TAK SAMA

TAK SAMA
133


__ADS_3

. Arisa membawa 2 cangkir berisi kopi hangat menuju ruang tamu. Dengan dihiasi senyum manisnya, ia meletakkan kedua cangkir itu di meja dan kembali ke ruang tengah untuk memberikan nampan kosong pada asisten rumah tangganya.


Di ruang tamu, Arisa di suguhkan suasana mencekam dari kedua pria yang saling berhadapan dengan melempar tatapan tajam.


"Gara-gara dia, aku tak bisa pergi dengan Putri." Batin Rega.


"Dia pikir aku akan membiarkannya pergi dengan Putri? Tidak semudah itu Rega." Batin Reza sedikit menyunggingkan senyum.


"Kau tersenyum?" Rega semakin menatap tajam Reza dengan penuh curiga.


"Tidak. Untuk apa aku tersenyum padamu." Jawab Reza tak ingin kalah.


Arisa menghela nafas berat menyikapi keduanya yang seperti anak kecil ini. Ia seketika mengingat Tio dan Seno yang selalu memperebutkan posisi sebagai kakaknya. Tanpa sadar Arisa tersenyum dengan masih melekat ingatannya pada Tio. Dan hal itu berhasil membuat Rega melirik ke arahnya.


"Dia tersenyum? Apa karena melihat kami bertengkar?" Batin Rega menghentikan perdebatannya dengan Reza, kemudian ia mendadak bersikap cool. Reza menyunggingkan bibirnya mencibir Rega yang seakan ingin menarik perhatian Arisa.


"Langsung saja. Apa tujuanmu datang kesini?" Mendengar pertanyaan Reza, Rega menghela nafas berat dan mendelik kesal.


"Sudah ku bilang aku kesini ingin mengajak Putri makan malam."


"Dalam rangka apa kau mengajaknya makan malam?" Tanya Reza langsung tanpa ada jeda.


"Karena aku sudah membuat janji dengannya." Jawab Rega pun langsung tanpa adanya jeda.


"Kak... begini... daripada kakak salah faham, dan berpikir yang tidak-tidak, aku akan beritahu kakak yang sebenarnya." Ucap Arisa menyela dengan suara yang tenang.


"Putri... aku sudah bilang jangan-- hmmm hmmm"


"Sut.... suttttt" lagi, Arisa menyela dan kini dengan membungkam mulut Reza agar diam.


"Kak Rega ini mengajakku makan malam karena dia ingin meminta maaf. Dia tidak sengaja menjatuhkan kopinya sampai kaki ku." Jelas Arisa kemudian.


"Lalu? Kau mau saja?" Tanya Reza melepaskan tangan Arisa dengan paksa. "Putri. Kakak tahu otak bajingan seperti dia. Itu hanya modus. Asal kau tahu, dia ini saingan bisnis kita. Dan ini adalah cara dia untuk menjatuhkan usaha kita lewat pendekatan denganmu." Lanjut Reza membalas.


"Za... apa seburuk itu kau berpikir tentangku? Mungkin bidang kita sama, tapi apa kau pernah berpikir untuk bekerja sama denganku? Bisa jadi usaha kita lebih maju jika bersama."


"Kau pikir aku bodoh? Ibumu sendiri yang menghancurkan kepercayaanku. Kita sudah menandatangani surat perjanjian kerjasama, tapi ibumu sebenarnya ingin menjatuhkan perusahaanku. Bahkan jika perusahaan ini tidak aku bangun kembali, ibumu akan membelinya pada Yugito kan?" Arisa tercengang mendengar penuturan Reza. Ia menoleh sesaat pada Rega yang menatap sendu ke arahnya.


"Apa ini juga alasan kenapa adikmu tidak menerima tawaran makan malamku sebagai sesama pimpinan?" Tanya Rega beralih menatap Reza dengan tajam.


"Harusnya kau sadar siapa yang menolaknya disini. Adikku tidak tahu apa-apa tentangmu." Jawab Reza tak kalah tajam menatap Rega.


"Ohhh pantas saja."


"Sudah.... kenapa kalian malah bertengkar? Kak Rega mau mengajakku makan malam kan?" Tanya Arisa mengalihkan pandangannya pada Rega.


"Putri kau tidak mendengarkan kakak?" Arisa beralih menanggapi Reza.


