
"Bunda.. kapan Sein di oksigen? Bukankah tadi tidak?" Tanya Rayyan sesaat setelah ia memasuki kamar Seina. Suaranya pelan dan begitu hati-hati agar Arisa tak mendengar.
Sonya membawa Rayyan menjauh dan berbincang berdua tanpa harus melibatkan Arisa.
"Sejak kau memutuskan panggilan. Kau pikir Sein tidak menangis karena kecewa? Dan bagaimana bisa Risa ada disini? Bagaimana dengan Raisa? Bunda memintanya datang karena bunda pikir kau sedang bersama Raisa."
"Maaf bunda. Aray yang salah. Dan nanti akan Aray jelaskan pada Raisa."
"Tapi kau lihat sekarang. Risa menangis pasti karena bunda mengira dia itu Raisa. Dan Sein pun sudah ragu pada Risa."
"Kakak benar kakak putri kan?" Tanya Seina ragu.
"Iya sayang. Ini kakak putri." Jawab Arisa meyakinkan keraguan Seina. Rayyan menatap nanar pada Arisa yang seakan melepas kerinduannya pada Seina.
"Sein...." panggil seseorang yang begitu familiar terdengar di ambang pintu kamar Seina. Sontak Rayyan dan Sonya menoleh kearah pemilik suara.
Terlihat Raisa terengah sambil memegangi dadanya karena sesak.
"Raisa?" Lirih Rayyan langsung menoleh pada Arisa.
"Aris?" Raisa menyernyit mendapati Arisa berada di sana. Bagaimana bisa? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dibenak Raisa.
"Bahkan dia menyuruh Raisa datang juga." Batin Arisa yang enggan memperlihatkan wajahnya pada Raisa.
"Sein mau kakak putri..." rengek Seina yang semakin melemah dan perlahan ia terlelap di pangkuan Arisa.
"Sein? Kau tidur?" Tanya Arisa mulai panik. Beberapa kali Arisa mengguncangkan tubuh Seina, namun tak kunjung terbangun. Rayyan berlari dan langsung meraih Seina yang masih berada di pangkuan Arisa.
"Aray... cepat bawa Sein..." titah Sonya yang menahan dirinya untuk tidak panik. Segera Rayyan membawa Seina keluar dari kamarnya dan langsung di susul oleh Sonya dengan meninggalkan Arisa dan Raisa.
Di waktu yang sama, Arisa yang hendak menyusul Rayyan pun, terduduk kembali di kasur karena kepalanya yang berputar.
"Sial... jangan lagi." Batinnya sambil memaksa matanya agar tetap terbuka dan memijit pelipisnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Raisa yang segera menghampiri Arisa.
"Tidak tidak. Aku baik-baik saja." Jawab Arisa menepis pelan tangan Raisa.
Ketika Arisa hendak menyusul Rayyan, dengan cepat Raisa menarik tangan adiknya hingga Arisa sendiri terhenti paksa.
"Kau ikut denganku." Ucap Raisa dengan suara tegas.
"Mau apa? Mengintrogasiku karena aku bisa ada disini?"
"Aris... aku ingin bicara."
"Bicara apalagi?" Delik Arisa dengan menghela nafas malas.
"Tidak kah kau ada setitik inginmu untuk bisa berjalan berdampingan denganku? Aku perhatikan, sedari dulu kau selalu menghindariku. Apa lagi setelah aku mengidap penyakit itu, kau berubah. Sejak hari itu aku merasa kau bukan lagi Arisa adikku."
"Iya... memang. Aku bukan lagi Arisa. Baguslah jika memang kau menyadarinya." Lagi, Arisa begitu acuh terhadap Raisa.
__ADS_1
"Aris. Mau sampai kapan? Kita itu--"
"Apa? Kembar? Sama? Tidak Raisa. Sudah berapa kali aku katakan, kita tidak sama." Tegas Arisa menyela cepat kemudian berlalu terlebih dahulu menyusul Sonya.
"Bahkan kau dan Aray pun masih sedekat dulu." Batin Arisa meraih dadanya pelan. Rasanya terasa perih.
Ketika Arisa melangkahkan kakinya diteras rumah, terlihat Rayyan menunggunya dengan beberapa kali melirik jam di tangannya. Saat Arisa hendak kembali berjalan, tangannya ditarik tiba-tiba oleh Raisa dari belakang.
