TAK SAMA

TAK SAMA
177


__ADS_3

. Tio menemani Rayyan yang kini terbaring dengan masih membuka mata. Tio sadar, Rayyan tidak betul-betul merasa sakit, ia hanya beralasan agar bisa menginap di rumahnya malam ini. Sementara Arisa sudah kembali ke kamarnya dengan hati yang lega karena Tio bersedia menemani Rayyan.


"Heh Rayyan. Kau pura-pura kan?" Tanya Tio penuh kecurigaan. Dengan memasang wajah datar, Rayyan beranjak lalu menghadap pada Tio yang menatapnya dari sofa.


"Jika itu Dimas, aku tak akan keberatan. Dari cara bicaranya, Dimas masih sangat menjaga sikap saat dekat dengan Risa. Padahal, aku melihatnya memiliki perasaan pada Risa. Tapi Xavier... entah kenapa aku sangat membencinya." Jawab Rayyan berubah kesal saat mengingat ucapan Xavier yang sangat tak pantas ia dengar.


"Dalam hubungan, cemburu itu memang--"


"Wajar? Iya aku tahu kak. Tapi ucapan Xavier tidak wajar. Aku saja yang berstatus tunangannya tak pernah punya pikiran dan tak mau bicara hal yang tidak pantas." Ucap Rayyan menyela cepat meskipun ia tahu itu tidak sopan.


"Dia berkata apa sampai kau kesal begini?"


"Sebelumnya, aku ingin bertanya. Apa kak Tio akan marah jika kak Seno yang pernah menjadi pacar kak Diana mengatakan hal tentang kak Diana. Dan kata-katanya bukan sekedar memuji, tapi malah terdengar seperti melecehkan."


"Katakan yang jelas. Jangan membawa masa laluku Rayyan." Geram Tio terdengar tegas dan menekan.


"Xavier bilang, dia sangat tergoda oleh aura dan aroma tubuh Risa. Apa itu bisa dikatakan wajar?" Tepat setelah Rayyan diam, Tio beranjak lalu melemparkan ponselnya ke atas sofa dengan memasang wajah yang menahan amarah.


"Eh kak. Mau kemana?" Pekik Rayyan langsung beranjak dan menyusul Tio yang sudah berada di depan pintu.


"Aku mengerti perasaanmu. Tapi jangan gegabah kak. Dia berada di bawah pengawasan ayah juga. Kalau kakak mengusirnya tanpa sebab, kakak juga yang akan terkena imbasnya." Lanjut Rayyan menasehati.

__ADS_1


"Lalu? Apa rencanamu? Dan sebenarnya apa yang kau lakukan disini? Kau marah padanya, tapi kau tak berbuat apa-apa."


"Meskipun aku tak berbuat apa-apa, tapi aku bisa memastikan sendiri Xavier tidak bertindak macam-macam pada Risa."


"Apa kau tidak menghajarnya?"


"Tidak."


"Kau tidak berani?"


"Lebih tepatnya, aku tak ingin memulai hal yang akan merugikan. Dari ucapannya, jelas dia akan memanfaatkan kemarahanku sebagai alasan bahwa dia lebih baik dari pada aku. Dan, dia juga bilang, jika aku memukulnya, itu akan mempermudah dia untuk mendapatkan Risa." Tio terdiam, ia mencoba untuk menenangkan emosinya. Bagaimana pun, jika ia yang mendengarnya langsung dari Xavier, mungkin ia akan menghajar Xavier tanpa ampun. Baru kali ini ia mendengar ada lelaki yang mengatakan hal tak sopan tentang adiknya. Dari Dimas, Bayu, Fabio dan Rayyan yang jelas sudah dekat dengan Arisa, mereka tak pernah mengungkapkannya jika pun kenyataannya benar. Tio tak menepis fakta bahwa wangi parfum Arisa memang sangat memikat pria. Dan itulah kenapa ia selalu khawatir jika Arisa memakai wewangian ke luar rumah.