"Kak.... perusahaan ayah dan perusahaan Pratama juga satu bidang, mereka bisa bekerjasama tanpa ada niat ingin saling menjatuhkan. Karena mereka saling percaya. Bahkan sampai aku dan Rayyan berselisih pun, mereka tetap saling memperkuat ikatan kerjasama mereka." Jelas Arisa sembari menatap Reza dengan serius.


"Jadi, kau mau bekerjasama dengannya?" Tanya Reza kini dengan nada yang lebih tinggi.


"Kenapa tidak kita coba dulu." Jawab Arisa dengan sangat santai.


"Putri...."


"Kak... kakak lebih tahu aku bagaimana." Arisa menyela dan meraih tangan Reza untuk menenangkan dan meyakinkan. Perlahan Reza melembutkan tatapannya, ia juga berpikir bahwa Arisa tak akan semudah itu percaya pada seseorang. Mengingat sikapnya yang masih acuh, mungkin Reza bisa membiarkan Arisa dekat dengan Rega, dan jelas harus di awasi.

__ADS_1


"Bagus.... aku tak mengira bahwa Putri berpikir demikian. Padahal Reza terang-terangan mengatakan semua faktanya." Batin Rega menatap kagum pada Arisa. "Jika di perhatikan, senyumnya benar-benar manis. Pantas saja seorang Rayyan Pratama sampai tergila-gila padanya. Siapa aku? Hanya penerus perusahaan kecil ibuku yang masih membutuhkan dukungan orang lain. Lagi pula, aku tak ada niat untuk menjatuhkan perusahaan Reza meskipun sudah berpindah tangan pada Putri. Dan aku hanya ingin memastikan saja rumor tentang Putri itu benar adanya atau tidak." Batinnya lagi.


"Terserah kau saja." Delik Reza memalingkan wajahnya dari Arisa. Ia beralih menatap Rega yang seperti terkejut mendapati tatapan tajam darinya.


"Kenapa kau menatap adikku begitu?" Bentak Reza.


"Memangnya apa masalahmu? Aku sedang mengagumi ciptaan tuhan yang sempurna dan sayang jika di abaikan." Jawab Rega tak kalah sinis. Terlihat Arisa tersipu dan memalingkan wajahnya karena salah tingkah. Rega tersenyum tipis melihat tingkah Arisa yang menutupi perasaannya yang sedang berbunga dengan sikap dinginnya.


. Singkatnya, Arisa berjalan sedikit di belakang Rega memasuki sebuah restoran dengan suasana outdor yang membuat Arisa merasa relaks. Rega seakan sudah menyiapkan tempat yang berbeda, ia memilih tempat dengan pemandangan malam kota yang begitu memanjakan mata.


"Ku pikir kau akan mengusirku." Ucap Rega menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum kikuk.


"Maaf ya... kak Reza memang begitu. Jangankan pada kak Rega, pada kak Zain saja dia selalu curiga." Jawab Arisa dengan memasang wajah yang tak nyaman.


"Haha aku sudah tahu. Tapi, apa yang membuatmu menerima ajakanku? Padahal sekarang sudah jam 8 lebih." Arisa tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Rega.


"Bukankah kakak yang bilang bahwa orang baik tak boleh mengingkari janjinya? Aku menerima tawaran kakak hari itu, dan itu artinya aku juga sudah berjanji akan datang bukan?" Kini Rega yang tersenyum mendapati jawaban yang dikemas dengan pertanyaan balik itu. Ia merasa rasa penasarannya malah menjadi sebuah rasa kagum pada gadis di depannya ini.


Ditengah acara makannya, Arisa tiba-tiba meletakkan alat makan dengan wajah yang terlihat bimbang.


"Ada apa? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Rega langsung menebak. Arisa menggeleng dan semakin lesu.


"Lalu?" Rega terlihat begitu kebingungan atas sikap Arisa yang tiba-tiba.


"Maaf jika aku lancang. Apa kakak sudah punya pacar?" Sontak Rega langsung tersedak mendapati pertanyaan di luar nalarnya.


"Minum kak." Ucap Arisa polos sekaligus panik memberikan air pada Rega.


"Maaf. Aku tidak bermaksud."


"A-aku... bagaimana mengatakannya ya? Aku..... apa boleh aku meminta bantuan pada kakak?" Rega tak langsung menjawab, ia menyernyit masih tak mengerti.


"Rayyan memintaku untuk datang ke acaranya." Lanjut Arisa dengan lesu.


"Lalu? Urusannya denganku apa?" Tanya Rega semakin kebingungan.


