
. "Rais? Kau menangis?" Arisa menyeka air mata Raisa yang terus mengalir tanpa henti.
"Terimakasih sudah selamat." Raisa membenamkan wajahnya pada pundak Arisa.
"Rais... apa kau tahu siapa Nadhira itu?" Tanya Arisa yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya pada seseorang yang sudah mendonorkan hati untuknya. Raisa kembali beranjak dan menatap mata Arisa dengan rasa penasaran.
"Dimas tidak memberitahu siapa dia. Dimas hanya menyebutkan namanya saja. Berkali-kali teman kak Tio mencoba melacak, tapi tak membuahkan hasil." Raisa menolehkan wajahnya menerawang jauh pada apa yang dilihatnya. Kata-kata Dimas terus terngiang-ngiang di telinga Raisa. Dimas mengatakan bahwa gadis itu sedikit mirip dengan mereka.
"Aku harap bisa bertemu dengan keluarganya nanti." Ucap Arisa membuyarkan lamunan Raisa.
"Iya.." Raisa mengangguk menanggapi.
. Seminggu sudah Arisa beristirahat di rumah. Jam 7 pagi, Arisa berjalan menuruni tangga dengan stelan dress selutut dan rambut terurai dengan jepitan di sisi kiri rambutnya. Sangat manis. Bahkan jika rambut Arisa tidak diwarnai, mungkin keluarganya tak bisa membedakan yang mana Arisa dan mana Raisa.
"Mengapa rambutmu kau warnai?" Tanya ayah yang memperhatikan rambut hitam Arisa yang sudah terlihat, tanda rambutnya semakin memanjang.
"Agar lebih mudah di bedakan ayah." Jawab Arisa santai.
"Kau mau kuliah? Apa keadaanmu sudah membaik?" Tanya mama yang meraih tubuh Arisa dengan khawatir.
"Aku sudah baikan ma... jangan khawatir." Arisa tersenyum meyakinkan.
. Terdengar suara mobil terhenti di depan rumah.
"Heummm pacarnya sudah menjemput tuhh..." sindir Tio yang menyenggol lengan Arisa.
"Ihh kakak apa sih..." Arisa terlihat salah tingkah karena memang itu adalah mobil Rayyan. "Ayah.. mama.. aku berangkat." Lanjut Arisa mencium tangan kedua orang tuanya.
"Pada kakak tidak?" Tio yang heran saat Arisa melewatinya begitu saja.
"Kakak menyebalkan." Cetus Arisa yang berbalik badan.
. Rayyan memasuki rumah dengan sopan dan sedikit ragu kemudian tersenyum menyapa ayah dan mama. Namun Rayyan merasa tertegun melihat Arisa yang berbeda sekarang.
"Mengapa berdandan seperti itu?" Tanya Rayyan pelan dan memperlihatkan ketidaknyamanannya.
"Memang kenapa?" Arisa tak kalah pelan bertanya kembali pada Rayyan.
"Aku tidak suka." Seketika ucapan Rayyan menurunkan mood Arisa.
"Kau terlalu cantik." Bisik Rayyan kemudian membuat wajah Arisa tersipu.
"Hei... kalian malah pacaran." Tegur Tio mengejutkan keduanya sehingga Rayyan tersenyum kaku.
"Om... saya mau minta izin, setelah selesai kuliah, saya mau membawa Risa dulu ke rumah. Bunda dan Sein ingin bertemu dengan Risa." Ucap Rayyan sedikit ragu. Takut-takut jika tidak di izinkan.
"Baiklah nak. Om titip Aris. Jaga baik-baik putri om." Seketika wajah Rayyan menjadi sumringah lalu mencium tangan kedua orang tua Arisa, kemudian pada Tio.
Terlihat mama sedikit tidak menyukai kedekatan Arisa dan Rayyan, ditambah gelisah karena sedari tadi Raisa tak kunjung keluar dari kamar.
"Jika Aris nakal, turunkan saja di tengah jalan Ray..." teriak Tio saat keduanya sudah memasuki mobil.
"Siap kak." Ucap Rayyan mengacungkan jempolnya seraya tertawa mengejek Arisa.
"Dasar kalian... jahat sekali padaku." Arisa melipatkan tangan didepan dadanya dengan memasang wajah kesal. Karena gemas, Rayyan mencubit keras pipi Arisa sampai Arisa meringis kesakitan.
"Sakit Aray...." rengek Arisa mengusap kasar pipinya.
__ADS_1
"Ahaha maaf... kau sangat lucu Risa." Rayyan terkekeh kemudian melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan kediaman Yugito.