. Paginya, seperti biasa, acara sarapan bersama seakan menjadi sebuah kewajiban. Namun yang tak biasa kali ini, 2 orang tamu ikut berada di meja makan dengan duduk keduanya di samping Arisa. Ditambah, ada seorang lagi yang datang sebagai tamu yang di minta untuk ikut beres-beres selepas acara kemarin. Yang tak lain adalah Seno. Seno merasa heran saat melirik ke arah Tio yang kini menatap Rayyan dan Xavier dengan tajam. Sementara itu, Rayyan dan Xavier terlibat tawuran batin karena insiden sebelum mereka menuju meja makan. Keduanya yang sama-sama berpapasan di depan ruang keluarga, sempat beradu sindiran.


"Yah... calon istri saya sangat perhatian, jadi sakit saya sudah berkurang."


"Berarti sentuhan Arisa sangat efektif untuk seseorang yang sedang sakit cinta ya?" Sindiran Xavier semakin menjadi.


"Ahahaha tuan Xavier bisa saja. Saya sebagai tunangannya saja tidak terpikirkan tentang hal itu. Dia itu sangat istimewa untuk saya. Jadi, saya tidak memandangnya dari hal yang demikian. Saya ingin menjaganya, dan memastikan Risa baik-baik saja." Mendengar penuturan Rayyan, Xavier malah terkekeh dengan tatapan mengejek.


"Tapi saya dengar, 4 tahun yang lalu atau 5 tahun yang lalu ya? Hemmm ada berita pewaris perusahaan Pratama melakukan hal yang tidak senonoh pada putri bungsu keluarga Putra. Jadi kau sudah tidur dengan Arisa kan? Bagaimana? Kau menyukainya? Apa sekarang kalian sering melakukannya juga?" Kembali Xavier terkekeh lalu bergegas menuju ruang makan.

__ADS_1


"Tuan Xavier!" Panggil Rayyan berhasil menghentikan langkah Xavier.


"Jika anda tidak tahu yang sebenarnya terjadi, sebaiknya tutup mulut anda, atau perusahaan anda yang akan saya tutup." Ucap Rayyan dengan suara pelan langsung ke telinga Xavier karena ia tak ingin membuat keributan di hadapan keluarga Putra. Rayyan begitu bangga mengatakan hal ini, karena Tio berada di pihaknya.


. Arisa merasa canggung saat kedua pria di kedua sisinya saling melemparkan aura kebencian mereka masing-masing. Begitupun Tio dan Yugito.


"Si Rayyan kenapa malah bersikap begitu. Mau aku pukul atau aku bunuh dia?" Batin Tio memaki Rayyan dengan tatapan yang begitu tajam. Sontak Rayyan sendiri terhenyak lalu ia melirik pada Tio yang menatapnya tajam seakan ingin membunuhnya saat itu juga. Rayyan memalingkan wajahnya kasar menghindari tatapan Tio.


"Uncle... mau gendong." Pinta Ghava yang merentangkan tangannya pada Rayyan. Dengan senang hati, Rayyan membawa Ghava pada pangkuannya.


"Ghava... uncle nya berat. Kau sudah besar." Tegur Diana yang tak enak hati pada Rayyan karena perilaku putranya.


"Tak apa kak. Sein juga selalu begini pada Risa." Jawab Rayyan yang tak terganggu sama sekali.


Semua mata termangu saat menyaksikan Arisa dan Rayyan yang seperti keluarga kecil. Dimana Arisa yang menyuapi Rayyan dan Ghava bergantian. Bahkan Raisa dan Fariz belum melahap sesuap pun makanan ke mulut mereka. Makanan yang hampir mereka makan pun justru masih menggantung di depan mulut mereka.


Semua terkejut saat Rayyan menahan Arisa yang hendak memakan makanan dari piring Ghava. Tio yang beranjak dan akan marah pun mengurungkan niatnya saat Rayyan berkata sesuatu yang melegakan hatinya.


"Risa... itu telur. Kau mau bunuh diri?"


"Tuan Rayyan. Kau tidak sopan. Arisa ingin makan, tapi kau melarangnya." Protes Xavier yang lebih merasa tak nyaman akan sikap Rayyan.

__ADS_1


"Tuan Xavier. Saya katakan sekali lagi, jika anda tak tahu apa-apa, sebaiknya anda diam." Geram Rayyan membuat hening suasana.


-bersambung.


__ADS_2