
. Hari masih sangat pagi Zain dibuat terheran saat membuka pintu dan melihat Arisa yang berlari. Seminggu ini sejak hilangnya jejak Reza, Arisa selalu berangkat pagi. Entah apa yang ia lakukan di kantor sepagi ini, namun saat Zain telusuri, Arisa hanya berdiam diri di loby sambil memainkan ponselnya. Zain menebak Arisa tengah menunggu seseorang, dan sampai hari ini sepertinya Arisa tak kunjung bertemu dengan seseorang yang ia tunggu. Setelah pekerjaan selesai, Arisa pasti selalu ke rumah Reza. Dan hari ini pun sama, Arisa bergegas ke rumah Reza saat pekerjaan sudah selesai. Namun, tetap saja, Reza tak pernah ia temukan. Entah dorongan apa yang membuatnya berjuang mencari Reza mati-matian seperti ini. Tapi rasanya Arisa tak ingin Reza sampai salah faham kepadanya.
Karena hampir 2 pekan tak kunjung menemukan Reza, Arisa sendiri tidak fokus berkerja hingga Eva kembali memanggilnya dan menurunkan surat peringatan untuknya.
"Kamu ini niat bekerja atau tidak? Saya tahu, kamu dekat dengan pak Zain. Tapi jangan seenaknya bersikap. Disini kamu karyawan. Bukan pemilik perusahaan." Tegas Eva menegur Arisa yang menunduk.
"Memang ini perusahaanku." Batin Arisa memutar pulpen di belakang tubuhnya.
"Sekarang kamu kembali." Arisa mendelik dan berlalu tanpa basa basi. Eva hanya menghela nafas berat menanggapi sikap Arisa. Zain menyernyit saat Arisa keluar dari ruangan Eva dengan wajah yang suntuk.
"Kau kenapa? Buat masalah lagi?" Tanya Zain yang dengan acuhnya melewati Vera dan ia duduk di samping meja Arisa.
"Aku di SP 1." jawab Arisa tak kalah acuh.
"Kenapa kau jadi begini? Apa karena masalah itu?" Mendengar pertanyaan Zain, Arisa hanya tersenyum sinis lalu menatap Zain dengan tajam.
"Kakak sadar semua masalahku disebabkan karena apa. Dan kakak juga sadar kak Reza pergi pun karena siapa."
"Bukankah karena kau sendiri? Jika kau tak membiarkan Fabio masuk ke apartemenmu, Reza juga tak mungkin marah padamu."
"Haha... iya sepertinya semua memang salahku. Salahku yang sudah bertahan hidup disini. Padahal seharusnya aku saja yang mati."
"Aris." Teriak Zain menggebrak meja sekaligus. Semua mata menoleh kearahnya dan menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Aris? Siapa Aris?" Tanya Vera menghampiri Zain dan Arisa.
"Bukan urusanmu." Jawab Zain beranjak lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Hei pelacur." Arisa tak menoleh pada panggilan Vera yang beralih menatapnya sesaat setelah menatap kepergian Zain.
"Hei aku bicara padamu." Ucapnya lagi membuat Arisa kini menoleh padanya.
"Oh... ku kira kau memanggil dirimu sendiri." ~Arisa.
"Apa maksudmu?" ~Vera
"Tak mungkin kau tak mengerti maksudku." Arisa kembali tersenyum sinis lalu ia melanjutkan pekerjaannya.
"Iiihhhh awas kau ya..." geram Vera kembali ke meja kerjanya.
"Awas apa? Jalan masih luas." Balas Arisa yang masih fokus pada komputernya.
"Ihhhh...." niat hati ingin menghajar Arisa, namun Ayu teman dekat Vera menarik Vera agar tidak gegabah.
"Sudah... nanti kau kena sanksi juga. Kau mau?" Vera hanya mendengus kesal mendapati pertanyaan Ayu yang ada benarnya. Vera semakin kesal karena Arisa bersikap biasa saja dan seakan tak peduli pada perdebatannya.
__ADS_1
. Saat jam makan siang, Vera sengaja menyenggol lengan Arisa membuat makanan Arisa tumpah dan berantakan. Kemudian Arisa melempar wadah yang ia pegang dan terlihat masih ada sisa makanannya. Semua mata tertuju pada Arisa yang berlalu begitu saja dari area kantin.
