
. Ponsel Reza yang terus berbunyi dan ia menebak itu adalah Arisa atau mungkin Sarah. Ia mengabaikan dan terus melajukan mobilnya entah kemana. Pikirannya kosong, dan emosinya meluap, beberapa kali juga ia berteriak didalam mobil. Entah apa yang ia sesali saat ini. Rasanya Reza sangat frustasi. Apa lagi menyaksikan Sarah yang begitu menyayangi Arisa dari pada dirinya membuat Reza menyimpan amarah untuk Arisa.
"Aku akan membuatmu menderita gadis sialan. Kau mengambil adikku, lalu sekarang kau mengambil ibuku juga. Anak sial." Teriak Reza semakin cepat melajukan mobilnya.
. Zain membeku sesaat setelah ia keluar dari mobil dan melihat Arisa yang tergeletak berlumuran darah di dekat mobilnya. Bayangan kecelakaan Nadhira kini muncul seperti gambar yang mengacak dan terasa kepalanya sangat menyakitkan. Zain meraih kepalanya lalu menarik rambutnya dengan keras sambil menangis tak bersuara. Trauma terhadap kecelakaan membuatnya gila setelah kehilangan Nadhira. Meskipun Nadhira tidak langsung meninggal, gegar otak cukup membuat Zain merasa dirinya orang yang paling bersalah. Sebab ia yang membawa Nadhira dalam mobil, dan saat kecelakaan hanya Nadhira saja yang mengalami luka serius. Sedangkan Zain sendiri hanya mengalami luka di bagian dada kanannya saja. Itu pun bisa di bilang luka yang ringan. Tulangnya memang mengalami keretakkan namun tidak akan menyebabkan kematian.
Saat ini Sarah meratapi kondisi Arisa yang begitu parah. Terlihat Sarah ingin meraih tubuh Arisa, namun seakan enggan menyentuhnya.
Di waktu yang sama, gelas yang sedang Raisa genggam tiba-tiba retak. Kepalanya terasa pusing dan hatinya terasa ada yang meremas kuat hingga ia sedikit meringis memegangi dadanya. Dan gelas kopi yang akan Yugito raih malah terjatuh dan pecah berserakan. Bukan hanya itu, foto Arisa berukuran besar yang di pajang di ruang keluarga tiba-tiba terjatuh membuat Rahma dan bi Ina terkejut dan seketika saling pandang karena firasatnya mendadak tak karuan. Segera Rahma mengambil telepon rumah dan menghubungi Tio apakah Tio dan Diana baik-baik saja. Perasaannya mendadak kacau ia mengingat siapa saja yang berada dekat dengannya, namun percuma. Tak ada yang lebih dekat selain keluarganya sekarang. Dan tidak mungkin pemilik foto yang sedang mengalami hal buruk. Pikir Rahma yang kemudian berlari ke kamar Raisa. Dan segera Raisa pun menghampiri Rahma dan memeluknya karena rasa sakit di kepalanya tidak bisa ditahan.
"Ma... kepalaku sakit. Sejak tadi terus berdenyut. Padahal aku tidak terbentur." Ucap Raisa mengadu dengan menahan nyeri yang terus mengganggunya.
"Kita ke dokter ya... sekarang." Rahma menarik tangan Raisa menuju lantai bawah dengan hati-hati. Dengan cepat Yugito meraih Raisa dan Rahma sesaat setelah ia menutup pintu ruang kerja. Ia pun merasa heran kenapa bisa foto Arisa yang sudah di pasang dengan sebaik mungkin agar tidak mudah jatuh, kini bisa terjatuh berantakan tanpa sebab. Tak ada sesuatu yang menjadi pemicu jatuhnya foto Arisa membuat seisi rumah menjadi heran sekaligus takut. Karena setahu mereka Arisa memang benar-benar sudah meninggal.
. Ditengah keresahannya, Reza membuka ponsel yang sedari tadi berbunyi tiada henti. Lalu ia menjawab panggilan dari sekertarisnya, Fitri. Terasa dadanya ditikam seketika, Reza mematung saat Fitri mengabari bahwa Arisa kecelakaan dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan gawat darurat. Kondisinya kritis, detak jantungnya semakin melemah, dan kondisi kesehatannya menurun. Reza bergegas segera menyusul ke rumah sakit dan mencari keberadaan Sarah.
