TAK SAMA

TAK SAMA
82


__ADS_3

. "Kak Fabio?" Lirihnya terbelalak tak percaya. "Ke-kenapa--"


"Kenapa aku tahu?" Tanyanya menyela dengan seringai yang membuat Arisa menjadi khawatir seketika. Apakah Fabio dengan Tio? Atau bersama anak buah untuk membawanya pulang? Semua pertanyaan mulai bermunculan di kepala Arisa. Fabio dengan santai berjalan memasuki ruang tamu kemudian ke ruang tengah dan ia duduk di sofa menyilangkan kaki dan bersandar seakan melepas penat karena kelelahan. Kemudian Fabio menoleh pada Arisa yang masih mematung gelisah melihatnya datang tiba-tiba.


"Kemarilah sayang. Kau tak merindukanku?" Arisa masih diam. Bukankah Fabio sudah tak peduli dengan hubungan mereka? Kenapa sikapnya terasa seperti dulu. Manis, namun menakutkan.


"Apa kau mau aku memberitahu ayahmu sekarang?" Tanya Fabio mengangkat ponselnya dengan tak menoleh pada Arisa yang jelas terkejut dan semakin panik. Dengan terpaksa, Arisa berjalan menghampiri Fabio dan duduk di sofa lain dengan gemetar.


"Kenapa disana? Kau takut padaku?" Arisa menggeleng lalu menunduk dan tak berani mendongak memperlihatkan wajahnya.


"Kemarilah. Aku tak akan memakanmu." Lagi, Arisa menggeleng menanggapi Fabio.


"Hemmmm ya sudah. Aku hanya perlu menekan nomor telepon ayahmu saja." Ucapnya santai terselip nada ancaman bagi Arisa. Seketika Arisa bangkit dan terlihat wajahnya memucat karena panik. Dan perlahan Arisa berjalan lalu beralih duduk di samping Fabio. Fabio menggeser tubuh Arisa hingga keduanya sangat dekat. Fabio merangkul pundak Arisa dan ia menyandarkan kepalanya di kepala Arisa. Pelukannya yang hangat dan erat membuat Arisa merasa tak nyaman.


"Diamlah. Aku ingin seperti ini sebentar." Ucap Fabio membuat Arisa diam. Arisa mendengar detak jantungnya dan Fabio begitu keras. Fabio memejamkan matanya dan masih memeluk Arisa begitu erat.


Arisa benar-benar merasa gelisah karena takut jika Zain atau Reza salah faham padanya jika melihat situasi ia sedang berpelukan dengan Fabio.


"Kak... ak-aku mau..."


"Mau apa sayang?" Tanya Fabio menyela cepat dan membuka matanya lalu menatap wajah Arisa yang gugup.


"Aku mau ke dapur. Aku haus." Jawabnya mencari alasan agar dirinya lepas dari Fabio. Namun Fabio enggan melepaskan pelukannya pada Arisa.


"Apa kau mau lari dariku lagi?"


"Tidak kak. Aku benar-benar haus." Bukannya membiarkan Arisa pergi, Fabio malah mencium bibir Arisa hingga Arisa terkejut dan mendorong tubuh Fabio.


"Apa yang kau lakukan?" Pekiknya bergeser menjauh. Namun Fabio menariknya kembali ke dalam pelukannya dan membuat Arisa diam tak memberontak. Lagi, Fabio meraih bibir Arisa dengan lembut dan memeluknya seakan enggan melepaskan Arisa.


"Kenapa kau tak bisa mencintaiku? Kenapa hanya aku yang jatuh cinta disini? Kenapa kau masih mencintai Rayyan?" Lirihnya menatap sendu mata Arisa yang hanya berjarak beberapa cm saja dengannya.


"Kak Reza.... tolong Aris....." batinnya yang memejamkan mata dengan paksa agar tak melihat manik tajam milik Fabio.


"Bahkan kau enggan menatapku." Namun Arisa tak berniat membuka mata meskipun mendengar suara berat dari Fabio.


"Aku membuatmu takut?" Kini Arisa mengangguk pelan menanggapi ucapan Fabio.


"Jangan lakukan lagi." Lirih Arisa yang hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Maafkan aku. Kau haus kan?" Arisa hanya diam. Tapi meski begitu, Fabio beranjak dan mengambilkan Arisa segelas air putih lalu memberikannya pada Arisa. Terlihat Arisa gemetar saat memegang gelas dan perlahan meminumnya.


