
. Wina semakin dekat menghampiri Daffa yang termangu mendengar penuturannya. Menunggu untuk apa? Pikir Daffa sejenak.
"Seharian aku menunggumu di rumah sakit, tapi kau tak datang. Apa masalahmu? Kau bilang kau melihatku dengan kak Dimas, tapi kenapa kau tak membawaku pulang?"
"Untuk apa aku membawa pulang pacar orang Win?"
"Siapa yang pacar orang hah? Makanya kalau kau menguping pembicaraan orang itu dengarkan sampai selesai sialan. Ini jadinya, kau salah faham kan? Ihhh kau bodoh. Pantas saja Aris tak melirikmu. Ihhhhhhh..." geram Wina yang memukul dada Daffa dengan kesal. Daffa meraih kedua tangan Wina dan ia menatap lekat manik hitam Wina yang sedikit menyipit karena air hujan.
"Kau tak menerima cintanya?" Tanya Daffa kini sedikit merubah nada suaranya.
"Menurutmu?" Delik Wina yang sudah terlanjur kesal pada Daffa.
"Jawab! Apa kau tak menerima cinta Dimas?" Tanya Daffa sekali lagi, dan Wina menanggapinya dengan menggelengkan kepala lalu menarik tangannya dari Daffa dan ia memeluk dirinya sendiri karena merasa dingin.
"Entah ini perasaan apa Daf. Tapi karena mungkin hanya denganmu saja aku menghabiskan waktu dan hari-hariku, aku merasa bahwa aku memang tak mau jauh darimu. Aku tak pernah jatuh cinta, jadi aku tak tahu ini cinta atau bukan. Setiap kau dekat dengan gadis lain, rasanya hatiku seperti diremas, perih tak bisa di sembuhkan hanya dengan melihatmu tersenyum. Daf aku--" ucapannya terhenti saat Daffa tiba-tiba menciumnya dan memeluknya dengan erat.
"Kenapa kau yang mengungkapkannya lebih dulu? Harusnya aku. Wina... aku menyayangimu, bukan sekedar mencintai saja. Aku mau kau tetap ada disampingku. Aku harap tak ada orang lain yang mencintaimu selain aku." Setelah mengucapkan kalimat itu, Daffa segera membawa Wina yang sudah menggigil kedinginan.
"Jangan meninggalkanku Daf." Lirih Wina dengan suara yang gemetar.
"Tak akan." Jawab Daffa dengan merangkul Wina dan berjalan beriringan.
***
. Tio yang turun dari mobil dengan menahan amarah pun disusul oleh Seno agar tak bertindak gegabah.
"Tio... tenang. Ini posisinya Aris yang kabur. Bukan Reza yang menculik." Ucap Seno yang tak di hiraukan oleh Tio. Tio menekan bel pagar rumah beberapa kali sampai ada seseorang yang membuka gerbang.
"Cari siapa tuan?" Tanya mang Asep dengan sopan.
"Saya cari tante Sarah. Ada?" Balas Tio tak memudarkan tatapan datar dan dinginnya.
"Tapi kalau sudah malam begini, nyonya sudah tidur tuan."
"Saya mau bertemu dengan tante Sarah." Tegas Tio semakin tajam menatap mang Asep.
"Se-sebentar tuan. Mari ikut saya." Ujar mang Asep dengan terbata. Ia mengingat wajah Tio dan siapa Tio. Jadi ia tak bisa gegabah sembarangan bicara pada penguasa yang dikenal dingin.
__ADS_1
Segera mang Asep menuju ruang kerja Reza, karena ia tahu majikannya belum tidur di jam ini.
"Tio.... tenang. Tak ada tanda-tanda Aris disini." Seno menyela dan meraih pundak Tio berharap Tio tenang.
"Siapa yang tahu Sen. Aris selalu bilang bahwa dia mau tinggal disini saja daripada di rumah ayah. Meskipun kenyataannya memang disini lebih tenang, tapi hatiku belum sepenuhnya menerima mereka Sen." Balas Tio menghela nafas dalam sesaat.
