
. Arisa perlahan membuka matanya dan tak mendapati siapapun ada disampingnya. Ia meraih kepalanya yang masih sedikit berdenyut.
"Sudah bangun?" Tanya seseorang yang tengah terbaring di sofa dengan memejamkan matanya dan seakan enggan membuka mata dan melihat kondisi Arisa sedikitpun.
"Kak Tio." Lirihnya lalu beranjak dari tidurnya. Arisa bersandar lalu menatap dalam pada Tio yang mungkin tengah memasuki alam bawah sadarnya karena sekarang sudah larut malam.
"Kenapa aku disini?" Ucapnya pelan.
"Rayyan bilang kau pingsan karena kelelahan." Jawab Tio yang kini terbangun dan merubah posisinya dengan duduk bersandar menghadap Arisa.
"Apa perusahaan ayah bisa kembali stabil jika aku tak bekerja dengan Aray?"
"Hemm?" Tio menyernyit mencoba mencerna pertanyaan Arisa.
"Aku tak mau bekerja dengan Aray lagi kak. Dia selalu membawa pacarnya ke kantor." Lanjut Arisa dengan menunduk dan kemudian memeluk lututnya begitu sendu.
"Kau ini kenapa lagi?" Tanya Tio dengan menghampiri Arisa dan duduk tepat di tepi ranjang. "Sini kakak peluk. Kau bersedih?" Tanya Tio lagi merentangkan tangan dan segera Arisa memeluk Tio dengan terisak pelan.
"Kau cemburu?" Arisa mengangguk menanggapi pertanyaan Tio.
"Haih.... kenapa kalian jadi begini?" Kali ini, Arisa menggeleng sambil mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Sudah ya.... sebaiknya kau tidur." Ucap Tio kemudian.
"Kakak mengantuk?"
"Menurutmu?" Tio kembali memejamkan matanya dengan masih memeluk Arisa. Begitupun Arisa yang merasakan sebuah kehangatan dari Tio yang membuatnya samar mengingat beberapa momen bersama dengan kakak tertuanya ini.
"Apa kakak pernah menggendongku malam-malam di halaman rumah?" Tanya Arisa pelan namun tak ada jawaban, ia menoleh dan mendapati Tio yang sudah terlelap. Arisa tersenyum tipis kemudian membenamkan wajahnya pada dada Tio yang semakin lemas bersandar pada tembok dan terasa pelukannya semakin melonggar sehingga Arisa sedikit merasa kedinginan. Kemudian ia menarik selimut sampai bahu dan membiarkan Tio tidur bersamanya. Dan bayangannya ketika masih kecil kembali muncul di ingatan Arisa. Namun, kali ini ia tersenyum sambil terus memeluk Tio dengan erat.
. Paginya, Raisa bergegas berlari menuju ruangan Arisa setelah ia pulang dari rumah karena larangan ibunya untuk tidak menginap di rumah sakit.
"Ayo bang.... un." Seketika raut wajah Raisa berubah sendu saat melihat pemandangan yang membuatnya sesak. Bahkan setelah Arisa dikabarkan meninggal dan menghilang dari hadapan mereka selama empat tahun pun, Tio tak pernah begitu dekat dengan Raisa. Hatinya terasa di tikam benda tajam dan nafasnya terasa tersenggal. Ini benar-benar lebih menyakitkan dari sekedar putus cinta.
Lalu, Raisa membanting pintu dengan keras membuat kakak beradik yang sedang tidur itu seketika terbangun.
"Siapa?" Tanya Arisa yang masih belum sadar sepenuhnya.
__ADS_1
"Mungkin salah ruangan." Jawab Tio yang sama masih mencoba untuk sadar.
"Kakak....." pekik Arisa dengan mendorong tubuh Tio hingga terjatuh. Dan beberapa barang berjatuhan ditambah teriakan Tio membuat semua yang lewat menoleh kearah pintu ruangan Arisa. Salah seorang petugas dan perawat segera memasuki ruangan dan heran mendapati Tio tengah terduduk sambil memegangi pinggangnya di lantai.