"Dia memintaku datang dengan pacarku."


"Putri... jujur aku tidak mengerti. Kau akan datang dengan pacarmu, dan mengapa meminta bantuanku?"


"Karena aku tidak punya pacar." Jawab Arisa memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena malu.


"Jadi?"


"Jadi, bisakah kau menjadi pacarku sehari saja. Setelah itu kita jadi partner bisnis. Bagaimana?"


"Kenapa pura-pura?" Tanya Rega lirih.


"Apa kak?" Pekik Arisa yang tak mendengar suara Rega.


"Ti-tidak.... aku hanya berpikir, kenapa tidak dari sekarang saja jadi pacar pura-puranya? Ya... agar kau lebih mengenalku dan tidak kaku jika ada pertanyaan tentang hubungan kita." Mendengar itu, Arisa manggut-manggut mengerti.


"Jadi kakak bersedia membantuku?" Tanya Arisa berbinar. Rega mengangguk sambil tersenyum membuat Arisa kegirangan.


"Dasar kak Reza. Kenapa membenci pada orang sebaik kakak." Ucapnya begitu saja terlontar dari mulutnya.


. Esok paginya, Arisa dibuat heran karena ia tiba-tiba kedatangan seorang pengantar pesanan, padahal ia tak memesan apapun. Sebuah bunga dan kotak berisi camilan dengan kartu kecil berupa ucapan sederhana namun berhasil membuatnya tersenyum.

__ADS_1


"Sedang apa?" Tanya Reza tiba-tiba muncul dan berhasil mengejutkan Arisa.


"Apa itu?" Arisa menggeleng kaku menghindari pertanyaan lanjutan Reza.


"Putri...."


"A-aku mau joging. Daahhhh...." ucap Arisa menyela dan langsung pergi dan memberikan bunganya pada Juna.


"Tolong simpan. Aku buru-buru." Ucap Arisa panik dan begitu ketakutan ketika menoleh pada Reza.


"Hei.... awas ya kau." Teriak Reza sangat kesal.


"Kenapa Za?" Tanya Sarah yang menghampirinya dari dalam.


"Tuh... anak kesayangan bunda. Dia kasmaran sama Rega. Padahal aku sudah memperingatkannya agar tak dekat-dekat dengan bajingan itu." Jawab Reza ketus.


"Ish jangan begitu."


"Bunda sama saja. Tidak mau mendengarkanku."


"Bukan begitu Za..."


"Sudahlah bunda. Aku mau siap-siap."


"Kau mau kemana?"


"Menyusul Putri. Aku khawatir, takut dia dimakan serigala berandalan." Mendengar candaan itu, Sarah hanya menggeleng pelan.


"Ju..... jaga bunda ya..." ucap Reza setelah ia bersiap dan kemudian berlalu meninggalkan rumah.


. Di taman, Arisa mulai lamban dari pelariannya, ia berhenti sejenak dan menghela nafas lega. Saat ia masih mengatur nafasnya, sebuah tangan menepuk pundaknya hingga refleks ia berteriak sambil menampar orang yang tiba-tiba mengejutkannya. Setelah mengetahui siapa, ia segera meraih dan memasang wajah yang menyesal.


"Maaf.... aku kira orang jahat." Ucap Arisa dengan nada memelas.


"Galak." Cetusnya sembari mengusap pipinya.


"Kau sendiri yang salah. Kenapa mengejutkanku."


"Eitsss sama pacar jangan marah." Goda Rega membuat Arisa bergidik.


"Emmm... terimakasih ya." Ucap Arisa sedikit malu-malu.


"Untuk?" Tanya Rega penasaran.


"Bunga." Jawab Arisa. Rega memasang wajah yang begitu heran.


"Bunga? Bunga apa?" Seketika senyum Arisa memudar mendengar pertanyaan Rega.


"Ada yang memberikanmu bunga? Siapa?" Arisa semakin suram dan tak menanggapi setiap pertanyaan Rega.


"Lupakan." Ucap Arisa setelah hening beberapa saat.


"Jadi, siapa yang mengirimku bunga jika bukan kak Rega?" Batin Arisa mulai berkecamuk dan menebak siapa yang berani mengirimnya bunga dengan kartu ucapan berhiaskan kata-kata manis.


"Hahaha bercanda sayang. Bagaimana? Kau suka?" Seketika Arisa terbelalak dan langsung memalingkan wajah kesal. Rega tersenyum tipis karena berhasil menjahili Arisa.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2