
. Seina berteriak kepada Rayyan dengan mata berkaca-kaca. "Kakak"
"Kau menangis?" Rayyan memeluk Seina. "Kau mau apa?" Lanjut Rayyan bertanya.
"Sein ingin pulang." Seina memeluk erat Rayyan.
"Jangan bandel. Kamu belum pulih, nanti kita pulang jika kau sudah pulih." Bujuk Rayyan mengelus rambut Seina.
"Bunda ke toilet sebentar. Kau jaga adikmu baik-baik." Bunda berlalu meninggalkan ruangan.
"Jadi, kau mau apa?" Tanya Rayyan lagi.
"Sein ingin jalan-jalan. Boleh?" Seina memohon.
Karena tidak tega, Rayyan mengabulkan permintaan adik kecilnya itu. "Tapi kau tidak bisa berjalan Sein?" Rayyan menatap Seina.
"Kakak ini bodoh. Apa gunanya itu?" Seina menunjuk kursi roda dipojok ruangan.
"Ahhhh haha aku lupa." Rayyan tersenyum kikuk. "Baiklah ayo kita jalan-jalan." Lanjut Rayyan menggendong Seina.
Seina terlihat senang, menunjukan jalan pada Rayyan. "Sebenarnya kau mau kemana?" Rayan masih heran.
Seina mendongak melihat ke arah Rayyan.
"Aku ingin melihat air mancur disana."
"Hemmmm baiklah tuan putri, hamba laksanakan." Canda Rayyan.
"Ihhh kakak. Gadis sepertiku tidak pantas disebut putri." Ucap Seina tersenyum lesu.
"Kenapa tidak? Kau satu-satunya putri kesayangan kakak!" Rayyan masih mendorong pelan.
"rasanya aku ingin sekali punya kakak perempuan, dia cantik, baik, kalau bisa aku meminta, dia berambut panjang seperti putri." Seina menggenggam tangan Rayyan erat.
"Sudah jangan berkhayal." Rayyan menepuk kepala Seina lembut. Sekilas Rayyan mengingat pada Arisa yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Tapi tidak dengan sikapnya, yang jelas sangat dingin. Tanpa sadar Rayyan tersenyum membayangkan seperti apa wajah Arisa jika sedang tersenyum.
. Disaat yang bersamaan, Arisa berada ditaman.
"Kau memang keras kepala. Padahal orang sakit seharusnya diam di tempat tidurnya." Omel Dimas.
"Aku tidak memintamu menemaniku." Ucap Arisa datar.
"Aku khawatir padamu." Dimas berhenti. "Sial. Bagaimana ini?" Umpat Dimas yang mendadak ada panggilan darurat.
"Pergilah. Aku masih ingin disini." Ucap Arisa datar.
"Tapi...."
"Dibandingkan aku, pasienmu lebih penting." Tegas Arisa.
"Baiklah. Aku akan segera kembali." Dengan berat hati, Dimas meninggalkan Arisa ditaman.
. "Aku ingin ke sana." Seina menunjuk ke arah Arisa yang tepat membelakangi mereka.
"Untuk apa? Nanti kau bisa mengganggunya." Rayyan mengelus kepala Seina.
"Dia sendirian, aku ingin menemaninya." Seina lesu.
"Sebentar lagi kau harus kembali ke kamarmu." Bujuk Rayyan
"Tidak mau." Seina melipatkan tangan di dadanya. "Aku mau ke kakak putri." Lanjutnya.
"Kakak putri?" Rayyan terheran mendengar yang Seina ucapkan.
Rayyan beberapa kali menarik nafas panjang karena kesal. Walau akhirnya harus menuruti kemauan adiknya.
Rayyan menghampiri Arisa yang sedang melamun.
"Maaf nona, adik ku ingin...."
"Kakak putri" teriak Seina.
Arisa menoleh pada Seina yang berhenti disampingnya.
Ditatapnya Rayyan dan adiknya bergantian.
"Rayyan?" Arisa terheran-heran.
Rayyan menyipitkan matanya, entah harus kesal karena melihatnya sangat romantis dengan sang dokter, atau harus senang karena secara kebetulan kini Arisa berada dihadapannya dan sang dokter itu tidak ada.
"Kakak putri. Apa kakak putri juga tidak bisa berjalan?" Tanya Seina tanpa basa-basi.
"Hei hati-hati jika bicara." Rayyan menepuk pipi Seina pelan. "Maafkan adikku, dia memang seperti ini."
__ADS_1
"Tak apa... aku memakluminya." Jawab Arisa menoleh pada Seina.
Rayyan memperhatikan rambutnya yang terurai. Tanpa sengaja berkata "Arisa" dengan lirih.
