
. Pagi hari, Arisa menggeliat sembari membuka matanya saat menyadari hari sudah cerah. Arisa terpaku pada sosok yang sedang terbaring memeluk guling miliknya dan masih tertidur lelap. Arisa beranjak lalu berjalan menghampiri Tio. Karena masih belum sadar sepenuhnya, Arisa tersandung karpet membuatnya terjatuh tepat didepan wajah Tio. Mendengar suara gaduh, Tio perlahan membuka matanya dan terkejut mendapati sosok wanita dengan rambut terurai kedepan menutupi wajahnya.
"Aduh....." Arisa meringis sambil mengusap kakinya yang mungkin keseleo. Dan seketika itu Tio menyadari bahwa wanita yang ia kira hantu itu adalah adiknya sendiri.
"Aris..." pekik Tio lalu meraih Arisa dan ikut duduk dilantai.
"Sakit kak." Lirih Arisa membenahkan rambutnya kesamping agar tak menghalangi pandangannya. Tio menghela nafas lega yang didepannya memang adiknya.
"Dia benar-benar Aris. Hampir saja aku mengalami serangan jantung." Batinnya tersenyum sendiri.
"Mana yang sakitnya?" Tanya Tio mengusap kaki Arisa dengan hati-hati. "Makanya.. jalan itu hati-hati. Jangan sambil melamun." Lanjut Tio menceramahi Arisa dengan membantunya duduk di sofa. Tio duduk dibawah sambil memberikan pijatan ringan agar kaki Arisa tak bengkak nantinya.
"Aris... kakak boleh bertanya sesuatu?" Tanya Tio dengan masih terfokus pada kaki Arisa.
"Boleh..." jawabnya singkat.
"Kamu dapat kado itu dari om Danu?" Tanya Tio lagi. Arisa melirik kotak kecil dimeja riasnya yang sudah terbuka itu.
"Iya. Memangnya kenapa?" Balas Arisa.
"Jadi kau sudah menerima Rayyan sepenuhnya ya..." Tio terkekeh pelan dengan nada ejekan dan sesekali mendongak melihat ekspresi adiknya yang mungkin salah tingkah. Tapi diluar dugaan, justru Arisa menjadi sendu, tatapannya sayu, dan seolah tak ingin membahas tentang itu.
"Aris.... akan menjauhi Aray kak." Lirihnya menunduk.
"Kenapa?"
"Jika memang Aray akan dengan Raisa, untuk apa Aris dan Aray bersama sekarang. Itu sama saja dengan membuat Aris patah hati yang dilakukan dengan disengaja."
"Tapi bukankah keluarganya sudah memilihmu sebagai calon menantu mereka?" Arisa seketika menyernyit mendengar penuturan Tio.
"Maksud kakak?"
"Kau tak tahu?" Arisa menggeleng, memang dirinya tak tahu dan tak mengerti dengan yang Tio bicarakan.
"Om Danu memberikanmu kalung Phoenix itu padamu kan?" Kali ini Arisa mengangguk mengiyakan pertanyaan Tio.
"Dan itu artinya kau yang dipilih mereka untuk menjadi menantu mereka." Namun Arisa kembali menyernyit. Tio mendelik dan menghela nafas malas melihat wajah Arisa yang polos dan menjengkelkan.
"Kalung itu adalah kalung turun temurun untuk setiap menantu keluarga Pratama. Dari dulu." Jelas Tio. Arisa terbelalak mendengar penjelasan Tio. Apa memang seperti itukah ceritanya? Dan mengapa Danu memberikannya padanya, bukan pada Raisa.
"Tapi kakak tak tahu, apa Lusi juga menerimanya atau tidak. Karena kalung itu hanya satu, dan itu diberikan pada menantu berharga saja." Jelas Tio lagi.
"Maksud menantu berharga?" Tanya Arisa masih tak mengerti dengan yang dijelaskan Tio.
"Ishhh kau ini bodoh sekali. Tentu saja menantu yang dianggap seperti intan permata. Dia yang paling disayangi, dibanggakan dan dianggap sebagai nyonya besar dikeluarga besar Pratama."
"Wahhh... Rais beruntung sekali." Cetus Arisa membuat Tio menghentikan pijatannya.
"Eh? Kenapa berhenti? kaki Aris masih sakit kak." Ucap Arisa sedikit manja.
Lalu, tiba-tiba pintu dibuka, dan terlihat Raisa memasuki kamar Arisa dengan wajah berbinar.
