, mungkin dia masih hidup."
"Siapa kau? Kau bukan kak Reza. Dimana kak Reza yang aku kenal? Dimana kak Reza yang menyayangiku?" Perlahan suara Arisa kian meninggi, ia menghampiri Reza dan memukuli lengannya dengan keras. "Kembalikan kakakku..." lanjutnya semakin keras menangis.
"Reza yang bodoh sudah pergi. Bersamaan dengan pengkhianatanmu padanya." Arisa berhenti memukul Reza mendengar kalimat itu.
"Apa maksudmu? Aku tak pernah mengkhianati kakak."
"Jika benar kau tidak mengkhianatiku, tak mungkin kau sengaja membuatku menunggu karena kau bilang kau akan pulang jam 5 sore. Aku menunggumu dan sampai malam kau tak kembali. Tak ada pesan, tak ada pemberitahuan apapun padaku. Dan hari ini, aku melihatmu begitu bahagia dengan keluarga yang selama ini kau hindari dan keluhkan itu." Arisa semakin tak paham dengan yang di ungkapkan Reza. Jelas ia tahu bahwa Raisa yang akan bicara pada Reza jika ia tak pulang.
"Kak... kau salah faham. Kemarin Raisa yang--".
"Sudahlah. Berhenti membela diri. Meski kau menjelaskan bagaimanapun, aku sudah tak percaya."
"Kak.... sungguh aku tidak berbohong. Memang kemarin Raisa yang akan bicara pada kakak bahwa aku tak kembali ke Bandung."
"Apa alasanmu bisa dipercaya?"
"Ini memang kenyataannya kak..."
"Dan kau pikir aku percaya?"
"Kakak...." rengek Arisa yang tak tahu lagi harus berkata apa. Sekarang pikirannya kacau tak karuan. Dengan tak mempedulikan Arisa, Reza berlalu meninggalkan Arisa yang tengah menangis dibuatnya. Sejenak Reza menoleh ke belakang. Hati kecilnya merasa tak tega melihat Arisa yang menangis karena dirinya.
Semula, niat Arisa yang ingin berziarah ke makam Rama dan Citra pun urung. Ia mengusap paksa air mata yang terus berderai deras. Kini nafasnya terengah dan ia langsung bergegas pulang.
Sampai di rumah, Arisa langsung turun dan ia berjalan cepat memasuki rumah.
Raisa terheran mengapa Arisa sudah pulang. Padahal kepergiannya belum sampai satu jam. Yang membuatnya begitu heran ialah tatapan Arisa yang tajam dan langkahnya yang terburu-buru. Dan 'plak' suara tamparan keras begitu nyaring terdengar. Bahkan Rahma pun bergegas menuju ruang keluarga. Ia mematung mendapati Raisa yang tengah meraih pipi yang ditutupi rambutnya yang berantakan.
"Aris. Kau gila?" Pekik Raisa membalas tatapan Arisa tak kalah tajam.
"Kau yang gila. Kau sudah gila Rais. Kau gila." Balas Arisa dengan berteriak.
"Kau ini kenapa Aris? Apa kau kesurupan arwah Rama?"
"Kau membenciku? Ha? Jangan begini caranya Rais. Aku pulang karena kau dan kak Tio yang minta."
"Apa kau menyesal sudah pulang kesini?"
"Bukan hanya itu, kau bilang akan memberitahu kak Reza, tapi nyatanya kau tak menghubunginya sama sekali."
__ADS_1
-bersambung