
. "Benarkah? Aaaahhh aku bahagia Aris. Selamat ya..." ucap Raisa yang ikut bahagia dari balik telepon setelah Arisa memberitahu kabar tentang kehamilannya. Setelahnya, Arisa kemudian memberitahu Tio lalu pada ayahnya. Begitupun dengan Rayyan yang memberitahu keluarganya tentang kehamilan istrinya. Dan reaksinya pun sama seperti Raisa, bahkan keluarga Pratama berniat mengadakan acara keluarga sebagai tanda syukur atas kabar baik yang mereka nanti-nanti.
. Menjelang sore, keluarga Putra dan Pratama serempak datang ke kediaman Rayyan untuk menemui Arisa. Kedua keluarga itu begitu terlihat bahagia saat menyambut Arisa yang baru turun dari kamarnya. Yugito memeluk Arisa dengan memberi kecupan di dahinya. Begitupun Rahma, ia tak bisa menyembunyikan perasaanya lagi, Rahma tersenyum haru ketika meraih wajah Arisa yang menatap harap ke arahnya.
"Selamat nak. Kau akan menjadi seorang ibu. Mama turut bahagia." Ucap Rahma sehingga Tio memalingkan wajahnya menyembunyikan air mata yang berderai tanpa izin. Ia begitu bahagia, bukan hanya karena Arisa yang mengandung, tetapi ucapan ibunya terasa begitu berkesan.
Oma Galuh menghampiri Arisa lalu meraih perutnya yang masih terlihat rata, terlihat senyum bahagia tersirat di bibir Oma ketika mengetahui Rayyan akan menjadi seorang ayah.
"Semoga saat dia lahir, Oma masih hidup ya." Ucap Oma membuat Arisa dan Rayyan menjadi sendu.
"Oma harus sehat, dan oma harus tetap hidup." Arisa mencoba menguatkan meski ia tahu jika satu kali lagi Oma mengalami serangan jantung, maka nyawanya akan melayang begitu saja.
"Tak adil Oma. Saat anak kak Seno lahir Oma masih hidup, tapi saat aku yang akan punya anak, mengapa Oma bilang begitu? Aku sedih loh Oma." Keluh Rayyan dengan bersikap manja pada Oma. "Berjanjilah Oma akan hidup sampai anakku lahir." Lanjut Rayyan ditanggapi senyuman oleh Oma.
. Singkatnya, 3 bulan telah berlalu, Arisa mendapat kabar bahwa saudari kembarnya akan segera melahirkan. Rayyan yang masih bekerja pun segera pulang karena khawatir pada keselamatan Arisa jika pergi sendiri. Meski tengah panik dan buru-buru, namun Rayyan melarang Arisa untuk berlari di lorong rumah sakit, bahkan ia melindungi sang istri dari banyaknya orang berlalu lalang di lantai dasar. Sampai di kamar persalinan, Arisa menghampiri ibunya yang tengah berdoa untuk keselamatan putri pertamanya. Beberapa saat kemudian, Tio datang dengan Seno, lalu di susul oleh orang tua Fariz yang ikut menunggu persalinan Raisa di luar ruangan.
Setelah kampir 2 jam mereka menunggu, Fariz keluar dari ruangan lalu memberitahu semuanya bahwa anaknya lahir dengan selamat. Akhirnya seluruh keluarga bisa bernafas lega mendengar berita bahagia ini.
"Jenis kelaminnya laki-laki." Tutur Fariz membuat Arisa meraih perutnya perlahan.
"Kenapa?" Tanya Rayyan yang menyadari perubahan sikap Arisa setelah mengetahui jenis kelamin keponakannya.
"Aray. Anak kita laki-laki atau perempuan ya?" Namun Rayyan hanya tersenyum lalu ikut mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Laki-laki atau perempuan juga tak masalah. Asal dia lahir dengan sehat dan selamat beserta ibunya. Jangan di pikirkan. Aku tak terlalu memaksa pada apapun jenis kelaminnya nanti. Mau bagaimana pun, putra-putriku akan menjadi pewaris yang sah nantinya." Mendengar jawaban Rayyan demikian, Arisa tersenyum lega dan ia semakin bersemangat untuk menunggu waktu kelahiran buah hatinya.
Arisa memasuki ruangan khusus setelah Raisa dan bayinya di pindahkan. Ia menatap dalam wajah keponakannya yang mengemaskan dan tengah tertidur pulas di samping Raisa.
