TAK SAMA

TAK SAMA
57


__ADS_3

. Sepanjang jalan, Arisa menerka-nerka siapa yang akan bertamu ke rumahnya. Apakah keluarga Pratama? Jika memang benar, Arisa hanya mengkhawatirkan hatinya saja. Karena bisa jadi Oma Galuh akan ikut bertamu juga, apalagi ini ulang tahun Raisa. Gadis yang sangat diinginkan Oma untuk menjadi pendamping Rayyan. Beberapa kali Arisa menghela nafas dalam dan mengusap dadanya pelan agar perasaan itu tidak mengganggu pikirannya. Lagipula, Arisa akan mengubur perasaannya pada Rayyan secepat mungkin.


"Ishh... kata ayah langsung pulang. Mengapa mampir ke tempat ramai seperti ini. Dan kenapa mang Ujang dari tadi berhenti lama didepan kedai kopi. Sampai malam seperti ini, bahkan belum sampai rumah. Dan kenapa mama mendadak ingin kembali ke butik temannya. Harus putar balik, memangnya kita semua mau kemana sampai berpakaian formal seperti ini. Bukankah kak Tio hanya mengajak dinner di depan rumah saja?" Gumam Arisa yang tak menyadari bahwa kini dirinya sudah sampai dirumah. Terdapat banyak orang yang menunggu kedatangan sang pemeran utama yang baru sampai dirumah.


"Kapan ini disiapkan? Ini butuh waktu seharian untuk mempersiapkannya kan?" Batin Arisa yang mulai berkecamuk menatap kagum taman depan rumahnya yang disulap menjadi taman indah dengan gemerlap lampu malam yang berkilauan. Arisa tersadar akan ingatan bahwa Tio ada pekerjaan, mungkinkah pekerjaan yang dimaksud Tio itu adalah ini?


Banyak tamu yang sudah siap menyambut kedua putri Artaris yang terkenal dengan kecantikan keduanya. Arisa dan Raisa saling pandang kemudian bersamaan menoleh pada kedua orang tuanya. Yugito dan Rahma turun kemudian berjalan menuju dimana keluarga Danu berada.


Beberapa teman kampus Raisa sudah berada disana. Termasuk Deby dan Sofia. Mereka terlihat bergabung dengan kumpulan Rayyan dan yang lain dari kampus Yyy. Namun terlihat Citra, Daffa, dan beberapa teman kampusnya berbeda tempat menyambut kedatangan Arisa. Bukan karena Daffa dan Rayyan sedang tak berbaikan, namun kebetulan Rayyan yang menyapa lebih lama teman-teman dari kampus Yyy.


Tak terlewatkan keluarga Fariz dan keluarga Bayu pun sudah berada ditempat. Bahkan terlihat ada sebuah mobil menyusul sesaat setelah sang tuan rumah datang.


Ketika turun, sontak semua pandangan tertuju pada sosok pria tampan dan gagah dengan jas mahalnya serta tatapan yang tajam seperti Tio. Arga Fabio Nalendra, seorang pengusaha muda yang sukses mengimbangi perusahaan Artaris.


Terlihat pula Tio dan Seno yang sedang berdiri tegak di sebuah podium kecil namun terlihat resmi. Disana terdapat banyak kado dan 2 buah kue ulang tahun berwarna putih dihiasi bunga berwarna merah muda.


Raisa turun terlebih dahulu, dan seketika itu para tamu menatap kagum pada Keanggunan Raisa.


"Eh.. rambut Raisa.." ucap Sofia berbisik pada Deby.


"Apa selamanya akan seperti itu?" Deby balik bertanya dengan sama berbisik.


Dan setelahnya, Arisa perlahan keluar dari mobil. Dan seketika itu, Daffa tak mengedipkan mata dan tak memalingkan pandangannya.


"Itu Raisa? Eh bukan. Itu Arisa? Rambutnya seperti Raisa." Ucap yang lain dengan ragu menebak siapa Raisa diantara keduanya.


"Silahkan untuk Tuan kekasih kedua putri, saya persilahkan untuk menyambut dan membawa sang pujaan hati untuk naik ke podium." Ucap MC yang berada disamping podium dengan tersipu karena keelokan keduanya. Terlihat Rayyan dengan percaya diri maju kedepan tanpa menghiraukan tatapan Oma yang sinis dan penuh penekanan.