"Tu-tuan tak apa?" Tanya petugas lalu meraih Tio yang tajam melirik Arisa.
"Tak apa. Hanya terpeleset saja." Mendengar jawaban Tio, petugas itu menyernyit lalu melihat sekeliling, ia tak mendapati lantai basah ataupun penyebab lain yang dapat membuat orang terpeleset.
"Nona tak apa?" Tanya perawat dengan meraih bahu Arisa yang tegang mendapati tatapan tajam Tio.
"Wajahmu menakutkan kak." Cetus Arisa tanpa menjawab sang perawat.
"Kau lebih gila." Balas Tio mendelik lalu beranjak dan merapikan bajunya.
"Kakak yang gila. Dasar Tio gila."
"Ehhh kau bilang apa? Berani ya? Sini aku beri pelajaran kau." Tio bersiap untuk menyerang Arisa dengan jurus gelitikannya. Perawat dan petugas hanya menatap konyol keduanya yang terus berdebat seolah tak menganggap keberadaan mereka.
Ditengah pertengkaran kakak beradik itu, terlihat Dimas datang memasuki ruangan dengan membawa alat medisnya.
"Kakak... Aris tak apa. Sudah lebih baik.." ucapnya menenangkan agar Tio tak lagi merasa panik.
"Jangan begitu Aris... jika kau sakit, jangan bicara tak apa-apa. Kakak tak mau lagi hal itu terulang."
"Maaf... Aris benar-benar tak apa kak. Kalau tidak percaya tanya saja pada Dimas." Arisa menunjuk pada Dimas dengan wajah yang serius dan mencoba meyakinkan. Namun, Tio tiba-tiba menyentil dahi Arisa hingga Arisa sendiri meringis kesakitan.
"Terus tadi apa hah? Kau menakutiku?"
"Kau gila Tio. Ini sakit. Apa dulu juga kau selalu menyiksaku? Katanya kau yang paling menyayangiku?"
Mendengar pertengkaran itu, Dimas menggeleng dengan menghela nafas berat.
"Mulai lagi. Sus.. ayo. Tak ada yang perlu di periksa disini. Mereka salah alamat." Ucap Dimas yang berlalu begitu saja dan di susul oleh perawat dan petugas dengan begitu heran.
"Maksud dokter?" Tanya perawat dengan mengikuti langkah Dimas menuju ruangannya.
"Harusnya mereka ke rumah sakit jiwa saja." Cetusnya dengan santai.
__ADS_1
"Aih dokter ini selalu bercanda." Timpal petugas.
"Aku serius. Mereka memang gila." Dimas berbalik dengan terkekeh kemudian memasuki ruangan dan menutupnya rapat.
. Hingga tiba di rumah, pertengkaran Arisa dan Tio masih berlanjut. Mang Ujang yang berada di mobil lain langsung mencoba memisahkan mereka. Rahma dan Yugito yang merasa lebih santai pun hanya menggelengkan kepala saja. Karena pertengkaran keduanya sangatlah mereka rindukan tempo hari selama empat tahun. Yugito pun tak menganggap serius pertengkaran mereka. Terlihat Raisa keluar rumah dengan terburu-buru dan tak menyapa pada seluruh keluarganya. Ia berlalu begitu saja meninggalkan rumah dengan mobil sport yang sama dengan Arisa.
"Rais kenapa kak?" Tanya Arisa polos sambil berjalan memasuki rumah.
"Sudah biasa dia seperti itu. Apa lagi saat kau tak ada." Jawab Tio menyusul Arisa dan berjalan beriringan menuju ruang keluarga.
"Anty....." teriak Ghava berlari dengan antusias menyambut Arisa yang baru masuk melangkah ke ruang tengah.
"Hai.... bunda kemana?" Tanya Arisa membalas pelukan Ghava.
"Tuhhhh..." jawabnya menunjuk ke arah dapur.
"Ihhhhh kenapa kau begitu menggemaskan." Geram Arisa melahap pipi Ghava yang tertawa karena merasa geli.
