TAK SAMA

TAK SAMA
69


__ADS_3

. Hari berikutnya, Rayyan kembali ke rumah Arisa dan kembali tak mendapati keberadaannya. Yang ia temui hanyalah Raisa saja. Rayyan semakin penasaran dimana Arisa ketika melihat raut wajah Raisa yang terkejut melihatnya.


"Raisa... kenapa kau tak mengangkat teleponku? Dimana Risa? Ponselnya tidak aktif. Aku tak bisa menghubunginya." Raisa terdiam mematung mendapati pertanyaan dari Rayyan. Baginya, rasa penasaran ini cukup membuatnya merasa teriris. Tak lama lagi, Rayyan akan menjadi miliknya, namun kenapa Rayyan begitu menginginkan Arisa.


"Rayyan. Sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Kenapa kau begitu sibuk mencari kabar orang yang akan kau tinggalkan. Kau pikir saat kau pergi nanti, Aris akan benar-benar bahagia?" Tanya Raisa membuat Rayyan menyernyit kesal dan menatap tajam pada Raisa.


"Kau bicara apa? Hei Raisa! Oh maaf, maksudku. Nona Raisa Daviana Putri. Maaf... jika bukan karena Oma, aku juga tak ingin memilihmu. Selain karena aku mencintai adikmu, bukankah kau juga sudah memiliki kekasih?" Rayyan berdecih dan terlihat ekspresi mengejek pada wajahnya.


"Bukan begi--"


"Lalu bagaimana? Hemmm?"


"Kau tak mengerti."


"Apa yang aku tak mengerti?"


"Aku mencintaimu." Pecah sudah isi hati Raisa bersamaan dengan air mata yang berderai dipipinya.


"Lantas?" 'Deg' Raisa tersentak mendapati pertanyaan singkat yang tak bisa ia jawab itu. Benar. Jika Raisa mencintai Rayyan, sedangkan Rayyan sendiri mencintai adiknya, lantas apa yang ia harapkan dari hubungannya nanti. Mungkin Rayyan memang akan memperlakukannya dengan baik, tapi ia tak pernah mendapatkan kasih sayang yang seharusnya. Ia memang bersama Rayyan disampingnya, tapi hatinya pergi mencari rumah yang seharusnya ia singgahi selamanya.


"Kau benar. Aku tak perlu mengharapkanmu lebih jauh. Jadi, temuilah. Dia di rumah sakit sekarang." Ucap Raisa lirih dan berbalik kemudian setengah berlari menuju kamarnya. Raisa mengunci pintu kamar dan menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Tangisnya yang keras memenuhi isi ruangan. Ia menangis bukan hanya karena ucapan Rayyan, tapi karena beberapa saat yang lalu ia dan Fariz harus mengakhiri hubungan mereka.


Terdengar suara ketukan di pintu tak membuat Raisa menghentikan tangisnya.


"Non.... buka pintunya." Samar terdengar suara bi Ina memanggil Raisa berkali-kali. Tapi tetap saja, Raisa semakin keras menangis didalam. Bi Ina mendadak khawatir jika Raisa kembali sakit seperti dulu. Tangisannya berbeda kali ini, bi Ina menyimpulkan bahwa Raisa memang menahan sakit yang teramat menyakitkan.


"Non... non Rais tak apa?" Lagi, bi Ina berteriak namun tak ada jawaban. Segera bi Ina menghubungi Tio agar cepat pulang dari kantor.


Lama menunggu, akhirnya Tio datang dengan tergesa. Ia berlari langsung menuju kamar Raisa. Beberapa kali Tio memanggil, namun tetap saja Raisa tak menjawab sedikitpun. Namun saat Tio hendak mencari kunci cadangan, terdengar suara pintu di buka. Tio menoleh dan mendapati Raisa dengan wajah yang berantakan. Segera Tio meraih Raisa yang kini kembali menangis di pelukan Tio.


"Sudah... ada kakak sekarang." Ucap Tio menenangkan dengan mengusap lengan Raisa dengan lembut. Raisa semakin erat memeluk Tio dan tangisnya semakin menjadi. Tio menjadi bingung sendiri kenapa Raisa menangis hingga seperti ini.


"Aku ingin mati saja." Cetus Raisa disela tangisnya.


"Sut... apa yang kau bicarakan. Kakak disini. Jangan bersedih lagi."


