TAK SAMA

TAK SAMA
159


__ADS_3

. Paginya, Arisa yang tak bisa menjenguk Rega karena kondisinya, hanya bisa melakukan panggilan video dengan Rega.


"Kau sedang dimana Put?" Tanya Rega yang menilik setiap sudut yang ia lihat di layar ponselnya.


"Di balkon kamar. Emmm bagaimana kondisi kakak?"


"Yaaa.... maunya bagaimana?"


"Maunya kakak sembuh."


"Iya... doakan saja."


"Apa ada yang merawat kakak di sana?"


"Kebetulan Rian baru sampai. Dan kemungkinan siang ini mama juga datang."


"Emmm begitu ya? Tapi, bukannya mama sedang di luar kota?"


"Iya. Baru bisa pulang."


"Kalau aku sudah membaik, aku akan menemui kakak."


Mendengar hal itu, Rega hanya tersenyum tipis dengan hati yang tak karuan. Jika berjuang pun, ia tak ada apa-apanya di bandingkan dengan Rayyan. Dan tak heran jika Arisa lebih memilih Rayyan di bandingkan dirinya.


"Non... ada tamu." Ucap bi Ina dengan sopan dari ambang pintu balkon.


"Siapa bi?" Tanya Arisa dengan penasaran. Jika itu Rayyan, bi Ina pasti sudah menyebutkan namanya langsung.


"Anu non... yang dulu mau jadi suami non Aris." Bisik bi Ina dengan hati-hati. Bi Ina takut jika orang yang sedang video call dengan Arisa akan mendengar percakapannya.


"Siapa? Namanya bi..." tanya Arisa yang tak bisa menebak siapa orang yang pernah menjadi calon suaminya dulu.


"Emmm bibi lupa non. Takut salah." Arisa semakin penasaran, jika Bayu, bibi jelas tahu. Dan jika Fabio, bibi juga pasti tahu.


"Emm kak Rega. Maaf ya.. Aris terima tamu dulu."


"Baiklah. Tetap waspada ya..."


"Iya kak. Byeee..." setelah memastikan Rega menanggapi, Arisa memutuskan panggilan dan bergegas menuju ruang tamu. Dengan ragu, Arisa menunjukkan dirinya dengan menutup sebagian wajahnya. Saat ia bertatapan dengan tamu yang di maksud, keduanya sama-sama terkejut. Arisa yang tak menyangka dengan kedatangan Fabio, dan Fabio yang tak mempercayai kondisi Arisa separah ini. Secara naluriah, Fabio yang sempat menyimpan perasaan pada Arisa segera menghampiri dan meraih Arisa dengan panik.

__ADS_1


"Siapa Aris? Siapa yang berani melukaimu sampai begini?" Geram Fabio semakin kuat mencengkram kedua lengan Arisa, tatapannya menakutkan dan auranya sangat mencekam.


"Kak sakit." Rintih Arisa dengan suara yang pelan. Fabio langsung melonggarkan cengkramannya dan masih enggan melepaskan Arisa dari genggamannya.


"Aris. Katakan padaku! Siapa yang melakukan ini?"


"SM." Jawab Arisa singkat. Semula Fabio hanya menyernyit tak mengerti, namun ia kembali menggeram marah saat menyadari siapa yang di maksud Arisa.


"Haidar?" Arisa mengangguk pelan menanggapi Fabio.


"Atas dasar apa dia melukaimu?"


"Maaf kak. Aku sedang tak ingin membahas itu. Jadi, kakak katakan saja maksud kedatangan kakak kemari. Aku ingin istirahat. Atau kakak temui ayah saja." Ucap Arisa dengan memalingkan wajahnya dengan ekspresi kesal, takut, dan khawatir. Seketika Fabio melepaskan Arisa, tatapannya berubah sendu menatap Arisa yang mulai gemetar ketakutan.


"Apa aku menyakitimu?" Arisa menggeleng pelan dan masih menghindari tatapan Fabio.


"Apa ada yang terluka lagi selain wajah?" Kali ini, Arisa mengangguk lalu meraih perutnya. Dengan begitu, Fabio faham pada jawaban Arisa. Tanpa bicara sepatah katapun, Fabio berlalu dengan wajah yang begitu marah. Niat hati ingin membahas kontrak kerja sama karena tahu Arisa ada di Jakarta, dan ia sendiri baru kembali dari luar negeri. Ia tak tahu menahu tentang insiden penculikan Arisa tempo hari. Yang ia ketahui hanyalah keberadaan Arisa di rumahnya saja.


