TAK SAMA

TAK SAMA
77


__ADS_3

. Zain menepikan mobilnya disebuah apartemen mewah. Disana juga ia tinggal selama bekerja dengan Reza. Dalam hatinya ia memaki Reza yang sangat naif. Ia seolah membenci Arisa, namun nyatanya ia malah membantunya. Tidak tanggung-tanggung, Reza mentransfer uang pada Zain sebesar 2 M. Ya mungkin Reza memang gila jika menyangkut adiknya. Meskipun biologisnya Arisa bukan adik kandung. Namun kenyataan ada Nadhira di diri Arisa membuat Reza sedikit luluh dan tidak terlalu membenci Arisa. Jika bukan karena Arisa anak dari Yugito, bisa saja Reza menerima dengan tangan terbuka kehadiran Arisa.


"Kenapa kesini?" Tanya Arisa yang tak bisa menyembunyikan perasaan herannya.


"Aku rasa, disini kau akan aman." Jawab Zain menutupi fakta bahwa Reza yang menghidupinya secara tidak langsung.


"Kak... aku hanya membawa uang 50 juta saja. Ini tak akan cukup. Apalagi apartemen mewah seperti ini."


"Sudah.... bisa di urus. Aku ada tabungan. Kau bisa pakai untuk membeli ini."


"Tidak kak jangan. Sebaiknya kakak simpan saja tabungan kakak. Jangan membantu orang sepertiku. Aku belum mendapat pekerjaan, bagaimana aku bisa mengembalikkan uang sebanyak itu." Ucap Arisa yang gelisah sendiri membuat Zain gemas.


"Dia anak orang kaya. Apapun bisa dia beli. Tapi kenapa cara bicaranya seolah ia tak memiliki apa-apa.? Apa karena semua asetnya dia tinggalkan dirumahnya? Ahhh apapun itu aku harus bisa membuatnya tinggal disini. Ini akan lebih mudah aku menjaganya. Takut jika suatu saat ada pihak Yugito yang menemukannya jika dibiarkan di luar sendirian." Batin Zain yang menatap kosong pada Arisa yang sedari tadi melambaikan tangannya dan memanggil namanya.


"Ishhh kakak malah melamun. Ayo kak. Kita cari kosan saja. Aku tidak tahu daerah ini."


"Aku tinggal disini." Ucap Zain singkat membuat Arisa membisu.


"Ya sudah.. aku cari sendiri saja. Ma-maaf merepotkan." Arisa mengusap lehernya dengan salah tingkah lalu hendak mengambil tas nya.


"Ehhh... jangan! Berbahaya jika pergi sendiri. Percayalah kau akan aman jika disini. Aku khawatir jika kau hidup sendiri, nanti ada seseorang yang mengenalimu bagaimana?"


"Tapi..."


"Sudah jangan pikirkan masalah uang. Aku masih ada sisa untuk bertahan hidup. Kau tenang saja." Lagi, Zain membujuk agar Arisa ikut dengannya.


"Sudahlah. Ayo.. akan ku perlihatkan apartemen untukmu. Kemarin di seberang dan di samping punyaku ada yang masih kosong, coba kita tanya apakah masih ada." Zain mengajak Arisa memasuki apartemen dan mulai mengurus apapun yang diperlukan.


Setelah semuanya selesai, Zain meminta nomor rekening Arisa untuk memberikan sisa uang yang digunakan.


"Ke-kenapa sebanyak ini kak?" Pekik Arisa yang terkejut dengan jumlah uang yang di transfer oleh Zain.


"Kamu simpan. Siapa tahu butuh."


"Ta-tapi kak..."


"Jangan banyak tapi... besok aku akan mengantarmu membeli beberapa keperluan yang kau butuhkan, sekarang aku harus kembali ke kantor. Nanti Reza bisa murka jika aku terlalu lama."

__ADS_1


"Baiklah... aku juga akan beres-beres disini." Zain mengangguk lalu berbalik meninggalkan Arisa. Saat hendak berbelok menuju lift, Arisa dengan ragu memanggil Zain membuat Zain berhenti dan menoleh padanya.


"Terma kasih" ucap Arisa tersenyum hingga Zain salah tingkah dan wajahnya merona. Kemudian ia memalingkan wajahnya dengan sok cool. Padahal hatinya terasa berbunga-bunga.