"Aris akan pergi denganku." Ucap Raisa setengah berteriak. Dan dengan tanpa basa-basi, Rayyan mengiyakan ucapan Raisa. Rayyan memasuki mobil dan melaju meninggalkan rumah dan Arisa yang tengah merasa kesal. Dengan tanpa melepaskan genggaman tangannya, Raisa membawa Arisa menuju mobil dan segera melajukan sebelum Arisa berniat kabur.
"Ini bukan jalur ke rumah sakit Rais." Protes Arisa sedikit berteriak. Sontak Raisa menyernyit dan langsung menoleh pada Arisa di sampingnya.
"Bagaimana kau tahu? Bukankah kau amnesia?" Kini giliran Arisa yang terkejut.
"A-aku.... ka-kak Tio mengajakku berkeliling di jalur ini. Ja-jadi aku sedikit ingat." Jawab Arisa terbata karena mendadak gugup.
"Kenapa kau gugup?"
"A-aku tidak gugup." Jawab Arisa membentak.
"Aris." Raisa tak kalah membentak membuat Arisa terdiam dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Hal itu semakin membuat Raisa yakin bahwa Arisa sudah mengingat meskipun hanya setitik ingatan yang terlintas.
Raisa memberhentikan mobilnya tepat di sebuah taman kecil yang terdapat sebuah ayunan di bawah pohon yang kini daunnya tengah menguning.
"Kau ingat? Kenapa kau terus memalingkan wajahmu? Apa tidak ada sedikitpun, atau bahkan setitik saja ingatanmu tentang aku? Meskipun kau selalu bilang kita ini tak sama, tapi kita kembar, nyata, dan mustahil jika kau tak ada ikatan batin denganku. Jikalau pun memang tidak, itu mungkin hanya egomu saja yang tak mau di samakan denganku." Raisa meraih kedua bahu Arisa dengan tatapan tajam dan ia benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Rasa sesal dan kecewanya berbaur menjadi satu.
"Harusnya aku tak pernah hidup, harusnya aku mati saja karena kanker dulu. Dengan begitu, aku tak akan merasakan kesedihan karena aku tak bisa bersamamu. Jika boleh jujur, aku mau kita seperti dulu, dimana kau selalu tertawa lepas dan hanya berdua denganku. Kita menangis bersama karena kak Tio yang selalu sibuk sendiri. Tidak dengan sekarang. Kau menangis karena ayah dan mama hanya memperhatikanku. Dan aku menangis karena kak Tio hanya memihak padamu." Lanjut Raisa yang perlahan melepaskan tangannya dari bahu Arisa, lalu ia menangis sesenggukan dengan menutupi wajahnya. Terasa sebuah tangan merangkul hangat tubuhnya dan Raisa semakin keras tangisannya.
Dering ponsel Arisa berbunyi dan ia segera meraih dan dengan ekspresi terkejut, Arisa menggeser layar ponselnya.
"Ha-hallo." Ucapnya gugup.
"Putri. Kau kemana? Kenapa baru di angkat? Dan mengapa kau memakai jet pribadi? Jangan bertindak macam-macam Putri. Bunda akan khawatir." Omel Reza tanpa memberi jeda untuk Arisa setidaknya menjawab satu saja pertanyaan darinya.
"Ma-maaf. A-aku ada urusan mendadak." Jawab Arisa terdengar manja.
"Urusan apa? Kenapa tidak memberitahu ku sebelumnya?"
"Mendesak kak."
"Kau selalu saja menjawab."
"Aku akan pulang setelah ini."
"Jam berapa?"
"Jam 5 sore."
"Oke aku tunggu di landasan." Setelah mengatakan hal itu, Reza memutus sambungan teleponnya.
"Kau mau pergi lagi?" Tanya Raisa masih terisak pelan.
__ADS_1
"Iya nanti sore."
"Kenapa? Rumahmu disini. Keluargamu juga disini? Untuk apa kau kembali ke sana?" Mendapati pertanyaan beruntun itu, Arisa hanya menggeleng pelan sambil melemparkan senyum paksa. Entah itu senyum menutupi luka atau memang senyum miris karena nyatanya rumah yang Raisa maksud itu tak pernah menjadi tempat ternyaman untuknya.
