
"Ah ...."
"Apa ah ...," ucap pria Jepang itu kesal pada Gojo dan pria berambut berombak itu kembali tertawa.
------+++------
Sarapan pagi, Ken harus kembali menemani tamu yaitu Lucille, beserta Menteri Pertahanan. Ia hanya bisa berpikir, betapa menyenangkannya jadi Gojo karena menemani Mira sarapan, pagi itu.
"Sudahkah kau tetapkan tempat-tempat yang ingin kau singgahi, Ken?" Tiba-tiba saja Menteri Pertahanan bertanya padanya.
"Oh, aku belum mendatangi temanku itu, jadi aku tidak tahu tempat mana yang menarik untuk dikunjungi," sahut pria Jepang itu, membalas pertanyaan sang Menteri.
"Kalau begitu, cepat jemput temanmu itu agar tamu kehormatan kita tidak bosan berada di sini," ucap Menteri Pertahanan melihat senyum manis wanita itu.
"Oh, aku tersanjung berada di tempat ini. Tempat ini begitu indah dengan orang-orang yang begitu ramah." Lucille melirik ke arah Ken dengan senyum yang paling indah.
Pria Jepang itu melengos ke samping, guna menghindari wanita itu dengan keyakinan bisa mengambil hatinya.
Seusai sarapan, Ken berkuda ke tempat Lian Luo bersama para pengawalnya, tapi di tengah jalan ia malah bertemu dengan Ejiro yang sedang mengendarai kuda sendirian.
"Ejiro? Aku baru akan ke tempat Lian Luo untuk menjemputmu. Apa kau ingin pergi ke tempat lain?"
"Tidak aku ingin pergi ke tempatmu lagi, kalau kau tidak keberatan."
"Oh, beruntungnya aku. Ayo!"
Mereka pun berbalik arah mengikuti kuda pria bercodet itu. Para pengawal mengiringi keduanya di belakang dan di depan.
"Kenapa kau ingin mendatangi tempatku lagi? Jangan bilang, kau ingin menggangu Mira," sergah Ken yang membuat Ejiro tertawa.
"Memang kenapa? Dia 'kan adikku. Aku senang menggodanya karena wajahnya yang mirip boneka."
Pria berambut pendek itu memicingkan matanya karena tak percaya.
Ejiro kembali tertawa."Aku bosan, Ken, di sana."
"Bukankah ada Cia-mu itu, hah?" ledek Ken lagi.
"Dia itu menolakku, Ken."
Kembali pria berambut pendek itu memicingkan mata.
Pria bercodet itu tertawa lepas. "Ini sungguhan. Aku tak bohong. Dia bahkan berniat pindah dan sekolah di luar kota."
"Mmh, sesuatu yang dipaksakan tidak akan bagus hasilnya. Kini kau lihat sendiri 'kan?" Nasehat Ken.
"Baik, Yang Mulia," Ejiro membungkuk.
__ADS_1
"Hei!" bentak pria berambut pendek itu kesal.
Ejiro terkekeh. "Lagipula, kenapa kau mencariku?" Ia balik bertanya.
"Ada tamu penting yang menyebalkan dan aku harus menemaninya. Teman bisnis Menteri Pertahanan."
"Lalu, kenapa kau mencariku? Apa dia wanita?" Pria bercodet itu hampir tertawa.
"Persis sekali. Dia wanita."
"Benarkah?" Ejiro terkejut sendiri dengan hasil tebakannya."Cantik?"
Ken kembali memicingkan mata karena kesal. "Iya, dia cantik. Kau boleh mengambilnya."
Ejiro kembali terkekeh.
--------+++-------
Ken masuk ke kamar diikuti Ejiro. "Mmh, aku ingin sekali main ke tempat Mira," gumamnya. Ia menoleh ke jendela dan melihat jendela kamar gadis itu. Sesekali ada bayangan, entah Mira atau Gojo yang bergerak ke arah jendela. Hanya sebatas itu.
"Wanita itu ingin ke mana?" tanya Ejiro.
"Ke tempat-tempat yang bagus untuk jalan-jalan. Kau 'kan tahu kota ini, jadi pilihkan tempat yang cocok dan kita pergi ke sana bersama-sama," ucap Ken lemas. Di pikirannya masih berputar tentang bagaimana menghindar dari wanita itu dan pergi ke tempat Mira.
"Bersamaku? Baiklah." Pria bercodet itu melirik Ken dengan nakal. Ia tahu, wanita itu pasti menyukai Ken hingga ia ingin melihat bagaimana pria berambut pendek itu menghadapi wanita ini. "Kau seperti mengenalinya?"
"Bagaimana tidak? Dialah yang membawa drakula itu ke sini."
Tak lama terdengar suara penjaga. "Tuan Ken, Nona Lucille datang."
