TAK SAMA

TAK SAMA
126.


__ADS_3

. Fariz berlalu dari hadapan Reza setelah mengatakan berita itu. Dan Reza sendiri menghampiri Arisa dengan bersandar pada rak.


"Bagaimana? Apa kau masih akan tetap disini?" Tanya Reza.


"Siapkan mobil sekarang juga kak." Jawabnya dengan tegas.


"Oke baiklah." Reza menghela nafas dengan begitu santai lalu ia merogoh saku celananya.


"Siapkan mobil!" Ucapnya singkat kemudian kembali menyimpan ponselnya.


Tak lama setelah itu, Arisa dan Reza berlalu, namun tak lupa untuk memberitahu Sarah atas kepergian mereka agar Sarah tidak merasa khawatir.


Dan dengan penuh keraguan, Sarah terpaksa mengizinkan Arisa pergi. Meskipun dengan Reza, namun ia sangat takut jika Yugito melarang Arisa untuk kembali menemuinya.


Arisa dan Reza segera meluncur namun tak sekalipun Arisa bicara pada Juna yang masih ada disana.


"Putri memintaku untuk menyampaikannya padamu. Apapun yang terjadi tolong jaga ibuku. Karena, Putri sangat menyayanginya. Aku tak perlu bicara banyak pun kau pasti sudah tahu." Ucap Reza sebelum ia benar-benar berlalu dari hadapan Juna.


. Dan malamnya, Arisa segera menuju kamar yang ditunjukkan Zain sebagai tempat Yugito beristirahat. Kedatanganya yang tiba-tiba cukup membuat Tio dan Raisa merasa terkejut.


"Aris... kau pulang?" Tio beranjak lalu menghampiri Arisa yang menatapnya dengan datar.


"Aku hanya berkunjung. Bukan pulang." Jawabnya jelas sangat dingin. Tio hanya menghela nafas berat melihat sikap Arisa yang berbeda. Untuk kehadirannya saja, Tio sudah merasa bersyukur saat ini.


"Kau bersama Reza?" Kali ini Arisa hanya mengangguk.


"Dimana dia?"


"Jika kakak hanya ingin menceramahinya, lebih baik kakak diam saja disini."


"Aris... kakak tak akan begitu. Kakak hanya ingin bicara sesuatu padanya."


"Diluar." Kini, Arisa lebih fokus pada ayahnya yang tengah terbaring lemah dan masih di jaga oleh Raisa. Dengan ragu, Tio berlalu keluar ruangan dan meninggalkan Arisa yang terus menghampiri Yugito.


"Kau baik-baik saja nak?" Tanya Yugito melemparkan senyum.


"Iya. Aku baik-baik saja." Jawabnya masih sangat dingin.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Tanya Raisa tanpa menoleh.


"Memangnya aku berpikir apa sebelumnya?" Balasan pertanyaan itu tak bisa Raisa jawab. Benar, apa yang Arisa pikirkan saat ia dan Fariz menemuinya?


"Apa setelah menjadi presdir, sikapmu jadi begini?" Raisa beranjak dan ia berhadapan dengan Arisa dan keduanya saling menatap dengan tajam.


"Kau iri?" Seringai muncul di bibir Raisa bersamaan dengan pertanyaan yang dilontarkan adik kembarnya.


"Untuk apa?"


"Karena kau hanya menjadi sekertaris Presdir saja."


"Aris... sejak awal jalan hidup kita berbeda."


"Yaa... memang. Kau tahu itu. Jadi, harusnya kau tak perlu mempermasalahkan sikapku ini. Aku begini sejak kau menjadi pusat perhatian ayah dan mama."


"Aris.. cukup. Jika kau datang hanya untuk mengungkit masalah itu, sebaiknya kau pergi saja.!" Bentak Rahma yang beranjak dan menghentikan perdebatan kedua putrinya.


"Ayah... ayah dengar sendiri? Bahkan saat aku datang untuk menemui ayah pun, mama mengusirku. Jadi aku patut mempertanyakan tentang kasih sayang kalian padaku. Alih-alih mendapatkan pelukan dan kecupan kerinduan dari mama, justru aku malah mendapatkan pengusiran begini. Jangan salahkan aku jika aku tak akan pulang. Sekalipun itu kabar duka." Ucapnya yang semula menatap Yugito, kini beralih berbalik dan kemudian berlalu hendak keluar ruangan. Saat ia hendak meraih pintu, pintu terbuka terlebih dahulu dan memperlihatkan dokter tampan yang begitu ia kenal.


"Aris?" Sapanya dengan rasa tak percaya.