"Bunda bagaima--" 'plak' suara tamparan begitu nyaring menghentikan pertanyaan Reza. Ia seketika membisu saat ibunya menampar begitu keras dengan menatapnya tajam dan air mata sudah berderai begitu deras.
"Kamu puas? Kamu puas karena kamu Aris seperti ini? Ini yang kamu mau? Kenapa kamu juga tidak bunuh bunda saja? Kamu benar-benar tidak pernah mengerti perasaan bunda. Bunda bahagia dengan kehadiran Aris, tapi kamu malah mau memisahkan bunda dengan mengusir dan memecatnya dari kantor. Dan sekarang, kamu buat Aris terbaring tak berdaya."
"Bunda... Reza minta maaf..."
"Apa dengan kamu meminta maaf, kondisi Aris akan langsung seperti satu jam yang lalu? Tidak kan?"
"Bunda... Reza memang salah. Reza benar-benar menyesal. Jadi tolong maafkan Reza." Lirihnya yang perlahan membiarkan bulir bening terjatuh dari kelopak matanya. Baru kali ini Reza menangis lagi setelah kepergian Nadhira. Sarah hanya menatap pada pintu berharap tak ada apa-apa dengan Arisa. Ia masih ingin bersama anak tirinya itu. Sarah merasa bahwa Arisa adalah pengganti Nadhira yang sudah hilang dari pelukannya. Ketika melihat Arisa, Sarah merasa hatinya damai dan tenang. Namun, kejadian ini membuatnya kembali terjatuh dari sebuah ketenangan di atas awan. Ia terasa terhempas seketika ke bumi tanpa aba-aba dan firasat apapun.
__ADS_1
. Dan disaat yang sama juga, Dimas tak menemukan penyebab kenapa Raisa bisa sampai sesakit ini. Lalu, terlihat Tio bergegas memasuki ruangan dan memperlihatkan sebuah berita kecelakaan yang terjadi di Bandung satu jam yang lalu.
"Entah kenapa aku merasa ini ada hubungannya dengan Aris. Bukan tanpa alasan. Jika kejadiannya memang satu jam yang lalu, aku yang akan minum tiba-tiba gelas ku pecah tak ada penyebab." Seketika itu, Raisa pun beranjak lalu meraih lengan Tio.
"Foto Aris yang di ruang tengah juga tiba-tiba jatuh dan pecah begitu saja kak." Jelas Raisa menatap penuh harapan pada Tio. Bisa saja itu memang Arisa yang selama ini mereka cari.
"Apa yang kalian bicarakan? Aris kan sudah.... atau jangan-jangan kalian juga berpikir Aris belum meninggal?" Tanya Dimas mendadak ikut berbinar dan menatap Tio penuh harap. Namun Tio dan Raisa hanya saling pandang lalu mengangguk bersamaan. Dan Tio mengatakan pada Dimas untuk tidak berbicara apapun pada orang-orang terdekatnya. Karena selain mereka, tak ada yang percaya jika Arisa masih hidup.
"Aku akan ke Bandung. Dan aku akan memastikan sendiri." Ucap Dimas penuh keyakinan.
. Dan esoknya, Dimas benar-benar berangkat ke Bandung dan bergegas menuju rumah sakit yang mungkin lebih dekat dari area komplek tempat kecelakaan. Dan disaat yang sama, Dimas berjalan cepat sambil melihat-lihat setiap ruangan dan pasien yang ada di rumah sakit. Dan bersamaan dengan langkahnya, ia berpapasan dengan Reza yang membawa beberapa keperluan yang di minta dokter atas rujukan untuk pindah perawatan Arisa ke rumah sakit yang lebih memadai. Selain karena peralatannya yang kurang memadai, kondisi Arisa juga tak ada peningkatan setelah semalam di rawat disana.
