TAK SAMA

TAK SAMA
116


__ADS_3

. Michelle dengan kesal menghentakkan kakinya dan berlalu dari ruangan Rayyan yang tak sedikitpun terbuka untuknya. Di loby, ia bertemu dengan Arisa yang sedang berbincang dengan Daffa namun posisinya membelakangi dirinya. Terlihat Daffa menyadari kehadiran Michelle, dan ia langsung memberi jalan pada Arisa dengan penuh hormat seakan menunjukkan sikap yang sangat istimewa pada seorang Arisa Fandhiya. Daffa mengiringnya ke arah yang jauh dari jangkauan Michelle. Setelah memastikan Michelle benar-benar pergi, Daffa terus menenangkan Arisa yang tak henti menangis karena cemburu.


"Aris... jujur saja. Aku baru melihatmu menangis cemburu seperti ini. Dulu kau begitu pada Raisa. Namun kau menyembunyikannya dari siapapun." Ujar Daffa dengan menatap nanar kesedihan yang dirasakan Arisa kini.


"Daf... aku ingin bertemu Wina. Tolong jadwalkan segera. Kumohon." Ucap Arisa tak menyikapi ucapan Daffa. Dengan menurut, Daffa menghubungi Wina dan memintanya untuk bertemu di taman yang dulu sering mereka kunjungi. Raut wajah Daffa seketika berubah saat ia menutup sambungan teleponnya.


"Daf... sampaikan maafku pada om Danu. Bukannya aku tak sopan atau pergi dari tanggungjawab, tapi pekerjaanku hari ini sudah selesai. Mungkin sisanya nanti untuk laporan dan jadwal Rayyan untuk besok. Kau saja yang urus. Aku mungkin tak akan kembali lagi setelah bertemu dengan Wina." Daffa mengangguk mengiyakan ucapan Arisa walaupun dirinya merasa ada yang janggal. Ia hanya berpikir bahwa Arisa butuh waktu sendiri untuk menenangkan dirinya.


Dengan tergesa, Arisa bergegas menuju tempat yang dijanjikan dengan Wina. Sepanjang jalan, ia sibuk menelepon beberapa orang pelayan rumah untuk mengemas beberapa barangnya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Hingga ia sampai di taman, ia segera berlari dan langsung memeluk Wina yang sudah menunggunya. Karena taman itu lebih dekat dari kantor Artaris, jadi tak heran Wina sudah sampai lebih dulu.


"Aris... kau kenapa?" Tanya Wina dengan cemas.


"Wina... aku ingat. Aku ingat semuanya." Ungkapnya tak bisa di sembunyikan lagi dari sahabatnya ini.


"Ka-kau serius?" Tanya Wina penuh keraguan.


"Aku serius Win. Dan aku akan pergi." Wina tersentak kemudian melepas pelukannya dengan ekspresi yang begitu heran.


"Kemana lagi? Kau mau meninggalkanku? Aris... bukankah kau mau aku kembali ke kota ini? Tapi kenapa saat aku sudah disini, kau malah ingin pergi?"


"Ada beberapa hal yang tak bisa aku hadapi disini. Salah satunya restu Oma. Dan Rayyan yang sudah tak lagi mencintaiku." Tuturnya masih terisak keras.


"Tidak Aris. Kau pasti salah. Rayyan sangat mencintaimu."


"Tidak Win. Aku melihatnya memeluk Raisa dan dia juga mengungkapkan bahwa dia menyayangi Raisa, dan Raisa lah yang terbaik. Jadi menurutmu apa artinya itu?"


"Aris... tapi...."


"Kalau begitu, kau susul aku saja nanti. Jika berita kehilanganku mulai menyebar, kau susul aku tanpa sepengetahuan siapapun. Ingat! Jangan membawa siapapun, kau temui aku di perusahaan yang ada di Bandung."


"Kau mau ke Bandung?"


"Hanya kau yang tahu Win. Pliss jangan beri tahu siapapun."


"Aris... kumohon jangan pergi. Kita hadapi. Aku akan menemanimu menghadapinya."


"Tidak Win. Jika yang dihadapinya hanya kematian Rama, aku masih bisa bertahan disini, tapi..... ahhh sudahlah. Maaf.... dan sekali lagi tolong rahasiakan apapun yang kau tahu tentang kebenarannya dari siapapun." Perlahan Arisa menjauh dari Wina dan langkahnya semakin cepat saat menyadari Wina mengejarnya.


