
. Xavier masih tak paham maksud dari Tio. Melihat raut wajah Tio yang serius, Xavier tahu bahwa ia sudah membuat kesalahan disini.
Di balkon, Arisa menatap setiap orang tengah membereskan tenda dan panggung sisa semalam. Ia tersenyum tipis ketika membayangkan yang kemarin menikah itu adalah dirinya dan Rayyan.
"Apa nanti aku juga begitu? Ah sepertinya tidak. Mungkin akan lebih meriah. Apa lagi jika kak Reza dan bunda datang. Kapan-kapan, aku ziarah ke makam Nadhira juga. Hemmm apa kalian bertiga sedang berkumpul? Rama, kalau kau bertemu dengan Nadhira, dia adik seayahku. Kau harus menemaninya ya! Terus, Citra itu teman kuliahku. Dan kau harus menemaninya juga. Tapi sepertinya, kalau kau bertemu mereka, kau akan jatuh cinta. Mereka sama-sama cantik. Nadhira lebih cantik dariku. Jadi, bisa saja kau akan lebih mencintainya di alam sana dari pada aku. Yah... sebetulnya, aku sudah mulai lupa bagaimana wajahmu. Sudah lama juga kau tak datang ke mimpiku. Fotomu tertinggal di ponselku yang dulu, yang di kamarku sudah aku kembalikan kepada keluargamu. Dan, aku berharap kau sudah benar-benar tenang. Mungkin aku tak akan merindukanmu sesering dulu. Aku sudah berdamai dengan lukaku karena kehilanganmu, dan penggantimu sangatlah istimewa. Aku dan Rayyan akan menikah." Ucap Arisa bercerita pada dirinya sendiri sembari menatap langit yang cerah berhiaskan awan yang bergerak mengikuti arah angin.
Angin tiba-tiba berhembus kencang, dan tirai di belakangnya pun menyingkap. Namun, Arisa terhenyak tepat ketika angin itu terhenti. Ia menoleh ke belakang namun tak mendapati apapun. Kemudian senyumnya mengembang meskipun hanya senyum getir.
. Singkatnya, menjelang sore, Arisa tak keluar kamar sama sekali. Ia seharian mengurung diri dan hanya duduk di sofa di temani oleh camilan kesukaannya. Bahkan beberapa kali Rayyan melakukan panggilan video dengannya hanya untuk memastikan bahwa Arisa tidak di ganggu oleh Xavier.
Sesuai ucapan Tio, Rayyan terlebih dahulu ke kediaman Putra sebelum ia pulang ke rumahnya. Namun, baru beberapa saat Rayyan berhadapan dengan Arisa, ia mengecup kening Arisa lalu kembali pergi tanpa memberitahu hendak kemana.
"Kapan pulang?" Tanya Arisa menghentikan langkah Rayyan.
"Di usahakan besok." Jawab Rayyan berbalik dan tersenyum sumringah. Melihat raut wajah Arisa yang begitu khawatir, Rayyan merasa menjadi pria yang paling beruntung.
"Hati-hati." Ucap Arisa ditanggapi anggukan oleh Rayyan.
Selepas Rayyan pergi, entah kenapa, Arisa merasa ada yang berbeda. Sepertinya Rayyan akan pergi sangat jauh. Atau mungkin karena Rayyan yang tak memberitahu kemana ia pergi.
"Semoga berhasil." Ucap Tio yang bertemu dengan Rayyan di persimpangan.
"Doakan kak. Ini juga demi Risa."
"Iya Rayyan. Hati-hati. Dan untuk menjaga keselamatanmu, aku akan menyuruh bawahanku untuk mengawalmu." Tutur Tio lalu keluar 2 orang bodyguard dari mobil Tio dan beralih ke mobil Rayyan.
"Jangan menolak. Jika ada apa-apa denganmu, Aris juga yang bersedih. Iya kan?" Rayyan hanya mengangguk mengiyakan meski sebetulnya ia ingin menolak.
"Aku sudah kirim alamat lengkapnya padamu. Kembalilah dengan selamat dan bawalah berita baik pada Aris." Lanjut Tio sebelum ia berpisah dengan Rayyan.
"Baik kak. Terima kasih." Ucap Rayyan, lalu Tio bergegas kembali ke rumah.
. Malamnya, Arisa sulit untuk terlelap. Pikirannya masih terfokus pada Rayyan yang pergi entah kemana. Ia hanya bilang ke luar kota saja. Bayang-bayang kehilangan orang terdekat membuatnya begitu takut untuk memejamkan mata malam ini. Dengan ragu, ia menekan nomor ponsel Rayyan dan terhubung di panggilan ke duanya.
