TAK SAMA

TAK SAMA
172


__ADS_3

. Setiap acara yang berlangsung meriah dan tentunya lancar, ada Arisa yang selalu mengeluh ingin ke kamar, dan di sampingnya ada Rayyan yang setia menemani.


"Kakak putri lelah?" Tanya Seina dengan membawa 2 cup ice cream di tangannya.


"Memangnya kelihatan?" Arisa balik bertanya dengan langsung merapikan kembali pakaiannya dan menata riasannya memastikan tak ada yang berantakan.


"Tidak sayang. Kakak baik-baik saja." Lanjut Arisa tersenyum lebar sambil menggeserkan kursi agar Seina duduk di sampingnya.


"Ini untuk kakak!" Seina memberikan 1 cup ice cream pada Arisa, dan dengan senang hati Arisa menerimanya lalu menyantapnya bersama Seina.


"Kamu hebat juga bisa dapat ice cream. Padahal antriannya panjang." Ucap Arisa sedikit terheran saat ia menoleh ke arah tempat ice cream yang kini banyak anak-anak mengerumuni.


"Hehe. Kakak dokter tampan yang bantu Sein."


"Loh Dimas? Dimana dia?" Arisa menolah kesana kemari mencari keberadaan Dimas.


"Di belakang kakak." Jawab Seina tanpa menunjuk dan masih fokus dengan ice cream di tangannya. Sontak Arisa menoleh ke belakangnya dan mendapati seorang pemuda yang tersenyum bodoh sambil melahap ice cream.


"Hai." Sapanya masih memasang wajah bodoh.


"Maaf dokter. Jangan menggoda istri saya." Tegur Rayyan dari arah belakang Dimas.


"Mohon maaf tuan Rayyan. Saya tidak menggodanya. Saya sadar, saya tidak seberani itu berurusan dengan anda." Jawab Dimas membalas Rayyan dengan santai.


"Baguslah jika kau sadar pak dokter." Dimas bangkit dari duduknya lalu tertawa dengan sikap Rayyan yang masih saja dingin. Namun saat keduanya sudah berhadapan, Rayyan tiba-tiba tertawa lepas.


"Apa kabar dokter? Bagaimana? Apa kau suka klinik barunya?"


"Baik Rayyan. Dan aku sangat berterima kasih padamu. Sekarang, pasienku lebih cepat di tangani setelah semua fasilitas dan jumlah ruangan memadai." Jawab Dimas yang tak bisa menyembunyikan wajah girangnya.


"Klinik baru? Terus klinik dari kak Tio?" Tanya Arisa yang mendadak penasaran dengan yang baru saja kedua pria itu bicarakan.

__ADS_1


"Kau tak tahu Aris? Klinik itu kan sudah--"


"Kau menjualnya?" Arisa menyela sebelum Dimas selesai mengungkapkan kalimatnya.


"Kalau orang sedang bicara itu jangan di potong sayang!" Tegur Rayyan sambil membungkam mulut Arisa agar tak lagi bicara.


"Bukan begitu Aris. Klinik itu masih aku gunakan. Justru sekarang menjadi lebih baik. Calon suamimu ini yang merenovasinya. Sekarang, ruangannya bertambah dan peralatan jadi memadai. Malahan, aku lebih leluasa berada di klinik dari pada saat bertugas di rumah sakit. Jadi, aku sangat berterima kasih kepada kalian. Kali ini, aku tak ingin gagal menyelamatkan nyawa seseorang." Jelasnya membuat Arisa terdiam. Ia melirik perlahan pada Rayyan dan pria itu hanya membalas senyuman padanya.


"Dim... besok, apa kau ada acara?" Tanya Arisa yang sudah beralih menoleh kepada Dimas.


"Aku--"


"Mau apa sayang? Kau mau mengajak kencan pria lain didepan wajahku?" Geram Rayyan menyela jawaban Dimas yang belum terucap itu.


"Ehhh apa yang kau pikirkan? Siapa yang mau kencan. Aku mau mengajak Dimas ke makam Rama saja. Itu pun kalau Dimas tidak sibuk." Jawab Arisa dengan meyakinkan agar Rayyan percaya padanya. Mata Rayyan menyipit dengan tatapan penasaran dan ia masih meragukan jawaban Arisa.


"Kau tidak mengajakku?" Rayyan masih memasang wajah kesalnya menatap Arisa yang kini tertawa kecil membujuk agar Rayyan tak salah faham.


"Boleh... memangnya kau tak sibuk tuan?"


"Hemmm sudah siap di ceramahi mama?" Rayyan terdiam, benar juga apa yang Arisa katakan. Apalagi, besok ia harus mendatangi pertemuan dengan investor asing yang bekerja sama dengannya. Jadwalnya sangat padat, tapi ia tak rela jika Arisa harus pergi berdua dengan Dimas.


