
. Sarah terdiam ketika menatap awan dari atas pesawat. Tak terasa, air matanya kembali berderai.
"Bunda memikirkan Nadhira?" Tanya Reza memecah lamunan Sarah.
"Bunda memikirkan Arisa. Sekilas hampir sama dengan Nadhira ya?" Reza memalingkan wajahnya tanda tak ingin membahas tentang itu. Tak bisa dipungkiri, Reza sangat membenci Yugito dari dulu. Kebenciannya semakin besar semenjak Yugito dengan tega meninggalkan mereka dan berkata bahwa dia memilih istri pertama dan menceraikan Sarah begitu saja. Memang setiap bulannya Yugito selalu memberikan apapun yang dibutuhkan Sarah. Bahkan setiap senggang, Yugito selalu menyempatkan waktu menemui mereka. Meski begitu, Sarah tak keberatan dan hal itu membuat Reza tak nyaman. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan menimpa Nadhira dan menyebabkannya gegar otak. Karena sudah lelah terus merasakan sakit dan berobat pun tak kunjung membaik, Nadhira memutuskan untuk mendonorkan hatinya pada seorang gadis malang. Entah kebetulan atau apa, semula Sarah mencoba membawa Nadhira berobat di rumah sakit itu, namun siapa sangka Nadhira yang melihat Yugito sedang menenangkan Raisa saat itu. Ketika tak ada siapapun di depan ruangan Arisa, Nadhira diam-diam masuk dan menatap nanar kondisi Arisa yang lebih parah darinya.
"Mereka benar-benar mirip." Gumam Nadhira.
"Siapa kau?" Tanya seseorang yang mengejutkan Nadhira.
"Dok... sa-saya...." Dimas menyernyit ketika Nadhira menoleh kearahnya.
"Jika tak ada kepentingan, mohon keluar sebentar. Saya ingin memeriksa kondisi pasien." Ucap Dimas sembari melangkah melewati Nadhira yang masih berdiri di tempatnya.
"Dia kenapa?" Tanya Nadhira.
"Dia kanker hati."
"Bagaimana cara menyembuhkannya?"
"Transplantasi hati."
"Lalu kenapa tidak dilakukan?"
"Kau pikir ini mudah? Jika saja ada hati untuknya, aku sudah melakukannya sejak lama." Dimas berbalik dengan suara setengah berteriak.
"Aku bersedia menjadi pendonor untuknya." Ucap Nadhira dengan tenang. Nadhira menyadari raut wajah Dimas yang seolah bertanya.
"Aku mengidap gegar otak." Kalimat itu membuat Dimas terkejut namun tak berani menyela.
"Untuk hidup saja, aku sangat merepotkan kakak dan bunda. Jadi, daripada aku hidup tapi merepotkan orang, lebih baik aku mati tapi berguna untuk orang lain." Lanjut Nadhira perlahan mengubah raut wajahnya menjadi sayu. Dimas merasa tersentuh. Sifatnya sama seperti Arisa. Namun Dimas tak tahu bahwa yang didepannya kini adalah adik dari Arisa.
"Aku merasa bahwa aku bisa membuatnya tetap hidup. Setidaknya mengulur waktu kematiannya saja. Tubuhku sehat, jadi dokter jangan khawatir. Hanya otakku saja yang bermasalah." Nadhira tersenyum seraya menerawang jauh menatap pada Arisa yang tak berdaya.
"Dia pun sepertimu. Berbicara ingin mati saja sampai aku muak mendengarnya." Ucap Dimas kemudian menoleh pada Arisa.
"Dia masih pantas untuk hidup. Selain keluarganya yang masih peduli, dia juga hidup tidak membebani orang lain. Iya kan?" Lagi-lagi Nadhira melempar senyum nya yang seolah tanpa memiliki beban.
"Dia berbicara seolah sudah tahu tentang Arisa. Siapa dia?" Gumam Dimas.
"Percuma aku hidup, ayah saja tidak menyayangiku. Hanya kak ketiga anaknya saja yang ayah sayangi." Gumam Nadhira menitikkan air mata.
Beberapa hari kemudian, Arisa menjalani operasi setelah keluarga menyetujui keputusan Nadhira. Namun yang tak di perhatikan semua orang ialah, sehari setelah operasi Arisa, Yugito tak ada disana sampai hari dimana Arisa siuman. Tio hanya tahu saat itu Yugito ke luar kota memiliki jadwal bisnis, bukan untuk menghadiri pemakaman Nadhira yang masih berada di kota itu.