Setelah Rayyan dan Arisa berlalu, Tio bergegas bersiap untuk pergi ke kantor. Namun dirinya merasa heran karena sedari tadi setelah Tio bangun, Raisa tak kunjung keluar dari kamarnya. Niat untuk bersiap, Tio urungkan dan beralih berlari menuju kamar Raisa.
Dibukanya pintu kamar, Tio menyernyit heran saat melihat Raisa yang masih tertidur pulas.
"Rais... mengapa masih tertidur? Bukankah kau ada jadwal ku--" Tio terhenti dengan mata terbelalak saat meraih dahi Raisa yang panas.
"Rais... kau sakit?" Namun Raisa tak kunjung terbangun. Tio semakin cemas ketika menyadari wajah Raisa yang memucat. Tio dengan sigap membawa Raisa keluar dari kamar dan setengah berlari menuju mobil. Mama yang melihat Raisa tertidur dipangkuan Tio, tanpa sengaja menjatuhkan kopi untuk diantarkan pada Yugito di ruang kerjanya. Mendengar suara benda terjatuh, Yugito bergegas keluar dari ruang kerja untuk memastikan tak ada apa-apa yang serius.
"Ya ampun Rais... Tio ada apa dengan Rais?" Tanya mama sedikit histeris dan tak bisa menyingkirkan pikiran negatif yang muncul jika Raisa sakit. Kejadian 12 tahun silam membuatnya semakin takut jika hal itu kembali lagi menimpa Raisa. Apalagi saat ini Arisa baru saja terhitung sembuh dan terhindar dari penyakit maut yang bisa saja sudah merenggut nyawa Arisa jika terlambat di tangani.
Yugito ikut berlari menyusul Tio ke mobil. Rahma yang masih tenggelam dalam ketakutannya seketika ambruk tak sadarkan diri.
"Tuan... nyonya pingsan tuan." Ucap bi Ina setengah berteriak dari ambang pintu.
"Apa?" Yugito terkejut lalu berlari kembali kedalam rumah.
"Ayah jaga mama saja. Rais biar Tio yang urus." Ucap Tio sesaat sebelum mobil melaju.
. Di parkiran kampus, Arisa mendadak merajuk karena pintu mobil masih terkunci dan Rayyan seperti enggan beranjak untuk keluar dari mobil.
"Kau marah?" Ejek Rayyan menatap gemas pada Arisa.
"Aray... jangan becanda terus. Cepat buka pintunya." Arisa mendelik kesal melihat Rayyan yang begitu menyebalkan.
"Meminta lah dengan benar nona Pratama." Ucap Rayyan menyandarkan kepalanya dan masih menatap pada Arisa.
"Siapa yang kau panggil nona Pratama? Aku nona Fandhiya wahai tuan Pratama yang terhormat."
"Tuan muda Putra hanya dimiliki oleh kak Tio, tuan besar Pratama."
"Ahaha kenapa kau begitu kesal?"
"Aku ingin keluar dari mobil Aray...." rengek Arisa mengerutkan dahinya karena semakin kesal.
Rayyan meraih kedua pipi Arisa dan sedikit menekannya karena gemas, lalu tanpa di duga, Rayyan mengecup bibir Arisa membuat Arisa terbelalak dan mematung. Baginya, ciuman adalah bukti bahwa seseorang sangat mencintai pasangannya. Meskipun kebanyakan ciuman hanya sebuah nafsu sesaat, tapi bagi Arisa itu sangat serius. Rayyan mendadak heran karena Arisa menjadi terdiam. Padahal beberapa detik yang lalu, Arisa sangat cerewet baginya.
"Kau melamun?" Tanya Rayyan membuyarkan lamunan Arisa.
"Jangan pergi Aray..." lirih Arisa.
"Janji." Ucap Rayyan singkat namun penuh penegasan.
Tanpa disadari, air mata Arisa lagi-lagi terjatuh tanpa izin. Perasaannya untuk Rama kian menghilang. Dan terasa kehadiran Rayyan semakin mengistimewakan. Tak berpikir lagi bahwa Raisa menyukainya atau tidak, yang pasti saat ini Arisa tak ingin jauh dari Rayyan. Dirasanya Rayyan adalah obat segala sakitnya. Rayyan yang berhasil membuka hatinya kembali dan membantunya menghapus perasaannya untuk Rama.
. Rayyan keluar terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Arisa. Keduanya berjalan menuju kelas. Dan sangat jelas semua pandangan tertuju pada mereka dengan tatapan kagum.