"Hallo kakak. Adik sepupumu akan menyusul 4 bulan lagi." Ucap Arisa dengan antusias sehingga bayi itu menggeliat mendengar suara bisingnya.
"Aris. Jangan keras-keras." Tegur Raisa ditanggapi senyum konyol Arisa.
__ADS_1
"Siapa namanya?" Tanya Arisa selanjutnya.
"Elvano Rasendriya Putra"
"Wawww nama yang bagus."
. Waktu bergulir terasa begitu cepat, Arisa tak sedikitpun melewatkan momen indah selama masa kehamilannya. Dari pertama kali merasakan gerakan janin dan mendengar detak jantungnya dari USG, hari-harinya terasa begitu berharga. Apa lagi saat mendapati kabar bahwa anaknya kembar membuatnya semakin antusias. Ia masih ingat bagaimana bahagianga Raisa saat melahirkan putranya 2 bulan yang lalu. Saat ia tengah menikmati peran menjadi seornag ibu hamil dan sedang manja-manjanya, ia mendapati kabar bahwa Rayyan harus menjalani perjalanan bisnis selama 1 bulan. Meski berat, Arisa hanya bisa pasrah dan menyetujuinya. Mau bagaimana pun, Rayyan bekerja untuk dirinya dan bayinya juga. Setelah kepergian Rayyan, Arisa merasa hari-harinya mulai terasa hampa. Meski terkadang Seina datang untuk menginap, atau mertuanya pun ikut menemani, namun yang ia inginkan hanyalah kehadiran suaminya. Setiap pagi, Arisa selalu berjalan-jalan atas arahan dari ibunya dan mertuanya. Katanya untuk memperlancar proses persalinan. Arisa nyaris sulit bergerak karena ukuran perutnya yang begitu besar, sedangkan tubuhnya yang terhitung kecil mungkin sangat sulit untuk bergerak bebas.
. 1 bulan telah berlalu, Arisa menunggu kedatangan Rayyan di teras rumah dengan di temani bi Ina. Ia terus mengelus perutnya yang hanya tinggal sebentar lagi si kembar akan lahir.
"Ayah pulang sayang." Ucap Arisa dengan bahagia ketika mobil Rayyan berhenti tepat di depan rumahnya. Rayyan yang sudah merindukan istrinya pun bergegas keluar dan berlari menghampiri lalu memeluk dan memberi kecupan kerinduannya. Keduanya cepat-cepat memasuki rumah karena hari memang sudah menunjukkan waktu sore.
Malamnya, Rayyan tak ingin beranjak dari posisinya yang terus mendengarkan dan memantau gerak-gerik si kembar.
"Sedang apa ya mereka?" Tanya Rayyan yang entah pada siapa.
"Mungkin sedang main bola." Jawab Arisa tertawa kecil membuat Rayyan beranjak lalu mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Boleh apa?" Arisa yang pura-pura tak tahu memilih untuk fokus mengajak bicara pada si kembar.
"Kata dokter di usia kehamilan yang sudah tua itu harus sering melakukannya." Lagi-lagi Rayyan mencari alasan agar Arisa dengan mudah menyetujuinya.
"Alasan saja." Meski Arisa menanggapi begitu, namun Rayyan sudah terlanjur memainkan tangannya di bagian tertentu tubuh Arisa. Ia semakin bergairah ketika mendengar ******* istrinya.
"Kau juga mau?" Ejek Rayyan ditanggapi wajah menggoda Arisa. Rayyan yang tak ingin menunda kesempatan pun memulai aksinya dan Arisa hanya bisa pasrah. Memang benar bahwa usia kehamilannya yang sudah menginjak 8 bulan itu di anjurkan untuk sering berhubungan suami istri.
. Hari-hari berikutnya, Arisa sudah mempersiapkan peralatan yang di butuhkan si kembar setelah lahir. Setiap harinya ia selalu menunggu waktu persalinan dan tinggal menghitung hari saja. Siang ini, Rayyan terlihat begitu lelah setelah membersihkan diri. Begitupun Arisa yang lebih lelah dari Rayyan.
"Kau memang gila Aray. Kalau aku mati bagaimana?" Protes Arisa yang meraih pinggangnya yang susah terasa sakit.
"Tak akan mati sayang. Kau menikmatinya juga kan?" Arisa mendelik lalu meraih handuk berniat untuk membersihkan diri. Namun baru beberapa langkah, tubuhnya merasa lemas saat rasa sakit menjalar di bagian perutnya.
