TAK SAMA

TAK SAMA
204


__ADS_3

. Pagi-pagi buta, Arisa sudah bangun dan membersihkan diri. Ia menyayangkan mata sembabnya yang masih terlihat gara-gara menangis kemarin. Ia mencuri-curi pandang melirik pada gaun pernikahannya yang pertama. Yakni yang berwarna putih untuk acara inti. Jantungnya berdegup keras ketika benaknya membayangkan Rayyan duduk di sampingnya dengan mengucapkan janji suci pernikahan. Belum apa-apa pun, wajahnya sudah merona, dan untung saja make up tebal ini bisa menyembunyikan wajah malunya. Ia mendengar kabar Raisa yang mungkin hanya bisa bertahan sebentar saat menjadi bridesmaid. Meski sudah di larang untuk mendampingi Arisa, namun Raisa bersikeras ingin ia seorang yang bertanggung jawab pada adiknya. Ia selalu memakai jurus andalan dengan mengatakan "jika bukan aku yang menjaga Aris, lalu siapa?" Sehingga semua yang melarangnya pun terdiam tak ingin membantah lebih jauh.


. Setelah selesai di make up dan mengenakan gaun, Tio dan Seno terpaku melihat penampilan Arisa saat jadi pengantin.


"Itu benar adikku? Akhirnya jadi pengantin juga." Ucap Tio sehingga Seno menoleh dan tersenyum dengan penuh arti.


"Tidak. Dia adikku." Tio yang awalnya tersenyum berubah ketus mendengar pengakuan Seno.


"Sudah jelas dari keturunan dan DNA nya Aris itu adikku." Tio yang tak terima dengan angkuh berdebat dan tak ingin kalah.


"Hei... dia akan jadi sepupuku juga. Kenapa kau emosi? Sudahlah berhenti cemburu. Kau sudah punya Diana. Nanti Diana yang cemburu karena kau terlalu posesif pada adikmu." Mendengar penuturan Seno ini, Tio hanya bisa terdiam dan menghela nafas dalam sejenak.


"Kau seharusnya ikut saja bersama keluargamu Seno. Keamanan sudah aku atur."


"Tak apa Tio. Aku yang ingin bertanggung jawab untuk lancarnya acara pernikahan adikmu."


"Hemmm tapi kau akan kerepotan nanti, jika ikut di keluarga pengantin pria, kau hanya perlu duduk manis sambil menikmati acara ini."


"Ini keputusanku Tio..."


"Oke baiklah. Sekarang, cepat ke posisimu!"


"Wah kau memerintahku?"


"Aku disini sebagai bosmu sekarang." Tio menyeringai penuh kemenangan, sementara Seno hanya berdecih merasa di remehkan sehingga ia pun tersenyum penuh arti membuat Tio merasa penasaran akan sikap Seno yang berubah santai.


"Kau akan membayarnya tuan Tio... tunggulah pembalasanku hahahaha." Seketika orang-orang yang berada di kamar Arisa pun menoleh ke arah Seno yang tiba-tiba tertawa lepas. Tak terkecuali Arisa yang tengah di rias, ia melirik tajam punggung Seno yang memang sudah berbalik dan berlalu dari kamarnya.

__ADS_1


"Apa dia sakit? Sakit mental sepertinya." Cetus Arisa kembali menatap cermin. Diana yang mendengar ucapan Arisa tersebut terdengar tertawa kecil sehingga Arisa meliriknya dari pantulan cermin.


"Mantan pacar kakak itu!" Ejek Arisa menghentikan tawa Diana seketika.


"Wahhh berani juga kau mengatakan itu adik bodoh. Kau lupa di sana ada kakakmu yang galak dan posesif?"


"Ouhhhh aku lupa kakak ipar cantikku...." keduanya saling melempar ejekan seakan tengah memecah suasana yang hening. Sedari tadi hanya terdengar keributan pada perias yang sibuk kesana-kemari saja.


"Akhirnya ya... nona Pratama." Kembali Diana mengejek Arisa yang tengah menatap dalam wajahnya di balik cermin dengan seksama.


"Apa aku terlihat seperti Rais?"