"Wahhh cepat sekali kau pulang? Baru juga kemarin kau masuk rumah sakit." Sindir Diana yang baru keluar dari dapur dan menghampiri suami dan adik iparnya.
. Setiap hari, Arisa dibuat heran oleh sikap Raisa yang seakan mendiamkan semua orang tiba-tiba tanpa tahu apa alasannya. Arisa merasa kehadirannya membuat semua orang terdekatnya menjadi menjauhi dirinya. Wina yang sudah tak lagi berkomunikasi, Rayyan yang tak lagi bertegur sapa, Daffa juga sedang ditugaskan oleh Danu ke luar kota karena adanya urusan yang harus di selesaikan Daffa. Hingga suatu hari, Arisa sengaja tidak masuk kerja tanpa memberitahu alasannya pada Rayyan atau pun Danu. Ia memilih mencegat Raisa di depan kamarnya yang membuat Raisa terkejut setengah mati melihat Arisa yang berdiri tegak di depan pintu.
"Kau gila? Kau mau jantungku lepas?" Pekik Raisa.
"Kau yang gila. Mereka bilang kau yang paling kehilanganku dari pada kak Tio. Lalu apa ini? Kau bahkan menjauhiku saat aku ada disini." Namun Raisa hanya memalingkan wajahnya menghindari kontak dengan Arisa.
"Andai aku tahu alasanmu mendiamkanku, mungkin aku akan merubah apa yang seharusnya aku ubah. Dan jika memang kehadiranku hanya membuatmu menjadi begini, yasudah. Lebih baik aku pergi saja. Biarkan aku menjadi orang lain yang jelas tak mengenali siapa kalian." Lanjut Arisa setengah berteriak. Dan Raisa masih saja diam. Ia seakan enggan menoleh pada saudari kembarnya yang selama ini ia cari dan ia rindukan.
"Melihat sikap kalian yang tak menginginkan kehadiranku, sudah jelas seharusnya aku tak ikut kalian kesini. Dan aku dipaksa mengingat semuanya padahal aku sendiri tahu ingatan yang kalian katakan itu semuanya menyakitkan untukku. Bahkan Rayyan yang kalian bilang dia sangat mencintaiku melebihi apapun, dan sampai rela membatalkan pernikahannya denganmu dengan lapang dada, dan dia juga yang lebih mati-matian mencariku, nyatanya mana? Dia lebih menunjukkan kebencian dari pada rasa cinta. Justru aku merasakan cinta itu dari orang-orang yang tak pernah kalian ceritakan. Kak Bayu, Dimas, Daffa, dan kak Zain. Jika saja aku tahu sikap kalian akan begini, aku tak akan pernah mau datang kesini. Lebih baik aku tinggal dengan bunda dan kak Reza saja. Mereka lebih menyayangiku dari pada kalian." Lagi, Arisa setengah berteriak namun tak membuat Raisa berbicara sepatah katapun. Saat Arisa hendak berbalik dan melangkah, tiba-tiba 'plak' tamparan keras begitu nyaring terdengar oleh keduanya. Pipinya panas dan berdenyut perih, perlahan Arisa meraih sumber rasa sakit itu tanpa ekspresi apapun. Bahkan ia tak melirik sedikitpun pada siapa yang menamparnya tiba-tiba.
"Mama..." pekik Raisa kemudian meraih Arisa yang mematung seketika.
"Beraninya kau menyebut nama pelacur itu disini." Ucap Rahma dengan amarah yang menyesakkan dadanya dan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mama menamparku?" Tanya Arisa lirih. "Kenapa mama melakukan itu? Katanya mama ini ibu kandungku. Kenapa mama sangat berbeda dengan bunda? Bunda saja tak pernah memarahiku, apa lagi sampai menamparku. Kenapa disini kalian semua menyakitiku?" Teriak Arisa yang kemudian berlari dan mengunci pintu rapat-rapat. Didalam, Arisa menangis sejadi-jadinya dan beberapa kali memanggil Sarah dan Reza.
-bersambung.
__ADS_1