Pada saat di ruangan, Arisa tersandung kaki Vera yang sengaja ia julurkan ketika Arisa melewati mejanya. Hal itu membuat Arisa terjatuh dan tersungkur ke lantai. Dan masih saja Arisa mengabaikan Vera seperti sebelumnya. Ia hanya menyeka darah yang keluar dari hidungnya dengan tangan dan berlalu ke ruangan Eva untuk menyerahkan laporannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Eva ketika memperhatikan Arisa yang terus menutupi hidungnya.
"Tidak apa-apa bu. Hanya tersandung saja dan kebetulan sampai tersungkur." Jawab Arisa santai.
"Putri... itu berdarah. Mengapa kau begitu santai? Ini tissue. Cepat bersihkan.!" Titah Eva yang mendadak khawatir karena darah dari hidung Arisa terus menerus keluar.
"Kamu punya riwayat penyakit tidak? Atau pembuluh darahmu rentan terhadap benturan?" Tanya Eva kemudian sambil membantu Arisa membersihkan darahnya.
"Emmm saya pernah kan-- ehemm maksud saya memang saya sering mimisan jika terbentur dan jika demam. Tapi saya tak tahu karena apa."
"Harusnya kamu periksa ke dokter. Takut jika ada gejala yang serius. Saudara saya juga sering mimisan seperti itu, ternyata dia kanker. Jangan meremehkan kesehatan Put... saya dengar. Kamu punya lambung yang sudah parah ya?" Mendengar itu, Arisa hanya tersenyum menanggapi dan tak menjawab dengan kata-kata.
"Saya permisi bu... laporannya sudah saya selesaikan sesuai permintaan ibu."
"Baiklah. Terima kasih ya Putri. Maaf untuk surat peringatannya." Kembali Arisa melempar senyum menanggapi ucapan Eva.
"Tak apa bu.... saya menghargai keputusan ibu. Dan maaf juga saya membuat ibu marah."
"Jika kamu ada masalah, saya tak keberatan jika kamu ingin bercerita. Kita bisa nongkrong dulu di cafe atau tempat lain setelah bekerja mungkin?" Kali ini Arisa menggeleng dan masih melempar senyum.
"Apa dia adalah Arisa? Lalu, jasad yang meninggal itu siapa?" Tanya Eva bergumam pelan pada dirinya sendiri.
. Lambat laun, berita itu semakin menyebar apa lagi dengan hadiah menggiurkan jika seseorang bisa menemukan Arisa dan membawanya ke kediaman Yugito.
Dan berita itu sampai ke telinga Reza yang kini tengah berada di villa miliknya yang jauh dari kediaman Sarah. Reza mendadak kesal dan bergegas kembali ke rumah untuk menemui sang bunda.
Sebelum ia ke rumah, Reza memutuskan untuk pergi ke kantor terlebih dahulu.
Terlihat Zain menunggu di depan kantor dan menyambut kedatangannya. Saat ia masuk, ia disuguhkan dengan pemandangan yang sangat tidak mengindahkan. Dimana tepat di loby, Arisa tengah menjambak rambut Vera didepan umum membuat keduanya menjadi tontonan karyawan disana. Zain selaku pacar dari Vera bergegas melepaskan tangan Arisa dari rambut Vera.
"Putri... apa yang kau lakukan?" Tanya Zain dengan melirik sinis pada Arisa.
"Dia yang mulai duluan." Jawab Arisa masih terdengar santai.
"Sayang..." rengek Vera mendadak bersikap manja pada Zain.
"Sesuai peraturan perusahaan, siapa saja yang melakukan kekerasan harus diberi sanksi." Ucap Zain dengan nada dingin membuat Arisa menyernyit.
"Dia yang salah. Kenapa aku yang di beri sanksi?" Elak Arisa mulai menunjukkan wajah seriusnya.
"Jelas kau yang melakukan kekerasannya." Ucap Zain tak kalah serius.
__ADS_1
"Jika dia tidak menghapus file ku untuk presentasi hari ini, aku tak mungkin melakukan ini." Ucap Arisa semakin dingin.