"Kak. Marcel?"


"Kau...."


"Maaf aku harus pergi." Arisa menerobos pertahanan Marcel yang sengaja merentangkan tangannya di kedua sisi pintu.


"Aris..." panggil Yugito dan Marcel bersamaan. "Marcel.. tolong kejar Aris. Dan katakan dia salah faham." Lanjut Yugito dan segera Marcel mengejar Arisa.


"Aris tunggu." Kini dirinya berhasil meraih tangan Arisa dan keduanya berhenti di tengah lorong.


"Apa? Kakak mau membujukku?"


"Tidak. Percaya diri sekali kau."


"Terus?"


"Aku merindukanmu."

__ADS_1


"Dihhh."


"Serius. Jadi, kapan kita menikah?" Mendengar pertanyaan itu, mata Arisa seketika membulat dan ia melepaskan tangannya dengan paksa.


"Apa maksudmu?"


"Hei.. kau lupa? Saat aku menjadi dokter bedahmu, aku melihat tubuh polosmu. Dan aku yakin hanya aku saja yang melihatnya." Dan dengan refleks, Arisa menutupi bagian dadanya dengan tatapan yang sinis dan menahan malu.


"Mesum." Pekik Arisa dengan menghentakkan kakinya dan berlalu meninggalkan Marcel yang tertawa puas.


"Dok. Maaf. Jangan berisik." Tegur salah seorang perawat yang lewat.


"Ohh... ehemm ehemm maaf." Tawanya dipaksa berhenti dan ia sendiri tak bisa menyembunyikan wajahnya karena malu pada semua orang yang melihatnya tertawa.


Marcel memilih untuk kembali menyusul Arisa dan ia menemukannya di taman kecil didepan loby.


"Mau eskrim?" Tanya Marcel yang duduk disamping Arisa.


"Mau." Jawabnya pelan.


"Ehh tak boleh. Jika kau makan eskrim, hatimu akan membeku nanti." Ucapnya kembali dengan nada ejekan.


"Hatiku sudah tak ada." ~Arisa.


"Oh iya. Katanya kau amnesia, tapi kenapa ingat padaku?" ~Marcel.


"Aku sudah ingat. Dan, aku tidak menuruti permintaan kak Tio." Jawab Arisa mendadak sendu.


"Tentang?" Marcel menyernyit dan merasa tertarik dengan obrolannya kali ini.


"Ingatan ini." ~Arisa.


"Maksudnya?" ~Marcel.


"Iya. Kak Tio meminta agar aku tak mengingat kembali semua kenangan yang hilang itu. Tapi sekarang aku malah mengingat semuanya. Dan...." arisa menghela nafas sesaat membuat Marcel merasa penasaran.


"Dan?"


"Semuanya menyakitkan. Apa lagi, dengan tambahan Michelle yang mengaku tidak pernah dekat dengan ku dan dia pacar Rayyan. Itu lebih menyakitkan kak. Aku kira Michelle tak akan seperti itu. Tapi, kenapa dia?" Arisa menggeleng tak habis pikir.


"Aih... sudahlah. Tak perlu dibahas lagi. Aku pamit ya. Apapun alasan kakak datang lagi ke negara ini, tapi aku minta kakak jaga ayah!. Mungkin setelah ini, aku tak akan lagi kembali ke kota ini." Setelah mengucapkan kalimat itu, Arisa beranjak dan sedikit menggeliat.


"Aris... bagaimana dengan kakak mendiang pacarmu? Bukankah kalian dekat?"


"Maksud kakak, Dimas?"


"Iyaa kalau tak salah."


"Ahaha kakak ini bagaimana. Aku menganggapnya hanya sebagai kakak saja."


"Ohh begitu ya."


"Kenapa? Kakak cemburu?" Tanya Arisa mendekatkan wajahnya pada Marcel yang mendadak gugup dibuatnya.


"Ahaha... ti-tidak. Kau ini sudah seperti adikku sendiri. Mana mungkin aku cemburu. Haha kau ada-ada saja."


"Benarkah? Wajahmu merah kak. Kau tidak sedang berbohong kan?" Goda Arisa membuat Marcel semakin gugup.


"Ohhh kau menggoda ku?" Kini seringai terlihat disudut bibir Marcel dan bersamaan dengan tangannya yang menarik lengan Arisa hingga keduanya lebih dekat.


"Hei om. Sadar diri. Kau sudah tua." Ucap Arisa berusaha menarik diri dari Marcel.


"Hemm om ya? Aku hanya selisih beberapa tahun saja dengan kakakmu. Itupun lebih muda. Jadi, aku sangat cocok jika menjadi suamimu."