"Hanya sampai aku lulus saja. Izinkan aku dengan Risa. Setelah itu Oma boleh melakukan apa yang Oma inginkan. Rayyan akan menurut." Kata-kata itu terus terngiang ditelinga Oma. Perlahan Oma Galuh merubah tatapannya menjadi sehangat mungkin. Saat ini ia hanya perlu menuruti apa yang Rayyan katakan. Jika memang saat ini Rayyan bahagia dengan Arisa, dirinya harus bisa menerima dengan lapang dada sampai waktu yang dijanjikan tiba. Setelah kelulusan S1, Oma akan mengumumkan pertunangan Rayyan dan Raisa.


"Tak mungkin kau akan mengingkari janjimu kan Aray?" Gumam Oma yang perlahan tersenyum menatap Rayyan.

__ADS_1


"Raisa....." teriak teman kampusnya bersamaan ketika Rayyan sudah berada dihadapan kedua putri Artaris. Rayyan mengulurkan tangan tepat didepan Arisa. Arisa menoleh pada Bayu dan kedua orang tuanya yang melempar senyum ikhlas padanya. Bayu mengangguk pelan meyakinkan Arisa bahwa dirinya baik-baik saja jika Arisa dengan Rayyan.


Arisa pun perlahan membalas uluran tangan Rayyan dan tatapan keduanya bertemu dengan hiasan senyum yang berseri. Daffa tersenyum simpul menatap keduanya yang terlihat bahagia. Sangat langka pemandangan Rayyan tersenyum begitu bahagia didepan umum. Oma Galuh beberapa kali memalingkan pandangannya saat melihat cucunya dan Arisa begitu dekat. Sonya merasa tak nyaman dengan sikap Oma yang menunjukan ketidak sukaannya.


"Kakak putri sangat cantik. Tapi rambutnya jadi sama dengan kakak peri." Ucap Seina dengan polos. Sonya mendadak tersenyum mengingat perubahan warna rambut Arisa yang mungkin bisa di terima oleh Oma. Namun melihat sikap Oma yang terus memalingkan pandangannya, membuat Sonya ragu akan hal itu.


"Meskipun rambutnya hitam, tetap saja Raisa yang masih Oma restui." Ucap Oma menagaskan meskipun pandangannya tak menoleh atau melirik pada Sonya dan Danu.


Saat Fariz hampir sampai didepan Raisa, terlihat Fabio lebih dahulu meraih tangan Raisa yang terkejut karena hal yang dirasanya tiba-tiba. Semua teman kampus Raisa menjadi riuh. Karena rumornya, jika tidak dengan Rayyan, Raisa berpacaran dengan Fariz.


"Maaf tuan Fariz Alfarizky, nona Raisa ingin berdamping dengan saya." Ucap Fabio penuh kemenangan dengan wajah angkuhnya melewati Fariz yang mematung didekat Rayyan dan Arisa yang ikut terkejut. Rayyan menatap tajam kearah Fabio yang dianggapnya tak mempunyai sopan santun. Fabian yang menyaksikan sikap memalukan kakaknya hanya bisa mengepalkan tangan secara diam dan menatap tajam pundak Fabio.


"Apa yang dia lakukan? Sudah jelas Raisa memiliki kekasih." Batin Fabian.


"Pundakku panas. Sepertinya adik bodohku sedang memakiku sekarang." Batin Fabio tersenyum licik membayangkan wajah kesal Fabian sekarang.


Fabio membawa Raisa kehadapan Yugito dan menunduk sopan dengan senyum manis menyapa Yugito.


"Ayah.." panggil Raisa dengan gugup.


"Tak apa nak. Ayah izinkan." Dan bagai tersambar petir, hati Fariz hancur seketika mendengar penuturan Yugito. Fabio tersenyum penuh kemenangan melihat wajah kesal Fariz.


"Apa ayah bercanda?" Batin Arisa dan Raisa bersamaan. Rayyan menepuk pelan bahu Fariz dan menarik tangan Arisa sampai podium.


"Wah... aktingmu sangat bagus tuan Fabio. Sampai kak Fariz merasa ini adalah adegan yang sebenarnya. Raisa... kau sangat hebat. Akan aku promosikan kau menjadi aktris. Kau mau?" Ujar Rayyan bertepuk tangan sendiri didepan podium dan membuat seluruh yang hadir semakin merasa heran.