"Hemmmm? Tidak. Kau berbeda, kalian punya keunikan dan keistimewaan sendiri. Tapi tetap saja mau bagaimana pun, kau dan Rais tak akan terlihat beda. Kalian terlihat sama jika orang lain yang melihatnya. Tapi bagiku, kau dan Rais berbeda dari segi apapun." Arisa benar-benar terharu, ini kali pertama baginya di bedakan dengan Raisa oleh orang lain.


. Waktu bergulir, Rayyan menghela nafas dalam ketika ia memasuki pekarangan rumah Arisa yang sudah di dekorasi dengan hiasan yang megah. Ketika mobil pengantin terhenti, Rayyan di sambut khusus oleh kakak sepupunya, Seno.


"Tunggu acaramu hancur saja tuan Rayyan." Geram Seno bergumam karena menahan image di depan semua orang.


"Jangan begitu pak dosen. Dulu saat kau menikah pun, aku yang sibuk."


"Terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu."


"Apa saat kau menikah, kau juga merasa gugup?"


"Tidak. Karena aku berani. Tidak sepertimu." Seno merasa puas membalas ejekan Rayyan.


"Kau jahat sekali kak."

__ADS_1


"Sudahlah. Jangan bicara terus. Fokus saja." Keduanya terus mengobrol seraya berjalan perlahan menuju altar pernikahan. Rayyan merasa detak jantungnya semakin kencang saat melihat kedua calon mertuanya yang menyambut kedatangannya.


"Sial. Tubuhku gemetaran." Batinnya mengatur nafas agar tak terus merasa gugup.


Acara penyambutan pengantin pria dimulai, dan Arisa yang melihat dari dalam rumah pun tak kalah gugup melihat Rayyan yang begitu tegang. Namun, matanya menyipit saat melihat Rayyan tiba-tiba menatap tajam ke arah seseorang. Ketika ia telusuri, ia tersenyum konyol saat tahu siapa yang tengah berperang batin dengan Rayyan.


"Xavier." Ucapnya dengan suara pelan. Ia kemudian tertawa kecil saat Xavier dengan sengaja menggoda Rayyan dari jauh. Raisa yang tersadar pada tawa Arisa pun lantas bertanya ada apa.


"Lihat Xavier dan Aray." Sontak Raisa langsung mencari Xavier, ia ikut tertawa, bisa-bisanya Xavier menggoda Rayyan sampai begitu.


Sampai ke acara utama, Raisa menggandeng Arisa keluar dari rumah menuju altar, dimana Rayyan menunggu Arisa untuk duduk bersamanya. Rayyan menatap kagum gadis yang beberapa saat kemudian akan menjadi istrinya. Setelah Arisa duduk di samping Rayyan, keduanya saling lirik lalu tersenyum malu-malu. Raisa yang masih masa pengantin baru dengan Fariz pun terbawa suasana sehingga ia terus menggandeng tangan suaminya dengan manja.


"Hai..." sapa Rayyan yang masih terlihat malu.


"Hai juga." Balas Arisa pun dengan malu, ia tersenyum seraya menunduk menghindari kontak mata dengan Rayyan.


"Emm kau sangat cantik." Puji Rayyan membuat Arisa semakin salah tingkah.


Acara pun di mulai dan keduanya mendadak memasang wajah serius memperhatikan setiap ucapan penghulu. Xavier menatap kagum pada Arisa yang begitu anggun mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan riasan tebal yang membuat gadis cantik itu semakin menawan. Di tempat lain, Fabio pun menatap Arisa dengan dalam dan datar, seakan ia tengah berpikir keras. Jika saat itu Arisa tidak kabur, mungkin yang bersanding dengan Arisa adalah dirinya.


"Kau menyesal?" Tanya Lisa menyadarkan lamunan Fabio sehingga suaminya itu menoleh ke arahnya.


"Untuk apa menyesal?" Lisa merasa kesal dengan pertanyaan Fabio, bagaimana bisa Fabio begitu santai saat tahu dirinya yang tengah cemburu.


"Sudah ku katakan, jika dia bersamaku, belum tentu dia akan bahagia." Tutur Fabio menegaskan dengan kembali menoleh pada Arisa.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2