"Tapi sayang, aku tak berniat punya suami sepertimu." Mendengar penolakan Arisa, Marcel melepaskan lengan Arisa dan ia mendadak menjadi suram dan depresi.


"Kau menolakku?"


"Tentu saja. Dasar om-om mesum." Ucapnya dengan angkuh dan memangku tangan seraya berbalik dan pergi begitu saja.


"Tapi aku bersyukur kau baik-baik saja Aris." Ucapnya pelan dan menatap kepergian Arisa dengan melempar senyuman yang begitu manis.


. "Reza. Tolong jaga adikku. Aku percaya padamu." Mendengar permintaan Tio itu, Reza hanya tertawa sinis.


"Tanpa kau suruh pun aku sudah menjaganya."


"Hei... aku bicara baik-baik." Nada bicara Tio kini berubah sedikit meninggi dan tatapannya menjadi semakin tajam.

__ADS_1


"Kenapa? Aku menjawabnya juga dengan baik-baik."


"Apa yang kau inginkan?"


"Hemmm maksudmu?"


"Sebagai imbalan kau menjaga adikku, apa yang kau inginkan?"


"Haha tak ada."


"Cihhh tidak mungkin. Orang licik sepertimu pasti ada sesuatu yang kau rencanakan."


"Silahkan saja kau mau berpikir apa Tio. Tapi yang jelas, sekarang Putri adalah adikku. Dan dia yang mengakuinya."


"Karena kau sudah mencuci otaknya."


"Apa? Kau menuduhku?"


"Memang benar kan?" Reza terdiam sesaat dan tak bisa berkutik. Ia menghela nafas dalam sebelum membalas tuduhan Tio.


"Iya. Memang aku yang menyebabkan Putri hilang ingatan. Tapi aku tidak pernah mengharapkan tragedi itu terjadi."


"Jadi benar Aris kecelakaan?" Geram Tio meraih kerah kemeja Reza dengan penuh amarah.


"Sudah kubilang aku tidak--"


"Bohong kan!"


"Aku serius Tio. Aku bahkan tak tahu dia kecelakaan saat itu karena aku sedang marah padanya."


"Apa? Kau marah? Kau marah pada adikku sampai dia kecelakaan?"


"Tidak. Bukan begitu Tio."


"Lalu bagaimana hah?"


"Aku menyuruhnya pulang, tapi dia tak mau. Kupikir dengan aku marah dia akan kembali kesini."


"Alasan. Dari awal kau memang tidak bisa dipercaya. Menyesal aku sudah mempercayaimu." Dan 'bugh' satu pukulan keras mendarat diwajah Reza.


"Kak Tio." Pekik Arisa langsung berlari dan menahan tangan Tio yang hendak melayangkan pukulan kedua. Karena tenaganya yang lemah dibanding Tio, tubuhnya terhempas dan lagi-lagi membentur tembok. Terdengar rintihan Arisa yang memegangi pinggangnya, dan segera Tio bergegas meraih adik kesayangannya itu.


"Kenapa kakak hobi sekali memukul orang? Bahkan aku terkena imbasnya." Rengek Arisa dan masih meringis kesakitan.


"Kau sendiri kenapa mengganggu." ~Tio.


"Bagaimana tidak, kakak dengan tanpa perasaan memukul kak Reza." ~Arisa.


"Dia yang salah." ~Tio.


"Salahnya dimana?" ~Arisa.


"Dia membuatmu amnesia." ~Tio.


"Ya baguslah. Kan kakak sendiri yang bilang agar aku tidak mengingat kenangan itu lagi." ~Arisa.


"Tapi sekarang kau mengingat nya kan?" ~Tio.


"Lah... kenapa sekarang kakak malah menyalahkan aku?" ~Arisa.


"Memang kau yang salah. Siapa suruh kau ingat." ~Tio.


"Loh... bukannya kakak marah pada kak Reza karena membuatku amnesia, terus sekarang malah marah padaku karena aku ingat. Sebenarnya kakak mau bagaimana?" ~Arisa.


Melihat perdebatan kakak beradik didepannya, Reza hanya bisa menonton sambil meraih pipinya yang berdenyut.


"Arghhh sial. Tio memukulku dengan pukulan dendam." Batinnya ikut meringis.


"Kau ini kapan dewasanya." ~Tio.


"Kakak juga sudah tua tapi tidak dewasa." ~Arisa.


"Sudah stop!!!!" Tegas Reza yang menyela perdebatan keduanya.


"Putri... pipi kakak sakit." Rengeknya selanjutnya.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2