Tak lama, Reza muncul dengan wajah yang menunjukkan rasa penasaran. Semula ia berpikir siapa tamu yang mau berkunjung ke rumahnya malam-malam begini? Namun saat ia tahu siapa tamu nya, wajahnya berubah datar dan benar-benar tanpa ekspresi.
"Rupanya kau." Ucap Reza yang duduk di sofa kebesaran sang tuan rumah.
"Dimana Aris?" Reza menyernyit mendapati pertanyaan tiba-tiba dari Tio. Mengapa Tio menanyakan Arisa padanya? Bukankah Arisa sendiri sudah mereka jemput untuk pulang? Batin Reza mendadak berkecamuk dan sejenak ia berpikir apakah Arisa kabur lagi? Dan Tio hanya tahu Arisa akan kabur ke rumahnya.
"Apa maksudmu Tio?"
"Jangan pura-pura tidak tahu Reza. Aris sering merengek ingin tinggal denganmu dan dari siang dia tidak pulang ke rumah. Kau pikir aku bodoh? Kau yang mencuci otak adikku agar mau terus bersamamu kan? Sekarang, dimana adikku? Katakan, atau aku akan membuat perhitungan denganmu." Reza terkekeh sekaligus penasaran dengan keberadaan Arisa yang tiba-tiba menghilang.
"Apanya yang lucu?" Timpal Seno bertanya tak kalah menahan emosi. Bagaimana pun ia juga menganggap Arisa sebagai adiknya sendiri.
"Silahkan saja kau geledah rumahku. Jika perlu, kau boleh mengecek kamar yang pernah menjadi kamarnya. Barang-barangnya masih utuh. Silahkan!" Reza beranjak dan memberi jalan pada Tio untuk segera beranjak dan melihat sendiri bahwa Arisa benar-benar tak ada disana.
"Tuan.... dipanggil nyonya segera." Ucap bibi dengan sopan menahan pergerakan Tio yang hendak beranjak dari duduknya.
"Bunda..." lirih Reza duduk di tepi ranjang dengan perasaan gelisah. Karena kondisi Sarah yang kian hari kian semakin memburuk.
"Za.... kabarnya Putri bagaimana? Baik-baik saja kan?" Tanya Sarah dengan suara yang begitu pelan. Tio terenyuh mendengar suara Sarah yang jelas tak ada energi. Jangankan untuk berjalan, untuk terbangun saja tubuhnya sangatlah lemah. Perlahan Tio menghampiri Reza dan menampakkan dirinya pada Sarah dengan jelas. Terlihat mata Sarah terbelalak saat melihat keberadaan Tio di hadapannya.
"Tio? Kau kah itu?" Tanya Sarah beralih menatap Tio.
"Iya ini aku." Jawab Tio masih bersikap dingin.
"Apa kau datang dengan Putri? Dimana Putri? Putri..... kamu dimana sayang? Mengapa tidak menemui bunda." Sarah beranjak dan ia seakan mendadak mendapat energi untuk memanggil Arisa.
"Bunda... jangan bergerak dulu..." tegur Reza yang langsung meraih Sarah.
"Za... Putri mana Za? Bukankah Tio kesini dengan Putri?" Matanya kini mulai berkaca-kaca menatap harap nan tajam pada Reza. Namun Reza tak kuasa membalas tatapan Sarah yang mungkin akan membuatnya semakin drop jika tahu Arisa tak ada disana.
"Aku kesini untuk mencari adikku. Dan tante jangan bersikap seakan tante mencari keberadaannya, katakan saja dimana Aris, adikku. Jika tidak,--" 'bugh' ucapan Tio terhenti ketika pukulan keras tepat mengenai pelipis Tio hingga terhuyung.
__ADS_1
"Kau gila? Sudah jelas aku dan bunda belum bertemu lagi dengan Putri. Dan kau menuduh bunda menyembunyikannya? Apa kau tak punya otak Tio? Kau sendiri melihat bagaimana kondisi bunda. Tak mungkin dia yang merindukan Putri harus menyembunyikannya darimu. Bunda memang ingin bertemu dengan Putri, tapi untuk menyembunyikannya, kami sadar, tekad saja tak cukup untuk berhadapan denganmu." Mendengar itu, Tio mengepalkan tangan kuat dan ia bersiap untuk membalas pukulan Reza.