"Oh. I-iya sama-sama." Ucapnya yang berlalu meninggalkan Arisa. Di dalam lift, Zain menyentuh dadanya dengan nafas terengah.


"Kenapa? Kenapa kau seperti Nadhira?" Lirih Zain dengan terlintas semua kenangannya dengan Nadhira.


. Berita kematian Arisa sampai ke telinga Wina. Ia yang tak memenuhi janjinya saat itu merasa bersalah karena tak bertemu dengan Arisa di waktu terakhir. Rasa sesalnya kini mulai memenuhi pikiran dan hatinya. Wina menangis sejadi-jadinya di kamar kosan miliknya. Sampai ia memutuskan untuk kembali ke ibu kota.


. Sudah satu pekan Arisa tinggal di samping apartemen milik Zain. Sesuai kesepakatan, agar Arisa tak terlalu merasa tak nyaman, setiap pagi dan malam, Arisa selalu membuatkan Zain makanan. Namun itu tak berlaku saat pacar Zain ada berkunjung ke apartemennya.


Zain membantu Arisa untuk memasukkan beberapa lamaran ke setiap perusahaan yang mungkin membuka lowongan. Disaat yang sama, Zain juga membujuk Reza agar Arisa bisa kerja di perusahaannya. Namun, Reza sengaja membiarkan Arisa berusaha sendiri sampai akhirnya ia sendiri yang meminta Arisa bergabung di perusahaannya. Sempat Arisa ragu, namun akhirnya ia menyetujui ajakan Reza.


"Ubah nama dan penampilanmu agar orang lain tak menyadari itu dirimu." Ucap Reza sebelum ia berlalu dari apartemen Arisa. Jujur, Arisa sangat merindukan Tio saat ini. Ingin rasanya ia memeluk Tio dan berkata bahwa ia sangat merindukannya. Arisa hanya bisa memandangi foto Tio yang ia pajang di lemari ruang tengah. Sedangkan foto orang tuanya, ia simpan di dinding dengan ukuran besar. Untung saja semua berkas sudah ia salin sebelum mematikan ponselnya. Kemudian ia memutuskan untuk membeli ponsel baru agar tak mudah di lacak oleh keluarganya.


. Wina bergegas menuju rumah Daffa sesaat setelah ia turun dari kereta. Daffa membuka pintu dengan wajah sendu.


"Win?" Lirihnya kemudian memeluk Wina dengan erat.


"Aris Daf.... ini bohong kan?" Tanya Wina tak kalah lirih, terdengar ia terisak kecil dengan sesak di dada.


"Daf... aku ingin ke makamnya." Seketika Daffa melepaskan pelukannya dan mengangguk sambil menyeka air matanya.


Mereka bergegas menuju makam, dan Wina bertemu dengan Raisa yang sedang menabur bunga. Lutut Wina mendadak lemas, tubuhnya pun mendadak gemetar saat melihat nama temannya terukir rapi di batu nisan. Kemudian Wina ambruk dan menangis sesenggukan dengan menutupi wajahnya.


"Kenapa kau pergi? Bukankah kau berjanji akan tetap hidup sampai aku pulang?" Ucap Wina yang meraih batu nisan dengan nafas yang tersenggal.


"Wina.." lirih Raisa ikut menangis melihat Wina yang begitu terpukul saat ini. Wina menatap Raisa dalam, ia seakan sedang menatap Arisa, dan ia seakan tak menerima kenyataan bahwa Arisa sudah tiada.


"Bo-bolehkah aku memelukmu?" Tanya Wina ragu karena baginya Raisa sangat berbeda dengan Arisa. Raisa mengangguk pelan menanggapi. Dan secepat kilat, Wina memeluk Raisa dengan tangis yang semakin menjadi. Begitupun Raisa yang membalas pelukan hangat Wina. Ia merasakan kehangatan dari seorang teman yang mungkin berbeda dari temannya.


"Terima kasih Wina.... kau sudah menjadi teman terbaik Aris." Lirih Raisa membuat Wina semakin keras menangis. Baginya, Arisa bukanlah sekedar seorang teman.


. Sampai beberapa bulan berlalu, Arisa sudah menjadi bagian dari perusahaan Artaris (cabang) dengan jabatannya sebagai staf di bagian keuangan. Selain karena Arisa pemiliknya, Reza merasa lebih mempercayai kemampuan Arisa di bidang itu dan meminimalisir tindakan korupsi.