"Kak Fariz..." panggil Raisa yang melepaskan tangannya dari Fabio dengan paksa lalu berbalik dan menghampiri Fariz yang ikut berbalik. Raisa memeluk Fariz dengan erat dan seakan tak ingin melepaskan.


"Maaf..." lirih Raisa semakin erat memeluk Fariz.


"Terima kasih Rayyan." Gumam Raisa yang menyimpulkan senyum diwajahnya.

__ADS_1


Fabio melirik sinis pada Rayyan yang mungkin dianggapnya sebagai pengacau.


"Akan aku ingat wajahmu nak." Gumam Fabio tersenyum sinis lalu memalingkan wajahnya dengan sikap mengejek pada Rayyan. Rayyan pun tak kalah angkuh menatap tajam pada Fabio yang berlalu menuju meja keluarganya.


"Kau tak mau melepaskanku? Disini banyak orang. Kalau kau mau, nanti saja didalam." Bisik Fariz mengejutkan Raisa yang dengan cepat melepas pelukannya lalu menatap tajam pada Fariz yang tertawa melihat raut wajah Raisa.


"Aku bercanda." Fariz mengusap wajah Raisa dengan pelan lalu menarik tangan Raisa ke podium dimana Arisa dan Rayyan kini berada.


"Sebelum acara tiup lilin, apakah ada yang ingin disampaikan?" Tanya MC pada Raisa dan Arisa.


"Ini acara ulang tahun atau acara perpisahan? Rasanya mengapa seperti sedang berada di acara pernikahan saja." Batin Arisa tersenyum paksa kemudian melirik kearah Tio dengan kesal. Tio memberi isyarat seolah bertanya 'apa?' Dan Arisa melirikkan bola matanya pada kue miliknya dengan terpasang lilin 12, bukan 21. Tio menunjuk Seno dengan matanya menjawab isyarat Arisa. Kemudian Arisa melirik tajam kearah Seno yang memalingkan wajahnya menghindari kontak dengan Arisa. Arisa sendiri tahu bahwa Seno sudah menyadari kekesalan Arisa karena kejahilannya.


Setelah memastikan tak ada yang ingin dibicarakan, sebelum lilin dinyalakan, Arisa merajuk pada Seno agar posisi lilinnya ditukar. Dengan terpaksa, Seno menukarkan posisi lilin menjadi yang seharusnya. Oma Galuh menyernyit semakin merasa tak nyaman berlama-lama melihat kedekatan Arisa dan cucunya.


Setelah acara tiup lilin, keduanya lanjut memotong kue dan memberikan first cake kepada Yugito dan Rahma bergantian, lalu pada Tio, dan kemudian pada pasangannya masing-masing.


"Malam ini kau bahagia Fariz, tapi esok aku pastikan Raisa menjadi milikku. Karena calon suaminya adalah aku. Dan kau, tak ada dalam daftar pilihannya." Gumam Fabio yang tersenyum sinis menatap kebahagiaan Raisa dan kekasihnya.


Setelahnya, acara berlangsung dengan meriah. Seakan itu adalah acara ulang tahun bagi anak berusia 5 tahun yang harus dirayakan. Sebenarnya acara itu dibuat bukan semata-mata pesta ulang tahun saja. Tapi untuk merayakan kesembuhan Arisa karena masih tetap hidup sampai hari ulang tahunnya yang melewati rintangan hidup dan mati.


Arisa perlahan berjalan turun dari podium hendak menghampiri keluarga Rayyan. Sonya sudah tersenyum begitu manis menyambut Arisa.


"Kakak putri..." panggil Seina dengan antusias.


Namun ketika Sonya berdiri, Widia lebih dahulu memeluk Arisa didepannya. Sonya tak menyadari bahwa ada Widia, ibu dari Bayu yang duduk di meja tepat didepan mejanya. Arisa pun tak kalah hangat memeluk Widia karena tak sopan jika Arisa mengungkapkan bahwa dirinya akan menyapa Sonya.


"Kau lihat? Anak itu lebih mengutamakan orang lain." Ucap Oma dengan nada cetus. Sonya menatap dalam pada Arisa lalu menunduk dan kembali duduk dengan rasa yang tak bisa ia ungkapkan.


"Aku yakin Risa tidak seperti itu." Gumamnya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2