__ADS_1
"Akhhh Aray. Tolong." Rintihnya terduduk dengan meraih ujung ranjang seraya memegangi perut besarnya. Rayyan segera meraih Arisa lalu membawanya ke rumah sakit setelah tahu Arisa akan melahirkan. Rayyan menemani Arisa bersalin dan ia begitu pasrah saat Arisa menjambak rambutnya beberapa kali. Tak perlu menunggu lama, si kembar lahir dengan selamat. Rayyan tak bisa menahan haru, sehingga air matanya jatuh di atas dahi Arisa yang ia kecup dalam dan penuh arti.
"Sekali lagi terima kasih sayang." Ungkap Rayyan begitu bersyukur istri dan anaknya berhasil selamat.
"Proses persalinannya lancar dan tidak memerlukan waktu lama. Dari kalian datang sampai proses persalinan hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Apa saat usia kandungan sudah menginjak 20 minggu, kalian sering berhubungan?" Sontak Rayyan dan Arisa tersentak dan mendadak gugup, bukan hanya dari 20 minggu, bahkan beberapa saat sebelum kontraksi mereka sempat berhubungan. Tak perlu di jawab pun, bidan sudah tahu jawabannya.
Setelah Arisa dan si kembar di pindahkan, Tio dan Seno sama-sama menatap kedua anak kembar itu dengan seksama, mereka saling pandang lalu tersenyum penuh rencana licik mereka.
"Aku akan mengasuh Zayn. Akan aku jadikan dia sebagai lelaki hebat seperti ayahnya." Ucap Seno menantang pada Tio.
"Aku akan mengasuk Zayyana. Akan aku jadikan dia perempuan kuat seperti ibunya." Balas Tio tak ingin kalah.
"Aku tak akan memberikan mereka pada kalian." Tegas Rayyan dari belakang mereka.
"Tio, Seno, jangan mengganggu mereka. Nanti bangun. Biarkan mereka tidur." Tegur Yugito sehingga Tio dan Seno beralih ke tempat lain.
Zayn Alvarendra Pratama, putra pertama Rayyan dan Arisa, dan Zayyana Alvarinanda Putri, putri bungsu Rayyan dan Arisa. Kedua bayi kembar yang akan menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kecil Arisa dan Rayyan.
. Singkat cerita, Arisa menabur bunga di salah satu makam yang sudah lama tidak ia kunjungi.
"Maaf. Aku tidak lagi kesini selama bertahun-tahun. Sekarang aku sudah berkeluarga, dan mempunyai dua orang anak. Terkesan jahat karena aku sudah melupakanmu, tapi untuk mengingat pun rasanya sudah tak berguna. Maaf dulu sempat membuatmu tak tenang karena aku terus memintamu kembali hidup. Tapi sekarang, aku bahagia dengan kehidupanku dan keluarga kecilku." Setelah mengatakan kalimat perpisahan itu, Arisa berbalik dan meninggalkan makam yang bertuliskan nama mantan kekasihnya dulu.
"Bunda...." panggil Zayn dan Zayyana dari dalam mobil ketika Arisa sudah terlihat di balik gerbang makam.
Jika bisa terlihat oleh mata, mungkin kali ini Rama tengah menatap kepergian Arisa dari atas kuburannya dengan wajah tersenyum seraya berkata "teruslah bahagia Aris. Akan kutunggu kau di keabadian-Nya. Dan akan aku tagih janji suamimu untuk mengembalikkan dirimu padaku."
...~TAMAT~...
. Akhirnya sudah sampai di akhir cerita, saya pribadi selaku author novel TAK SAMA mengucapkan terima kasih banyak pada readers yang sudah mengikuti perjalanan Arisa sebagai tokoh utama cerita ini. Dan terima kasih juga untuk dukungan kalian yang sangat berharga bagi karya saya yang masih banyak kekurangannya. Dan maaf jika karya saya tidak memenuhi kepuasan para readers.
Disini saya akan mengumumkan tentang karya baru saya yang berjudul "7 Purnama". Bagi readers yang penasaran siapa Rama, di novel 7 Purnama akan menceritakan kisah cinta Rama dan Arisa semasa mereka masih bersama. Mohon dukungannya dan semoga kalian suka.
__ADS_1
Salam dari Author. TERIMA KASIH😊