"Aris... kau sudah bang-- ehhh kau kenapa?" Raisa mendadak panik lalu berlari menghampiri Arisa dan memeluknya.
"Keseleo." Jawabnya singkat.
"Kau sudah sembuh?" Tanya Tio pada Raisa yang erat memeluk Arisa.
__ADS_1
"Loh.. memangnya aku sakit?" Raisa balik bertanya dengan wajah polos.
"Ishh kau ini. Bukankah semalam kau ketakutan pada Fabio sampai kau pingsan." Ejek Tio ikut duduk disamping Arisa.
"Sudahlah kak. Jangan dibahas. Aku menjadi semakin takut saat mendengar namanya. Jika boleh aku meminta, aku ingin menghilang dari sini. Aku tak ingin bertemu dengan dia kak. Rasanya dia akan melakukan sesuatu pada keluarga kita dengan menggunakanku." Ucap Raisa yang mendadak menjadi sendu.
"Dia menyadarinya?" Gumam Tio menatap nanar pada kedua adiknya. "Apapun yang terjadi, aku tak akan membiarkan siapapun melukai adik-adikku." Gumamnya lagi mengepalkan tangannya kuat sampai terdengar suara sendinya yang membuat anak kembar itu merinding.
"Oh iya kak... kakak tidak bekerja?" Tanya Raisa mencairkan suasana yang dirasanya sangat mencekam. Tio beranjak tanpa berbicara apapun dan berlalu dengan penuh tanda tanya di kepala Arisa dan Raisa.
"Ehh... Aris... kau belum mengatakan apa permintaanmu padaku." Ucap Raisa lagi mengalihkan pandangan Arisa yang menatap kepergian Tio.
"Aku mau....." 'drtttttt' belum sempat Arisa bicara, ponselnya berbunyi dengan nomor tak dikenal. Arisa menyernyit tak berani menjawab panggilan dari nomor asing yang ia anggap sebagai sebuah teror atau apapun itu.
"Tidak diangkat?" Tanya Raisa ikut terheran.
"Jika penting, dia akan menelpon lagi." Dan benar saja, setelah Arisa selesai bicara, ponselnya berhenti berbunyi, dan tak lama kembali terdengar dering panggilan masuk. Dengan ragu Arisa menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Ha-hallo..." ucapnya ragu.
"Aris..." panggilnya dengan suara yang ia kenal. Arisa termangu tak menjawab sapaan orang dari seberang.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Aku merindukanmu Aris... ah sial. Aku menangis." Lagi, Arisa termangu dan masih enggan berbicara menanggapi obrolan dengan penelelpon.
"Maaf aku baru mengabarimu. Aku baru--"
"Diam." Ucap Arisa menghentikan ucapan Wina yang membuatnya berderai air mata.
"Aris..." lirih Raisa menatap penasaran pada adiknya.
"Kau kemana? Mengapa kau meninggalkanku? Kenapa kau pergi saat aku tertidur? Apa kau pikir aku tak kesepian tanpamu? Kumohon pulanglah." Ucapnya lagi dengan terisak keras dan rasa kesal menyesakkan dadanya.
"Jangan berhenti bicara jika belum selesai." Ucap Arisa dengan kesal.
"Tapi kau tadi menyela ucapanku." Rengek Wina membuat Arisa tertawa kecil.
"Selamat ulang tahun Aris. Kumohon jangan sakit lagi. Tetaplah hidup agar aku bisa bertemu lagi denganmu dan melihat senyummu yang sangat langka itu." Lanjut Wina dengan nada ejekan.
"Kau dimana? Aku akan menyusulmu jika kau yang tak mau pulang." Arisa tak kalah kesal merengek pada Wina.
"Aku di luar kota Aris."
"Iya kemana? Kenapa tidak pulang?"
"Aku bekerja. Terlalu jauh jika untuk pulang."
"Mengapa bekerja begitu jauh? Jika ingin bekerja, bekerja saja di perusahaan ayahku. Kau bisa kuliah juga disini. Untuk biaya, kau bisa mengambil dari gajimu sebagian."
"Tapi... aku tidak ingin terus membebanimu."
"Siapa yang bilang kau membebaniku? Sudah. Sekarang kau pulang."
"Tidak Aris... maafkan aku. Aku belum mendapat cuti."
"Kalau begitu aku yang akan menyusulmu."
