TAK SAMA

TAK SAMA
41


__ADS_3

. "Aris benar-benar tak sengaja ma... Tio yang salah." Ucap Tio mendadak nada bicaranya penuh emosi.


"Nada bicara seperti apa itu? Apa mama pernah mengajarkanmu tidak sopan pada mama?" Rahma melirik tajam pada Tio yang terdiam mendengar teguran ibunya.


"Maaf ma.. Tio yang salah. Jangan memarahi Aris. Jika saja Tio tak banyak becanda, mungkin Aris akan memperhatikan jalan dan tidak menabrak mama." Jawab Tio menundukan pandangannya.


"Kenapa kau selalu membuat masalah? Kenapa kau tak seperti Raisa yang bisa diatur. Semakin lama, kamu semakin tak terkendali." Ucap Rahma dengan nada tinggi dan Arisa beranjak lalu pergi tanpa bicara dan melajukan mobilnya dengan cepat.


"Aris..." panggil Tio yang mengejar Arisa sampai depan rumah dan berdecak kesal menatap kepergian Arisa. Tio kembali menghampiri Rahma yang masih membereskan pecahan kaca yang berserakan dan di bantu oleh bi Ina.


Raisa menyaksikan apa yang terjadi di lantai bawah. Dirinya terdiam melihat wajah Arisa yang mungkin menahan diri karena ucapan ibunya.


"Mama keterlaluan." Ucap Tio dengan kesal melewati Rahma begitu saja. Tio kembali keluar dari kamarnya dengan mengenakan jaket sambil setengah berlari dan lagi-lagi hanya melewati Rahma tanpa bicara. Yang tak di ketahui Tio, kini Rahma tengah menatap tajam pada tangannya dan bulir bening terus menetes dari kelopak matanya.


"Bu..." panggil bi Ina.


"Bi tolong bereskan." Ucap Rahma kemudian beranjak dan berlalu kedalam kamar.


"Haruskah aku pergi agar Arisa bisa mama perhatikan sepenuhnya." Gumam Raisa yang perlahan menuruni tangga.


"Mau kuliah?" Tanya Yugito yang menutup pintu ruang kerjanya. Yugito keluar setelah memastikan keributan di ruang tengah sudah mereda. Karena jika Yugito keluar saat Rahma tengah memarahi Aris, mungkin akan ada yang tak bisa menahan diri untuk meluapkan emosinya disana.


"Aku sudah sembuh ayah." Ucap Raisa menoleh sesaat pada Yugito.


"Ya sudah hati-hati." Yugito kembali memasuki ruang kerja dan menutup pintu rapat-rapat.


Raisa bergegas pergi ke kampus dengan di antar oleh mang Ujang atas perintah Yugito sendiri.


"Bahkan ayah tak melarangku pergi kuliah setelah aku keluar dari rumah sakit. Padahal saat Aris yang sakit, ayah sempat mempertanyakan kesehatannya. Ya Tuhan.. apa yang aku pikirkan? Mengapa aku merasa cemburu pada Aris, sudah jelas yang harus cemburu itu Aris padaku. Bukan malah sebaliknya. Wajar saja jika ayah mengkhawatirkan Aris. Aris juga putri kandungnya. Bukan aku saja." Gumam Raisa yang menerawang keluar dan sesekali menggeleng kasar karena pikiran bodohnya.


. Tio masih mengejar mobil Arisa yang semakin cepat. Namun Tio merasa heran dengan keterampilan mengemudi adiknya yang dengan mudah menyalip mobil lain dengan cekatan.


"Siapa yang mengajarimu jadi pembalap Aris?" Tanya Tio yang menatap arah mobil Arisa. Tio tak menyadari jalan mana yang sedang ia lewati karena fokus menatap mobil Arisa. Sampai Tio tersentak ketika menyadari bahwa ini bukan kearah kampus Arisa. Tio bertanya-tanya apa yang akan Arisa lakukan pergi ke perusahaan Artaris.


Arisa keluar lalu berlari menuju lift yang ada diparkiran bawah.


"Aris tunggu." Teriak Tio saat mengejar Arisa yang kini sudah menutup pintu lift.


"Sial." Cetusnya kemudian memasuki lift lain. Tio segera menghubungi beberapa team keamanan untuk memantau kemana Arisa pergi. Sampai sebuah laporan mengatakan bahwa Arisa menuju atap gedung. Tio panik dan sesegera mungkin menelepon Arisa namun tidak ada jawaban.