"Put... bisakah kau memberikan ini pada pak Reza?" Tanya Eva, sang manager di departemennya.

__ADS_1


"Baik bu." Jawab Arisa menurut kemudian membawa berkas dengan map biru itu menuju ruangan direktur.


"Siang Putri." Sapa seorang staf dari departemen lain yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Siang." Jawab Arisa tak kalah ramah.


Putri Fandhiya, itulah nama yang kini ia gunakan. Dikenal sebagai pegawai yang baik, ramah, cantik dan berwibawa. Sikapnya yang dingin namun ramah membuat semua karyawan yang mengenalnya sangat menyukainya. Rambut sebahu yang hitam pekat dengan kacamata dan tahi lalat kecil di bawah mata kiri membuatnya semakin terlihat manis. Jelas itu hanyalah eyeliner yang ia pakai untuk membuat tahi lalat palsu. Anak baru, namun sudah populer. Ia merasa menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dari Arisa yang dulu. Meskipun berat, namun ia harus merelakan rambut kesayangannya yang dulunya sepinggang, kini hanya tinggal sebahu saja.


"Permisi..." ucap Arisa saat masuk ke ruangan direktur dan mendapati Reza disana.


"Kak. Eh pak. Ini berkas laporan keuangan bulan ini dari bu Eva." Ucap Arisa kemudian meletakkan dokumennya di meja Reza. Setelah itu, Arisa pergi tanpa pamit karena tahu sifat keras dari Reza.


"Aris. Maksudku Putri." Panggil Reza menghentikan langkah Arisa yang sudah meraih pintu. Ia berbalik namun tetap diam ditempat menatap kearah Reza.


"Malam ini kau tunggu aku lembur. Bunda mau bertemu denganmu." Ucap Reza yang memalingkan wajahnya. Arisa hanya mengangguk menanggapi ucapan Reza. Kemudian Arisa keluar dari ruangan dan kembali ke tempat kerjanya. Saat keluar dari lift, tak sengaja ia menabrak salah satu karyawan membuat berkas-berkasnya jatuh berantakan.


"Maaf..." lirih Arisa membantu membereskan, dan seketika itu Fahri mendongak mendengar suara yang sangat familiar. Saat menatap wajah Arisa, ia benar-benar terkejut karena wajahnya memang Arisa.


"Arisa?" Dan, Arisa terbelalak mendengar siapa pemilik suara yang sangat ia kenal.


"Kak Fahri?" Gumamnya tanpa mendongak membalas tatapan Fahri. Ia segera membereskan berkasnya dan memberikannya pada Fahri dengan melempar senyum.


"Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Arisa.


"Tidak mungkin. Kau masih hidup?" Tanya Fahri mencoba menyudutkan Arisa dengan pertanyaan-pertanyaannya.


"Ma-maaf kak.. sa-saya...." belum selesai Arisa bicara, Fahri meraih id card milik Arisa, lalu terlihat raut wajah kecewanya saat nama Putri Fandhiya yang ia lihat.


"Maaf saya salah orang." Ucap Fahri yang berlalu memasuki lift. Arisa menghela nafas lega kemudian meraih dadanya yang mendadak sesak.


"Bukannya kerja, malah santai disini." Sindir Vera yang tiba-tiba berada di belakang Arisa. Arisa mendelik karena malas meladeni Vera yang menurutnya sangat menyebalkan. Dia selalu mencari masalah dengannya sejak pertama Arisa bekerja.


Arisa berbalik dan melangkah meninggalkan Vera yang ternganga dengan sikap Arisa yang berbeda. Biasanya Arisa selalu membalas ejekannya.


. Begitupun dengan Raisa yang kini menjabat sebagai sekertaris presdir, yang tak lain adalah Tio. Sikapnya kini berubah 180 derajat, Raisa menjadi dingin dan seolah tidak memiliki emosi. Sama halnya dengan Arisa dulu. Sejak kepergian Arisa, Rahma juga tak bisa mengendalikan Raisa. Yugito memutuskan untuk lepas tangan atas perusahaan dan menyerahkan pada Tio dan Raisa.


"Kau menjemputku?" Tanya Raisa saat mendapati Rayyan di depan loby.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2