Keduanya saling berpandangan.
"Iya, biarkan dia masuk," sahut Ken lagi.
Wanita itu kemudian masuk. Ejiro terkejut. Melihat Lucille menyibakkan rambut merahnya yang indah tergerai, pria itu melongo. Ia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada wanita ini.
"Ken, bagaimana?Aku sudah siap ingin jalan-jalan," ucap wanita itu pada Ken sambil tersenyum manis.
Pria berambut pendek itu melirik Ejiro. "Bagaimana?"
Namun pria bercodet itu masih berdiri dengan kekagumannya pada wanita itu hingga Ken menyenggol bahunya. Ia tersadar. "Hah? Apa?"
"Kau sudah memikirkan tempat untuk dia jalan-jalan?"
"O ...oh, banyak sekali tempat yang bagus untuk didatangi. Baiklah. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja?"
"Itu yang kuharapkan dari tadi," sahut Lucille dengan senang.
__ADS_1
"Bagus." Pria bercodet itu langsung memimpin. "Oya, siapa namamu?"
"Oh, maaf. Aku belum memperkenalkanmu," sela Ken. "Ejiro, ini Lucille. Lucille, in Ejiro."
Lucille Dan Ejiro bersalaman. Bahkan saking kagumnya pria bercodet itu pada wajah wanita, ia lupa kapan harus melepas tangan mereka.
"Eh." Wanita itu sedikit memaksa menarik tangannya.
"Oh, maaf."
"Tidak apa-apa." Wanita itu segera memalingkan wajah ke arah Ken. "Jadi kita akan ke mana?" Ia mendekati pria itu dan meraih lengannya. Pria berambut pendek itu menepis tangan wanita itu pelan.
"Eh, Ejiro." Ken setengah meminta tolong pada pria bercodet itu.
"Eh, oh, ya. Kota kami ini kecil. Jadi ya, pelabuhan, mungkin?" tawar Ejiro.
"Aku datang dengan kapal," sahut Lucille pelan.
"Oh, hebat. Mmh, bagaimana dengan pasar malam?"
"Ini masih pagi," keluh wanita itu, mulai sebal dengan tawaran Ejiro yang tak menarik menurutnya itu.
"Adalagi Kebun Binatang dan taman kota. Di taman kota, karena sekarang musim panas, bunga-bunga tengah sedang mekar, sehingga taman kota adalah salah satu tempat yang ramai dikunjungi karena sangat indah."
Netra wanita itu seketika bercahaya. "Mengingatkanku akan kota kelahiranku Perancis, aku ingin ke taman kota." Ia melirik Ken dengan bahagia.
"Sempurna. Ayo, kita ke sana."
Mereka berangkat dengan kuda mereka masing-masing diiringi para pengawal. Sepanjang perjalanan wanita itu mendominasi percakapan dengan mengajak ngobrol Ken. "Kau masih ingat dengan sirkus, Ken? Ejiro menyebut Kebun Binatang, jadi aku ingat lagi tempat pertama kali kita bertemu. Iya 'kan, Ken?"
Pertanyaan wanita itu dijawab pria berambut pendek itu dengan menjalankan kudanya untuk mendahului. Wanita itu tak menyerah, dan kembali mengejar Ken.
"Taman bunga mengingatkanku pada rumahmu di Amerika dulu. Rumahmu besar dengan orang tua yang kaya raya dan mereka berniat menjodohkan kita. Kau ingat itu, Ken?"
Kembali kuda Ken melangkah mendahului. Ejiro bisa melihat bahwa wanita itu sangat menyukai pria berambut pendek itu, walaupun responnya tidak ditanggapi dengan baik. Wanita itu terus berjuang mendapatkan hati Ken.
"Yang lucu, saat kau menjadi pelayanku." Wanita itu tertawa dengan menutup mulutnya.
"Apanya yang lucu!" Akhirnya habis kesabaran Ken, diminta mengingat hal yang tidak menyenangkan tentang pertemuannya dengan wanita itu hingga Ejiro datang memisahkan mereka.
"Eh, sudah, sudah."
Ken bergerak mendahului tapi kembali Lucille mengejarnya, bahkan meraih lengan pria itu.
"Apa kau tak ingat aku pernah menolongmu dari drakula itu," ucap Lucille kesal.
"Lalu untuk apa kamu membawanya ke sini. Kalau kau benar-benar menolongku?"
__ADS_1
"Kau bertemu dengannya?" sahut Lucille kaget.
"Iya, dia menginfeksi hampir setengah kota ini, jadi terpaksa aku harus turun tangan untuk mengatasinya. Kalau tidak, mungkin aku tidak ada bersamamu sekarang ini 'kan?" ucap Ken mengejek.