"So sweet..." berkali-kali Arisa mendengar kata itu terlontar dari beberapa juniornya. Rayyan menatap tajam pada beberapa junior yang menatap kagum pada Arisa. Arisa menahan tawa sepanjang perjalanan karena dengan percaya dirinya, Rayyan membawakan buku, dan tas milik Arisa.
"Biar aku saja Aray..." Arisa menarik hoodie Rayyan.
"Kau baru sembuh. Jangan membawa beban berat." Ucap Rayyan melirik pada Arisa.
Di tengah langkahnya, terdengar suara memanggil Arisa membuat pasangan itu menoleh ke belakang.
"Kakak Arisa kan?" Tanya junior lelaki yang bisa ditebak baru masuk semester pertama.
__ADS_1
"Iya benar. Kenapa?" Arisa menyernyit lalu menoleh pada Rayyan yang sama keheranan.
"Bolehkah saya berfoto dengan kakak? Saya sudah lama mengagumi kakak." Ucapnya lagi membuat Rayyan menarik nafas berat.
"Me-mengagumi? Apa dia gila mengatakan kata itu di depanku? Aku pacarnya." Gumam Rayyan menahan rasa cemburunya. Arisa tersenyum dan mengingat kejahilan Rayyan saat di mobil tadi, Arisa lalu mengiyakan permintaan juniornya.
Bahkan juniornya tak segan meminta Rayyan untuk menjadi kameramen mereka.
Terlihat juniornya begitu puas melihat hasil fotonya lalu melemparkan senyuman girang pada Rayyan.
"Terima kasih kak." Ucapnya sedikit menunduk. "Semoga kalian langgeng sampai nanti menikah kak." Lanjutnya kemudian berlalu meninggalkan Rayyan dan Arisa yang masih berdiri di tempatnya.
"Dasar anak-anak." Lirih Arisa kemudian menoleh pada Rayyan dan terkejut melihat Rayyan mematung menatap kepergian junior itu dan teman-temannya.
"Aray?" Arisa menepuk pipi Rayyan yang terkejut karenanya.
"Mengapa kau melamun?" Tanya Arisa kemudian.
"Dia mendoakan kita kan?" Wajah serius Rayyan membuat Arisa tak kuasa menahan tawanya.
"Mengapa tertawa?" Tanya Rayyan yang terheran.
"Kau menganggapnya serius?"
"Tentu saja. Aku tak pernah menganggap becanda pada sebuah doa." Seketika tawa Arisa terhenti.
"Ehem... dilarang pacaran di depan umum. Dan menjadi tontonan masyarakat" Sindir Seno menerobos lewat diantara Arisa dan Rayyan.
"Siapa yang pacaran?" Delik Arisa mendadak kembali ke mode dingin.
"Aihh.... kau menjadi dingin padaku?" Seno terhenti lalu menoleh berbalik menatap keduanya bergantian.
"Hei Rayyan... kau menemukan darimana bidadari secantik ini?" Tanya Seno ketika menyadari perubahan penampilan Arisa.
"Aku menemukannya dari jalan takdir tuhan." Jawab Rayyan dengan santai.
"Apa dia tersesat kemarin-kemarin?" Tanya Seno lagi.
"Mungkin sepertinya begitu. Dan aku kesulitan membawanya dari kegelapan masa lalunya kak." Jelas Rayyan.
"Wah... tapi sepertinya kau berhasil membawanya keluar dari ruang gelap masa lalunya."
. "Hentikan!" Tegas Arisa dengan menunduk menahan kesal, membuat kedua sepupu itu menjadi diam.
"Apa salahnya jika aku mengenang mendiang kekasihku. Jika Rama masih ada, mungkin aku tak akan menerima kehadiranmu." Lanjut Arisa kemudian merebut bukunya dari Rayyan. Arisa berjalan cepat menuju taman kampus yang tak jauh dari kelasnya.
. "Ini karena kau" cetus Rayyan pada Seno yang terkejut karena tuduhannya.
"Kenapa aku." Seno menunjuk dirinya sendiri dengan alis yang berkerut.
Rayyan berlari menyusul Arisa yang sudah berlalu cepat. Rayyan terengah sampai ke taman kampus. "Risa..." lirih Rayyan.
Arisa menoleh lalu memeluk Rayyan dengan erat.
"Maaf... harusnya aku tidak berkata seperti itu." Ucap Arisa membenamkan wajahnya di dekapan Rayyan.
-bersambung.
__ADS_1