"Hallo. Apa sayang?" Tanya Rayyan dari seberang.
"Emmm apa kau baik-baik saja?" Arisa balik bertanya dengan suara yang begitu ragu.
"Baik... sangat baik. Kenapa? Kau merindukanku?" Goda Rayyan mulai mencairkan suasana.
"Ishhh bukan. Aku.... emmm.... aku... tidak bisa tidur."
__ADS_1
"Karena memikirkanku?"
"I-iya. Apa kau sudah sampai?"
"Sudah. Ini sudah di hotel. Dan baru selesai mandi. Jadi, tadi teleponmu tak sempat terjawab. Maaf ya!!"
"Iya tak apa. Tapi benarkan kau baik-baik saja?" Tanya Arisa sekali lagi mencoba memastikan bahwa Rayyan tidak berbohong.
"Ahahaha iya sayang. Aku baik-baik saja. Mau telepon video?"
"Emmm tidak perlu. Aku sudah percaya kau baik-baik saja."
"Ya sudah. Sebaiknya kau tidur. Ini sudah jam berapa? Besok kau mulai bekerja kan?"
"Iya. Tapi, sebenarnya kau ada dimana?"
"Aku... di luar kota sayang. Tidak jauh... kau tenang saja."
"Ishh Aray. Ayolah beritahu aku. Dimana kau?"
"Di hatimu sayang. Hehehe"
"Aray... ihhh kau selalu saja bercanda."
"Tapi kali ini aku serius Aray. Aku mengkhawatirkanmu."
"Emmmmm..... khawatir? Nona Pratama khawatir? Emmmmm"
"Aray.. jangan mengejekku."
"Kau lucu sayang."
"Ishhh sudahlah. Besok aku pergi dengan Dimas."
"Ohhhh jadi begitu? Kau mau main api saat aku tak ada?"
"Makanya kau jangan mengejekku terus."
"Haha iya iya maaf sayangku... sudah ya... tidur. Atau mau aku nyanyikan nina bobo?"
"Tidak perlu tuan. Suaramu malah membuatku susah tidur nanti."
__ADS_1
"Apa maksudnya itu sayang? Kau memujiku atau mengejekku?"
"Menurutmu tuan? Suaramu sangat jelek."
"Aih... kau jujur sekali. Aku sakit hati loh..."
"Hihi maaf tuan..."
"Tidak ku maafkan."
"Aihhh itu tidak baik sayang. Kau harus memaafkanku. Kalau tidak, nanti aku cium."
"Ya sudah. Kalau begitu aku tak akan pernah memaafkanmu. Biar nanti saat pulang, kau menciumku terus."
"Ehhhh... aku salah bicara ya?"
"Tidak sayang. Justru sangat bagus. Hahaha"
"Ih bauuu"
"Jauh sayang jauh... tak akan tercium juga. Lagi pula nafasku wangi."
"Eleehhhh wangi dari mananya?"
"Lohhhh kau betah juga kan saat aku cium?" Mendengar ucapan Rayyan yang diluar dugaan, Arisa begitu terkejut lalu wajahnya memerah malu meskipun Rayyan jauh di seberang sana.
"Ih Aray. Bicaramu tidak di jaga?"
"Kenapa? Kenyataan kan?"
"Tapi jangan di ungkit juga."
"Iya kenapa?"
"Pokoknya.... ihhhh kau menyebalkan. Sudah ah. Aku mau tidur. Bye!"
"Hahahaha.... kau marah.... haihhh selamat malam sayang. Calon istri tercintaku."
"Geli!" Pekik Arisa langsung menekan layar ponselnya memutus panggilan. Sementara itu, Rayyan hanya terkekeh membayangkan wajah Arisa yang menggemaskan saat kesal. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lalu perlahan memejamkan matanya memasuki dunia mimpi.
. Esoknya, Rayyan memasuki pekarangan rumah yang sedari pagi ia cari. Akhirnya ia bisa menghela nafas lega karena sudah menemukan alamat Sarah. Setelah penjaga gerbang membiarkan Rayyan masuk, Rayyan bergegas menuju teras dan menunggu sang pemilik rumah. Tak lama, Sarah keluar dan dengan sopan Rayyan mencium tangan Sarah sembari mengungkapkan identitasnya. Sarah mematung, ia tak akan lupa pada wajah calon suami putri sambungnya itu.
__ADS_1
-bersambung