Saat Dimas kembali keluar karena tak mendapati keberadaan Arisa, Dimas mencoba menghubungi Tio dan memberitahunya bahwa ia tak menemukan Arisa. Dimas menoleh pada ambulance yang melewatinya dengan sirine yang berbunyi keras. Ia menatap dalam pada ambulance berandai-andai didalam sana ada Arisa. Namun ia menepis pikirannya tentang Arisa dan memutuskan untuk ke sebuah taman yang dikatakan Daffa tempo hari pada Raisa. Dan lagi-lagi Dimas tak menemukan gadis yang mirip dengan Arisa. Dimas mulai merasa putus asa dan ia kembali menyalahkan dirinya yang tak bisa memahami Arisa sebelum ia pergi.
. Butuh waktu satu jam perjalanan, akhirnya ambulance yang membawa Arisa sampai di rumah sakit yang di tuju. Segera beberapa petugas membawa Arisa ke ruang pemeriksaan khusus. Reza dan Sarah tak henti berdoa untuk keselamatan Arisa.
Dokter keluar dan memanggil keluarga Arisa, dan Reza dengan cepat menghampiri tak sabar ingin tahu tentang kondisi Arisa.
"Anda keluarganya?" Tanya dokter seraya memastikan.
"Iya saya kakaknya." Jawab Reza cepat.
"Dan saya ibunya dok." Sarah pun ikut menjawab pertanyaan dokter.
"Kondisinya masih kritis, dan putri anda mengalami koma. Saya tak tahu kapan dia akan bangun. Dan seperti yang tertera di rekam medis, terdapat cidera serius di bagian kepalanya dan itu akan menyebabkan cacat bagi otak dan mungkin akan mengalami masalah."
__ADS_1
"Ma-masalah apa dok?" Tanya Reza yang tak bisa mengartikan penjelasan dokter.
"Kemungkinan jika selamat pun, putri anda akan mengalami gegar otak atau...." dokter tersebut menggantungkan jawabannya dan seakan ragu untuk mengatakannya.
"Atau apa dok?" Tanya Sarah yang ikut merasa penasaran sekaligus takut.
"Atau dia tak akan bangun." Jawab dokter menghela nafas berat.
"Ma-maksud dokter?" Reza masih tak mengerti, tapi jelasnya ia bukan tak mengerti tapi ingin dokter menjelaskan lebih jelas apa maksudnya.
"Karena cideranya begitu parah, nona akan mengalami koma dalam jangka panjang." Jawab dokter kemudian
"Be-berapa lama dok?" Namun sang dokter hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Sarah.
"Saya kurang tahu. Tapi, jangan berhenti berdoa semoga ada keajaiban pada putri anda. Saya akan bekerja semaksimal mungkin untuk penyembuhannya."
"Te-terima kasih dok." Lirih Sarah ditanggapi anggukan oleh dokter. Sarah kembali terduduk lesu saat dokter berlalu dari hadapannya. Entah bagaimana hari-harinya tanpa canda tawa Arisa. Meskipun baru sesingkat itu, namun ia sangat menikmati kebersamaannya dengan Arisa.
. Hari demi hari, Sarah habiskan untuk merawat Arisa yang tengah terlelap dan seakan enggan membuka matanya. Seringkali Sarah bercerita tentang kebersamaannya dengan Arisa yang singkat namun membahagiakan. Sampai suatu ketika, setelah tepat 2 pekan Arisa tak sadar, ia perlahan membuka mata dan melirik kesana kemari untuk memperjelas penglihatannya. Arisa menoleh ke samping ranjang dan mendapati Reza tengah tertidur menunduk sambil menggenggam tangan Arisa. Sarah membuka pintu dan seketika ia menjatuhkan makanan yang ia bawa lalu berlari menghampiri Arisa yang tengah memijit kepalanya dengan pelan.
"Nak... kau bangun?" Mendengar itu, Reza terbangun lalu menatap Arisa dengan lekat.
"Sayang... syukurlah." Lirih Sarah tak bisa membendung air matanya.
"Siapa?" Tanya Arisa membuat Sarah membisu seketika.
__ADS_1
-bersambung.