TAK SAMA

TAK SAMA
156


__ADS_3

. Langkah kaki semakin dekat, lalu pintu terbuka dengan tiba-tiba membuat Rega dan Reza terhenyak karena terkejut.


"Bunda." Pekik Reza yang mengelus dadanya.


"Za.. Juna..." ucapnya dengan terengah.


"Tenang bunda... Juna kenapa? Juna sudah siuman?" Reza perlahan menurunkan nada bicaranya dan berharap Sarah merasa lebih tenang.


"Juna meninggal." Sontak Reza mematung, ia menggeleng lalu tertawa mendengar berita tersebut.


"Bunda ini ada-ada saja. Dia kan kuat, masa dapat luka tusukan saja sudah kalah." Candanya menutupi rasa tak percayanya.


"Jika saja bunda tak mengatakan bunda tak enak perasaan saat Putri berangkat, mungkin Juna tak akan menyusul Putri dan berakhir seperti ini kan Za?" Lirih Sarah dengan putus asa.


"Tante jangan menyalahkan diri, Juna meninggal pun demi melindungi Putri, meskipun memang ujungnya Putri terluka juga. Tapi firasat tante tajam loh. Kalau saja tante tidak merasakan ada firasat buruk, mungkin tante tak akan tahu bagaimana Putri sekarang." Rega ikut menimpali dan ia pun berharap Sarat tidak terlarut dalam sebuah penyesalan.


. Atas permintaan Arisa dan Raisa, Yugito terpaksa meminta izin pada pihak rumah sakit untuk membiarkan kedua putrinya menjalani rawat jalan di rumah. Sore ini, seluruh keluarga Putra beserta Reza dan Sarah, memakamkan Juna di pemakaman keluarga Putra. Derai air mata dari anak kembar dan Sarah, mengiringi acara pemakamannya. Arisa tak henti-hentinya memohon pada Tio agar mengembalikan Juna. Tio hanya bisa terdiam, maut sudah ada yang menentukan, ia tak bisa apa-apa selain berharap Juna di tempatkan di tempat yang terbaik.


Setelah menabur bunga, Arisa meraih batu nisan bernamakan pengawal setianya.


"Juju.... katanya Juju mau temani Aris? Kenapa Juju malah nyusul Rama? Aris belum bisa jaga diri Aris Ju." Ucapnya seakan tengah berbicara pada Juna yang masih hidup.


"Aris sudah. Ayo pulang. Juju sudah tenang." Bujuk Tio


"Aris belum bisa balas kebaikan Juju kak."


"Iya kakak mengerti. Kakak juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi, mau sampai kapan kau disini?"


"Aris... sudah nak. Ayo pulang!" Yugito ikut membujuk, kemudian Arisa mengangguk dan segera pulang. Arisa terfokus pada Raisa yang jalannya sangat lambat, hingga Fariz menggendong Raisa sampai mobil.


Singkatnya, ketika semua orang satu persatu memasuki rumah, Sarah terpaksa ikut karena permintaan Arisa. Ia masih berada di luar dengan Reza dan tak berniat untuk masuk kedalam rumah.


"Bunda. Ayo masuk!" Ajak Arisa yang menarik lengan Sarah namun masih mendapat penolakan.

__ADS_1


"Bunda kembali ke apartemen saja ya." Tolak Sarah dengan melemparkan senyum agar Arisa tidak merasa kecewa.


"Tapi aku ingin bersama bunda. Temani aku dulu. Ya?" Arisa terus membujuk dan kini semakin berkaca-kaca. Ketika Sarah hendak kembali berbicara, namun ia malah memilih diam saat melihat Rahma mendekat ke arahnya.


"Sarah. Aku ingin bicara." Ucap Rahma dengan suara yang datar.


"Oh... emm.. baiklah." Jawab Sarah dengan nada yang sangat pelan.


"Mama jangan marah pada bunda. Bunda ke sini atas permintaanku. Bunda tak salah."


"Sebaiknya kau tak perlu ikut campur Aris. Ini urusan orang tua."


"Tapi aku mau mama tahu kalau bunda tak bersalah. Yang salah itu ayah."


"Aris. Mama bilang sebaiknya kamu diam. Jika kau bicara, hal yang tak ingin mama bicarakan, bisa saja akan di ungkapkan."