"Aku mau bertemu Aris kak"


"Asal jangan menangis." Raisa mengangguk lalu menghentikan tangisnya dengan cepat. Dengan masih merasa penasaran, Tio membawa Raisa menuju rumah sakit dimana Arisa kini di rawat. Hampir satu pekan Arisa berbaring lemah karena lambungnya yang sudah parah dan harus menjalani perawatan khusus dari dokter.


Rayyan menatap nanar wajah Arisa yang kini terlelap dengan alis yang sesekali berkerut seakan memaksakan diri agar tertidur.


"Risa... jika tak ingin tidur, jangan dipaksakan. Aku ingin bicara sebentar." Ucap Rayyan beberapa kali mendesah kesal.


"Aku ingin tidur Aray..." Arisa tak kalah kesal menahan nyeri di bagian perut atasnya.


"Ugh...." Arisa beranjak dan terduduk menahan rasa mualnya karena asam lambung yang masih saja naik.

__ADS_1


"Hati-hati..." Rayyan membantu Arisa bersandar dengan ditumpu oleh bantal hingga Arisa dan dirinya menjadi berhadapan. Arisa hendak meraih gelas yang ada di meja samping, namun Rayyan lebih cepat mengambil dan memberikannya pada Arisa.


"Mau air hangat?" Tanya Rayyan saat tahu gelas itu berisi air dingin.


"Bo-boleh. Asal tidak merepotkanmu." Seketika itu, Rayyan mendadak tersenyum mendengar jawaban Arisa.


"Kau ini menganggapku siapa? Jika aku sudah menjadi suamimu nanti, jangankan mengambil air hangat, mengambil bintang di langit pun akan aku lakukan."


"Dihh gombal."


"Tapi kau senang. Pipimu memerah." Ejek Rayyan mencubit pelan pipi chubby Arisa.


"Ishh sakit." Rengek Arisa mendelik kesal.


"Yasudah.. bunda tunggu ayah sebentar." Lagi, ejekan Rayyan semakin membuat Arisa tersenyum tak bisa tertahan.


"Ihhh apa sih Aray..." Rayyan terkekeh melihat raut wajah Arisa yang menahan malu karenanya.


Rayyan berlalu sambil membawa gelas ditangannya. Tak lama, setelah Rayyan berlalu, Raisa membuka pintu dengan kasar lalu berlari meraih Arisa dengan memeluknya erat.


"Aris..." dan, kembali Raisa menangis pada Arisa, seolah ia akan mengadukan sikap Rayyan padanya. Namun, Raisa lebih memilih diam dan beesikap tak pernah bertemu dengan Rayyan.


"Kenapa lagi? Kau bertengkar dengan kak Fariz?" Tanya Arisa sambil meringis menahan denyutan yang membuatnya kesal sendiri.


"Aku putus dengannya." Lirih Raisa dengan nada manja merengek khas anak kecil.


"Dia bilang dia lebih memilih keluarganya, takut jika Fabio akan mengganggu hidupnya jika aku dan dia masih bersama. Dia merasa Fabio tak akan tinggal diam dengan ancamannya kemarin. Aku harus bagaimana Aris... aku takut pada Fabio." Jawab Raisa melepas pelukannya dan perlahan mengusap wajahnya yang sudah berantakan.


"Baguslah." Cetus Arisa membuat Raisa menganga tak percaya dengan ucapan singkat dan terasa konyol baginya. "Dengan begitu akan lebih mudah menyatukan Rais dan Aray" gumamnya kemudian.


"Apanya yang bagus. Kau rela aku menderita jika bersama dengan Fabio." Raisa memangku tangan menatap tajam Arisa yang terlihat santai.


"Tapi aku tak takut pada Fabio." Cetus Arisa kembali membuat Raisa menganga.


"Kau gila. Dia itu..."


"Apa? Dia manusia. Sama dengan kita. Yang berbeda, dia hanya punya kekuasaan. Dan aku benci pada orang yang hanya memanfaatkan kekuasaannya untuk menindas orang. Apa-apaan itu." Raisa terdiam mendengar penuturan Arisa yang ada benarnya.


"Tapi...."


"Risa..." panggil Rayyan menghentikan ucapan Raisa karenanya. Ia kembali memasang wajah dingin sesaat setelah mendapati Raisa didalam ruangan. Rayyan berjalan dengan dua gelas air yang berbeda.