"Maaf Rais. Rumahku sekarang bukan disini." Ucap Arisa yang langsung berbalik membelakangi Raisa dengan tatapan yang menunduk.
"Lalu dimana rumahmu hah?" Arisa tersentak dan seketika langsung menatap kedua mata elang yang begitu tajam menatapnya.
"Apa kau tak tahu, disini semua orang mengharapkan kepulanganmu?" Lanjut Tio meraih pundak Arisa yang memalingkan wajahnya menghindari kontak mata dengan kakak sulungnya itu.
"Tapi mama tidak." Lirih Arisa diiringi bulir bening yang mengalir deras di pipinya. Dadanya terasa sangat sakit ketika mengingat tentang ibunya.
"Siapa bilang?" Tio tak kalah lirih melempar pertanyaan singkatnya.
"Kenapa kakak ada disini?" Tanya Arisa kembali mendongak dan membalas tatapan Tio.
"Kau pikir aku bodoh? Aku mendengar suaramu di mobil Rais."
"Aku lupa..." rengeknya menjadi manja.
Melihat Tio yang merentangkan tangannya, segera Raisa berlari dan memeluk Tio dan Arisa sambil masih sesenggukan.
"Kau ini kakakku. Kenapa kau menangis terus?" Ejek Arisa pun ikut membalas pelukannya.
"Diam kau. Kau pikir aku menangis karena siapa?" Balas Raisa memalingkan wajahnya dari Arisa.
"Bertengkar saja terus." Ucap Tio mendiamkan kedua adiknya hingga tak ada lagi yang bicara.
. "Risa dimana bunda?" Tanya Rayyan yang masih panik.
"Bukankah tadi dengan Raisa?" Sonya balik bertanya. Ia pun merasa aneh karena Arisa dan Raisa tak kunjung sampai menyusul mereka.
"Apa ada sesuatu di jalan? Bunda. Aray cari mereka dulu." Tutur Rayyan yang langsung beranjak dari duduknya. Saat hendak melangkah, Sonya refleks menarik tangan Rayyan dan membuatnya tak jadi pergi.
"Kenapa bunda?"
"Jangan nak. Bunda rasa, Raisa yang sengaja tidak sampai kesini."
"Apa maksud bunda?" Tanya Rayyan yang tak bisa mencerna ucapan Sonya.
"Tak mungkin kau tak mengerti Aray. Selain karena Risa yang hilang ingatan, bukankah karena hubungan kau dan Raisa yang membuat Risa mengembalikan kalung keluarga kita?" Dan, kini Rayyan paham dan ia terdiam, tatapannya yang tajam kini semakin sayu dan sendu membenarkan apa yang dikatakan Sonya.
"Tapi bunda... Sein..."
"Jangan egois Aray. Bunda tahu yang kau harapkan dari hadirnya Risa sekarang bukan semata karena Sein. Tapi memang karena kau yang menginginkannya ada disini kan?" Rayyan semakin menunduk, sekali lagi ia membenarkan ucapan Sonya.
"Aray... bunda tahu kau sangat mencintai Risa. Dan bunda juga sudah merestuinya. Tapi, bunda tak yakin Oma akan memberi restu padamu dan Risa jika tahu Risa sudah mengembalikan kalung itu." Lanjut Sonya kini terdengar lesu.
"Selama Oma tak tahu, hubunganku dan Risa akan baik-baik saja bunda. Dan jika pun memang Risa sudah memiliki kekasih yang lain, aku tak akan menyerah sebelum ada berita pernikahannya dengan pria lain." Balas Rayyan mendadak bersemangat. Sonya hanya menatap datar wajah Rayyan yang sangat berbeda pada Arisa. Tatapan dan perlakuan Rayyan terhadap gadis lain sangatlah dingin, termasuk pada Raisa.
"Apa? Gadis itu berani mengembalikan kalung keluarga Pratama setelah dia terpilih sebagai menantu keluarga kita? Berani sekali dia." Ucap Oma Galuh tiba-tiba yang berhasil mengejutkan Rayyan dan Sonya. Mata ibu dan anak itu terbelalak karena tak menyangka akan kehadiran Oma Galuh di sana.
__ADS_1
-bersambung.