"Cih.... aku juga merindukan Putri. Bunda sakit begini juga karena merindukan Putri. Kalian membawanya pergi tanpa ada kata sedikitpun pada bunda. Dan saat bunda ingin bertemu, meskipun untuk yang terakhir kali, kalian malah mengusir bunda seakan bunda adalah pengganggu hidup kalian. Dan sekarang, aku yang tak tahu apa yang terjadi, kau dengan mudah menuduhku menyembunyikan Putri. Ingat Tio! Sejak kau membawanya pulang, dan sejak kau mengusirku dan bunda saat itu, aku sudah tak mau lagi berurusan denganmu. Dan itu juga alasan mengapa yang bertemu dengan Danu Pratama bukanlah aku. Jika aku yang bertemu dengan Danu saat itu, Putri juga akan bertemu denganku." Tutur Reza kemudian. Tio menutup sebagian wajahnya dengan frustasi dan ia tak tahu lagi harus berkata apa. Karena untuk menyalahkan Reza dan Sarah pun ia tak punya bukti, Arisa tak ada disana dan ia pun tak mendapati petunjuk apapun.
Dan seketika Reza teringat pada apartemen Arisa yang tak pernah ia kunjungi setelah Arisa pergi. ia merutuki dirinya sendiri karena berpikir lambat. Mengapa tak dari tadi saja ia berpikir demikian.
Reza segera bergegas kembali ke ruang kerjanya dan ia meraih jaket serta kunci mobil.
"Bi... tolong jaga bunda sebentar." Teriak Reza sambil terus berlalu keluar rumah. Saat Tio hendak menyusul Reza, ia terhenti saat sebuah tangan menahannya untuk diam.
"Maaf." Lirih Sarah perlahan melepaskan tangan Tio. "Ada apa dengan Putri? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Sarah dengan suara dan tatapan yang sendu.
"Dia kabur." Jawab Tio singkat.
"Apa dia marah padamu? Atau...."
"Dia ingin tinggal dengan tante. Tapi mama tak akan mengizinkannya. Kupikir itu yang membuatnya kabur dari rumah."
"Kalau begitu pikirmu, tante yakin Putri hanya akan ke satu tempat. Ia tak akan menempatkan tante dan Reza dalam masalah."
"Tante tahu kemana dia pergi?" Tio menatap semakin lekat wajah pucat Sarah yang menyimpan jawaban atas pertanyaan dari Tio.
"Dengar baik-baik Tio...." Tio mendengarkan setiap detil ucapan Sarah yang tak terlalu jelas terdengar karena sedikit gemetar.
Setelah Sarah memberitahu apa yang ia ketahui, Tio segera bergegas pergi dari rumah Sarah dan tak lupa Seno pun terus mengikuti Tio kemanapun ia pergi.
. Reza berlari menuju pintu yang tak jauh dari lift. Terlihat pintu itu sedikit terbuka menandakan ada seseorang di dalam.
"Sudah ku duga." Ucapnya dengan terengah. "Putri...." panggil Reza dengan membuka pintu dan segera berlalu menuju kamar Arisa. Ia mendapati Arisa yang tengah menangis memeluk lututnya di samping tempat tidur.
"Sejak kapan dia disini? Dan seberapa lama dia menangis?" Batin Reza segera menghampiri Arisa yang terus sesenggukan seakan dadanya begitu sesak. Niat hati ingin memarahinya karena kembali membawa masalah pada dirinya dengan Tio yang tiba-tiba datang dan menuduhnya, Reza menjadi terbawa suasana. Ia pun seakan merasakan kesedihan Arisa yang jelas begitu mendalam.
"Putri..." lirih Reza meraih bahu Arisa pelan. Dengan tiba-tiba, Arisa memeluk Reza dengan erat dan tangisnya kembali pecah.
"Putri sudah... kakak disini." Ucapnya menepuk punggung Arisa seraya menenangkan.
"Aris sudah ingat." Lirihnya cukup membuat Reza terbelalak.
__ADS_1
-bersambung