. Masih dikampus, Arisa menjalani beberapa kali pemotretan sebelum dirinya memulai jam kelas. Karena memang kebutuhannya adalah model pasangan, jadi Rayyan pun ikut menjadi model pria.
"Oke sip. Bagus." Ucap Fahri mengacungkan jempolnya.
Fahri berdecak kagum melihat hasil dari pemotretannya hari ini.
"Kenapa baru sekarang aku menemukanmu Arisa?" Cetus Fahri mengagumi kecantikan Arisa didalam gambarnya
Tak disangka dihari berikutnya, terpampang sebuah bingkai gambar berupa spanduk promosi yang besar didepan gerbang kampus dengan foto Rayyan dan Arisa.
"Ke-kenapa yang itu juga dipajang?" Tanya Arisa dengan gugup menatap foto dirinya yang tersenyum bersamaan dengan Rayyan seolah sedang bercanda. Semua mata pun tertuju pada spanduk itu. Yang mereka lihat bukan promosi kampusnya, tapi wajah-wajah tak biasa dari Arisa dan Rayyan.
"Arisa jika tersenyum cantik ya..."
"Aku jadi menyukainya."
"Dia sangat manis."
__ADS_1
"Dia sangat cocok dengan Rayyan."
Begitulah yang terdengar bisikan-bisikan di sepanjang koridor kampus yang Arisa lewati.
"Tak heran Rayyan menjadikan Arisa pacarnya. Arisa sangat cantik. Namun sayang, sikapnya sangat dingin." Ucap salah satu senior membuat Arisa kembali memasang wajah dinginnya.
"Siapa bilang?" Arisa terhenti mendengar suara itu. Ditatapnya sang pemilik suara yang kini tengah tersenyum kearahnya.
"Menurut orang yang sudah mengenalnya, Arisa tidak seperti yang kau pikirkan. Dia baik, hangat, ramah, dan..... tentu saja manis." Lanjut Bian menghampiri Arisa.
"Aku juga ingin tahu apa penyebab gadis ini menjadi dingin dan acuh."
"Kak Bian." Lirih Arisa.
"Tapi sebaiknya kalian jangan macam-macam dengan Arisa. Atau kalian akan berurusan dengan kakaknya yang sangat menakutkan itu. Kalian mau?" Deg... Arisa merasa tersayat ketika mendengar rumor tentang Tio.
"Arisa.." panggil Bian dengan pelan.
"Maaf kak. Saya sibuk." Arisa menyela lalu melangkah pergi begitu saja.
Media sosial kembali di gegerkan oleh sepasang kekasih yang sedang naik daun di kampus Xxx. Bahkan media kampus membagikan foto yang Arisa dan Rayyan dengan pose yang manis.
"Wahhh Raisa... lihat! Adikmu." Teriak Deby ketika membuka artikel kampus Xxx dan menyodorkan ponselnya pada Raisa yang dengan wajah sayu menoleh pada Deby di samping ranjang.
Raisa tersenyum tipis dan terlihat tenang melihat kebersamaan Rayyan dan Arisa.
"Kau tak terkejut?" Tanya Sofia.
"Untuk apa aku terkejut? Mereka memang berpacaran." Raisa melempar senyum tipis pada Deby dan Sofia.
"Apa?" Teriak keduanya memekik telinga Raisa.
"Bukankah saat itu..." Sofia tak melanjutkan ucapannya dengan masih memasang wajah yang heran.
"Sulit dipercaya. Disini Rayyan tersenyum, dan adikmu juga. Mereka sangat serasi." Ucap Deby yang fokus melihat satu persatu foto di artikel.
"Sut..." Sofia menyenggol lengan Deby yang dirasanya sudah tak bisa menjaga bicara di depan Raisa.
"Tak apa Sofia.. lagi pula aku dan kak Fariz sudah balikan." Ucap Raisa yang kembali melemparkan senyumnya.
"Benarkah? Tapi tetap saja. Yang kau cintai itu Rayyan kan?" Raisa menarik senyumnya mendapati pertanyaan itu. Tak bisa dipungkiri, Raisa memang masih mencintai Rayyan begitu dalam. Sampai saat ini pun Raisa tak bisa menerima kenyataan bahwa Rayyan dengan mudah memilih Arisa tanpa sebab ataupun alasan. Padahal semua orang tahu bahwa Rayyan sangat sulit bahkan tak pernah berinteraksi dengan lawan jenis.
Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Dimas memasuki ruangan. Deby termangu menatap Dimas tak berkedip. Raisa tersenyum tipis melihat reaksi Deby.
"Bisa keluar dulu? Saya ingin memeriksa pasien." Ucap Dimas tersenyum.
Deby menyentuh dadanya dan berekspresi seperti sedang menahan sakit.
"Deby kau kenapa?" Tanya Sofia meraih Deby.
"Dadaku sakit Sof.... sepertinya aku keracunan." Jawab Deby masih memegang dada.
"Apa kau memakan makanan basi?" Tanya Dimas yang di tanggapi gelengan kepala Deby.
"Lalu? Kenapa bisa keracunan?" Dimas merasa heran dan tak ada hati ingin menebak.
"Sepertinya dia memakan racun tikus dok." Cetus Sofia.
"Ishhh kau ini. Aku keracunan senyum dokter." Ucap Deby lalu tersenyum lebar. Raisa menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah Deby.
"Ihhhh ku kira kau beneran keracunan." Sofia berdecak kesal namun Deby masih memasang senyumnya yang lebar.
__ADS_1
"Oke Raisa... kita pamit dulu. Cepat sembuh ya..." Sofia beranjak menarik tangan Deby.
"Dahhh Raisa... dahh juga kak dokter.... sampai bertemu lagi"
"Jangan menggoda pacar orang ehhh...."
"Memang sudah punya pacar? Siapa tahu belum."
"Ishhh jaga bicaramu." Raisa tertawa kecil menanggapi keduanya yang semakin jauh.
"Mereka temanmu?" Tanya Dimas mulai memeriksa kondisi Raisa.
"Ya sepeti itulah." Jawab Raisa tersenyum.
. Arisa semakin tak nyaman dengan rumor yang beredar dengan cepat itu. Jika saja ini akan menjadi trending dimana-mana, tak mungkin Arisa mau menerima tawaran Fahri untuk menjadi model promosi kampus.
"Arisa.." panggil Seno menghentikan langkah Arisa.
"Kau mau kemana?" Tanya Seno berjalan menghampiri.
"Ak-aku mau menemui kak Fahri. Aku ingin dia menghapus artikel tentangku." Jawab Arisa yang semula terbata menjadi kesal.
"Untuk apa?" Arisa menyernyit mendapati pertanyaan konyol itu.
"Aris... karena fotomu itu, banyak orang yang suka." Lanjut Seno dengan antusias.
"Tapi aku tak suka."
"Kenapa? Bagus kan? kau dan Rayyan sangat membantu meningkatkan popularitas kampus kita."
"Terserah kakak." Arisa berlalu meninggalkan Seno yang heran dengan sikap Arisa pagi ini. Hawa dinginnya kembali terasa di sekeliling tubuh Arisa.
Pelajaran berganti, Arisa merasa heran mengapa Rayyan tak masuk kuliah. Bahkan kabarnya pun tak ada.
"Setelah dari rumah sakit, mungkin aku harus ke rumahnya. Siapa yang tahu Aray sedang sakit atau apa." Gumam Arisa menumpu dagunya dan terlihat jelas sedang melamun. Daffa menyadari kegelisahan Arisa.
Ketika pelajaran selesai, Daffa menghampiri Arisa yang tengah membereskan buku-bukunya.
"Aris..." panggil Daffa.
"Ya ada apa?" Arisa mendongak menatap Daffa.
"Kemana Aray?" Tanya Daffa yang duduk di bangku samping Arisa.
"Ku pikir kau tahu." Lirih Arisa lesu.
"Mau ikut ke rumahnya?" Tanya Daffa kemudian.
"Aku mau ke rumah sakit dulu Daf."
"Mau konsul ya?" Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Daffa.
"Raisa di rawat." Lanjut Arisa baru menjawab setelah menghela nafas berat.
"Ohh...... hah apa?" Seketika Arisa menutup matanya sebelah karena suara Daffa.
"Maaf Aris."
. Akhirnya Daffa ikut ke rumah sakit karena khawatir pada Arisa. Namun seketika Arisa mematung ketika membuka pintu ruangan Raisa.
"Aray?" Lirihnya.
__ADS_1
"Risa.!" Pekikya. " Risa jangan salah faham."
-bersambung