"Kau memanggilku?" Arisa menoleh Pada Rayyan. Rayyan menatap iba. "Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak selemah yang kau kira." Lanjut Arisa lalu tiba-tiba pandangannya kabur.
"Aku sama kuatnya seperti adikmu." Lanjut Arisa membelai rambut Seina. Seina menatap Arisa, Dipikirannya Arisa tampak seperti seorang kakak di khayalannya.
"Bolehkah aku memanggilmu kakak putri?" Seina memiringkan kepalanya.
"Tentu saja. Kau pintar sekali. Putri itu adalah namaku" Arisa tersenyum.
Rayyan menatap keduanya bergantian, kemudian menatap lekat pada Arisa. Wajahnya yang pucat, dan matanya yang perlahan mulai sayu, namun dipaksa untuk terbuka oleh Arisa.
"Kau yakin kau baik-baik saja?" Rayyan terus memperhatikan Arisa.
"Aku baik-baik saja Rayyan. Berapa kali aku bilang." Arisa menatap datar Rayyan. Dan kembali tersenyum jika berbicara pada Seina.
"Apa itu? Padaku dia sangat dingin. Tapi pada Seina begitu lembut." Gumam Rayyan dalam hati.
"Seina!" Teriak seorang perempuan dari jauh.
"Kak Lusi...." jawab Seina melambaikan tangannya.
Arisa menatap Lusi yang mendekat ke arah mereka.
"Kau kakak yang buruk Rayyan. Harusnya kau tidak bawa Seina keluar. Bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya." Lusi memukul lengan Rayyan.
Adegan itu mengingatkan Arisa pada Rama. Yang setiap kali Rama mengerjai Arisa, Arisa selalu memukul tangan Rama seperti itu.
'Deg' Arisa menyentuh dadanya yang terasa sesak.
"Arisa. Kau baik-baik saja?" Rayyan menghampiri Arisa.
"Aku baik-baik saja." Arisa melirik Seina yang sepertinya terlihat khawatir padanya.
"Kakak putri tidak apa-apa?"
"Tidak. Jangan khawatir." Arisa tersenyum. Entah kenapa melihat Arisa, Seina menjadi lebih baik.
"Sepertinya aku pernah melihatmu." Lusi menatap lekat Arisa.
Arisa hanya tersenyum. Lalu sedikit menunduk. Kemudian memijit pelipisnya yang mulai semakin pusing.
"Siapa namamu?" Tanya Arisa pada Seina.
"Apa?" Arisa menyernyitkan dahinya
"Apa kakak juga tidak bisa berjalan?"
"Kakak bisa berjalan sayang. Hanya saja untuk saat ini tidak bisa." Jawab Arisa menggenggam tangan Seina.
"Arisaaa. Kau kah itu.." teriak seorang perempuan. Yang sedikit berlari kearahnya. "Akhirnya. Ketemu." Lanjutnya lalu menjongkok tepat di depan Arisa. "Kau baik-baik saja?" Arisa mengangguk tersenyum.
"Mengapa kakak disini? Apa kak Tio bersamamu?" Arisa memiringkan kepalanya.
"Tidak. Tio sedang sibuk hari ini." Sejenak Diana menatap Arisa. "Mengapa kau diluar? Kau akan lama untuk sembuh jika seperti ini."
Arisa hanya tersenyum.
"Aku sesak jika terus berada dikamar."
"Kakak putri." Lirih Seina. Arisa menatap dan tersenyum pada Seina sebelum pandangannya mejadi gelap sepenuhnya.
Rayyan dengan cepat menahan tubuh Arisa yang hampir terjatuh. Rayyan terkejut, suhu tubuh Arisa sangat panas.
"Kak Lusi. Tolong bawa Seina kembali ke kamarnya. Aku akan mengantarkan Arisa." Ucap Rayyan panik lalu membawa Arisa dipangkuannya.
Diana dengan khawatir mengikuti Rayyan mengembalikan Arisa ke kamarnya.
Raisa terkejut menyaksikan apa yang tak ingin ia saksikan.
Wajah Rayyan benar-benar panik kala membawa Arisa.
"Dimana Dimas?" Tanya mama.
"Saat aku menyusulnya, hanya ada Arisa sendiri." Jawab Rayyan.
Tak lama, Dimas dengan terburu-buru memasuki ruangan dan hendak menghampiri Arisa. Rayyan dengan kesal menahan langkah Dimas dan menarik kemejanya.
"Dokter macam apa kau? Membiarkan pasienmu diluar sendirian, bagaimana jika aku tidak ada disana?"
Dimas berdecih, lalu melepaskan cengkraman Rayyan. Dan mulai memeriksa Arisa.