"Apa benar kau melakukan itu?" Tanya Zain beralih menatap Vera.
"Jawab jujur atau aku--"
"Putri!" Teriak Reza menghentikan ocehan Arisa seketika. "Ikut ke ruanganku sekarang!" Tegasnya lagi melewati Arisa dengan tanpa meliriknya sedikitpun. Dan dengan menurut, Arisa mengikuti langkah Reza memasuki lift. Didalam lift, tak sedikitpun Reza berbicara dan hanya menyisakan keheningan diantara keduanya. Arisa sendiri pun tak ingin membuka pembicaraan pada Reza karena ia pikir Reza mungkin akan mengabaikannya seperti kemarin.
Sesaat setelah memasuki ruangan, Reza duduk di sofa dan menyuruh Arisa duduk di depannya.
"Setelah pulang, pastikan surat pengunduran dirimu sudah ada di mejaku." Ucap Reza membuat Arisa mematung seketika.
"Ma-maksud kakak ap--"
"Aku bukan kakakmu." Teriak Reza menyela dan berhasil mendiamkan Arisa.
"Sebaiknya kau pulang ke rumah ayahmu. Aku tak ingin disalahkan karena keberadaanmu disini." Arisa menggeleng kasar untuk menolak perintah Reza. Bagaimana bisa Reza tega memecat Arisa dan mengusirnya seperti itu.
"Apa karena masalah ini? Kak... Aris minta maaf. Aris hanya tak bisa menahan kesabaran Aris karena dia terus mengusik Aris. Kak.... Aris mohon jangan usir Aris..." Reza memalingkan wajahnya dengan begitu acuh dan tak peduli dengan Arisa. Melihat Reza yang sudah jelas tak mempedulikannya lagi, Arisa bergegas keluar dan menahan tangisnya agar tidak pecah disana. Ia masih tak percaya mengapa Reza bisa melakukan ini? Padahal Reza tahu Arisa tak ingin pulang dan kembali pada keluarganya.
. Sampai 1 jam sebelum pulang, Reza tak mendapati surat pengunduran diri dari Arisa. Segera ia mengecek Arisa ke departemennya, namun ia tak menemukan Arisa disana. Dan menurut laporan, setelah istirahat Arisa memang tidak kembali ke ruangan. Reza mengusap wajahnya dengan kasar lalu beranjak dan bergegas pulang. Sampai di rumah, Reza menyernyit kenapa Arisa bisa ada dirumahnya dan kini menghampirinya lalu meraih tangannya.
"Kak...."
"Ku bilang aku bukan kakakmu." Teriak Reza menepis tangan Arisa dengan kasar.
"Aris tidak ingin pulang." Rengek Arisa lagi.
"Cih... kau pikir aku akan tertipu dengan air mata palsumu?" Decih Reza memalingkan wajahnya lalu melirik tajam pada Arisa.
"Za... kenapa kamu tega pada Aris?" Reza hanya mendelik dan tak menjawab.
"Bunda... Aris tak mau pulang. Aris ingin tetap disini bunda." Rengek Arisa beralih meraih tangan Sarah kembali.
"Za? Kenapa mengusir Aris?"
"Dia akan membawa masalah." Jawab Reza masih memasang wajah yang begitu dingin.
"Jika Aris pergi, bunda juga pergi." Sontak Reza tersenyum sinis mendengar penuturan Sarah.
"Oke... kalau begitu Reza yang pergi saja. Bunda urus saja anak tiri kesayangan bunda ini." Reza segera berlalu dan memasuki mobil. Dan lagi, Arisa mengejar Reza agar tidak pergi.
"Kak... jangan begini... Aris saja yang pergi." Teriak Arisa masih mengejar Reza. Namun seberapa keras pun Arisa berteriak, Reza tak mempedulikannya dan malah semakin cepat melajukan mobilnya. Arisa yang fokus mengejar mobil Reza, tak menyadari ada mobil dari. arah lain saat ia keluar dari gerbang rumah Reza. Dan, suara klakson juga teriakan Sarah terdengar begitu nyaring melihat Arisa terpental dan darah mengalir dari kepalanya.
-bersambung
__ADS_1