Arisa memberhentikan taksi dan memasukinya meninggalkan Wina yang terus memanggil namanya.


Ia bergegas menuju rumah untuk membawa beberapa barang yang di perlukan dan segera pergi menuju stasiun. Lagi, ia memilih jalur kereta api karena berpikir tak akan mudah untuk melacaknya karena kereta tak seperti pesawat yang akan terpampang jelas nama penumpangnya.

__ADS_1


. "Daf... Risa kemana? Kenapa semua pekerjaannya kamu yang handle?" Tegas Rayyan bertanya dengan suara yang jelas masih memendam amarah.


"Katanya ada keperluan mendadak. Tadi tak sempat meminta izin padamu." Jawab Daffa dengan fokus masih menyelesaikan pekerjaan yang tersisa di meja Arisa sebelum pulang.


"Dia pikir perusahaan ini miliknya? Jika dia seenaknya begini, pecat saja dia. Urus semua yang berkaitan dengannya."


"Tapi Ray-"


"Jangan membantah. Ini perintah dariku!" Dengan tegasnya Rayyan menatap tajam kedua manik Daffa yang kemudian menunduk tak merani membalas tatapan Rayyan.


. Malamnya, Yugito dan Tio yang mendapati tamu istimewa dari Amerika, mereka segera bersiap untuk menyambut kedatangan Marcel dan keluarganya. Namun Tio merasa heran mengapa Arisa tak ikut serta. Apa dia sakit lagi? Atau sedang bersama Rayyan?


Segera Tio bergegas mencari Arisa ke kamarnya dan ia tak mendapati siapapun di sana. Pintu balkon masih tertutup rapat menandakan tak ada orang diluar.


Saat Seno datang, ia segera menanyakan Arisa pada Seno yang mungkin tahu keberadaan mereka. Tetapi Seno tak tahu tentang Arisa, bahkan dengan Rayyan pun ia sudah jarang bertemu. Dan dengan cemas, Seno menghubungi Rayyan, namun jawabannya sama. Rayyan tak sedang bersama Arisa sekarang.


"Kemana lagi anak itu." Ucap Tio dengan bergumam pelan sambil terus mencoba menghubungi nomor Arisa.


"Argghhhh." Ia membanting ponselnya hingga berantakan dan berhasil mengejutkan semua yang ada diruang tengah. Raisa yang penasaran pun segera mencari kemana Arisa pergi. Ia menghubungi Rayyan dan tak mendapati jawaban yang diinginkan.


Dan di waktu yang bersamaan, Rayyan yang sedang menunggu Oma di rumah sakit, ia mendadak khawatir mengapa Raisa dan Seno menanyakan keberadaan Arisa padanya. Padahal sejak siang, Arisa sudah tak ada di kantor. Ia mencoba menghubungi Daffa karena ia pikir Daffa tahu kemana Arisa pergi.


"Dia tidak bilang apa-apa lagi Rayyan. Dia hanya bilang mau bertemu dengan Wina. Dia menangis karena dirimu juga." Ucap Daffa dari seberang telepon.


"Dia cemburu. Kau kira dia tak sakit hati? Harusnya kau menjaga perasaannya."


"Cihhh kau selalu saja menyalahkanku."


"Lalu? Kau pikir aku harus menyalahkan siapa? Bayu? Dimas? Atau Rama hah?"


"Diam kau... Sebaiknya kau cari tahu kemana Risa pergi. Atau sekarang juga kau telusuri ke Bandung. Aku yakin dia akan pergi ke sana untuk menemui Fahreza."


"Cari saja sendiri. Bukankah tadi siang kau memecatnya? Kenapa sekarang kau mencarinya? Aku lelah. Aku mau istirahat. Seharian bekerja tanpa jeda. Kau memberiku tugas lebih banyak dari biasanya. Sekarang, jika kau mau menemukan Aris, cari saja sendiri kemanapun kau mau. Dia calon istrimu, harusnya kau lebih menjaga semua hal agar dia tidak marah padamu. Dan harusnya kau tak menunda memberitahu Aris bahwa Oma sudah jelas merestui kalian. Tapi apa? Kau malah tak ada usaha untuk meyakinkannya kan?"


"Daf... jika kau masih bicara, aku benar-benar memecatmu sekarang." Dan dengan menahan amarah, Rayyan mematikan panggilannya dengan menyisakan rasa kesal dan cemas.