"Tapi ma..." Rahma tak menanggapi rengekan Arisa, ia berbalik dan berlalu dan di susul oleh Sarah. Ketika Arisa hendak mengejar, Reza segera menahannya.


"Kak..." rengeknya namun tak merubah raut wajah Reza yang serius.


"Tapi bagaimana kalau mama menampar bunda lagi?" Kali ini, Reza terdiam seakan membenarkan apa yang di katakan Arisa.


"Aris. Kamu di panggil mama." Ucap Tio dari ambang pintu. Begitu mendengar titah Rahma, Arisa segera melepaskan tangannya dari Reza dan berlari dengan menahan sakit di perutnya yang masih memar.


"Apa kau menyayangi putriku?" Tanya Rahma sesaat setelah ia duduk di sofa ruang keluarga. Ia meminta semua keluarganya untuk meninggalkannya berdua saja.


"Iya mbak. Aku sangat menyayangi Putri." Jawab Sarah yang memilih untuk berdiri sedikit jauh dari Rahma.


"Apa kau menginginkan suamiku juga?" Sontak Sarah tercengang dengan pertanyaan Rahma.


"Apa yang mbak Rahma bicarakan? Aku mohon mbak, jangan mengungkit masalah itu lagi. Biarkan itu menjadi kesalahanku, dan juga jangan membawa Putri ke dalamnya." Meski Sarah memohon, Rahma tak menanggapinya, ia beranjak dan berjalan semakin dekat pada Sarah.


"Mama... jangan sakiti bunda." Teriak Arisa yang berlari dan langsung memeluk Sarah dengan erat.

__ADS_1


"Mama jangan egois. Mama jangan melarang bunda merawat Aris. Aris bahagia dengan bunda ma... Aris juga tak pernah kekurangan apapun selama bersama bunda." Lanjutnya sembari memejamkan mata karena takut jika Rahma tiba-tiba memukulnya. Namun, Arisa begitu terkejut saat Rahma dengan lembut mengelus rambutnya dari belakang.


"Mama?" Lirihnya kini berbalik dan berhadapan dengan Rahma.


"Jika kau bahagia dengan Sarah, tak apa nak. Mama tak marah. Mama tahu, mama tak bisa memberikan apa yang kamu butuhkan. Jika Sarah bisa memberikan kasih sayang padamu melebihi mama, mama tak akan melarangmu ikut dengannya." Mendengar itu, Arisa langsung memeluk Rahma, ia merasa itu bukan sebuah izin, melainkan Rahma yang sudah menyerah pada Arisa.


"Mama tidak ingin Aris di sini?"


"Bukan begitu Aris. Mama tak mau menghalangi kamu untuk bahagia. Mama sangat ingin kamu di sini."


"Lalu, kenapa mama malah merelakan Aris dengan bunda."


"Tapi kau ingin dengan bundamu kan?"


"Mbak... saranku, jika mbak Rahma menurunkan ego, dan mulai lebih dekat lagi dengan Putri, Putri pasti mau tinggal di sini lagi. Karena, meski bagaimana pun, saya bukan siapa-siapa."


"Terima kasih Sarah. Kamu sudah memberikan Aris kasih sayang dan menggantikan peranku yang hilang di hidupnya. Maaf Aris. Mama sudah egois, dan terlalu mementingkan Rais. Kalau kamu mau, kamu tinggal disini lagi ya? Mama rindu kamu."


"Tapi..." Arisa beralih menatap Sarah di belakangnya yang tersenyum tegar.


"Bunda tak apa nak. Masih ada Reza kan?" Ketika Arisa sepenuhnya melepaskan pelukan pada Rahma, Rahma segera menghampiri Sarah dan merangkulnya dengan perasaan tulus.


"Terima kasih Sarah." Sarah terhenyak, lalu membalas rangkulan Rahma sembari tersenyum haru.


"Iya mbak. Sungguh aku minta maaf mbak."


"Tak apa Sarah. Sudah jangan di ungkit."


"Tapi mbak, seumur hidupku aku terus merasa bersalah pada mbak Rahma."


"Kalau begitu, anggap saja kemarin Aris bersamamu dan mendapat apapun yang kau berikan, itu sebagai bukti permintaan maafmu."


"Apa mbak Rahma ingin aku pergi dari hidup Putri?"

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2