"Arisssss... jangan bodoh." Lirih Tio terus memanggil nomor Arisa.


Arisa berjalan ke tepi pembatas diatas gedung dan menatap datar pada kota yang terhampar luas.


"Nadhira.... aku ikut denganmu..." teriak Arisa kini menunjukan wajah menyedihkannya.


"Kenapa kau malah memberikan hatimu? Kenapa kau malah mengorbankan hidupmu untuk orang yang ingin mati sepertiku. Harusnya kau yang hidup. Harusnya aku yang mati. Nadhira... Rama....." teriak Arisa lagi kemudian terduduk berpegang pada pembatas dengan air mata yang masih berderai. Arisa merasakan ada sebuah cairan lembab dihidungnya, dan benar saja, darah pekat kembali membuat Arisa terkejut. Pandangannya kabur, samar terdengar seseorang memanggil namanya dan semakin dekat. Namun suara itu kian terasa menghilang, bersamaan dengan hilangnya kesadaran Arisa sendiri. Tio secepat mungkin meraih kepala Arisa agar tak membentur tembok. Wajah paniknya tak bisa disembunyikan saat melihat darah di hidung dan tangannya.


"Aris..." lirih Tio yang mendadak tubuhnya menjadi lemas seketika.


"Tuan..." panggil beberapa team keamanan yang menyusul Tio.


"Siapkan ambulance cepat." Tegas Tio.


"Baik tuan." Jawabnya kemudian memanggil team medis untuk menyiapkan ambulance perusahaan. Tio beranjak lalu membawa Arisa kembali ke bawah.


"Apa yang kau pikirkan Aris? Apa ucapan mama begitu melukai hatimu?" Gumam Tio menggertakkan gigi dengan air mata berderai di kedua pipinya. Para bawahannya menyadari bahwa Tio tengah menangis dan marah namun tak seorang pun berani membuka mulut sekarang.


"Ada yang bawa tissue?" Tanya Tio tanpa menoleh.

__ADS_1


"Maaf. Tak ada tuan." Jawab salah satu.


"Sekalian siapkan tissue didalam ambulance." Titah Tio dengan suara sedikit serak.


"Ba-baik tuan." Jawabnya lagi kemudian kembali menghubungi team medis untuk menyiapkan apa yang Tio butuhkan.


Tio bergegas setengah berlari setelah pintu lift terbuka. Ambulance pun sudah berada didepan loby perusahaan. Dengan cepat Tio masuk dan kemudian membersihkan wajah Arisa. Tio tak bisa menyembunyikan ekspresi paniknya dan pikirannya tak lepas dari bayangan kematian.


"Jangan pergi Aris... cukup Nadhira saja yang meninggalkan kakak." Lirih Tio menggenggam erat tangan Arisa.


. ### Sampai di rumah sakit, Arisa dibawa ke ruang pemeriksaan, namun Tio tak mendapati Dimas disana. Tio menelepon Dimas dan menanyakan keberadaannya.


"Aku di klinik." Jawab Dimas setelah panggilan tersambung.


"Ishh... kenapa tak ke rumah sakit?" Delik Tio menghela nafas malas.


"Siapa yang sakit?" Tanya Dimas kemudian.


"Aris." Jawab Tio singkat.


"Hah?" Teriak Dimas memekik telinga Tio.


"Kau gila? Telingaku bisa rusak karena suaramu sialan." Ucap Tio yang menjauhkan ponselnya.


"Aku ke sana sekarang." Ucap Dimas kemudian menutup panggilan teleponnya.


"Dim... hallo... Dim... mati?" Tio kembali menghela nafas panjang ketika menatap Arisa dari balik kaca.


Kemudian dokter menghampiri Tio setelah memeriksa kondisi Arisa.


"Bagaimana dok?" Tanya Tio masih panik.


"Benarkah? Ke-kenapa mimisan? Apa benar baik-baik saja?"


"Nona hanya panas dalam dan kelelahan. Dan... apa nona pernah di operasi?"


"Iya dok. Adik saya sedang masa penyembuhan pasca operasi."


"Oh.. kemungkinan itu yang menjadi penyebab kondisi nona melemah."


"Begitu ya? Tapi... tak ada tanda-tanda apapun yang membahayakan nyawanya kan?"


"Tak ada tuan. Nona baik-baik saja. Tuan bisa menemui nona sekarang" dokter itu memberikan jalan untuk Tio.