"Kemana lagi kau Risa?" Gumam Rayyan pelan sambil terus mondar-mandir kesana-kemari. Danu yang melihat kegelisahan putranya pun menghampiri dan menanyakan apa yang membuat Rayyan secemas ini.


"Risa ayah. Dia kabur lagi." Ucap Rayyan panik.


"Kabur? Kau yakin dia kabur?"

__ADS_1


"Entahlah ayah. Aku hanya menyimpulkan saja. Karena Daffa bilang Risa pergi karena cemburu melihatku dengan Michelle tadi."


"Michelle? Siapa dia?"


"Juniorku saat kuliah di Amerika ayah. Dia Adik Marcel Divandra yang dulu menjadi dokter bedahnya Risa. Teman kak Tio dan kak Seno." Jelas Rayyan. Danu yang mungkin lupa pada sosok yang disebutkan Rayyan itu pun hanya mengangguk pelan.


. Malam semakin larut, seluruh keluarga tak mendapati dimana Arisa berada. Daffa yang hanya tahu Arisa bertemu dengan Wina pun segera mendatangi Wina dan mengintrogasinya.


"Aris tak bilang apa-apa Daf. Dia hanya bilang bahwa dia akan meninggalkan Rayyan karena Rayyan tak mencintainya." Jelas Wina dengan wajah yang mencoba untuk meyakinkan Daffa.


"Itu tidak masuk akal Win. Kau pikir aku percaya?"


"Lalu? Mengapa kau kemari jika kau akhirnya tak mempercayaiku?"


"Cih... sia-sia aku mencarimu."


Wina menyernyit merasa heran dengan sikap Daffa yang dirasa tiba-tiba berubah. Padahal sebelumnya Daffa tak sekasar ini jika berbicara dengannya.


"Daf.. kau kenapa?"


"Tak apa. Lupakan. Maaf mengganggu." Daffa berbalik dan ia bergegas menjauh dari hadapan Wina. Wina tahu ada tekanan lain yang membuat Daffa menjadi begini.


"Daf.... jika aku membuat salah atau menyinggung perasaanmu, tolong maafkan aku. Aku tak punya siapa-siapa lagi jika bukan kau dan Aris. Sekarang Aris pergi dan aku hanya bergantung padamu saja." Terlihat Daffa terhenti dan ia sedikit menolehkan wajahnya saat mendengar penuturan Wina.


"Jangan memberiku harapan Win. Sedangkan sekarang kau sudah memiliki kekasih. Aku memang mencintaimu, tapi jika harus terus menemanimu, tapi kau sendiri dengan orang lain, apa artinya kehadiranku?" Wina tersentak mendapati ungkapan isi hati Daffa yang diluar dugaan.


"Kenapa saat aku pulang dari rumah sakit, kau tak jadi menjemputku? Apa kau tak berpikir aku menunggumu lama." Ucap Wina dengan menahan suaranya agar Daffa tak menyadari dirinya tengah menahan tangisnya.


"Hemph... kau pikir aku tak tahu? Dokter itu menyatakan perasaannya padamu kan?" Kini suara Daffa terdengar sangat dingin dan seakan menusuk hati Wina seketika.


"Dan kenapa kau marah?" Mendengar pertanyaan itu, Daffa berbalik dan bersamaan dengan itu, setiap tetesan air hujan semakin deras.


"Aku tak bisa lebih lama menyaksikanmu dengan pria lain." Jawabnya semakin dalam menatap Wina yang kini berjalan kearahnya dan seakan tak mempedulikan dinginnya air hujan yang sudah membuatnya gemetar.


"Mengapa kesini? Kau tak bisa bertahan lama dengan udara dingin."


"Ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan sikapmu sekarang Daf."


"Sudahlah. Jangan banyak drama. Aku sedang sibuk mencari Aris. Jadi kau tak usah ikut membuatku khawatir. Ohhh atau kau sengaja agar kau sakit lagi, dan dirawat oleh si dokter, kekasihmu itu? Selamat ya. Semoga kau bahagia." Daffa memaksakan senyumnya dan menepuk pundak Wina pelan dan kembali berbalik.


"Harusnya kau saksikan sampai selesai sialan." Teriak Wina yang nyaring diiringi derasnya hujan. "Aku hanya menunggumu."

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2