TAK SAMA

TAK SAMA
183


__ADS_3

. Sepulang bekerja, Arisa mampir ke sebuah cafe terlebih dahulu. Tak lama menunggu, terlihat Rayyan menghampirinya dengan terburu-buru.


"Aku terlambat. Sudah menunggu lama?" Tanya Rayyan dengan nafas yang masih terengah. Arisa menggeleng lalu melempar senyum setelah meneguk minuman yang ia pesan.


"10 menit. Tapi tak apa-apa Aray." Setelah Arisa berkata demikian, keduanya menjadi diam beberapa saat.


"Aray kata Xavier..."


"Risa tadi Xavier..." ucap keduanya bersamaan, namun kembali diam setelah mendengar nama Xavier diucapkan oleh mereka.


"Xavier?" Lagi, keduanya bertanya dengan bersamaan.


"Kenapa Xavier?" Kini Rayyan bertanya lebih dulu.


"Kau juga. Kenapa Xavier?" Balas Arisa yang sama ingin tahu.


"Kau saja dulu." Ucap Rayyan tak kalah penasaran.


"Tidak tidak. Kau saja dulu."


"Risa... serius. Xavier bilang apa?"


"Kau juga. Tadi Xavier kenapa?"


"Tadi Xavier ke kantorku. Dia bilang kau sangat beruntung mendapatkanku. Dan hari ini dia pulang ke kotanya. Dia berharap bisa mengadakan acara perpisahan dengan kita." Jelas Rayyan memasang wajah bingung sendiri dan masih tak mengerti kenapa Xavier berkata demikian.


"Tapi tadi pagi dia bilang titip salam untukmu. Lalu, aku bilang datang saja ke perusahaanmu. Ku kira dia hanya basa basi saja." Arisa tak kalah kebingungan saat menjelaskan perihal obrolannya dengan Xavier pagi tadi.


"Sepertinya, dia menyukaimu Risa. Aku melihat dari matanya. Saat menyebutkan namamu, dia sangat berbinar."


"Aray... jangan menoreh luka sendiri. Aku tidak mempedulikan dia. Meskipun dia menginap di rumahku selama 3 malam, dan kami sering bertatap muka saat makan dan menemui ayah, tapi itu tak membuatku berpikir dia menyukaiku atau aku menyukainya. Memang aku sangat risih dengan tatapannya yang sepertimu. Tapi, aku tidak--"

__ADS_1


"Sudah... berhenti mengoceh. Aku tahu kau akan berkata demikian. Jadi, aku tak khawatir padamu. Aku memang cemburu pada Xavier. Tapi jika melihatmu yang acuh dan tidak peduli padanya, itu cukup membuatku lega."


"Terima kasih sudah mempercayaiku." Balas Arisa dengan senyum yang mengembang sama-sama merasa lega.


"Kau hanya pesan minum saja?" Tanya Rayyan selanjutnya setelah keduanya diam dan dirasa pembahasan tentang Xavier sudah selesai.


"Aku menunggumu tuan."


"Aih? Kenapa tidak pesan saja duluan."


"Kau pikir aku akan makan dengan enak saat kau masih kelaparan?" Sontak Rayyan terkekeh lalu menepuk pipi Arisa dengan gemas.


"Ternyata Xavier salah." ucap Rayyan menyipitkan mata Arisa yang seakan bertanya apa maksudnya.


"Xavier bilang kau yang beruntung mendapatkanku yang mencintaimu dengan hebat. Tapi nyatanya aku yang beruntung mendapatkanmu."


"Kalau begitu kita pasangan yang beruntung. Jangan memuji sepihak. Kalau kau tidak berjuang sampai detik ini untukku, mungkin aku masih terlarut dalam masa laluku, dan luka yang mungkin belum sembuh sampai sekarang."


"Sutttt suuttttt diam tuan. Jangan mengungkit masa laluku. Kau sendiri bagaimana? Raisa? Clara? Michelle? Hemm? Dan masih banyak lagi. Mau aku sebutkan satu-satu tuan?" Senyum ejeknya mengiringi pertanyaan mematikan untuk Rayyan.


"Mau aku cium di depan umum sekarang?" Ancam Rayyan menghentikan ocehan Arisa.


"Haih... curang." Delik Arisa mulai merajuk memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun ia kembali menoleh pada Rayyan dengan memasang wajah yang terheran.