"Ini minum. Selagi hangat. Aku sengaja membawa teh manis agar kau tak merasa mual. Setidaknya--"


"Terima kasih Aray. Aku sudah baikan." Kini giliran Arisa yang menyela sebelum Rayyan menyelesaikan ucapannya.


"Oh iya Aray. Maaf... mungkin kedepannya aku akan sulit keluar rumah. Jika Sein ingin ada yang menemani, kau ajak Rais saja." Ucap Arisa kemudian membuat Raisa dan Rayyan terkejut dan saling pandang.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Aku--"


"Jika aku ke rumah Aray dalam kondisi tubuhku tidak baik, aku akan merepotkan ayah dan bunda. Jika Sein bertanya, katakan saja aku sedang sibuk. Karena jika ia tahu aku sakit, dia pasti khawatir." Jelas Arisa kemudian.


"Risa.."


"Hoaamm... Aray aku ingin istirahat. Kata Dimas, jangan terlalu lelah." Lagi, Arisa menyela membuat Rayyan semakin kesal.


"Ohh... jadi bicara denganku membuatmu lelah? Begitu?" Rayyan meraih kedua bahu Arisa dengan tatapan tajam membuat Arisa sedikit menciut. Namun, Arisa menutup mulutnya dan mendorong Rayyan agar menjauhinya. Sesegera mungkin Arisa pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan apa yang membuatnya merasa mual. Ia merasa risih dengan kantung infus yang harus dibawa setiap ia pergi. Raisa bergegas menunggu Arisa diluar pintu dengan khawatir.


"Apa lambungnya separah itu?." Gumam Raisa menatap dalam pada pintu yang masih tertutup.


Tak lama, terdengar pintu terbuka. Raisa begitu terkejut melihat wajah Arisa yang sangat pucat.


"Rais... perih...." lirih Arisa dengan memegangi perut atasnya lalu ambruk terduduk bersandar di tembok. Rayyan segera menghampiri Arisa yang terlihat sangat lemas. Setelah kembali ke tempat tidur, Arisa tak henti meringis kesakitan dan menggenggam erat jemari Raisa sampai Raisa pun ikut meringis.


"Rayyan tolong panggil Dimas." Ucap Raisa menatap harap pada Rayyan yang tak sedikitpun menoleh kearahnya. Tak disangka, Rayyan menoleh sesaat lalu mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan menuju ruangan Dimas.


"Dim... eh Dok... kau harus ikut aku sekarang." Ucap Rayyan setelah membuka pintu dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan. Bersikap sopan sedikit."


"Arghh tidak ada waktu. Sekarang ikut aku. Risa...." belum selesai Rayyan bicara, mendengar nama Arisa, Dimas beranjak dan berdiri seakan siap untuk menangani Arisa kapanpun.


"Kenapa tak bilang dari tadi..." decih Dimas yang mendadak sibuk menyiapkan beberapa alat medisnya lalu bergegas menuju ruangan Arisa.


"Kalian bisa keluar sebentar?" Dengan terpaksa, Rayyan dan Raisa keluar dan menunggu Dimas memeriksa Arisa.


"Tak ada yang salah.. luka di lambungmu juga sudah membaik. Apa kau menjahiliku?" Tanya Dimas menyernyit menatap Arisa yang kini memasang wajah datar dan tak berekspresi.


"Setidaknya ini cukup membuat mereka keluar kan?" Arisa balik bertanya dengan menoleh pada Dimas.


"Kau benar-benar berniat menjauhinya?"


"Lantas, aku harus apa? Mempertahankannya hanya sia-sia saja Dim. Andai... andai saja Rama masih ada. Mungkin aku hanya akan mencintai Rama saja."


"Aris... cukup. Jangan terus menyalahkan takdir. Berandai-andai seperti itu tak akan membuat Rama kembali."


"Tapi..."


"Kubilang sudah.!" Tegas Dimas membuat Arisa mematung.


Dari luar, Rayyan mendadak gelisah karena Dimas tak kunjung keluar. Ia berinisiatif untuk memastikan sendiri bahwa tak ada apa-apa didalam. Namun saat ia membuka pintu, Arisa menoleh sejenak lalu kembali memasang wajah menyedihkannya dan merangkul lengan Dimas dengan manja.


"Dimas sakit..." rengeknya membuat Rayyan kesal dan mengepalkan tangannya.


"Apa yang Aris lakukan? Apa dia ingin menyaksikanku dibunuh Rayyan?" Gumamnya.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2