Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Di tempat ini, semua orang berpakaian tertutup ya, baik yang perempuan maupun yang laki-laki." Ken melihat sekeliling.


Gojo meletakkan sejumlah uang di atas meja itu. "Ini untukmu mencari penginapan sambil mencari pekerjaan. Aku tidak tahu misimu apa kali ini di sini."


"Terima kasih, tapi kenapa koinku tak boleh di pakai?"


"Karena di situ tertulis tahun dibuatnya dan tahun itu masih jauh di depan dan belum terjadi. Takutnya nanti akan menimbulkan masalah."


"Ok." Pria Jepang itu akhirnya mau mengambil uang pemberian Gojo.


Seusai makan siang, mereka pun berpisah. Gojo bersama teman-temannya menaiki kuda dan meninggalkan Ken sendirian di sana. Pria Jepang itu mulai melihat sekitar. Ia tidak tahu harus mulai dari mana hingga memutuskan untuk mencari penginapan.


Baru saja ia memutuskan begitu, tiba-tiba terlihat keramaian di jalan. Seorang pria berkuda tengah menuntun kuda lainnya yang dinaiki seorang perempuan berjubah coklat. Di sekeliling mereka juga dijaga ketat oleh sejumlah pengawal. Perempuan itu menjadi perhatian khalayak ramai karena dikepalanya dipasang sejumlah perhiasan dari emas yang cantik yang menarik perhatian orang banyak.


Ken juga tertarik awalnya melihat rombongan ini tapi kemudian terkejut. Ia mengenali wajah perempuan itu walaupun wajah itu sedikit tertutupi oleh kain jubah coklatnya. Mata itu, tak bisa ia lupakan. Mata yang sama yang selalu menemani kesehariannya di saat ia lelah berjuang sendirian. "Mira," gumamnya. Setelah itu, tanpa sadar pria itu mengikuti rombongan itu.


Perempuan itu, bukan tidak melihat Ken tapi ia berusaha untuk abai. Ia sedikit panik ketika pria itu mulai membuntutinya dan berusaha agar tidak peduli walau terlihat dari wajahnya ia khawatir.


Ken penasaran dengan rombongan itu hingga mendengar sendiri dari orang-orang yang bergosip di jalanan.


"Wah, ada selir baru ya, tapi terlihat masih sangat muda," sahut seorang wanita gemuk yang membawa tas belanja.


"Ah, tua bangka itu bisa membeli siapa saja. Tak ada yang berani membantahnya, kecuali mereka mau masuk penjara."


Wanita gemuk itu mengangguk-angguk. Ken syok mendengarnya. Ia sangat mengkhawatirkan Mira. Akhirnya diam-diam ia mengikuti rombongan itu.


Mira bukan tidak tahu, tapi ia berusaha untuk tidak terlalu banyak bergerak atau orang-orang itu akan curiga kalau ada yang sedang menguntit mereka.


Setelah mengikuti cukup lama, sampailah mereka ke sebuah rumah yang cukup besar. Di depan pintu gerbang yang tinggi itu, mereka menunggu hingga dibukakan pintu. Tidak sembarang orang bisa masuk karena pintu pagarnya dijaga ketat dan pagarnya begitu tinggi. Ken berpikir keras, bagaimana cara agar ia bisa masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Tak berapa lama ada gerobak yang ditarik kuda dan berisikan tumpukan jerami yang membumbung tinggi. Saat itulah dengan cepat pria itu menyusup ke dalam jerami itu hingga pada saat pemeriksaan, walaupun jerami itu sempat ditusuk dengan tombak tapi Ken selamat sehingga kereta itu bisa masuk ke dalam area rumah itu.


Gerobak itu kemudian bergerak ke samping dan berhenti di samping istal kuda. Merasa gerobak itu berhenti, pria itu mengintip keluar. Ternyata pria pemilik gerobak sudah turun dan memasuki istal itu. Saat itulah Ken mengendap-endap turun.


Ia memperhatikan rumah itu yang sangat besar dan megah berlantai 3. Di rumah sebesar itu, bagaimana caranya ia mencari Mira tanpa ketahuan?


Diperhatikannya orang-orang yang bekerja di sana. Sebagian berpakaian panjang hingga mata kaki dan memakai sorban. Ia kemudian mencari tempat menjemur pakaian dan mengambil pakaian di sana untuk menyamar. Setelah memakai sorban, ia juga menutup sebagian wajahnya dengan sorban itu agar tak dikenali. Setelah itu, mulailah ia menyusup masuk.