"Emmm ke makamnya jangan besok ya! Lusa bagaimana? Lusa jadwalku tidak padat." Arisa yang mendengar bujukan Rayyan itu hanya menghela nafas gusar. Namun, jika di pikir ulang, sebenarnya Rayyan lah yang harus ia hargai sekarang.


"Baiklah tuan. Jika kau tak memberi izin, aku tak akan pergi." Ucapnya memalingkan wajah dengan ekspresi kecewa.


"Aih... kapan aku bilang begitu? Ehh aku bilang jangan besok. Berarti bisa kapan saja selain besok ARISA FANDHIYA PUTRI MENANTU BUNDA SONYA DAN AYAH DANU, NYONYA MUDA KELUARGA PRATAMA. Erghhh menyebalkan." Rajuk Rayyan yang geram pada kelakuan orang tercintanya itu. Di kursi, seorang anak kecil tengah tertawa melihat kekesalan kakaknya sendiri yang bahkan terlihat seperti anak yang seumuran dengannya.


"Apa Sein?" Cetus Rayyan ikut membawa Seina pada lingkup kemarahannya.


"Kak Aray memang bodoh." Ejeknya yang jelas lebih berpihak pada Arisa.

__ADS_1


"Sein! Kenapa kau memihak kakak iparmu?" Protes Rayyan semakin merajuk dan ia memalingkan wajahnya kasar dan kebetulan menoleh ke arah pelaminan. Ia mendapati Raisa yang melambaikan tangan seakan menyuruhnya untuk menghampiri pengantin. Segera Rayyan menarik tangan Arisa untuk cepat-cepat menghampiri Raisa.


"Kita foto bersama." Ucap Raisa setelah keduanya berada di depan Raisa.


"Aih... aku kira apa." Keluh Arisa yang terlihat begitu malas.


"Cepat... sebentar lagi aku mau ganti baju." Raisa tak kalah mengeluh membujuk adiknya agar mau menurut.


"Pemaksaan" cetus Arisa semakin cemberut.


"Terserah. Yang penting aku mau setiap bajuku yang berbeda, ada dirimu di album fotonya." Dengan terpaksa, Arisa menuruti keinginan Raisa dan ia hanya bisa pasrah dan mulai berpose sesuai instruksi kameramen.


"Kau yang menikah, aku yang lelah." Lagi-lagi Arisa mengeluh setelah sesi foto selesai.


"Yang. Kau di panggil." Ucap Rayyan menepuk bahu Arisa ketika keduanya turun dari tempat Raisa. Meski sudah sangat malas, Arisa dengan cepat menghampiri ayahnya yang tengah berbincang dengan seseorang.


"Ada apa ayah?" Tanyanya dnegan sopan saat berhadapan dengan sang ayah.


"Ada yang ingin berkenalan denganmu." Jawab Yugito menyipitkan mata Arisa seketika. Ia melirik kearah pemuda yang menjadi lawan bicara ayahnya sejak tadi. Arisa tersenyum paksa menyapa pemuda tersebut dan membalas uluran tangannya sembari menyebutkan namanya.


"Jika berkenan, apa nona tidak keberatan bila saya mengajak nona makan malam?" Tanya Xavier dengan begitu sopan. Arisa semakin dibuat tak nyaman dengan pertanyaan tiba-tiba dari orang asing, bahkan berani mengajaknya makan malam tanpa bertanya apakah ia sudah memiliki kekasih atau belum.


"Apa ayah tidak memberitahumu sesuatu?" Arisa balik bertanya dengan memasang wajah yang sangat terganggu. Ia melirik sinis ayahnya yang mengedikan bahu tanda tidak ingin ikut campur. Terlihat Xavier sedikit kebingungan karena sedari tadi Yugito hanya menjawab pertanyaannya tentang karakter Arisa saja.


"Maaf tuan. Saya sudah bertunangan, dan kami sudah menentukan tanggal pernikahan. Jadi, saya tidak berniat untuk membuat tunangan saya marah." Ujar Arisa dengan memasang senyuman yang teramat manis. Kemudian ia berpaling dan berlalu menghampiri Rayyan lalu menggandeng tangannya dengan erat menegaskan bahwa ia hanya milik Rayyan seorang dan Rayyan hanya miliknya seorang.


"Ada apa? Sepertinya kau sangat kesal?" Tanya Rayyan meletakkan gelas di meja setelah mendapati kemurungan Arisa, ia lalu meraih wajah Arisa dengan khawatir.


"Kau baik-baik saja kan?" Arisa mengangguk lalu beralih memeluk Rayyan dengan bola mata melirik pada Xavier dan ayahnya. Terlihat Yugito yang begitu santai meskipun Xavier sangat kecewa.


"Om tidak memberitahu saya Arisa sudah bertunangan?" Protesnya membuat Yugito memasang wajah heran.

__ADS_1


"Apa kau bertanya tentang hal itu?"


-bersambung


__ADS_2