"Tidak tidak. Jangan. Kau masih harus istirahat. Baiklah akhir semester nanti, saat kau libur aku akan pulang."
__ADS_1
"Janji?"
"Iya janji..."
"Aku akan marah jika kau ingkar."
"Ahahah iya tidak akan."
"Wina..." rengek Arisa lagi kembali menangis. "Aku merindukanmu."
"Aku juga Aris.... yasudah.. aku tutup dulu. Aku harus bekerja sekarang. Nanti aku telepon lagi." Arisa mengiyakan dan Wina menutup panggilan teleponnya. Arisa terisak kembali dipangkuan Raisa.
"Sudah...." ucap Raisa mengelus lengan Arisa dengan lembut seraya menenangkan.
"Kenapa aku merasa iri pada Wina. Dia bukan siapa-siapa, tapi Aris sangat peduli. Bahkan Aris bersedia menangis untuknya. Tapi aku, sudah 21 tahun menjadi saudara kembarnya, tak pernah melihat Aris menangis karena menyayangiku. Apa karena penyakitku? Semuanya memang karena aku. Aris kesepian karena aku. Kak Tio juga pasti membenciku." Gumam Raisa yang perlahan ikut terisak dan memeluk Arisa dengan erat.
Tiba-tiba bi Ina memasuki kamar Arisa dengan sedikit tergesa.
"Non... ada tamu untuk non Aris." Ucap bi Ina dengan sopan.
"Siapa bi?" Tanya Raisa dengan nada serak dan menghentikan tangisnya dengan mengusap wajahnya yang berantakan.
"Den Dimas non." Jawab bi Ina yang menghampiri kedua anak kembar yang sedang menangis itu.
"Non Aris dan non Rais kenapa? Ada yang sakit?" Tanya bi Ina kemudian meraih tangan keduanya dengan ia bersimpuh dibawah. Arisa menggeleng lalu beranjak agar bi Ina pun ikut beranjak. Arisa merasa heran kenapa Raisa ikut menangis melihatnya menangis.
"Rais...." lirih Arisa yang ditanggapi tersenyum oleh Raisa.
"Yu... Dimas pasti menunggumu." Ucap Raisa lalu menarik tangan Arisa menuju lantai bawah.
"Dim..." panggil Arisa pelan. Dimas menoleh dengan tatapan yang sayu.
"Aris..." Dimas beranjak dari duduknya dan terlihat jelas sedang menahan agar matanya tetap terbuka.
"Selamat ul--" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Dimas terhuyung dan tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Dengan refleks Raisa dan Arisa menahan Dimas agar tak jatuh. Keduanya menidurkan Dimas di sofa yang terdekat. Wajahnya pucat, hingga Arisa beranggapan bahwa Dimas sedang sakit.
Tio berjalan dengan santai sambil membenahkan kancing lengannya. Lalu Tio menoleh dan menatap heran pada Dimas yang tertidur dan kedua adiknya yang tengah panik.
"Sejak kapan dia disini?" Tanya Tio dengan santai. "Dia menginap? Jam berapa datangnya?" Lanjut Tio bertanya dan masih bersikap santai.
"Dia pingsan kak." Jawab Arisa menepuk pipi Dimas dari pelan sampai keras.
"Aris.. jangan keras-keras. Nanti dia kesakitan." Tegur Raisa dengan polos.
"Dia kan pingsan Rais. Memang bisa merasakan sakit?" Tanya Arisa tak kalah polos. Tio tertawa terbahak-bahak menanggapi kepolosan adik-adiknya.
"Dia kan dokter, jadi dia bisa menyembuhkan diri." Ucap Tio dengan nada penuh ejekan. Tak lama, Dimas membuka mata dan mendapati anak kembar sedang menatapnya dengan datar.
"Kau tak apa Dim?" Tanya Arisa mendadak kembali khawatir.
"Tak apa... aku hanya kelelahan saja." Jawab Dimas yang perlahan menyentuh pipinya yang sedikit berdenyut.
"Apa pipimu panas?" Tanya Tio menahan rasa ingin tertawa melihat ekspresi Dimas.
"Kau menamparku?" Tanya Dimas menatap tajam pada Tio.
"Kenapa kau tidak tanyakan saja pada adikku?" Dan seketika tawa Tio pecah sambil berlalu keluar rumah. Dimas menoleh pada Arisa dan Raisa bergantian siapa diantara mereka yang menamparnya saat pingsan.
__ADS_1
-bersambung