"Baiklah dok terima kasih." Tio bergegas memasuki ruangan dan terlihat Arisa sudah siuman ditemani seorang perawat. Arisa memalingkan wajahnya dan tak bisa menahan air matanya ketika melihat Tio memasuki ruangan.


"Kau sedih?" Tanya Tio yang tak ditanggapi oleh Arisa.


"Maaf. Jika ucapan mama melukai hatimu." Lagi-lagi Arisa tak mengatakan apapun.


"Aris... jangan seperti ini. Kakak benar-benar khawatir padamu. Jangan berpikir bodoh. Apa yang akan kakak lakukan nantinya jika tak ada kau?" Tio memeluk erat Arisa dengan nada suara yang pelan dan sedikit serak.


"Andai saja Nadhira tak memberikan hatinya, mungkin Aris sudah tenang kak."


"Kalau begitu kakak juga ikut denganmu."


"Aku mau kuliah kak." Lirih Arisa mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah... kakak antarkan." Ucap Tio kemudian mengantar Arisa menuju kampus.

__ADS_1


"Mobilmu akan dibawa ke rumah. Nanti kau akan kakak jemput. Jika ingin dengan Rayyan, kabari kakak dulu."


"Iya kak..." jawab Arisa kemudian berlalu menuju kelas. Arisa berdecak kesal karena jam kelas sudah dimulai.


"Permisi...." Arisa mengetuk pintu dan sedikit menunduk sopan. "Ma-af... saya telat." Lanjut Arisa masih dengan nada sopan.


"Kenapa telat?" Tanya dosen perempuan dengan tegas.


"Sa-saya..."


Daffa menatap lekat wajah Arisa yang menurutnya terlihat pucat saat ini. Ditambah sorot mata Arisa yang sayu, itu seperti menunjukan bahwa Arisa tengah tak sehat.


"Bu....." Daffa berdiri dan seketika seisi kelas menoleh pada Daffa.


"Ya?"


"Saya izin ke toilet." Ucapnya yang membuat seisi kelas menghela nafas berat.


"Ya. Silahkan." Ucap Bu Donna yang dikenal sangat tegas. Daffa berjalan dan melewati Arisa yang masih berdiri di dekat pintu.


"Jangan memaksakan jika sedang sakit." Bisik Daffa sambil berlalu semakin menjauh. Rayyan menyernyit menyadari ada sesuatu yang Daffa katakan pada Arisa.


"Arisa... silahkan masuk dan bergabung." Ucap bu Donna tanpa merubah raut wajah dan ekspresi nya. Arisa mengangguk kemudian duduk di bangkunya.


"Dari mana?" Tanya Rayyan sedikit berbisik.


"Dari rumah sakit." Jawab Arisa pun setengah berbisik.


"Apa yang sakit?" Tanya Rayyan yang kini sedikit keras. Sontak seisi kelas menoleh kearahnya bersamaan.


"Arisa sakit?"


"Sakit lagi?"


"Kenapa masuk kuliah?"


"Wajahnya pucat."


Arisa menunduk mendengar setiap kata yang terlontar bersamaan di dalam kelas.


"Kenapa ribut?" Tanya bu Donna dengan hawa dingin sedingin sikap Arisa.


"Tuan Rayyan mohon tenang jangan membawa semua orang untuk mengkhawatirkan nona pacar. Kesampingkan dulu perasaan anda. Sekarang perhatikan mata pelajaran saya." Tegas Bu Donna lagi.


"Iya maaf bu." Ucap Rayyan memalingkan wajahnya namun tak lama, bola matanya kembali melirik Arisa.


"Ishhhh dia selalu membuatku khawatir." Gumam Rayyan menghela nafas berat. Karena baru kali ini ia merasakan perasaan cemas pada orang lain.


"Kenapa aku mencintainya?" Gumam Rayyan lagi-lagi menghela nafas berat. Bu Donna beberapa kali melirik sinis pada Rayyan yang tak memalingkan pandangannya dari Arisa.


"Dasar ABG." gumam bu Donna kembali fokus pada buku di tangannya dan melanjutkan penjelasan mengenai materinya.


"Raisa.. kita mau ke toko buku, kau mau ikut?" Tanya Deby membuyarkan lamunan Raisa.


"Oh? Emmm... bo-boleh." Jawab Raisa terbata.


"Kenapa kau melamun?" Tanya Sofia dan ditanggapi senyuman oleh Raisa. Sebisa mungkin Raisa tak ingin menunjukan bahwa dirinya sedang ada masalah.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2