"Aku tak akan menyakitimu." Ucapnya membantu Arisa memegang gelas agar tak jatuh. Arisa merasa takut sekaligus heran mengapa Fabio memperlakukannya begitu lembut. Padahal Fabio dikenal sebagai seorang yang sangat menakutkan.


"Kau sudah makan?" Arisa mengangguk pelan menanggapi. "Sudah minum obat?" Lagi, Arisa hanya mengangguk menanggapi.


Samar Arisa melihat ada lebam yang sudah mulai memudar tepat di tulang pipi Fabio. Ia dengan refleks meraih pipi Fabio dan menatapnya lekat.


"Kau melihatnya ternyata." Ucap Fabio tertawa kecil dan meraih tangan Arisa lalu membenamkan wajahnya pada telapak tangan Arisa yang mungil.


"Kakakmu yang melakukannya." Lanjut Fabio membuat Arisa terbelalak. Kenapa Tio sampai melakukan ini pada Fabio.


"Tio tak bisa menahan diri lagi karena ia sudah tahu aku akan menggunakanmu untuk merebut perusahaan ayahmu." Arisa tersentak lalu menarik paksa tangannya dari Fabio. Rasa kasihannya berubah menjadi amarah yang ikut meluap.


"Kau pikir aku apa? barang? Atau sesuatu yang bisa kau gunakan untuk menghancurkan keluargaku sendiri?"


"Arisa... awalnya memang aku berniat seperti itu. Tapi setelah bersama denganmu, aku mulai melupakan rencanaku itu. Aku benar-benar mencintaimu."


"Kau pikir aku percaya?"


"Terserah kau saja. Tapi untuk sekarang, aku benar-benar ingin bersamamu."


"Kau kira aku mau?"


Arisa terdiam saat Fabio mendekatinya dan memeluknya dengan erat dan penuh kehangatan. Tangan yang mengelus rambutnya membuat Arisa terbawa perasaan dan merasa itu adalah Rayyan. Fabio beralih mencium kening Arisa sangat lama dan seakan sedang melepaskan perasaannya untuk Arisa dalam satu waktu. Kemudian Fabio kembali mencium bibir Arisa dan kini Arisa tak memberontak dan membiarkan Fabio melakukannya. Karena kata Fabio ini adalah yang terakhir. Dan setelah ini mungkin mereka tak akan bertemu lagi.


Adegan itu dilihat oleh Zain yang hendak mengajaknya makan malam diluar karena berpikir Arisa tidak masak. Siapa sangka, ia malah melihat pemandangan yang membuatnya merasa sesak nafas seketika. Perasaannya yang masih tersimpan untuk Nadhira, telah ia labuhkan pada Arisa. Namun kenyataannya Arisa kembali pada seseorang yang Arisa sendiri hindari. Zain menutup pintu sedikit keras membuat Arisa terkejut dan seketika melepaskan diri dari Fabio. Arisa bergegas menuju pintu lalu melihat ke luar berpikir ada Zain atau Reza. Namun, pintu apartemen Zain masih tertutup rapat dan tak ada seseorang yang ada didepan apartemennya.


Dari belakang, Fabio memeluk Arisa lalu kembali menutup pintu. Fabio duduk dengan Arisa di pangkuannya. Arisa berontak agar Fabio melepaskannya.


"Kak.... lepaskan aku." Ucapnya pelan sambil terus mencoba beranjak namun pelukan Fabio malah semakin erat. Dan tiba-tiba pintu dibuka dengan keras menampilkan wajah panik Reza. Namun seketika wajah panik itu berubah menjadi sirat amarah yang tak bisa ditahan lagi. Semula Reza khawatir pada Arisa karena mendengar bahwa ada orang asing yang bertamu ke apartemen Arisa. Reza menyimpulkan bahwa orang itu mungkin Tio yang akan menjemput Arisa. Saat keluar lift, Reza bertemu dengan Zain yang tengah bersandar dan ia memberitahu Reza bahwa Fabio lah orang asing itu. Reza semakin panik lalu segera menuju apartemen Arisa. Namun malah pemandangan ini yang ia dapatkan. Rasa kecewanya terlihat di wajah Reza. Ternyata Arisa tak seperti yang ia bayangkan. Kenapa Arisa berani melakukan itu padahal Reza mengenalnya sebagai perempuan baik-baik dan tak mungkin melakukan hal yang sangat memalukan.