"Ku bunuh kau Haidar." Geram Fabio mengepalkan tangannya dengan kuat sehingga urat-uratnya jelas terlihat.


. Beberapa hari kemudian, Arisa terlihat merias wajahnya dan menutupi memar yang sudah mulai memudar dengan make up.


"Mau kemana?" Tanya Rahma ketika ia memasuki kamar Arisa dengan membawa sarapan di nampan beserta teh manis hangat.


"Apa kondisimu sudah baik?" Arisa mengangguk dengan senyum mengembang untuk meyakinkan ibunya bahwa dirinya sudah pulih.


"Perutmu?"


"Masih agak linu sedikit ma.."


"Terus ke rumah sakit mau sendiri?"


"Memangnya dengan siapa? Mang Ujang kan sudah berangkat antar ayah."


"Mama ikut."


"Rais bagaimana?"


"Rais sudah membaik."

__ADS_1


"Aris sendiri saja ma... takutnya ada apa-apa di rumah. Aris janji, Aris akan jaga diri."


"Kalau ada apa-apa, hubungi orang rumah ya..."


"Iya ma..."


Setelah mendapat izin dari Rahma, Arisa bergegas menuju rumah sakit. Ketika di depan lobby, ia mematung seketika dan tubuhnya gemetar hebat. Ia tak menyangka, ia akan bertemu dengan Haidar secepat ini. Ingin berteriak, namun lidahnya mendadak kelu. Ingin berlari, namun tubuhnya tak bisa di gerakan. Arisa terhuyung saat Haidar melewatinya begitu saja tanpa mengancam atau pun memakinya.


"Aris..." panggil seseorang dari arah lorong. Arisa hanya melirik ia masih dibuat panik oleh kehadiran Haidar. Dimas berlari menghampiri Arisa yang masih mematung di tempatnya.


"Kenapa anak itu?" Batin Dimas yang terheran dengan diamnya Arisa.


"Sedang apa disini?" Tanya Dimas ketika ia sudah berada di dekat Arisa. Arisa hanya menggeleng lalu meraih Dimas sebagai pegangan agar dirinya tidak ambruk. Dimas ikut terkejut kenapa tubuh Arisa begitu gemetar.


"Kau sakit?" Arisa menggeleng, "lalu kau kenapa?" Lagi-lagi Arisa hanya menggeleng. Dimas semakin heran di buatnya.


"Apa kau takut?" Kini, Arisa mengangguk sehingga dengan refleks Dimas merangkul Arisa untuk menenangkan. Setelah keduanya duduk, Dimas mengarahkan Arisa untuk mengatur pernafasannya agar Arisa merasa lebih relaks.


"Kau kenapa? Malah berdiri di tengah jalur?" Dimas memulai percakapan.


"Om Haidar." Jawabnya masih menundukkan kepalanya.


"Haidar? Siapa dia?"


"Dia yang menculikku." Kini jawaban Arisa semakin frustasi. Dimas mulai mengerti kenapa Arisa bisa begitu ketakutan.


"Emm sudah... sebaiknya kita lupakan Haidar. Kau mau kemana sekarang?" Dimas mencoba mencairkan suasana.


"Apa kak Rega masih di sini?" Pandangan Dimas mendadak suram, ternyata Arisa mencari Rega. Namun di sisi lain, ia bisa tahu hubungan keduanya.


"Kebetulan masih." Jawabnya langsung beranjak dan membawa Arisa ke kamar Rega. Namun ketika mereka sampai di kamar yang di tuju, Rega tak ada di kamar. Dimas segera mencari perawat yang bertanggung jawab di ruangan ini.


"Ohh tuan Rega sedang ke taman untuk berjalan-jalan." Jawab perawat dengan sopan.


"Bukannya kak Rega patah tulang ya sus? Kan tidak bisa berjalan." Ucap Arisa dengan polosnya. Dimas melirik konyol Arisa yang menurutnya sangat aneh.


"Wahhh dia jadi bodoh begini." Batin Dimas menahan tawa.


"Aris.... kan ada kursi roda." Ucap Dimas dengan nada pelan namun terselip sebuah ejekan untuk Arisa.

__ADS_1


"Oh iya aku lupa." Arisa menepuk dahinya dan tertawa kecil membuat wajah Dimas tersipu memerah.


-bersambung


__ADS_2