__ADS_1
Raisa merasa tidak percaya Rayyan bisa bersikap seperti ini.
"Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan segan membunuhmu." Ucap Rayyan dingin seakan menusuk jantung yang mendengarnya.
"Apa kau bisa diam?" Dimas terlihat kesal. Dan bertambah kesal kala melihat hasil pemeriksaannya.
"Mengapa wajahmu seperti itu?" Tanya Rayyan.
"Darahnya sangat rendah. Biarkan dia istirahat" Ucap Dimas pelan.
Rayyan berdecih dan pergi dengan kesal seakan tak mempedulikan sekitar.
Raisa benar-benar tak mengerti mengapa Rayyan begitu peduli pada Arisa.
Rayyan kembali ke kamar Seina.
"Apa kakak putri baik-baik saja?" Seina terlihat khawatir.
"Dia Arisa. Bukan putri. Berhentilah memanggilnya seperti itu." Ucap Rayyan masih terdengar kesal.
"Tapi aku menyukainya..." ucap Seina lagi-lagi terisak.
"Rayyan.. jangan membuat adikmu menangis lagi." Tegur Bunda.
"Maaf bunda. Aku sedang kesal." Jawab Rayyan mengusap wajahnya.
"Dia pacarmu?" Tanya Lusi tiba-tiba.
"Siapa?" Rayyan terkejut.
"Adik Tio kan? Jadi, kau memilih yang mana? Bukankah adik Tio itu kembar?" Lusi menatap Rayyan antusias.
"Apa yang kau pikirkan. Aku tidak memilih siapa-siapa." Jawab Rayyan mendelik.
"Tapi melihat situasinya, aku bertaruh kau akan dijodohkan dengan putri pertama." Ucap Lusi santai.
"Aku bisa mencari jodohku sendiri." Tegas Rayyan.
"Benarkah? Tapi aku merasa, kau tidak akan menolak nantinya. Tapi entahlah. Itu hanya feelingku saja. Benarkan bunda?" Lusi melirik kearah bunda disampingnya.
Bunda memalingkan wajahnya, berharap tidak ada perjodohan untuk Rayyan. Biarkan Rayyan memilih sendiri siapa yang akan menemaninya kelak.
"Aku berharap kakak putri akan menjadi kakakku." Ucap Seina mengusap air matanya lalu tersenyum girang.
Rayyan sangat heran, sejak pertemuannya dengan Arisa, mengapa Seina begitu menyukainya. Padahal pada Lusi pun, Seina sulit menerima kehadirannya.
. Keesokan harinya, seperti biasa setelah kelas selesai Raisa selalu ke rumah sakit menemani Arisa.
Raisa membuka pintu, terlihat Arisa yang sudah tertidur, ayah dan mama yang duduk di sofa, sedangkan kak Diana yang terus mengelus tangan Arisa.
Sungguh sakit hatinya ketika melihat jarum infus yang tertancap di tangan kiri adik kesayangannya. Terasa kenangan buruk mulai menghantui pikirannya.
"Aku selalu berharap kau tidak akan sepertiku Arisa." Gumam Raisa dalam hati.
Raisa duduk di sofa dengan mama.
"Apa Arisa sudah baikan?" Tanya Raisa pada mama.
"Iya. Kata Dimas, lusa bisa pulang." Mama tersenyum.
"Hmmmm aku yakin hari ini saat bangun pun Arisa akan merengek minta pulang." Raisa menahan dagunya.
"Aku mendengarmu bodoh." Ucap Arisa tanpa membuka mata.
"Upssss apa suaraku terlalu keras?" Raisa menutup mulutnya.
"Iya. Sampai telingaku sakit mendengarnya."
Diana tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Memang menggemaskan melihat Arisa dan Raisa bertengkar seperti ini.
"Raisa... jangan mengganggu Arisa istirahat." Tegur ayah.
"Maaf ayah. Tapi aku sangat gemas padanya." Jawab Raisa melempar anggur pada Arisa, membuat Arisa terkejut dan terbangun.
"Raisaaa....." mama menatap tajam pada Raisa.
"Oke oke maafkan aku." Raisa mengangkat kedua tangannya.
. Dua hari berlalu, Sesuai yang dikatakan Dimas, hari ini Arisa pulang.
Arisa tiba-tiba teringat pada Seina. "Apa dia sudah sembuh?" Gumamnya menatap lorong yang menuju ke ruangan khusus anak-anak.
Dari ujung lorong terlihat Rayyan yang berhenti ketika melihat Arisa yang berdiri didepan pintu ruangan dan tersenyum kearahnya.
__ADS_1
Rayyan benar-benar mematung, lalu mengusap matanya dan berpikir itu hanya khayalannya saja.
-bersambung