"Kak... aku bisa jelaskan. I-ini tidak...."


"Apa? Harusnya aku tidak mempercayaimu dari awal." Reza menyela dengan enggan menoleh pada Arisa.


"Aku tidak melakukan apa-apa kak." Ucap Arisa mencoba meyakinkan Reza. Namun tetap saja, Reza hanya percaya dengan apa yang ia lihat saja.


"Lalu, apa yang akan kau jelaskan dengan ini?" Tanya Zain memperlihatkan foto Arisa yang tengah berciuman dengan Fabio. Arisa terbelalak lalu menatap tajam pada Zain yang melihat semua adegan itu. Reza semakin murka dengan fakta yang ia dapatkan malam ini.

__ADS_1


Arisa memohon pada Reza agar ia bisa menjelaskan yang sebenarnya. Tapi Reza menepis kasar tangan Arisa dan berlalu meninggalkannya dalam keadaan menangis tersedu-sedu. Zain hanya memalingkan wajahnya lalu ikut berlalu meninggalkan Arisa. Ia menoleh sesaat sebelum menutup pintu apartemen miliknya.


"Arisa... maaf." Ucap Fabio menghampiri lalu meraih Arisa yang tak sedikitpun berniat menghentikan tangisnya.


"Maaf karena aku--"


"Iya. Memang karena kau." Teriak Arisa menyela cepat.


"Aku tak bermaksud--"


"Sudahlah. Ini pasti rencanamu kan? Kau suka jika melihatku hancur. Dan semua ucapanmu itu hanya dusta. Kau pembohong. Kau tak pernah mencintaiku. Kau hanya mau menghancurkan hidupku saja."


"Arisa... aku tidak--"


"Pergi... aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Terserah. Kau mau menyebarkan keberadaanku, silahkan! Aku sudah tidak peduli."


"Kau yakin?"


"Kenapa tidak? Bukankah ini yang kau ingin saksikan? Kau tahu hatiku akan hancur saat bertemu keluargaku. Lalu kau akan sengaja membuat mereka kesini menjemputku bukan? Tapi, aku akan pastikan saat kau membawa keluargaku kemari, yang mereka lihat hanya jasadku saja."


"Aris apa yang kau bicarakan?" Namun Arisa tak menjawab pertanyaan Fabio. Ia malah berlalu menuju dapur dan segera meraih pisau dan siap menyayat tangan kirinya. Ia meletakkan pisau itu tepat pada urat nadi yang berdenyut. Kemudian ia memejamkan matanya sambil menekan pisau meskipun hatinya ragu karena takut.


Belum sempat ia menyayatkan benda tajam itu, sebuah tangan meraih mata pisau dan melemparnya ke sembarang arah. Tetesan darah terlihat di lantai putih tepat disamping Fabio berdiri.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Fabio dengan suara berat dan dingin terasa membekukan Arisa seketika. Ia menatap lekat setiap tetesan darah didepannya. Matanya membulat saat melirik sebuah tangan yang berlumuran darah tepat berada didepan matanya.


. Di sofa, Arisa terisak sambil memakaikan perban pada tangan Fabio. Sesekali Fabio meringis saat Arisa tak sengaja mengenai lukanya.


"Mau sampai kapan kau menangis?"


"Kenapa kakak menghalangiku? Biarkan saja aku mati."


"Dan kenapa kau berpikir jika kau menyayat tanganmu, kau akan mati seketika? Bagaimana jika kau masih hidup dan kau malah merasakan rasa sakit di hati dan tanganmu secara bersamaan. Melukai dirimu sendiri tak akan membuatmu tenang. Sudahlah.!"


"Tapi aku...."


"Masih banyak yang menyayangimu."


"Aku rindu kak Tio...." rengek Arisa kembali menangis keras. Fabio termangu melihat sisi kekanakan Arisa yang diperlihatkan padanya. Dan seketika ia juga merasa rindu pada Fabian yang tengah menjalani kuliah S2 nya di Jogja.

__ADS_1


"Setelah ini, aku tak akan menemuimu lagi." Ucap Fabio beranjak dan terpaksa meninggalkan Arisa sendiri.


-bersambung


__ADS_2