Awalnya ia masuk lewat pintu depan tapi ditegur penjaga pintu. "Hei, kenapa wajahmu ditutup begitu? Kamu dari luar ya? Kalau dari luar, masuknya dari pintu belakang bukan pintu depan, kotor tahu!"


"Oh, maaf-maaf," ucap pria Jepang itu sedikit menunduk. Ia pun berjalan mengitari rumah dan tanpa sengaja melihat ke balkon lantai atas yang terbuka dan ia melihat gadis itu tengah berada di sana. Ingin rasanya ia berteriak, tapi masih banyak pekerja rumah itu yang mondar-mandir di sana sehingga ia mengurungkan niatnya. Ken bergerak menuju pintu belakang.


Di sana, ia diharuskan membersihkan diri sebelum masuk sehingga ia harus ke kamar mandi yang telah disediakan. Setelah itu Ken mencari tangga untuk naik ke atas. Beberapa kali ia berpapasan dengan penjaga hingga harus berjalan menunduk agar tak dikenali karena ia sudah tidak boleh menutup wajahnya saat masuk.


Setelah menaiki tangga, pria Jepang itu coba mengingat-ingat kembali letak kamar Mira. Ia kemudian nekat membuka pintu yang sudah ia perkirakan sebelumnya dan mencoba mengintip ke dalam. Benar saja, gadis itu masih berada di beranda, hingga Ken buru-buru masuk ke dalam kamar. Ia mendekati gadis itu. "Mira ...."


Gadis itu menoleh dan terkejut.


"Kak Ken ... Kak Ken, kenapa ke sini? Kakak gak dapat pesan dari Gojo?" ucap gadis itu setengah berbisik sambil melirik kiri dan kanan dan melihat masih banyak orang yang berkeliaran di bawah sana. Ia segera menjauh dari beranda.


"Mmh? Kau Mira 'kan?" ucap pria itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kakak ... Kakak gak dengerin omonganku ya?" Gadis itu mulai kesal.


"Mira ... kamu terlihat mulai dewasa." Ken masih belum sadar dari keterkejutannya.


Mira merengut. Karena kesal, ia menendang kaki pria itu.


"Agh!" Ken melompat-lompat dengan satu kaki karena kesakitan.

__ADS_1


"Kakak! Aku sudah bilang, jangan datang. Kenapa Kakak datang juga?" protes gadis itu masih dengan menekan suaranya. Ia takut seseorang mendengarkan percakapan mereka.


"Aku 'kan datang untuk menolongmu, Mira. Kenapa kamu tega menendangku seperti ini," lirih pria itu mengusap kakinya yang kesakitan.


"Karena Kakak tidak mendengarkan ucapanku," ketus Mira dengan melipat tangan di dada.


"Aku bingung denganmu. Kamu ditolong malah marah-marah."


"Karena aku sudah bilang, kakak gak usah ikut campur masalah ini. Aku bisa menanganinya sendiri."


"Mana bisa begitu. Terakhir, bola kristalmu diambil Lucille saja, kau menangis. Apalagi dijebak olehnya dengan dijual sebagai selir pada tua bangka yang kaya raya itu. Mana tega aku membiarkanmu sendirian di sini."


Gadis itu terlihat heran. "Darimana kau tahu tentang hal ini? Gojo ya, yang bicara? Dasar mulutnya tak bisa dipercaya!" Mira geram dengan menangkap sendiri tinjunya.


"Sudah, tak ada waktu lagi. Ayo kita pergi." Ken menarik tangan gadis itu tapi gadis itu menepisnya.


"Kakak yang harusnya pergi karena ini berbahaya bagi Kakak."


"Mira ...."


"Aku tidak apa-apa, Kak, tapi kalau Kakak menolongku, mereka akan mengejar Kakak ke manapun Kakak pergi."


Apa Mira sedang mengorbankan dirinya? Ia sudah banyak mengorbankan hidupnya hanya untukku, kini saatnya aku harus menolongnya.


Ken menoleh ke sebuah dipan. Di sanalah jubah berwarna coklat milik gadis itu diletakkan. Segera ia meraih jubah itu dan melilitkannya ke tubuh gadis itu. Setelah itu, ia segera menarik gadis itu keluar.


"Kakak." Mira tak bisa menggerakkan tangannya karena tubuhnya sudah dililit jubah itu. Mau tak mau ia harus mengikuti Ken.


"Aku tak peduli. Kalaupun kita harus bertengkar, kita bertengkar nanti saja setelah keluar dari sini."

__ADS_1


____________________________________________



__ADS_2