"Eh Aray. Kalau di ingat lagi, pas Rais menikah, kak Bayu tidak datang ya?" Sontak Rayyan merubah wajah girangnya menjadi suram. Baru beberapa detik ia senang karena membuat Arisa merajuk, tapi malah di hempaskan dengan pertanyaan Arisa tentang lelaki lain.


"Tidak tahu." Jawab Rayyan memalingkan wajahnya lalu menopang dagunya dengan tangan.


"Bohong." Ejek Arisa kembali memasang wajah yang merajuk.


"Ishhh kenapa menanyakan orang lain? Aku didepanmu Risa. Kau tak menghargai perasaanku." Protes Rayyan tak kalah merajuk dari Arisa.

__ADS_1


"Ya bukan maksud membuatmu marah. Hanya saja, kan om Arya dengan ayah sudah lama dekat, kenapa om Arya dan kak Bayu tidak datang?"


"Hmmmphhh kan Bayu mau nikah, memang seharusnya tak boleh kemana-mana. Mengantisipasi hal-hal buruk terjadi. Meskipun tidak menimpa pengantin, kan musibah siapa yang tahu? Godaan mau menikah itu berat sayang. Jadi harus ekstra hati-hati dan harus pintar menjaga diri." Jelas Rayyan yang terus-terusan menghela nafas berat tanda tak ingin membahas lebih lanjut.


"Ohhh... jadi saat kau dan Rais akan menikah juga, cobaannya berat? Berapa lama tidak keluar rumah?" Rayyan mendelik yang jelas sangat menghindari percakapan konyol yang Arisa bahas sedari tadi. Rayyan lebih memilih memesan makanan dan tak menjawab pertanyaan Arisa. Meskipun pelayan sudah berlalu, namun Rayyan memilih untuk diam dan wajahnya lebih menunjukkan kekesalan agar Arisa mengerti.


"Ah aku lupa. Cobaannya ada padaku kan? Kalau saja aku tak kabur, pasti--"


"Risa diam!" Bentak Rayyan menarik semua perhatian pengunjung disana. Arisa terkejut, namun ia masih santai menanggapi bentakan Rayyan yang membuatnya menjadi tontonan pengunjung lain. Terlihat kini wajah Rayyan sangat stres, Arisa merasa bersalah karena tak mengira jika Rayyan tengah kelelahan.


"Aray maaf!" Ucap Arisa dengan suara pelan dan memalingkan wajahnya.


"Aku yang minta maaf Risa." Rayyan tak kalah pelan dengan masih memasang wajah kesal. "Aku mau, kau jangan bicara lagi tentang masa lalu. Aku akan menjadi orang yang paling menyesal karena pernah menyetujui perjodohanku dengan kakakmu." Lanjutnya kian melembut.


"Apa tadi pekerjaanmu melelahkan?" Tanya Arisa selanjutnya.


"Begitulah. Maaf ya... aku membentakmu." Ujar Rayyan meraih tangan Arisa. Arisa hanya mengangguk menanggapi, ia pun sedikit menyesal karena sudah berbicara tak jelas dan tak memikirkan kondisi Rayyan. Meskipun terlihat baik-baik saja dan ditutupi candaan, tetap saja Rayyan pasti sangat kelelahan.


. Malamnya, Rayyan kembali menjemput Arisa dan bersama-sama berangkat menuju kota Jogja. Dimana disana akan dilangsungkan acara pernikahan Bayu.


"kau juga ikut Rayyan?" Tanya Raisa yang menyusul Arisa ke mobil.


"Oh tentu saja. Aku tak mau membiarkan adikmu ini datang tanpa pendamping ke acara pernikahan mantan pacarnya." Jawab Rayyan dengan tegas namun terselip nada emosi.


"Eh... siapa mantan pacar? Dia bukan mantan pacarku ya! Jangan mengada-ngada Aray. Atau kau jangan ikut sekalian." Timpal Arisa yang langsung mengancam.


"ohhh kau mau bercengkrama dengan si Bayu jadi kau tak mau aku ikut? Begitu?"


"Memangnya aku wanita apa hah? Kalau aku berniat berpaling darimu, mungkin sejak awal aku sudah dengan orang lain." Balas Arisa tak ingin kalah berdebat.


"Kalau kalian bertengkar terus, akan aku tinggalkan sekarang!" Tegas Tio menghentikan perdebatan mereka.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2